NovelToon NovelToon
365 Day

365 Day

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Murni
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.

Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Entah apa yang ada dalam pikiran Alfaro saat ini, dia tidak bergerak maupun berucap untuk menghentikan langkah Embun.

Sementara Embun sendiri hanya bisa meratapi nasibnya saat ini yang harus hamil tanpa kehadiran suaminya di sisinya.

Rasanya ingin sekali Embun bertanya bagaimana keadaan Alfaro saat ini apa dia masih mengingat dirinya atau tidak. Ataukah Alfaro memang sudah berniat untuk meningkatkan dirinya untuk selamanya.

Sesampainya di rumah nya, Embun langsung berjalan menuju kamar nya dia berbaring di atas ranjang dengan air mata yang terus menetes di pipinya.

Bukan Embun tidak tau keberadaan Alfaro tadi saat di bandara dia hanya tidak ingin membuat semua orang curiga bahwa ia adalah istri kontrak nya Alfaro yang saat itu tengah bersama wanita lain.

Embun yang lelah setelah menangis pun dia langsung terlelap dalam tidurnya.

Embun yang kini terlelap dalam tidurnya nya pun bermimpi Alfaro datang ke rumah nya, dia bertanya-tanya tentang kehamilan Embun Alfaro marah karena Embun tidak memberitahu dia tentang kehamilan nya itu.

Hingga mereka bertengkar hebat seperti biasanya Alfaro tetap tidak mau mengalah dan ucapan nya adalah sebuah perintah yang harus ia tepati.

Namun seperti biasanya pria itu selalu melunak kemudian lalu dia pun berbaring di samping Embun dan mengusap-usap punggung kemudian perut Embun.

Alfaro juga mengecup bibir hingga akhirnya dia bangkit dari ranjang dan pergi begitu saja.

Embun pun terjaga dari tidurnya dan dia menatap ke sekeliling ruangan yang sudah terang dengan lampu, dan jendela sudah terkunci rapat begitu juga dengan gorden kamar nya.

Padahal saat dia tiba jendela kamar yang bersebelahan dengan balkon kamarnya itu masih terbuka.

Embun pun bangkit perlahan-lahan sambil mengendap-endap dia berjalan lalu meraih tongkat baseball yang selama ini ia sediakan untuk berjaga-jaga siapa tau ada maling yang masuk, tapi nyatanya tidak ada satupun kecurigaan nya itu terbukti.

Embun pun menemukan sesuatu yang tergeletak di anak tangga tepat di samping kaki nya.

"Al."ucap Embun lirih.

Dia menemukan sebuah gelang yang sering digunakan oleh Alfaro selama ini.

Embun pun kembali berlinang air mata, dia tidak tau apa itu benar-benar nyata. Tapi kenapa Alfaro tidak datang padannya disaat dia sedang terjaga atau seperti biasanya saat di rumah tersebut.

Sampai keesokan harinya Embun yang sudah siap untuk pergi bekerja, dia melihat sebuah mobil terparkir dari jarak sepuluh meter dan Embun masih bisa mengingat dengan jelas mobil sport itu adalah mobil milik Alfaro.

Hingga Embun harus kembali berpura-pura tidak melihat pria itu, dia pun pergi dengan mobil nya yang diberikan oleh Ciko.

Jangan tanya dimana Embun belajar mengemudi hingga dia bisa mengemudikan mobil, semua itu diajarkan oleh Alvino yang sampai saat ini masih mengkhawatirkan keadaan Embun.

Alvino masih saja peduli dengan keselamatan Embun hingga saat ini. Embun terus fokus pada jalanan hingga dia tiba di boutique miliknya.

Dan mobil itu pun menghilang entah kemana, Embun pun langsung masuk kedalam boutique.

Embun disambut beberapa orang karyawan yang kini telah beres-beres ruangan dan membereskan berbagai macam jenis barang yang dijual di sana termasuk memasang dress dan pakaian lainnya di patung manekin.

Yang ada di sana, Embun pun pergi menuju ruangan nya dimana ruangan tersebut terletak di belakang kasir.

Embun kini mengeluarkan desain yang terdapat di lembaran kertas putih itu dari dalam tasnya.

Dia pun membuka laptopnya untuk memeriksa laporan keuangan yang masuk dan juga memeriksa pesanan yang masuk secara online dari costumer yang sudah menjadi langganan nya selama ini, ada seseorang yang memesan gaun pengantin berserta jas yang akan digunakan satu bulan lagi.

Embun pun mulai mengecek apakah dia bisa menyelesaikan semuanya itu di bulan ini karena sudah banyak pesanan yang belum terselesaikan, belum lagi dia harus mengurus gaun pengantin itu secara langsung dari mulai bahan yang akan digunakan hingga pengerjaan nya.

Prosesnya cukup panjang dan Embun bisa memenuhi request dari costumer nya itu.

Embun pun menghubungi nomor yang tertera di sana untuk mengkonfirmasi, dan setelah di konfirmasi orang itu bilang dia hanya mewakili teman nya yang akan menikah di bulan depan.

Embun pun meminta orang itu untuk datang secara langsung agar dia bisa memastikan gaun pengantin seperti apa yang mereka inginkan.

Orang itu pun bilang bahwa nanti sore sepulang bekerja mereka akan datang dan Embun pun hanya bisa mengiyakan nya saja.

Sementara itu dia kembali fokus mengerjakan desain yang sebelumnya sudah dipesan oleh yang lainnya lewat chat.

Sampai jam makan siang tiba Embun pun keluar dari dalam boutique dan menyebrang jalan menuju sebuah warteg yang sudah menjadi langganannya itu.

"Bang nasi dan rendang juga gulai ikan nya untuk sembilan orang seperti biasanya tidak lupa sambal ijo nya."ucap Embun.

Embun yang sudah memesan itu pun langsung bergegas melakukan pembayaran dan ia kembali berjalan menuju boutique nya.

Mereka yang akan mengantarkan pesanan Embun seperti biasanya. Embun sudah berlangganan sejak boutique itu dibuka.

Embun yang kini berjalan menyebrangi jalan raya itu kembali melihat mobil sport milik Alfaro tapi tidak melihat keberadaan Alfaro disana, entah kemana pengemudi mobil tersebut.

Embun pun langsung bergegas masuk kedalam boutique, dia kembali berjalan ke ruangan nya tapi di tengah jalan langkahnya terhenti karena melihat pria yang ia lihat mobilnya tadi tengah duduk bersama dengan wanita cantik yang kini terlihat begitu dekat dengan nya.

Embun sempat mematung sejenak tapi kemudian dia pun berusaha untuk bersikap biasa saja karena biar bagaimanapun dia tidak punya hak untuk marah atau cemburu pada pria yang merupakan ayah dari anak nya itu.

"Nona ada yang ingin bertemu dengan anda, dia bilang sudah buat janji untuk pembuatan gaun pengantin berikut jas nya."ucap asisten Embun.

"Ya, silahkan tunggu sebentar tuan dan nona, saya ambilkan peralatan nya dulu."ucap Embun yang kini melanjutkan langkahnya.

Sementara tatapan Alfaro kini tertuju pada Embun yang terlihat cuek dan biasa saja melihat nya dengan wanita lain.

Tangan Alfaro terkepal erat di balik saku jas nya.

"Pemilik butik ini cantik juga ya, tapi sepertinya dia sudah ada yang punya. Terlihat dari perut buncitnya sepertinya dia sedang hamil, ah sangat disayangkan padahal tadinya aku ingin mencari jodoh untuk dijadikan istri kedua papah ku."ucap wanita yang kini ada di samping Alfaro.

"Apa kau sadar dengan kata-kata mu, bagaimana bisa kau sembarangan menjodohkan orang?"ucap Alfaro.

...🪵🪵🪵...

"Nona sebaiknya anda makan dulu biar saya yang selesaikan pekerjaannya."ucap asisten pribadi Embun yang baru selesai makan siang tersebut.

"Tidak apa Na, aku bisa makan nanti saja."ucap Embun yang kini hendak menawarkan melakukan pengukuran tubuh Alfaro yang sebenarnya Embun tau seluruh ukuran nya termasuk bagian sensitif nya.

Namun dia tetap melakukan hal itu agar tidak menimbulkan kecurigaan, Alfaro terus menatap intens pada Embun yang sedari tadi menundukkan pandangannya sambil fokus pada benda yang ia pegang.

"Selesai, tuan dan nona bisa kembali nanti saat saya hubungi untuk mencobanya."ucap Embun yang kini merapihkan barang-barang nya kembali dan membawa pergi semua itu kedalam ruangan nya.

Embun pun mencuci tangan dan membasuh muka yang kini bercucuran air mata, dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya menangis.

Wanita itu terlihat sangat rapuh tidak seperti tadi saat dia berhadapan dengan Alfaro dan calon istri nya.

Sampai saat pintu toilet terbuka dan Embun kira itu adalah asisten pribadinya ia buru-buru membasuh muka meskipun bekas tangis itu masih terlihat jelas dari wajah nya yang sembab itu.

"Babe."lirih Alfaro.

Air mata Embun terlihat meluncur deras dan saat itu juga Alfaro langsung memeluk erat Embun yang akhirnya menangis sesenggukan itu.

"Selamat untuk kebahagiaan mu Al, maaf waktu itu aku tidak datang untuk menjenguk keadaan mu. Karena uncle bilang siapapun tidak akan bisa masuk sembarangan apalagi aku yang bukan siapa-siapa mu."ucap Embun dalam isak tangisnya.

"Babe.... masih berfikir bahwa kamu bukan siapa-siapa ku, apa kehadiran mereka tidak cukup untuk membuktikan bahwa kamu adalah milikku dan kau juga adalah segalanya bagiku. Aku tidak marah karena kamu tidak menjenguk ku saat itu, aku hanya marah karena kamu tidak mengabari ku tentang kehadiran mereka. Aku marah karena kamu meninggalkan rumah mu."ucap Alfaro yang kini mengeratkan pelukannya.

"Aku tidak berhak atas rumah itu Al, istrimu lebih berhak untuk itu semua. Bahkan jika kamu ingin mengambil boutique ini kamu juga bisa mengambil ini kapan saja karena modal awal semua ini adalah uang mu."ucap Embun yang membuat Alfaro menatap wanita nya yang sebenarnya tengah berkeluh-kesah tentang keadaannya saat ini.

"Semua yang telah aku berikan padamu adalah milikmu babe termasuk rumah itu, jaga dirimu baik-baik bersama anak kita karena dalam waktu yang tidak bisa ditentukan aku tidak akan pernah kembali bersama dengan kalian, tapi percayalah aku sangat mencintaimu dan anak-anak kita sampai kapanpun itu."ucap Alfaro yang kini membingkai wajah cantik yang mungkin tidak akan pernah bisa ia sentuh lagi setelah pernikahan itu digelar.

Alfaro pun mencium lembut bibir Embun yang sangat ia rindukan dan sudah menjadi candu baginya dan sudah sangat ia rindukan selama beberapa bulan lalu.

Hingga ciuman itu berakhir air mata Embun tidak kunjung berakhir."Babe maafkan aku aku harus pergi."ucap Alfaro yang kini berbalik dan melangkah pergi.

"Al setidaknya tolong jenguk mereka saat mereka sudah lahir nanti."ucap Embun yang hanya bisa menangis sesenggukan.

"Babe maafkan aku."ucap Alfaro yang akhirnya pergi meninggalkan Embun dengan kepedihan di hati dan semua itu terlihat jelas dari langkah gontai.

Alfaro memasuki mobil dimana calon istrinya terlihat badmood saat ini.

"Kamu ngapain aja di dalam honey, bukankah hanya pergi ke toilet."ucap nya terlihat sangat kesal.

"Aku bicara dulu sebentar dengan asisten pemilik boutique tersebut untuk menjadwalkan pertemuan kita nanti sekaligus menawarkan kerja sama padanya yang mewakili bosnya."ucap Alfaro beralasan.

"Oh ya ampun masih sempat-sempatnya melakukan bisnis disaat kita buru-buru seperti saat ini."ucap Vanya.

"Hmm..."lirih Alfaro yang langsung tancap gas.

Sementara Embun makan siang yang sudah terlewat itu sambil bercucuran air mata, bagaimana bisa semua berakhir menyakitkan seperti saat ini.

Sampai saat makanan itu habis Embun masih sibuk menyeka air matanya dengan lembaran tissue yang sudah menumpuk di lantai.

Embun masih berada di ruangan nya sampai saat asisten pribadinya bilang bahwa semua barang di boutique nya di borong habis oleh puluhan orang yang kini masih mengantri di sana.

Embun tau siapa yang ada di balik semua ini, namun dia hanya bisa pasrah dia tau Alfaro masih peduli terhadapnya apalagi ada buah hati mereka disana.

Embun pun melanjutkan pekerjaannya meskipun dalam keadaan tidak baik-baik saja tapi dia tidak ingin terlambat untuk mengerjakan gaun pengantin milik calon istri Alfaro dan juga jas milik Alfaro.

Dia menghubungi seseorang untuk melakukan pembelian kain khusus yang akan dia gunakan untuk membuat setelan baju pengantin tersebut.

Tidak lama setelah menghubungi seseorang Embun pun mulai menyiapkan pola ukuran yang akan digunakan dalam rancangan desain gaun pengantin tersebut sambil menunggu kedatangan kain yang ia pesan.

Waktu terus bergulir hingga saat ia pulang ke rumah untuk beristirahat, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan semua yang pernah terjadi di antara dirinya dan Alfaro meskipun mungkin kelahiran buah hati mereka kelak akan selalu mengingatkan dirinya tentang itu.

Hari ini Embun masih bertahan di rumah barunya sendirian hingga saat seseorang datang ke rumah tersebut, dia bilang dia ditugaskan oleh Ciko untuk bekerja di rumah itu mengurus semua keperluan Embun.

Embun pun merasa sedikit lega karena dia sadar masih ada Ciko yang selalu ada untuk nya dan yang paling peduli padanya sejak dulu.

Hari berganti hari, Embun terus mengerjakan pekerjaan nya, merancang gaun pengantin itu dengan tangan nya sendiri tanpa bantuan orang lain kecuali mesin jahit dan asisten pribadinya yang membantu dia mengambilkan ini dan itu.

Semua hampir selesai dalam dua Minggu embun berhasil memasang Payet yang terpasang di ekor gaun pengantin itu yang berbahan dasar butiran mutiara yang khusus didatangkan dari tempat Alfaro karena itu adalah request dari Vanya calon istri nya.

Gaun super indah dengan bahan serba premium itu menjadi bukti keseriusan dan kerja keras Embun dengan cucuran keringat dan air mata ditengah perut buncitnya itu.

Tidak hanya itu setelan jas yang Embu buat untuk Alfaro pun terlihat sangat bagus dan akan semakin memancarkan ketampanan pria itu. Embun ingin pernikahan yang sempurna untuk mereka jika memang mencintai tidak harus memiliki setidaknya melihat pria yang ia cintai bahagia bersama orang lain adalah bukti cinta yang Embun miliki untuk Alfaro.

Sampai saat Alfaro datang bersama dengan Vanya dan juga keluarga nya yang merupakan kedua ibu dari pasangan pengantin yang akan melihat anak-anak mereka mencoba gaun pengantin yang sudah rampung dibuat oleh Embun.

1
partini
berbakti pada orang tua tapi bikin orang lain sengsara hah ada gitu yah apa itu ga dosa ,busehhhhh gampang amat
ajaran dari mana itu ????????
Erny Su: Itulah ciri-ciri orang yang keliru.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!