Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Romantic Dinner No, Overthinking Dinner Yes
Tak lama berselang pelayan menghantarkan pesananku dan Celo, tetapi tak ku dapati pacarku itu keluar dari toilet. Jiwa penasaranku semakin meronta bahkan aku menyibukkan diri dengan menikmati masakan yang telah tersaji pun tidak mampu meredamnya.
Detik berganti menit, menit berlalu menjadi jam tetap saja setiap kali ku perhatikan ke arah ruangan kecil yang ada di sudut restoran itu tak ku dapati Celo melangkahkan kaki, padahal sudah banyak pengunjung yang silih berganti hilir mudik namun tak satu pun orang yang keluar bareng dia.
Entahlah sepenting apa sosok yang menelponnya itu sampai selama ini dia meninggalkanku sendirian dimeja yang penuh makanan dan jadi pusat perhatian semua pengunjung karena mereka berfikir badan sekecil aku tetapi sangat rakus soal makanan.
"Geramnya aku dengan situasi ini.'' Gerutuku dalam hati.
Akibat menjadi pusat perhatian semua orang disini, aku mengambil keputusan jika dalam waktu sepuluh menit kedepan tak ku dapati laki-laki itu keluar dari toilet.
Maka akan aku hampiri dia dan ku jambak rambut ikalnya itu, sungguh tega dia membiarkan tuan putrinya yang cantik ini melewati momen absurd seorang diri.
Aku terus memainkan gawai yang sejak beberapa menit lalu sudah ku pegang untuk meredakan sedikit rasa gugup.
Aku berpura-pura seakan ada yang mengirimkan pesan singkat padaku dengan sesekali aku bertingkah layaknya ada orang yang menghubungiku untuk membuyarkan persepsi-persepsi semua orang.
"Halo beb, orderan mu aman sudah aku packing kok, nunggu kirim saja." Ucapkan didepan layar mati.
Ku nikmati berbicara sendiri yang seakan berakting menjadi orang gila ini dengan sesekali ku lirik ke seluruh sudut meja untuk memastikan jika penghuninya tidak lagi berfokus padaku.
Waktu toleransi yang ku berikan untuk Celo habis, apapun resikonya nanti aku harus memastikan dengan siapa dia berbicara sampai sangat betah berlama-lama di toilet.
Aku menyusulnya kesana walaupun resiko yang paling mudah ditebak adalah aku pasti diusir oleh para pengunjung cowok karena telah masuk ke toilet yang seharusnya tidak diperuntukkan bagiku.
Saat sudah sampai didepan pintu yang terpasang gambar anak laki-laki, sejenak ku hentikan langkah sambil menarik nafas panjang dan memfokuskan diri jika tujuan awalku terpaksa salah kamar ini adalah untuk memastikan jika pacar kesayanganku itu tidak sesuai dengan yang sedang aku pikirkan.
Pintu telah ku buka, didalam ruangan itu ada beberapa lorong berpintu dengan kondisi tertutup, kembali ku yakinkan diri untuk mengetuk satu per satu pintunya untuk mengamati apakah didalamnya ada suara yang bisa aku kenali.
"Baby, apakah kamu didalam?" Pertanyaan ku sejak mengetuk pintu lorong pertama sampai lorong keempat.
Dari keempat lorong tak ku dapati jawaban apapun, kini hanya tersisa lorong kelima, baru saja tanganku hampir menyentuh pintunya ku dapati ada suara yang ku yakini itu adalah Celo.
"Urus saja anak...'' Suara samar dari lorong kelima.
Walaupun samar ku dengar, hal ini cukup membuatku semakin penasaran apa yang telah Celo katakan, anak siapa yang dimaksud, pikiranku semakin liar.
Aku tidak sanggup melanjutkan untuk mengetuk pintunya, aku takut jika ada hal yang dia sembunyikan.
Seketika aku memilih untuk keluar dari toilet dengan raut wajah bingung sementara mataku berkaca, kini di otakku adalah bagaimana jika semua keraguan-keraguanku selama ini benar.
Aku terus berusaha menahan kaca di mataku itu tidak jatuh menjadi bola air yang mengalir deras ke pipi, aku berharap jika aku hanya salah dengar dan Celo bisa memberikan jawaban yang cukup logis.
Aku berusaha semaksimal mungkin untuk menahan air mata agar tidak keluar, tak lama berselang aku melihat Celo telah keluar dari toilet.
Tentunya ada perasaan lega karena sebentar lagi aku akan mendengarkan penjelasan tentang pembicaraannya dengan seseorang diujung telepon tadi.
Dia semakin mendekat, aku akan bersikap seolah tidak mendengar dan mengetahui apapun yang dia lakukan selama di ruangan kecil itu.
"Sayang, ayo makan." Ajak ku.
"Iya sayang, kenapa kamu tidak makan duluan?" Tanyanya.
"Namanya dinner jadi aku ingin kita benar-benar menikmatinya berdua." Jawabku.
Sepanjang makan ku amati dia dan berharap ada sebuah penjelasan, namun lagi-lagi aku semakin dibuat bingung justru dia hanya sibuk berulang kali bermain gawainya.
Dugaanku tentu mengarah ke seseorang yang baru saja menelponnya sehingga menyita waktu dinner kami.
Ingin sekali aku langsung menanyakan apa yang ku dengar, tetapi aku berusaha menahan diri karena di malam ini aku sudah bertekad untuk menebus kesalahanku waktu itu.
Saat menolak lamarannya dan aku masih berharap jika malam ini dia akan mengulang pertanyaannya itu sehingga aku akan memberikan jawaban yang tentunya akan membuat kami semua bahagia.
Setengah jam berlalu, makanannya ku lihat tak disentuh sama sekali.
Kali ini kesabaranku sudah hampir habis, langsung ku tanyakan saja maksud dari kalimat yang ku dengar tidak sengaja itu.
"Sayang aku ingin bertanya, boleh?" Tanyaku.
"Boleh sayangku, silahkan." Jawabnya.
"Tadi sebenarnya aku mengikuti mu ke toilet, dan tak ku sengaja..." Balasku, tetapi terpotong karena dia beranjak dari kursinya.
Dia pergi begitu saja meninggalkanku tanpa berbicara sepatah kataku bahkan mendengarkan ku saja dia tak sudi kali ini.
Tanpa ku sadari air mataku perlahan menetes membasahi pipi, aku berfikir ini bagian dari balas dendamnya akibat penolakan ku kala itu, tetapi sungguh jahat caranya dia mempermalukan ku di tempat umum.
Restoran hampir tutup, aku segera angkat kaki dari mejaku.
Saat ingin memesan taksi online ku dapati sebuah pesan darinya jika dia sudah meminta tolong sahabatnya yang tentu saja Rafka untuk menjemput ku.
Dan meminta maaf karena tidak berpamitan kepadaku, alasannya adalah ada urusan mendesak yang harus dia selesaikan.
Entahlah pikiranku kalut, yang penting saat ini aku harus segera pulang karena rasanya sudah sangat tidak bisa diungkapkan, malu dan kecewa tentu saja marah jadi satu.
Aku pun enggan menanggapi pesannya itu. Sepenting apa urusannya itu dibanding dengan aku yang sempat dia lamar didepan ayah dan bunda.
Aku menemui salah satu pelayan restoran untuk meminta waktu agar aku diizinkan untuk menunggu jemputan, untungnya itu adalah salah satu kebijakan dari restoran.
Aku mencoba membolak-balikkan pikiranku sendiri agar bisa berfikir positif jika yang apa yang tak sengaja ku dengar adalah salah dan barangkali urusannya adalah hal yang bahaya sehingga dia harus menyelesaikannya sendiri.
Ku tertunduk lesu, tetapi tiba-tiba ada tangan yang mengulurkan tisu untukku. Pandanganku seketika menuju ke sosok itu ternyata dia adalah Rafka.
Dia tersenyum padaku saat pandangan kami saling bertemu. Dia juga mencoba menenangkan ku dengan menepuk-nepuk pelan bahuku, tetapi tangisku semakin pecah.
Aku sosok yang di kenal banyak orang sebagai orang yang tegas, namun sebenarnya aku tetaplah wanita yang mudah tersentuh dengan perlakuan-perlakuan sederhana.
..