Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama
Lama mencium bibir Yuri, Gio mulai tenang dan justru semakin menikmati sensasi luar biasa. Seperti sebuah permen, rasanya sungguh manis dan membuat candu. Pengalaman pertama?? Tentu. Tetapi nalurinya yang selama ini tertidur, membuat Gio begitu lihai melakukannya. Dia pun sebenarnya menyadari jika wanita dalam dekapannya itu terus memberontak, namun tenaganya yang tidak sebanding membuatnya diam tak berkutik.
"Eeemmmmmppphhhhhh"
Hanya suara itu yang bisa keluar dari mulut Yuri saat kedua bibir baru saling berkenalan itu menempel begitu erat. Sebuah energi baru tersalurkan ke seluruh syarat Gio yang baru saja menghilangkan seluruh emosi dan amarah pada dirinya. Yuri melihat dengan jelas bagaimana Gio begitu menikmati ciumannya sambil memejamkan mata.
"Sialan, apa dia mengambil kesempatan dalam kesempitan," gerutunya dalam hati. Tubuhnya pun seolah berkhianat dan justru ikut nikmati setiap gerakan bibir yang Gio lakukan.
Tak lama Gio membuka matanya dan bertatapan langsung dengan kedua manik milik Yuri. Tak ada ekspresi apapun yang ditampilkan olehnya, meski dia tau ada rasa kesal di wajah Yuri. Rupanya dia baru sadar apa yang telah dilakukan olehnya, hal yang tak pernah dia duga akan melakukannya pertama dengan wanita yang berstatus sebagai karyawannya.
Dia pun lantas segera melepas pautan bibirnya dan mengakhiri ciumannya. Gio membalikkan tubuhnya dan berjalan ke sudut ruangan meninggalkan Yuri yang diam dalam keterpakuan. Mulai menyusun lintasan memori kecil dalam ingatannya untuk apa yang baru saja terjadi.
Sayangnya yang terbayang adalah wajah Yuri yang terkejut saat dia memulai aksinya tanpa sadar. Tangannya meraba bibirnya yang masih tertinggal rasa hangat serta manis, jantungnya pun berdetak lebih cepat.
Gila
Gila
Gio melakukan hal paling gila dalam hidupnya, bagaimana bisa dia mencium seorang wanita pertama kalinya dalam keadaan tidak sadar. Bahkan dia juga yang memaksa wanita tersebut untuk berciuman. Terlebih status wanita itu sudah menikah, ahh Gio dalam masalah besar. Bagaimana jika wanita itu tidak menerima perlakuan Gio dan melaporkannya kepada suaminya. Ini akan merusak reputasi dan harga diri sebagai seorang pria yang kejam dan dingin. Gio hanya bisa terdiam membayangkan sesuatu yang akan terjadi kedepannya. Gio dalam masalah besar.
Status Yuri yang belum sah bercerai dengan David membuat perusahaan masih mencantumkan status menikah untuk Yuri. Dan itu juga yang membuat Gio salah informasi akan status Yuri yang sebenarnya.
Di luar ruangan, Ziyan menunggu dengan gelisah, bolak balik berjalan seperti setrikaan. Hatinya gulana takut terjadi sesuatu dengan Yuri, apalagi saat emosi Gio tidak dapat dikendalikan. Suara benda-benda yang terlempar dan pecah membuat Ziyan semakin khawatir. Bagaimana nantinya dia bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada Yuri, terutama tangannya yang sudah menjadi aset perusahaan.
"Nona, kamu baik-baik saja?" Ziyan langsung memeriksa seluruh bagian tubuh Yuri tanpa terkecuali.
Dia terkejut melihat Yuri yang keluar dari ruangan kerja Gio dalam keadaan tatapan mata yang kosong seperti orang yang tengah kesurupan.
"Ini gila!!" cicitnya dengan lirih.
"Heh??" Ziyan berhenti memeriksa tubuh Yuri, " Apa maksudmu? Kamu menyebut Boss Gio gila??" tanya Ziyan memastikan.
"Kepalaku pusing Pak, aku rasa butuh istirahat. Tolong pastikan Boss Gio untuk menandatangani dokumen itu segera," ucap Yuri mengalihkan pembicaraan, sangat tidak mungkin dia menceritakan apa yang terjadi di dalam termasuk saat Gio menciumnya. Mana mungkin Ziyan akan percaya.
"Ahh baiklah, aku akan mengurusnya dengan baik dan menyerahkan langsung kepadamu. Tapi apa yang terjadi di dalam, bisakah Nona menceritakannya?" Ziyan begitu penasaran.
Sampai saat ini belum pernah ada yang bisa menenangkan Gio saat emosi dan amarah tengah melanda. Gio memang memiliki gangguan pengendalian diri terutama saat sedang emosi. Segala hal yang ada di sekitarnya menjadi sasarannya, entah itu benda atau orang. Semua akan terkena dampaknya. Sebulan yang lalu salah seorang pihak keamanan menjadi korbannya saat berusaha menenangkan Gio yang tengah mengamuk parkiran. Beruntung suasana perusahaan susah sepi dan tidak ada karyawan lain yang melihat kejadian tersebut.
Dan ajaibnya, Yuri berhasil keluar dari ruangan kerja Gio tanpa terluka sedikitpun bahkan lecet -lecet tipis pun tidak ada. Padahal jelas terdengar jika Gio pun memecahkan beberapa guci dan benda lainnya.
"Dia menghancurkan semua yang ada di dalam sana, guci, vas bunga, laptop, meja dan kursi semua berantakan, hancur tanpa sisa. Boss Gio terlihat sangat marah dan beberapa kali mengumpat dengan kata-kata yang kasar. Tapi aku kira itu hal yang wajar saat seorang pria sedang emosi," terang Yuri.
"Terus?" Ziyan semakin penasaran, meskipun sudah lama menjadi asisten Boss Gio tetapi dia tidak pernah melihat saat boss Gio mengamuk di dalam sebuah ruangan. Yang dia tahu, ruangan itu setelahnya seperti sebuah lambung kapal yang terombang-ambing.
Yuri mengangkat kedua bahunya dan meninggalkan Ziyan yang masih memikirkan segudang pertanyaannya. Namun selamatnya Yuri dari amarah Gio membuat Ziyan masih tidak bisa percaya sepenuhnya.
Sementara di dalam ruangan, Gio tengah terduduk di sofa yang baru saja dia kembalikan posisinya. Sedikit demi sedikit biar malah tersadar dengan apa yang terjadi padanya. Meski ini bukan yang pertama kali, namun Gio masih belum bisa menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Mengapa emosinya sangat sulit dikendalikan.
Pria itu ternyata ke seluruh ruangan dan melihat betapa hancurnya keadaan di sana. Entah berapa banyak uang yang harus dia keluarkan untuk mengganti barang-barang yang telah hancur. Namun saat melihat ke arah pintu masuk, bayangan wanita itu kembali muncul. Berputar kembali memorinya saat dia menarik tubuh mungil itu dan kemudian proses terjadinya penyatuan bibir itu terulang.
"Ckckck, ini konyol!!" Gio berdecak tak percaya apa saja yang dia alami.
Tapi yang paling aneh adalah saat emosi dan amarahnya yang berada di puncak tiba-tiba hilang dan berubah menjadi perasaan yang tenang dan nyaman. Bahkan jantungnya ikut berdetak kencang kala memori itu terus berputar.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Padatnya jadwal pekerjaan Arimbi ditambah David yang harus bolak-balik ke pengadilan membuat waktu untuk mempersiapkan pernikahan mereka begitu sempit. David awalnya menolak untuk membuat resepsi besar untuk pernikahan keduanya, namun sangat berbeda pendapat dengan sang ibu. Atas bujukan dan rayuan Arimbi, Yola mendesak David untuk segera menikahi. Apalagi permintaan Yola untuk menikah sebelum proses perceraiannya dengan Yuri belum selesai.
David masih berharap pernikahannya dengan Yuri dapat diselamatkan karena di dalam hatinya masih tersimpan cinta untuk Yuri selamanya. Sampai kapanpun David hanya mencintai Yuri sebagai wanita terindah untuknya. Dan tentunya berharap Yuri mau memaafkan kesalahannya atas pengkhianatan yang sama sekali tidak David inginkan.
"Pokoknya ibu ga mau tahu, kamu harus segera menikahi Arimbi. Mau ditaruh mana muka ibu jika nantinya tetangga pada tahu jika cucu ibu adalah anak hatam, anak hasil hubungan di luar pernikahan. Bisa-bisa ibu ma---"
"Kalau kenyataannya seperti itu bagaimana Bu?? Yang penting keinginan ibu untuk memiliki cucu kan sudah terwujud. David cape Bu, David mau istirahat," potong David terhadap ucapannya ibunya.
Tak ingin berbicara dengan ibunya terlalu lama, David berjalan menuju kamarnya. Hidupnya hampa dan kosong, dia sesungguhnya rindu akan harum tubuh Yuri yang senantiasa menenangkan hatinya.
Demi mengisi kerinduannya kepada Yuri, David bahkan membeli dan menggunakan sabun, shampo dan parfum yang biasa Yuri gunakan saat masih bersama. Padahal Arimbi selalu protes keras terhadap apa yang David gunakan karena kerap kali mual mencium aroma tersebut. Tapi David tak menggubrisnya dan tetap memakainya setia hari, tak peduli rekan kerjanya terus meledek jika David tak bisa move on.
Sebuah gambar tak sengaja David lihat saat berselancar mencari hiburan. Ya, dia yakin jika yang ada di website sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion itu adalah Yuri. Keharuan akan rindu yang selama ini tersimpan bisa sedikit terobati kala melihat senyum manis Yuri. Keberadaan Yuri yang menghilang setelah kepergiannya dari rumah, membuat David kesulitan menemuinya. Hanya saat sidang perceraiannya dia bisa bertemu dan menatap langsung wajah cantik itu.
kalau rumah tangga mertua ikut ngatur dan campur tangan ngurusin susah adanya pasti ribut terus