Pernahkah kalian mencintai seseorang secara diam-diam? Jika pernah, berarti kisah kalian sama dengan kisah yang dialami oleh Rania. 5 tahun lebih ia memendam perasaan kepada seorang laki-laki yang merupakan teman sang kakak, namun pada akhirnya laki-laki itu malah menikah dengan orang lain.
Sakit? Tentu saja. Sangking tidak kuatnya menahan rasa sakit itu, Rania bahkan sampai memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri agar dapat melupakan cintanya pada laki-laki itu.
Namun ternyata, semua usahanya itu sia-sia karena saat ia kembali lagi ke Indonesia, perasaan itu ternyata masih ada dan malah semakin besar.
Lalu, apa yang harus Rania lakukan sekarang? Haruskah dia kembali keluar negeri untuk berusaha lebih keras lagi melupakan laki-laki itu, atau ia harus lebih berani lagi menghadapi perasaannya sendiri?
Kalau kalian ingin tahu jawabannya, cari sendiri ya di dalam novel ini. Enjoy your journey❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spring dazzling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis kecil yang lucu
5 tahun kemudian…
Bandara soekarno-hatta.
Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, tetapi suasana bandara sudah tampak ramai. Banyak orang-orang yang berlalu lalang, ada yang hendak pergi dan ada juga yang baru sampai. Di tengah keramaian itu ada seorang gadis cantik dengan coat berwarna coklat muda dan kacamata hitam yang menutupi hampir setengah wajahnya, rambut panjangnya tampak berkibar-kibar karena tertiup angin. Namun, gadis itu tak peduli. Ia tetap berjalan dengan anggunnya sembari menarik koper berukuran besar di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya sibuk mengetik sesuatu di atas handphone nya.
"Kemana sih tuh orang, kalo nggak niat jemput ngomong kek," gerutu gadis itu saat panggilannya tak kunjung dijawab oleh seseorang di seberang sana.
Karena sudah mulai kesal, gadis itu pun akhirnya mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku coat yang ia kenakan.
Pandangan matanya berputar mengelilingi seisi bandara, gadis itu tampak menghirup nafasnya dalam-dalam seolah-olah sedang mengenali udara Jakarta yang sudah lama sekali tak ia hirup.
"Hai Jakarta, ketemu lagi kita," lirih gadis itu sambil tersenyum.
Sudah hampir 5 tahun lebih Ranita tidak pulang ke Indonesia. Niat awalnya yang ingin pulang 6 bulan sekali gagal total karena ternyata agenda perkuliahannya di sana sangat padat, hingga saat liburan pun ia masih harus mengerjakan tugas untuk dikumpulkan di semester berikutnya.
Bahkan, saat lebaran idul fitri pun Rania tidak bisa pulang karena di kampusnya tidak libur. Sebenarnya, bisa saja Rania izin selama beberapa hari, namun konsekuensinya adalah ia akan tertinggal banyak sekali pelajaran yang tidak mungkin bisa ia kejar sendirian.
Pada akhirnya, keluarga nya lah yang berkorban pergi kesana agar bisa menemui anak gadis mereka yang semakin hari semakin cantik itu. Rania juga sempat magang di sebuah perusahaan yang lumayan besar disana, namun karena ayah dan bunda nya tidak setuju kalau ia bekerja disana, akhirnya Rania pun hanya bisa pasrah saat kedua orangtuanya itu sudah menyiapkan tiket pulang untuknya.
Jadi, inilah pertama kalinya Rania menginjakkan kakinya kembali di Jakarta setelah 5 tahun lamanya. Jika ditanya bagaimana perasaannya sekarang, mungkin Rania akan menjawab, ia sudah jauh lebih baik. Mungkin.
Dug.
"Aduh! Sakit… "
Rania yang masih menikmati euforia karena bisa pulang ke negara tercinta sangat terkejut saat tiba-tiba saja ada seorang gadis kecil yang terjatuh tepat di depannya.
Dengan cepat, Rania pun langsung berlari mendekati gadis kecil itu dan berjongkok di sampingnya.
"Ya Allah sayang. Cup, cup, cup, mana yang sakit? Mana? Bilang sama kakak," ucap Rania seraya mengangkat tubuh gadis kecil itu dari atas lantai.
Bukannya mereda, tangisan gadis kecil itu malah terdengar semakin keras. Membuat Rania menjadi panik dan bingung, pasalnya mulai banyak orang-orang yang menoleh ke arah mereka dengan pandangan aneh seakan-akan ia akan menjahati gadis kecil itu.
"Cup, cup, cup, udah ya jangan nangis. Orang tua kamu dimana? Biar kakak anterin kamu kesana," ucap Rania lagi.
Gadis kecil dengan rambut panjang yang diikat dua itu tampak menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Nggak tau,"
"Ya udah, kakak beliin es krim mau nggak? Nanti abis itu kita ke ruang informasi, biar orang tua kamu bisa nemuin kamu, mau ya?" rayu Rania agar anak kecil itu mau menghentikan tangisnya.
Meskipun tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh kakak cantik di depannya, tetapi mendengar kata es krim gadis cantik itu pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Mau es krim… "
Mendengar hal itu Rania pun menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman lebar.
Lucu banget sih ni anak! Boleh gue karungin nggak sih?
"Ya udah ayo,"
Baru saja Rania ingin meraih tubuh mungil gadis kecil itu kedalam gendongnya, tiba-tiba saja dari arah belakang terdengar suara berat seorang pria yang sepertinya nama memanggil anak ini.
"Anjani!"
"Papah!"