Ternyata 8 tahun bersama tidak menjamin cintanya bisa berpaling padaku, Aku tetaplah kalah dengan cinta pertamanya.
Maafkan Aku yang memilih menyerah, bukan karena aku tidak mencintaimu tapi aku lelah, lelah berjuang sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Agam tiba di rumah sekitar pukul 1 dini hari. Dia sengaja tidak mengabari istrinya karena tidak ingin Jemima menunggu dirinya yang sudah dipastikan pulang larut malam. Dia juga mempunyai kunci rumah sehingga tidak perlu membangunkan sang istri.
Saat membuka pintu rumahnya, Agam terkejut karena istrinya ternyata tertidur di ruang TV. Dengan menggelengkan kepalanya, Agam mematikan TV yang masih menyala kemudian mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mereka. Jemima yang sangat sensitif dengan pergerakan tentu langsung terbangun karena merasa tubuhnya melayang.
“Papa sudah pulang?” tanyanya dengan suara serak. Agam menganggukkan kepalanya.
“Kenapa tidur diluar?” tanya Agam. Jemima masih setengah sadar, rasanya matanya sangat sulit dibuka. Bukannya menjawab dia malah langsung tertidur kembali. Melihat reaksi istrinya membuat Agam tersenyum tipis. Dengan hati-hati dia kemudian meletakkan istrinya di ranjang mereka. Setelahnya dia membersihkan diri dan ikut berbaring di sebelah istrinya. Perjalanan panjang dari luar kota sangat melelahkan untuknya.
Keesokan harinya, saat sang surya telah menyapa dan mengusik ketenangan Agam yang sedang tertidur, Dia meraba sisi tempat tidurnya yang sudah terasa dingin. Itu artinya Jemima sudah bangun dari tadi. Malas-malas Agam membuka matanya, dia lirik jam yang bergantung di dinding kamarnya. Jarum pendek menunjuk di angka 10 dan jam panjang di angka 11 yang artinya sebentar lagi tepat jam 10 pagi. Agam bangun kesiangan dan tidak bisa mengantar anaknya ke sekolah. Untungnya dia diberikan waktu libur untuk hari ini. Agam dudukkan tubuhnya dan mengulat tangannya ke atas khas gerakan bangun tidur. Beberapa kali dia masih menguap karena memang masih begitu lelah.
Tak berapa lama Jemima masuk ke kamar mereka dengan tersenyum manis.
“Sudah bangun pa?” pertanyaan Klasik yang Jemima lontarkan. Padahal jelas-jelas Agam sudah duduk bersandar di kepala ranjang. Agam menganggukkan kepalanya. Terlihat jelas kalau dia masih mengantuk.
Jemima duduk disebelah suaminya dan memeluknya erat.
“Kangen banget sama papa”rengeknya manja.
Agam membalas pelukan tersebut tapi tidak membalas kata kangen yang Jemima ucapkan.
Jemima mengurai pelukannya.
“Mau makan sekarang?” tanya Jemima. Dia sudah memasak opor ayam. Makanan yang Agam cukup sukai.
Agam menggelengkan kepalanya. Dia belum ingin makan saat ini. Agam kembali menarik tubuh istrinya agar padu dengannya. Dia kemudian memeluk istrinya erat.
“Carel sudah sekolah?” tanya Agam. Jemima mengangguk dalam pelukan suaminya. Dia sedang merasa terharu karena akhir-akhir ini Agam sudah lebih romantis dari sebelumnya.
“Kalau aku sarapan kamu saja boleh tidak?” tanya Agam.
Jemima terkekeh kemudian reflek memukul dada suaminya pelan. Tapi kekehan Jemima harus terhenti karena Agam melabuhkan ciuman pada bibir semerah cerry itu. Mereka kemudian berciuman melepas rindu setelah tiga hari tinggal berjauhan.
….
“Hai mom, apa kabar?” Jemima dikejutkan dengan pertanyaan seseorang dari arah belakangnya. Saat ini dia sedang berada di supermarket membeli keperluan dapur selama seminggu. Setelah menjemput Carel dia langsung melimpir ke supermarket tersebut. Agam sendiri setelah melepas rindu dengan istrinya kembali melanjutkan tidurnya.
“Halo juga mom” balas Jemima setelah tahu siapa yang menyapanya.
“Aku baik, Mom Mili apa kabar?” tanya Jemima pada istri dari boss suaminya tersebut.
“Baik juga mom, berdua saja?” tanya Mili pula.
Jemima pun menganggukkan kepalanya.
“Agam sudah pulang kan mom?” Mili kembali bertanya.
“Iya sudah mom kemarin malam” jawab Jemima.
“Syukurlah, Aku jadi tidak enak karena Agam harus pergi berdua saja dengan Inez. Mau bagaimana lagi Mama tiba-tiba sakit” jelas Mili.
Deg.
Jemima begitu terkejut mengetahui fakta ini.
“Jadi Agam pergi berdua saja dengan Inez?” gumam Jemima dalam hati.
“Agam sudah meminta izin kan mom sebelumnya?” Mili sepertinya bisa membaca raut wajah terkejut Jemima.
Jemima tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa Agam merahasiakan semua ini darinya.
Istri mana yang tidak curiga kalau suaminya hanya pergi dinas berdua dengan seorang wanita dan merahasiakannya?.
“Ya sudah kalau begitu, aku duluan ya mom” Mili dan Jemima kemudian cipika cipiki sebentar.
“Bye Carel” ucap Mili pula.
“Bye Auntie” balas Carel.
Ingin rasanya Jemima menangis saat ini.
“Kenapa Agam tidak mengabari kalau dia hanya pergi berdua dengan Inez?” gumam Jemima dalam hati. Hatinya merasa begitu panas ketika tahu hal ini.
“Mama kenapa?” tanya Carel karena Mamanya terlihat melamun dengan mata berkaca-kaca.
Tersadar, Jemima pun menggelengkan kepala kemudian tersenyum pada putranya.
“Ayo nak kita lanjutkan belanjanya” ajak Jemima. Dia tidak ingin Carel khawatir padanya.
….
Saat sampai di rumah, Agam terlihat sedang menelepon seseorang. Wajahnya sangat serius. Dia bahkan tidak menyadari kalau Jemima dan Carel sudah tiba di rumah.
“Aku tidak tahu, jangan tanya aku” Agam terdengar sedikit membentak.
Menyadari keberadaan istri dan anaknya seketika membuat Agam terkejut. Dia langsung mematikan teleponnya saat itu juga.
“Kalian sudah pulang?” tanya Agam terdengar canggung.
Jemima hanya tersenyum tipis. Dia malah semakin curiga dengan suaminya.
“Sebenarnya apa yang dia sembunyikan?” gumam Jemima dalam hati.
Tak ingin berburuk sangka, dia pun memilih merapikan belanjaannya di dapur.
Agam menyusul istrinya ke dapur. Dia membantu Jemima merapikan belanjaannya. Mencuci daging sebelum ditempatkan wadah dan diletakkan di freezer. Agam memang sebenarnya telaten dan ringan tangan dalam membantu pekerjaan istrinya. Tapi sikap Agam yang misterius terkadang membuat Jemima begitu was-was.
Agam menyadari kalau istrinya lebih diam dari biasanya. Kalau Jemima diam seperti ini berarti ada sesuatu yang terjadi padanya. Itulah yang Agam ketahui. Tapi dia seolah tidak ingin menjelaskan dan memilih seolah tidak terjadi apa-apa.
….
Terdengar suara gemercik air di kamar mandi. Itu artinya Agam sedang mandi disana. Jemima kemudian berinisiatif untuk mencuci pakaian suaminya. Dia menyeret koper yang belum dirapikan itu ke ruang mencuci. Satu persatu baju kotor dia keluarkan dari koper dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.
Tapi ada satu yang menghentikan aktivitas Jemima. Sebuah struk pembayaran di salah satu rumah sakit. Yang membuat Jemima semakin syok adalah nama poli yang tertera di struk tersebut.
Jemima membaca struk tersebut. Tertera tagihan atas nama Inez dengan tindakan USG dan suplemen penguat kandungan serta zat besi. Dada Jemima bergemuruh. Dia merasa begitu marah, sedih dan kecewa.
“Ada apa ini sebenarnya?”
Hampir saja dia menangis.
“Tidak, aku tidak boleh bersedih. Kalau aku tanya pada Agam dia pasti tidak akan mengaku” gumam Jemima.
Dia kemudian teringat dengan Nicky yang tiba-tiba meneleponnya beberapa hari yang lalu.
Deg.
“Apa Nicky saat itu melihat Agam dan Inez? Pantas saja tidak biasanya dia mempunyai waktu untuk menelepon dan berbasa-basi”.
Bersambung...
ini pendapat ku 🙂