NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Kematian yang Menyadarkanku

Suara hantaman logam memekakkan telinga masih berdenging di kepalaku. Tubuhku terasa hancur, nyeri menjalar dari setiap tulang hingga ke sumsum. Darah menetes membasahi mataku, membuat pandanganku kabur memerah.

Di samping mobil yang sudah remuk tak berbentuk itu, aku melihat dua sosok yang paling kupercaya berdiri tegak—tidak berusaha menolong sedikit pun.

Rian, tunanganku yang selama tiga tahun ini aku korbankan segalanya, tersenyum sinis sambil memeluk erat pinggang Sari, saudara tiriku yang selama ini aku anggap sahabat sejati.

"Maaf ya, Dian," ucap Rian dengan nada dingin yang belum pernah kudengar. "Kamu pikir aku benar-benar mencintaimu? Aku hanya butuh akses ke perusahaan ayahmu. Sekarang Sari sudah memberiku semua dokumen, kamu sudah tidak berguna lagi."

Sari tertawa pelan, suaranya menusuk tulang. "Kasihan sekali Kak Dian. Selama ini kamu pikir kamu putri paling berharga? Harta, masa depan, bahkan Rian... semuanya akan jadi milikku."

Air mata bercampur darah mengalir di pipiku. Aku ingin berteriak, memaki, bertanya mengapa begitu kejam. Namun napasku semakin sesak, pandanganku perlahan gelap. Terakhir kali yang kulihat adalah senyum kemenangan mereka sebelum aku tenggelam dalam kegelapan abadi.

Kebodohanku adalah mempercayai orang salah. Andai aku bisa kembali... andai aku bisa mengulang semuanya...

"Dian! Bangun Nak, kenapa melamun begini?"

Suara lembut ibuku membuatku tersentak kaget. Aku terbangun dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi punggung. Aku menatap sekeliling ruangan—dinding krem sedikit kusam, lemari kayu tua, foto masa kecilku tergantung di dinding.

Ini kamar lamaku! Rumah yang sudah kami tinggalkan dua tahun lalu karena bangkrut.

Aku berlari ke cermin. Pantulan di sana membuatku terbelalak. Wajahku masih muda, tidak ada garis kelelahan, tanganku halus tanpa bekas luka kerja kasar. Kalender di dinding menampilkan tanggal 17 Juli 2023.

"Tiga tahun lalu..." bisikku gemetar. "Aku kembali ke masa lalu!"

Tepat saat itu pintu terbuka. Ayah masuk dengan wajah lelah, diikuti Ibu yang matanya sembab.

"Dian, Ayah harus bicara," ucap Ayah duduk di tepi tempat tidur. "Perusahaan Ayah bangkrut, utang kami harus lunas seminggu lagi. Jika tidak, rumah ini disita dan kami diusir ke jalan."

Hatiku mencelos. Aku ingat momen ini persis. Di kehidupan dulu, Ayah menawarkan jalan keluar yang sama.

"Ada satu cara," lanjutnya ragu. "Tuan Erlan Pratama, pemilik perusahaan terbesar di kota, bersedia melunasi semua utang. Syaratnya: kamu menikah dengannya selama satu tahun, lalu berpisah baik-baik."

Dulu aku menolak keras. Aku menangis, memilih bertahan dan berharap Rian menolong—padahal saat itulah mereka mulai merencanakan kehancuranku.

Kali ini aku menarik napas panjang, rasa sakit masa lalu masih terasa nyata. Aku menatap kedua orang tuaku, lalu tersenyum tipis—senyum yang dingin dan penuh tekad baru.

"Baik Yah," jawabku mantap. "Aku setuju."

Ayah dan Ibu melongo tak percaya. "Dian, yakin? Katanya Tuan Erlan sangat dingin, tak pernah tersenyum, semua orang takut padanya," cemas Ibu.

"Aku yakin Bu. Daripada kami menderita di jalan, lebih baik aku mencoba. Lagipula ini hanya kontrak, kan?"

Dalam hati aku menambahkan: Kali ini aku tak akan jadi korban lagi. Aku lindungi Ayah dan Ibu. Dan untuk kalian berdua... tunggu saja.

Malam itu aku terjaga. Erlan Pratama—sosok legendaris sekaligus ditakuti dunia bisnis. Muda, tampan, tapi matanya sedingin es. Tak ada yang tahu asal-usulnya jelas, tak ada yang berani mendekat. Orang memanggilnya Bos Dingin. Entah mengapa, nama itu terasa begitu akrab di telingaku.

Keesokan harinya aku dibawa ke kediaman Erlan. Rumah besar itu sunyi senyap, suasananya dingin persis seperti pemiliknya. Di ruang tengah, sosok pria itu berdiri membelakangi aku menatap jendela kaca raksasa. Jas hitam pas di badan tegapnya, aura kekuasaan menekan seisi ruangan.

"Tuan Erlan, putri saya sudah datang," ucap Ayah sopan, sedikit gemetar.

Pria itu berbalik perlahan. Saat matanya yang tajam menatapku, rasanya waktu berhenti berputar. Matanya hitam pekat, dalam, menyimpan ribuan rahasia. Dia menatapku lama sekali, seolah sedang meneliti setiap inci wajahku—seolah dia mengenalku lebih dari yang aku tahu.

Aku tak membuang muka. Aku menatap balik tenang, meski jantungku berdegup tak karuan.

"Kamu setuju?" tanyanya. Suaranya berat, rendah, benar-benar sedingin kabar yang kudengar.

Aku mengangguk pelan. "Ya. Saya setuju."

Erlan melangkah mendekat, berhenti tepat di depanku. Dia menunduk sedikit hingga wajahnya sejajar denganku, aroma wangi kayu manis samar tercium darinya.

"Ingat," ucapnya pelan namun tegas, matanya tak lepas dari mataku. "Ini hanya pernikahan di atas kertas. Kamu akan tinggal di sini, menjaga citra di depan umum. Tak ada sentuhan, tak ada urusan hati. Satu tahun kemudian, kita berpisah tanpa ikatan apa pun."

Dia menyodorkan selembar kertas kontrak. Aku membacanya sekilas—semua sesuai ucapan. Aku mengambil pena, dan tanpa ragu menuliskan nama lengkapku di sana.

Erlan mengambil kembali kontrak itu, lalu menandatangani namanya dengan tulisan tangan yang tegas dan rapi.

"Mulai hari ini," ucapnya pelan, "kamu adalah istri rahasia saya. Dian Pratama."

Saat nama itu keluar dari mulutnya, aku melihat sekilas perubahan di matanya—sebuah emosi yang cepat sekali ia sembunyikan. Aku belum tahu, di balik sikap dinginnya itu, tersimpan rahasia yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun. Bahwa di kehidupan yang dulu aku tinggalkan, dialah satu-satunya orang yang menangisi kematianku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!