Kesalahan satu malam Arsenio Bagas Dharmendra (28 th) menyeret seorang gadis bernama Aileen Bela Cempaka (23 th) di dalam sebuah pernikahan tanpa cinta.
Arsenio tak sengaja menyeret Aileen untuk tidur bersama dengan dirinya saat gadis itu sedang bekerja di sebuah hotel di mana Arsenio mengadakan pesta. Dalam kondisi mabuk Arsenio membawa Aileen ke kamar hotelnya hingga keduanya melakukan hal terlarang yang hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri.
"Aku hamil!" gumam Aileen memberanikan diri untuk bertemu dengan seorang pria yang telah menidurinya dua bulan lalu.
"Baik! Kita akan menikah!" ujar Arsenio dengan datar.
Aileen pikir cobaannya telah berakhir setelah Arsenio bertanggungjawab tetapi ternyata ia mengantarkan nerakanya sendiri saat bersama dengan Arsenio yang tak pernah menganggapnya ada.
Mampukah Aileen bertahan dalam pernikahan tanpa cinta yang dilakukannya oleh Arsenio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 (Datang Menemuinya)
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Kehidupan Arsenio selama dua bulan ini tidak ada perubahan sama sekali, lelaki itu semakin menjadi karena banyak mengencani wanita lalu berakhir menidurinya. Semua itu karena Chelsea yang tak pernah kembali, Arsenio menjadi tak terkendali bahkan kedua orang tuanya sudah memperingati Arsenio tetapi lelaki itu sama sekali tak mendengarkannya.
Arsenio berjalan dengan tegas masuk ke hotelnya, hari ini ada meeting tahunan yang selalu diadakan perusahaannya, dan semuanya sudah ia serahkan pada Karina. Arsenio hanya tinggal datang dan memeriksa dokumen tahunan hotelnya.
Arsenio tak sengaja melihat Aileen yang berjalan membelakanginya, tubuh wanita itu tampak berisi dari pada dua bulan yang lalu, entah mengapa Arsenio menyunggingkan senyuman tipisnya tetapi itu tak berlangsung lama karena wajah Arsenio kembali datar mengingat penolakan Aileen kepada dirinya.
"Cih! Lihat saja pasti sebentar lagi dia akan menemuiku!" ujar Arsenio dengan dingin.
Arsenio membuang mukanya, entah mengapa ia menjadi seperti ini. Arsenio sangat yakin jika sebentar lagi Aileen akan menemuinya, sangat percaya diri sekali bukan?
Sedangkan Aileen juga melihat Arsenio, wanita itu langsung mengelus perut datarnya. Apakah ia harus menemui Arsenio untuk mengatakan soal kehamilannya? Tapi bagaimana jika reaksi Arsenio biasa saja dan malah mengusirnya? Aileen tidak bisa diam saja, lelaki itu harus bertangungjawab dengan kehamilan Aileen sekarang. Aileen tidak mau jika anaknya lahir tanpa kejelasan sama sekali, Aileen tidak mau anaknya lahir tanpa seorang ayah! Aileen tidak mau anaknya mendapatkan cibiran di luar sana! Sungguh Aileen sudah pernah merasakan bagaimana tidak mempunyai orang tua dan itu sangat menyakitkan sekali.
"Kamu harus punya orang tua yang lengkap, Sayang! Awalnya Mama memang tidak menginginkanmu tapi Mama tidak tega membunuh anak Mama sendiri," gumam Aileen dengan sendu. Ternyata kesalahan satu malam membuat benih Arsenio tumbuh di rahimnya.
Aileen sudah bertekad untuk menemui Arsenio setelah ini. Tentang reaksi Arsenio nantinya, Aileen tidak akan mempedulikannya yang terpenting Arsenio harus tahu jika di rahimnya sudah tumbuh anaknya dengan Arsenio.
****
"Aku dukung semua keputusan kamu, Leen! Tuan Arsenio harus tahu jika kamu sedang mengandung anaknya," ujar Lastri menyemangati sahabatnya.
"Tapi aku takut, Las! Gimana kalau dia biasa saja dan mengusirku kembali? Lalu anak ini akan lahir tanpa seorang ayah?" ujar Aileen dengan sendu.
Lastri menggelengkan kepalanya. "Aku yakin nasib anakmu tidak akan seperti kita, Leen! Sosok ayahnya bukan orang yang sembarangan, dia pasti akan hidup bahagia!" ujar Lastri dengan tersenyum yang menularkan senyuman juga kepada Aileen yang sejak tadi tampak gugup ingin bertemu dengan Arsenio.
Senyuman Aileen tampak gusar, ini adalah kesempatannya untuk bertemu dengan Arsenio. Aileen akan mengantarkan makan siang untuk Arsenio sebentar lagi, tetapi entah mengapa Aileen sangat takut bertemu dengan Arsenio kembali. Apakah ia tidak usah menemui Arsenio? Biarkan saja dirinya membesarkan anaknya seorang diri dan Arsenio tidak perlu tahu kehamilannya. Tapi, Aileen tidak mau anaknya tidak mempunyai ayah!
"Aku ke kamar Tuan Arsenio dulu ya!" ujar Aileen memantapkan hati.
"Iya sana, nanti dia marah lagi makanannya belum diantar!" ujar Lastri dengan tegas.
"Semangat!" ujar Lastri menyemangati Aileen.
Aileen mengangguk, akhirnya ia berjalan dengan mendorong meja dorong berisi makanan untuk Arsenio yang terisi makanan mewah untuk pria itu. Aileen tahu jika selesai meeting tahunan pasti Arsenio akan meminta makan siangnya diantar di kamarnya dari teman-temannya dan untung saja Aileen mempunyai kesempatan ini untuk bertemu langsung dengan Arsenio.
Aileen sudah sampai di kamar Arsenio. Detak jantungnya mulai tak beraturan karena takut bertemu dengan Arsenio. Aileen menghembuskan napasnya dengan perlahan, Aileen mulai mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.
Tokk..
Tokk...
Setelah mengetuk dua kali pintu terbuka dengan otomatis yang membuat Aileen masih tepana tetapi masih takut untuk bertemu dengan Arsenio.
"Kamu pasti bisa, Aileen!" ujar Aileen dengan pelan.
Aileen mulai membawa meja dorong itu masuk ke ruangan Arsenio. Aileen tidak tahu jika sejak tadi Arsenio menatapnya dengan sangat dingin dan senyuman yang sangat mengerikan.
"Ternyata kamu masih berani untuk menemui saya!" ejek Arsenio yang membuat Aileen memberanikan diri untuk menatap Arsenio.
"I-ini makanannya, Tuan!" ujar Aileen tak menanggapi ucapan Arsenio.
"Letakkan di meja!" ujar Arsenio dengan dingin.
Aileen mengangguk, ia langsung meletakkan makanan Arsenio di meja makan yang memang ada di kamar Arsenio. Kamar Arsenio sangat lengkap sekali.
Arsenio berdecak kesal, ia menghampiri Aileen dengan tegas. Arsenio menatap Aileen yang sangat takut kepadanya.
"Saya sudah katakan kepada kamu kan kalau kamu akan menemui saya kembali. Itu artinya kamu tidak bisa keluar dari kehidupan saya! kamu harus mau menjadi wanita..."
"Saya hamil!" gumam Aileen memberanikan diri untuk berkata dengan dengan jujur seorang pria yang telah menidurinya dua bulan lalu.
Arsenio terdiam menatap wajah Aileen yang tampak serius. Hamil? Bagaimana mungkin Aileen hamil padahal mereka hanya malam itu melakukannya. Tapi walaupun hanya satu malam Arsenio berulang kali menghujami Aileen malam itu. Besar kemungkinan jika Aileen memang hamil anaknya
Arsenio menyeringai, ini kesempatan untuknya agar membuat Aileen mau melayaninya tanpa harus terpaksa.
"Baik! Kita akan menikah!" ujar Arsenio dengan datar.
Aileen terkejut, ia menatap Arsenio dengan pandangan tak percaya. Aileen pikir Arsenio tidak ingin menerima kehadiran anak mereka. Tapi, ini kenapa Arsenio menerima anaknya dengan mudah? Apakah ada sesuatu yang akan direncanakan oleh pria itu untuk dirinya? Rasanya Aileen tak mudah percaya dengan Arsenio yang dengan gampangnya ingin menikahinya.
"Tuan..."
"Kenapa? Kamu pikir saya akan menolak kehadirannya? Tidak, Aileen! Ini adalah kesempatan yang tepat agar mama saya tidak membujuk saya untuk terus menikah dan memberikannya cucu!" ujar Arsenio dengan tegas.
Aileen pikir cobaannya telah berakhir setelah Arsenio bertanggungjawab tetapi ternyata ia mengantarkan nerakanya sendiri saat bersama dengan Arsenio yang tak pernah menganggapnya ada. Arsenio hanya memanfaatkan dirinya.
"J-jika begitu Tuan tidak perlu menikahi saya!" ujar Aileen dengan terbata.
"Hahaha.... Yakin? Saya yakin anak itu akan di bully oleh teman-temannya karena tidak mempunyai ayah! Apakah kamu mau itu terjadi hm? Alasan kamu memberitahu saya soal ini untuk apa jika kamu tidak ingin saya bertanggungjawab?" ucap Arsenio dengan tajam.
"Karena kamu sudah datang ke tempat saya maka kamu tidak akan bisa pergi dari saya lagi, Aileen! Tanda tangani surat ini dan kita akan menikah! Kita akan bercerai setelah saya ingin!" ujar Arsenio dengan serius yang membuat Aileen menatap Arsenio tak percaya.
"P-pernikahan bukan sesuatu hal yang harus dipermainkan, Tuan! B-bagaimana mungkin Tuan ingin mengakhirinya sesuka hati?" tanya Aileen dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa? Saya berhak untuk mengakhirinya, Aileen! Setelah kekasih saya kembali maka kamu harus pergi dari hidup saya! Kamu hanyalah istri yang tak saya inginkan dan jangan berharap lebih tentang saya!" ujar Arsenio dengan tajam.
"Seminggu lagi pernikahan kita! Dan kamu harus pulang bersama dengan saya hari ini! Mulai malam ini kamu tinggal bersama dengan saya!" ujar Arsenio merasa menang dengan Aileen.
Melihat Aileen tak berdaya Arsenio hanya terkekeh sinis. Tak ada yang bisa menolak dirinya termasuk Aileen! Kelemahan Aileen bisa dimanfaatkan dirinya.
"Kamu telah mengantarkan nerakamu sendiri kepadaku, Aileen!" gumam Arsenio di dalam hati.
"Aku menyesal menemuinya! Tapi aku tidak ingin anak ini bernasib buruk! Aku harus kuat demi anak ini!" ujar Aileen dengan pelan.
semangat ya nulisnya😍😍