❗DILARANG BOOM LIKE❗
plis yah! nanti author nangis nih🙏
bantu like, komen, dan gift bunganya ya🥰
Bella adalah seorang yatim piatu yang di besarkan oleh sang paman, orang tuanya meninggal karena kecelakaan sewaktu dirinya masih kecil. Dirinya di jodohkan dengan pria yang tidak dia kenali demi melunasi hutang-hutang perusahaan milik pamannya.
akankah pernikahan Bella bisa bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalang
"Dokter cepat periksa suami saya," ujar Bella khawatir tentang kondisi suaminya itu.
Dokter itupun segera memeriksa keadaan Devan, dokter itu menyuntikkan obat ke dalam tubuh Devan kemudian mulai mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Devan. Terdapat banyak sekali luka tusukan dan beberapa tembakan di tubuhnya, tetapi hebatnya lelaki itu masih bertahan walaupun tidak tau kapan akan sadar.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Bella khawatir.
"Tuan Devan harus di bawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan intensif, kondisinya tengah kritis sekarang. Tuan Devan juga kehilangan banyak darah," jelas dokter itu.
"Lakukan yang terbaik untuk suami saya dok!" pinta Bella dengan mata berkaca-kaca.
Jo dan pak Sam yang melihat kepedulian Bella terhadap Devan pun sangat terharu. Ternyata masih ada orang baik di jaman sekarang, meskipun telah di perlakukan buruk tetapi Bella masih peduli terhadap kesehatan suaminya.
"Tuan Jo cepat urus semua keperluannya, aku akan mengemas beberapa baju milik tuan," perintah Bella panik.
"Baik nona," jawab Jo yang langsung segera turun untuk menyiapkan mobil.
Sedangkan Bella, wanita itu segera menuju ke walk in closet untuk mengambil beberapa baju Devan untuk di bawa ke rumah sakit.
Devan langsung di bawa ke mobil. Bella duduk di kursi belakang untuk menjaga Devan, sedangkan Jo duduk di kursi kemudi. Mobil melaju dengan cepat meninggalkan pelataran mansion. Bella semakin panik dan khawatir ketika memandang wajah Devan yang sangat pucat seperti mayat, tanpa sadar air mata lolos dari pelupuk matanya.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit lamanya, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di rumah sakit terbesar di kota. Devan langsung di bawa ke ruang ICU untuk mendapat pertolongan terbaik.
Bella dan Jo menunggu di depan ruang ICU. Dari balik kaca pembatas, Bella melihat jika tubuh suaminya penuh dengan alat-alat medis untuk menopang kehidupannya. Tidak di sangka sangka, seseorang yang biasanya angkuh dan selalu menunjukkan wajah dingin itu kini tengah terbaring tak berdaya. Bella lebih baik melihat wajah dingin Devan seperti biasanya dari pada harus melihat Devan yang lemah seperti itu.
"Nona, minumlah dulu," ujar Jo menyodorkan minuman pada Bella.
"Terima kasih tuan Jo," Bella menerima minuman yang di sodorkan oleh Jo.
sekilas manik mata Bella melihat jika baju Jo di penuhi noda darah. Bella menebak jika itu adalah darah Devan, karena tadi Jo lah yang membantu membopong tubuh Devan.
"Em tuan Jo, lebih baik anda pulang dan mengganti pakaian anda," kata Bella.
Jo tampak berpikir sejenak, "baik nona, saya akan beberapa anak buah untuk berjaga di sekitar sini. Saya permisi dulu nona," pamit Jo.
Bella mengangguk sebagai jawaban.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Jo memerintahkan beberapa anak buah berjaga di beberapa sudut rumah sahut untuk memastikan keamanan tuannya. Jo juga memesan makanan dan beberapa cemilan untuk Bella, takut-takut jika Bella lapar nanti .
*****
Satu minggu telah berlalu namun tidak juga ada tanda-tanda Devan akan sadar, tetapi Bella tetap setia menjaga dan menemani Devan. Bella selalu berdoa agar Devan segera sadar dan kembali pulih seperti sedia kala. Entah mengapa dia rindu masa di mana Devan menatapnya dengan tajam. Mungkin Bella telah jatuh ke dalam pesona si tuan dingin ini, entahlah Bella belum bisa memastikan perasaanya, dirinya juga terus menyangkal perasaan itu.
"Tuan, apa anda tau?" tanya Bella mulai mengajak Devan mengobrol.
"Entah mengapa saya begitu merindukan wajah dingin anda, saya tidak suka melihat wajah anda yang pucat, itu terlihat jelek. Cepatlah sadar tuan, saya berjanji akan jadi istri yang baik. Saya juga siap menerima hukuman dari anda jika saya melakukan kesalahan," celoteh Bella panjang lebar meski dia tau bahwa Devan tidak akan merespon apapun.
"Tuan apakah saya salah jika saya bermimpi menjalani kehidupan yang lebih baik bersama anda? Bolehkah saya berharap jika kita akan menjadi pasangan yang saling mencintai, dan memiliki anak-anak yang pintar? Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi kan? Maafkan saya yang sudah lancang, saya tidak berharap lebih pada hubungan kita. Saya hanya bercanda kok, hehe," sambung Bella tertawa namun air matanya mengalir membasahi pipi.
Devan juga mengeluarkan air mata di sudut matanya, Bella yang melihatnya pun menjadi panik. Wanita itu segera memencet bel untuk memanggil dokter. Tak lama berselang, nampak dokter masuk dengan di dampingi suster di belakangnya.
"Dokter tolong suami saya, suami saya menangis dok," ujar Bella panik.
"Saya akan periksa dulu nona, berdoa saja semoga ini adalah pertanda baik," sahut dokter.
Dokter pun memeriksa detak jantung Devan. Dokter itu tampak tersenyum tipis.
"Bagaimana dok?" tanya Bella penasaran.
"Ini pertanda baik nona, detak jantung tuan Devan sudah berjalan normal. Tuan Devan juga bisa mendengar apa yang kita ucapkan, sebaiknya anda terus mengajaknya berbicara mengenai hal-hal yang di sukainya. Itu akan membantu tuan Devan sadar secepatnya," jelas dokter itu.
"Benarkah dokter? Baiklah kalau begitu terima kasih dok," ucap Bella tersenyum haru.
"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter itu meninggalkan ruang rawat Devan.
Bella hanya mengangguk mengiyakan, dirinya bahagia akhirnya ada perkembangan dari kondisi Devan setelah satu minggu ini. Bella tidak mempedulikan dirinya sendiri, badannya tampak lebih kurus dari sebelumnya, dia tidak makan dengan baik karena menjaga Devan. Jo juga sudah menyuruh pak Sam datang ke rumah sakit untuk menggantikan Bella menjaga Devan di rumah sakit, tetapi Bella menolak. Wanita itu bersikeras menunggu Devan sadar, dia tidak ingin melewatkan momen di mana saat Devan membuka matanya nanti.
*****
Sementara di lain tempat, Jo kini tengah berkumpul dengan para anak buah Devan yang lain untuk menyelidiki siapa dalang di balik penyerangan malam itu.
"Jadi, apa kalian sudah menemukan siapa dalang di balik penyerangan malam itu?" tanya Jo dingin.
Jo adalah orang yang paling over jika mengenai keselamatan tuannya. Dia berjanji akan membalas orang yang telah mencelakai tuannya, jika perlu Jo akan membunuhnya.
"Menurut informasi yang kami dapatkan, penyerangan pada malam itu adalah rencana dari tuan Smith. ayah dari nona Nesva," ujar salah satu anak buah menyampaikan laporan yang di dapat.
"Bagaimana mungkin? Bukankah tuan Smith menginginkan tuan Devan menjadi menantunya? Lalu apa tujuan dia mencelakai tuan hingga tuan kritis?" tanya Jo bingung.
"Maaf tuan, untuk hal itu kami belum menemukan jawabannya," jawab anak buah itu.
"Apa kalian tidak salah informasi?" tanya Jo memastikan.
"Untuk informasi yang kami dapat itu semua benar adanya tuan, mungkin saja ada yang ingin mengadu domba antara tuan Devan dengan tuan Smith, hingga tuan Smith mencelakai tuan Devan," jelas anak buah lainnya mengutarakan.
Semangat Kak:)
jangan lupa mampir di ujian menjadi seorang istri mkasih