"Apa kamu tidak keberatan berbagi suami denganku?"
Anyelir menipiskan bibir. "Pertama, pelajari lagi tata bahasa. Pertanyaanmu bikin salah paham. Kedua, hanya saya Istri satu-satunya. Ketiga, saya tidak pernah peduli dengan urusan pribadinya."
"Oh, My Darling love you too. Thanks untuk pujian manisnya," balas Axton dengan nada mencibir.
Axton dan Anyelir adalah korban perjodohan dari ketamakan orang tua masing-masing. Keduanya tidak saling mencintai, tidak saling menginginkan, tidak juga ingin terikat terlalu lama. Akan tetapi, suatu hari, baik Axton maupun Anyelir justru sepakat menjalani 'open marriage'.
Di mana, masing-masing dari mereka bebas menjalin hubungan dengan orang lain di luar pernikahan itu. Terkecuali di depan media dan keluarga, Axton dan Anyelir akan tetap menunjukan hubungan yang manis, berlagak sebagai pasangan ideal dan serasi.
Benar, seharusnya mereka hanya perlu berpura-pura tanpa harus saling menyakiti akan perasaan terlarang itu.
Cover by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilwa Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Anyelir
Sudah lebih dari sepuluh menit Axton hanya terdiam termangu di dalam mobil. Padahal, sudah sampai rumah. Tapi, Axton tak kunjung turun. Lebih tepatnya enggan. Ingin menenangkan dirinya lebih dulu yang sejak pagi sudah diporak-porandakan Lily sialan yang entah bagaimana caranya bisa menyusup masuk ke agensi perusahaan Axton.
"Sial."
Axton memukul bolak-balik stir mobil. Lalu, menjatuhkan dahi di sana, kembali mengetuk-ngetuk dan baru berhenti setelah dirasa cukup menyakitkan juga. Buat apa juga Axton malah menyakiti dirinya sendiri.
Gara-gara Lily, sepanjang hari ini Axton marah-marah terus. Bete tak berkepanjangan. Moodnya anjlok parah. Semua orang yang tak sengaja bersingguhan dengannya, kena amukan tanpa sebab. Sampai-sampai dampak dari tidak kestabilan emosinya itu, hampir membuat salah satu investor menarik balik investasinya. Beruntung ditangani cepat oleh tangan kanan perusahaan.
"Mau ngapain lagi sih perempuan itu. Kurang puas apa dulu udah bikin semuanya hancur. Mau menghancurkan aku lagi, Anyelir juga. Jangan harap," ujar Axton menggebu-gebu. Menarik kepala tegak lagi, tatapannya lurus keluar mobil.
Axton kembali teringat perkataan Lily sebelum perempuan itu undur diri setelah diusirnya paksa. Yang lagi-lagi bernada menggoda.
"Kalau butuh aku, hubungi aja nomorku. Aku selalu siap kalau itu menyangkut kamu."
Entah apa maksudnya mengatakan itu. Axton sama sekali tidak habis pikir dan malas memikirkan.
Lagian, bukankah Lily sudah menikah dan katanya suaminya tengah berada di luar negeri. Buat apa coba masih berniat menggoda Axton. Ingin memperangkapnya dalam jebakan dan ketika Axton lengah sedikit saja, Lily akan mempermainkannya. Membuat Axton dan orang-orang terdekatnya kembali menderita dan menelan kekecewaan yang terlanjur berharap lebih.
"Atau sengaja biar Anyelir cemburu dan merasa kalah. Balas dendam gitu ceritanya," gumam Axton setelah bisa berpikir lebih tenang.
Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Anyelir dan Lily seperti memiliki dendam tersendiri. Entah apa masalahnya, Axton masih belum mengerti sampai detik ini. Yang jelas, pasti di masa lalu, salah satunya pernah merasa dicurangi dan kalah. Seolah-olah dialah korbannya, padahal kebanyakan dia sendiri pelakunya.
"Pasti Darling lah yang menang." Axton tersenyum bangga, pandangannya kontan beralih ke jok samping. Memandang berbinar sebuket bunga mawar putih yang hampir saja gagal didapatkannya karena toko bunganya sudah mau tutup.
Kemalaman Axton pulangnya, yang bisa jadi Anyelir sudah tidur duluan mengingat sedang dalam kondisi kurang enak badan.
Axton membuka seat belt, menyabet cepat buket bunga mawarnya. Turun grusak-grusuk dari mobil, menutup pintunya pun tak kalah buru-buru. Sampai asal membanting hingga meninggalkan bunyi 'buk' yang keras.
"Semoga gapapa," lirih Axton meringis. Takut juga jika mobilnya kenapa-kenapa dan bakal dapat omelan dari Anyelir.
Ketika mau membuat pintu, pintunya dalam keadaan terkunci. Firasatnya mengenai Anyelir sudah tidur duluan, sepertinya benar adanya.
Axton segera merogoh kantung celana, mengambil kunci cadangan yang dikaitkan dengan kunci mobil. Jaga-jaga kalau dalam keadaan terdesak seperti sekarang. Biar tidak hilang juga mengingat daya ingat Axton, diakuinya tak sekuat usia dua puluhan.
Setelah pintu terbuka dan ruangan hanya terlihat remang-remang, Axton berjalan mengendap-endap, menutup pintunya teramat pelan. Jika kembali grusak-grusuk, apalagi sampai membanting, takutnya tidak hanya sekadar bakal kena omelan, tapi juga hukuman tidak boleh masuk rumah. Sadis bukan.
Semakin masuk ke dalam, ruangan justru kelihatan terang. Axton mulai meragu, sepertinya Anyelir belum tidur. Dan ternyata benar, sampai ruang televisi, ada Anyelir yang terlampaui fokus hanya menatap ke depan. Sama sekali tak terganggu dengan kedatangan Axton yang langkahnya berubah lebar-lebar begitu mendapati sosok sang istri.
"Darling!"
Axton memanggil riang. Berdiri di belakang Anyelir yang duduk di sofa. Membungkukkan tubuh, mencuri satu kecupan singkat di pipi Anyelir. Yang kontan membuat istrinya yang ternyata sudah tertidur, terbangun terhenyak. Menegakkan tubuh cepat, menoleh tak kalah cepat ke belakang.
"Kapan pulang?"
"Barusan. Masa kamu nggak sadar?" tanya Axton berakting sebal. Seperkian detik kemudian, berubah tersenyum lebar. Mengambil buket bunga mawarnya yang tadinya disembunyikan di balik punggung, langsung menyerahkan kepada Anyelir yang tampak biasa-biasa saja. Tidak ada tampang terkejut apalagi senang-senangnya.
"Kamu nggak senang?" Dan bodohnya, Axton mencari penyakit sendiri. Sudah tahu jawabannya lewat mimik wajah Anyelir, tapi seakan belum puas sebelum mendengar pengakuannya langsung, masih mencoba peruntungan yang nyatanya tetap berakhir sama.
"Hm. Bunganya layu, kelamaan di tempat kering. Kurang air. Warnanya juga udah memudar. Lihat, kelopak bunganya banyak yang mulai kuning."
'Nggak sekalian apa, bilang daunnya botak habis dibuat lalapan ulat.'
Axton mengembuskan napas panjang, berusaha sabar. Sabar yang tidak ada batasannya. Bergaul dengan Anyelir, memang harus menyetok banyak sabar bukan.
Tak lagi mempermasalahkan, inginnya melupakan saja seperti yang sudah-sudah, Axton berniat mengecup sebelah pipi kiri Anyelir yang belum kena stempel alaminya. Namun, belum juga dapat menyentuh pipi mulus Anyelir, istrinya itu dengan kelewat tidak tahu diuntung, malah mendorong wajah Axton untuk menjauh. Tak sampai di sana, juga mengusir Axton dengan perkataan kelewat jujur.
"Mandi sana. Bau matahari."
Padahal, sepanjang hari Axton hanya berada di dalam ruangan. Meski begitu, Axton menurut-nurut saja. Tidak perlu sampai mengajak Anyelir yang kelihatan masih lemah berdebat.
Lagian, tidak butuh waktu terlalu lama. Cukup lima belas menit genap dengan berganti memakai piyama, Axton sudah selesai bersih-bersih. Setelahnya keluar kamar, menghampiri Anyelir yang lagi-lagi ketiduran di depan televisi. Bedanya, di coffee table, tersedia sajian makan malam. Tentu Anyelir yang sudah payah menyiapkan. Repot-repot menghangatkan kembali yang bisa saja Axton lakukan sendiri.
"Memang terbaik," gumam Axton duduk sepelan mungkin di sebelah Anyelir. Langsung tanggap menyangga kepala Anyelir yang hampir saja merosot. Memindahkan ke pundaknya sebagai tumpuan. Diiringi usapan lembut dan tak lupa juga menyempatkan memeriksa suhu tubuh Anyelir yang sudah lebih mendingan. Tinggal hangat yang bisa dibilang sudah wajar.
"Saking capeknya, ya. Kurang tidur, terlalu keras sama diri sendiri, stres juga. Bener, 'kan."
Axton mengajak Anyelir mengobrol meski tahu tak akan ada tanggapan. Meski begitu, Axton tetap senang. Rasanya tetap menyenangkan bisa bercengkerama dan menghabiskan waktu berdua dengan Anyelir.
"Mulai malam ini, nurutlah sama aku. Berhenti, nggak usah repot-repot ikut kerja lagi. Di rumah aja. Aku bisa kok menjalankan perusahaan sendiri. Ya, meski harus banyak belajar lagi, tapi aku rasa aku tetep mampu. Aku tuh pintar, cuman kadang-kadang malas aja," ujar Axton diiringi kekehan.
Tangan kiri Axton mengambil makanan khas jepang; donburi yang di tangan Anyelir topingnya menggunakan sup iga. Lengkap dengan sesendok sambal, taburan bawang goreng, dan setengah irisan jeruk nipis. Dari tampilannya saja sudah sangat menggugah selera. Axton semakin tergugah untuk segera menyantapnya.
"Kita juga mau program hamil. Jadi, lebih bagus lagi kamu di rumah aja. Belajar mengolah emosi, nggak boleh kebanyakan stres. Aku bantu kok, tenang aja. Nanti kalau kamu udah berhasil hamil dan kandungan kamu udah cukup kuat buat beraktivitas lagi, baru aku bolehin main-main ke kantor kalau kamunya memang bosan di rumah ter—rus," lanjutnya sempat terjeda lantaran satu lengan Anyelir yang tiba-tiba menimpa perutnya. Disusul Anyelir bergerak merangsek mendekapnya dengan kepal Anyelir turun dan bersandar di dada Axton. Pelukan Anyelir yang semakin terasa nyata, membuat Axton tak tahan untuk tidak tersenyum selebar mungkin.
Baru begitu saja Axton sudah kelewat melting, apalagi nanti dengan sendirinya Anyelir setuju ingin mengandung anaknya. Bisa-bisa Axton pingsan dengan keadaan mata dan bibir terbuka lebar-lebar saking bahagia tiada taranya.
"Tidur yang nyeyak, Darling," bisik Axton lembut. Membubuhkan kecupan lama dan dalam di puncak kepala Anyelir. Setelah tidak merasakan akan ada tanda-tanda Anyelir kembali mengingau, Axton baru menyantap donburi-nya. Buru-buru karena tidak sabar segera memindahkan Anyelir ke kamar dan memeluknya sepanjang malam.