"Kau benar-benar sempit dan nikmat."
Akibat jebakan seseorang, Aksara tanpa sadar meniduri seorang gadis tidak bersalah. Gadis yang tidak dikenalnya, namun menjadi gadis pertama yang ia nikmati.
Bukan hanya gadis itu yang pertama, namun Aksa juga. Dia mengambil mahkota gadis itu secara paksa di bawah kendali obat.
Aksa menyelidiki gadis itu, yang ternyata hanya seorang pengantar makanan di restoran milik paman dan bibinya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah Aksa akan bertanggung jawab atau justru lari??
Update setiap hari‼️
Follow Ig : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Oma Nuri dan Ayesha
"Gadis itu hamil, Aksa. Dia hamil anak kamu, dan kamu haru bertanggung jawab menikahinya."
Ucapan oma Nuri terus berputar di telinga dan ingatan Aksa. Pria itu bahkan sampai tidak fokus bekerja karena terbebani kata 'dia hamil'.
Aksa tidak menyangka jika hubungan satu malam itu akan membuahkan hasil. Ia pikir kejadian itu bisa diselesaikan dengan uang, namun nyatanya tidak.
Gadis itu, Ayesha. Ayesha hamil anaknya, anak kandungnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, haruskah aku benar-benar menikahinya." Gumam Aksara seraya memijat pelipisnya.
Aksa tiba-tiba merasa mual, ia bangkit dari duduknya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di ruang kerjanya.
Di dalam kamar mandi, Aksa tidak henti muntah-muntah cairan bening, bahkan kepalanya terasa ikut berputar-putar.
Xyan yang baru saja datang untuk mengantarkan makanan terkejut melihat atasannya itu mual dan muntah-muntah.
"Tuan!!" Panggil Xyan berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Aksa mengangkat tangannya, memberi kode pada Xyan untuk jangan masuk ke dalam. Aksa benar-benar sedang mual tiba-tiba.
Xyan akhirnya menurut, pria itu menjauh dan memilih menunggu dekat meja karja saja.
Xyan meletakkan bubur kacang hijau di atas meja kerja Aksa kemudian meraih ponselnya yang tiba-tiba bergetar.
"Tuan, nona Ayesha pingsan di jalan. Kami sudah membawanya ke rumah sakit." Begitulah isi pesan yang anak buah Xyan kirimkan.
Xyan terkejut, ia harus memberitahukan Aksa tentang ini secepatnya. Baru ingin ke kamar mandi, Aksa sudah keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di kursi kerjanya.
"Astaga, aku lemas sekali." Gumam Aksara memegangi perutnya.
Xyan tidak enak memberitahu Aksa tentang ini disaat Aksa sendiri terlihat kurang enak badan, namun ia harus memberitahukannya karena mungkin saja ini adalah kabar penting.
"Xyan, aku sedang tidak ingin diganggu oleh apapun. Kau keluar dan tinggalkan aku sendiri." Ucap Aksa dengan mata terpejam dan nafas yang tersengal-sengal.
Mendengar itu, Xyan langsung pergi meninggalkan ruang kerja Aksa bahkan pergi meninggalkan apartemen pria itu.
Xyan menghubungi anak buahnya dan mengatakan bahwa dia lah yang akan ke rumah sakit. Setidaknya Xyan akan memastikan kondisi gadis itu baik-baik saja.
Xyan pergi mengendarai mobilnya menuju rumah sakit yang telah diberitahu salah satu anak buahnya. Tidak butuh waktu lama untuk Xyan sampai di sebuah klinik dan bukan rumah sakit.
Sampai di klinik tersebut, Xyan sudah ditunggu oleh anak buahnya, Robby.
"Selamat siang, Tuan." Sapa Robby dengan sopan dan tegas.
"Dimana gadis itu?" Tanya Xyan langsung.
Robby pun lekas mengajak Xyan untuk bertemu dengan Ayesha. Pria itu lalu berhenti di sebuah ruangan dimana ada Ayesha yang terbaring di sana.
Gadis itu terlihat sudah sadarkan diri dan masih diperiksa oleh dokter.
"Dokter, apa yang terjadi padanya?" Tanya Xyan langsung.
Dokter wanita itu mengerutkan keningnya. "Anda siapanya pasien?" Tanya dokter itu.
"Saya kerabatnya." Jawab Xyan asal-asalan.
Ayesha bisa mendengar itu, namun ia masih sangat lemas untuk sekedar bicara sedikit saja.
"Nona ini kelelahan, kondisinya yang sedang hamil membuatnya kehilangan banyak tenaga. Tolong sampaikan kepada suaminya agar jangan membiarkan beliau bekerja keras." Dokter itu menjelaskan dengan detail.
Xyan terkejut bukan main mendengar ucapan dokter yang memberitahu kondisi Ayesha. Gadis itu hamil, dan sudah pasti anak Aksara.
Xyan yang terkejut berhasil menutupi keterkejutannya dengan memasang wajah tanpa ekspresi.
"Baik, terima kasih." Balas Xyan cuek dan dingin.
Dokter wanita itu pun pergi meninggalkan ruangan dimana hanya ada Ayesha dan Xyan disana.
Ayesha menatap Xyan bingung, ia tidak mengenal sosok pria yang mengaku sebagai kerabatnya ini.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, yang pasti anda harus menjaga bayi dalam kandungan anda." Ucap Xyan tanpa menatap langsung wajah Ayesha.
Xyan bicara dengan pandangan ke arah tembok ruangan. Ia lebih memilih menatap itu, daripada menatap wajah Ayesha.
"Saya permisi, jaga diri anda baik-baik." Pamit Xyan lalu segera pergi meninggalkan ruang periksa Ayesha.
Xyan kembali ke mobilnya, ia mulai bertanya-tanya apakah Aksa tahu kabar ini atau tidak. Apakah Aksa tahu bahwa gadis yang menghabiskan malam dengannya kini tengah mengandung.
Xyan pusing memikirkannya, namun kali ini ia tidak mungkin diam saja. Xyan harus memberitahu Aksara.
Sementara itu Ayesha, gadis itu merasakan kepalanya yang masih sakit, namun tetap memaksakan diri untuk bangun. Ayesha perlu mengantar makanan dan ia malah pingsan di jalan tadi.
"Bibi pasti akan memarahiku." Gumam Ayesha panik.
Ayesha mencopot infusan di tangannya, kemudian gadis itu keluar dengan langkah yang begitu pelan.
"Nona, anda mau kemana?" Tanya seorang pria membuat Ayesha bingung.
"Saya harus pulang, dokter sudah mengizinkannya." Jawab Ayesha lalu segera pergi dari sana.
Ayesha mengenal klinik ini, letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ayesha yakin pada dirinya sendiri bahwa ia akan bisa jalan kaki.
Ayesha berjalan di trotoar dengan sedikit tertatih sebab kepalanya yang masih terasa pusing. Namun ditengah perjalanan, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di sebelahnya.
"Nak, masuklah. Aku akan mengantarmu." Ucap wanita tua yang tidak lain adalah oma Nuri.
Ayesha bingung. "Maaf?" Tanya Ayesha tidak mengenal sosok di hadapannya.
"Aku bukan orang jahat, kemarilah dan masuk. Aku akan mengantarmu ke rumahmu, ayo." Ajak oma Nuri lagi dengan hangat.
Ayesha menatap jalanan yang cukup panas, tubuhnya pun masih terasa lemas. Rasanya pasti akan melelahkan jika jalan kaki.
"Jangan ragu, Nak. Aku bersumpah bahwa aku bukan orang jahat." Tutur oma Nuri tersenyum dengan hangat.
Akhirnya Ayesha masuk ke dalam mobil itu meski sedikit ragu. Ia duduk dengan canggung di sebelah wanita tua yang masih terlihat cantik.
Setelah Ayesha masuk, mobil mewah itupun jalan untuk mengantar Ayesha pulang ke rumahnya.
"Siapa namamu?" Tanya oma Nuri basa-basi.
"A-Ayesha, Nek." Jawab Ayesha sedikit gugup.
"Cantik, seperti wajahnya. Kau mau panas-panas begini, dan aku lihat sepertinya kau lemas sekali." Ucap oma Nuri.
"Aku dari klinik, eum … memeriksa kandunganku." Sahut Ayesha menjelaskan.
"Sendiri? Dimana suamimu?" Tanya oma Nuri lagi.
"Suami … suami saya bekerja, Nek." Jawab Ayesha berbohong.
Oma Nuri tersenyum, ternyata memang Ayesha adalah gadis yang baik. Meski ditimpa sebuah masalah berat, gadis itu tetap menyembunyikan nya.
"Oh begitu, baiklah dimana rumahmu?" Tanya oma Nuri meski sejujurnya ia sudah tahu.
"Lurus saja, Nek." Jawab Ayesha menunjuk ke depan.
Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya oma Nuri berhasil mengantar Ayesha sampai ke rumahnya.
"Terima kasih banyak atas tumpangannya, saya berdoa semoga kita bertemu lagi dan saya akan bisa membalas jasa anda." Kata Ayesha tersenyum manis.
Oma Nuri hanya tersenyum, kemudian meminta sopir pribadinya itu untuk pergi dari sana.
Awalnya oma Nuri ingin menjenguk Ayesha di klinik itu, namun saat ia sampai Ayesha malah keluar dari klinik.
Saat mendapatkan kabar bahwa Ayesha pingsan, ia benar-benar khawatir karena takut terjadi sesuatu pada gadis itu dan kandungannya, namun sepertinya semua baik-baik saja.
"Dimana berandal itu." Gerutu oma Nuri yang kesal pada cucunya sendiri.
AKSARA SIAP-SIAP DI BOM OMA NIH KAYAKNYA 🤣
Bersambung................................