Aleesa Addhitama (20) dan Yansen Geremy (20) tahu bahwa rasa yang mereka miliki itu salah. Kebersamaan mereka sedari kecil membuat Aleesa dan juga Yansen merasa nyaman dan enggan untuk dipisahkan. Walaupun mereka tahu ada dinding yang menjulang memisahkan mereka berdua, yakni sebuah keyakinan.
"Satu kapal dua nahkoda, penumpangnya akan dibawa ke mana?" Begitulah kata sang ayah. Kalimat yang sederhana, tapi menyiratkan arti yang berbeda.
Akankah mereka berjuang untuk mendapatkan restu? Ataukah ada restu lain yang akan mereka dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Penghapus Sedih
"Pulang sekarang! Ada yang tengah merindukanmu. Wajahnya bagai bunga yang layu."
Sebuah pesan yang membuat seorang pria menyunggingkan senyum dengan begitu lebar. Dia menghela napas lega ketika hari ini semua pekerjaannya tidak ada hambatan yang terlalu besar. Walaupun ada insiden kecil karena dia tidak fokus dan mengingat bunga layu itu.
.
Aleesa mulai turun dari tempat tidur dengan ponsel yang dia genggam. Dia menuju pintu kaca menuju balkon. Dia membuka gorden yang menutup pintu kaca tersebut. Seseorang sudah melambaikan tangan dan tersenyum ke arahnya. Masih mengenakan baju dinas yang pada waktu itu dia kenakan ketika menjaga Aleesa.
Senyum Restu mampu membuat air mata Aleesa meleleh lagi. Senyum itupun mulai memudar dan Restu menyuruh Aleesa membuka pintu balkon dengan segera. Tangan Aleesa mulai memutar kunci pintu dan Restu langsung membuka pintu tersebut. Hanya dengan dua langkah saja Restu sudah memeluk tubuh Aleesa dan terasa dadanya basah karena tangisan Aleesa. Aleesa terlihat begitu sedih. Hatinya terasa perih melihat Aleesa seperti ini.
Restu melihat ke arah tangan Aleesa yang tak membalas pelukannya. Ternyata perempuan itu tengah menggenggam ponsel, diraihlah ponsel milik Aleesa. Dadanya bergemuruh ketika melihat nama yang tengah menghubungi Aleesa. Tanpa ragu Restu segera mengakhiri sambungan telepon tersebut dan memasukkan ponsel Aleesa ke dalam sakunya. Kini, tangannya mulai mengusap lembut rambut Aleesa.
"Aku gak suka kamu nangis kayak gini." Tangis Aleesa semakin keras. Tangan Aleesa Restu tarik agar melingkar di pinggangnya.
"Aku ada di sini sekarang. Aku akan menemani kamu. Juga memeluk kamu." Restu membiarkan Aleesa menumpahkan segala rasa yang ada di dadanya. Cukup lama Aleesa memeluk tubuh Restu. Akhirnya tangis Aleesa sedikit mereda.
Restu mengendurkan pelukannya. Dia menangkup wajah Aleesa. Tanpa Aleesa duga, Restu mencium kelopak mata Aleesa secara bergantian.
"Aku akan hapus sedih kamu." Mendengar ucapan itu Aleesa memeluk erat tubuh Restu lagi. Dadanya yang terasa sesak kini mulai membaik.
Restu mengajak Aleesa ke balkon untuk melihat pemandangan Kota Zurich pada malam hari. Begitu indah. Dia membuka jas hitam yang dia kenakan dan menyampirkannya di pundak Aleesa.
"Malam ini indah, tapi kenapa kedatanganku disambut oleh wajah mendung?" Aleesa yang tengah menatap ke arah langit pun menoleh ke arah Restu yang sudah menatapnya.
Wajah Aleesa nampak begitu memilukan. Ada beban yang tengah dia pikul sendirian.
"Matahari yang baru saja menerangi hariku, dia pergi tanpa pamit. Dia pergi tanpa kata." Restu tersenyum dia menarik tangan Aleesa kembali ke dalam dekapannya.
"Maaf. Aku ada tugas yang tak bisa ditinggalkan." Aleesa tidak menjawab. Tangannya memeluk erat pinggang Restu. Dipeluk oleh Restu membawa perlindungan tersendiri untuknya.
Aleesa enggan beranjak dari balkon. Dia masih betah memandangi langit malam dengan tangan yang memeluk pinggang Restu dari samping dengan begitu erat. Juga Restu yang tak kalah erat memeluk tubuh Aleesa hanya dengan menggunakan kemeja putih.
"Masuk yuk!" ajak Restu. "Tangan kamu udah dingin banget, Sa."
Aleesa mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah tampan Restu. Matanya memicing ketika melihat sudut bibir Restu sedikit lebam juga luka seperti sayatan di pipi. Tangan lembut Aleesa menyentuh ujung bibir Restu dan ingatannya kembali ketiga tahun lalu. Di mana wajah Restu mengeluarkan darah akibat pukulan seseorang tak memiliki hati.
"Ini--"
Tangan Restu meraih tangan Aleesa yang sudah menyentuh sudut bibirnya. Restu menggeleng pelan.
"Aku tidak apa-apa." Wajah Aleesa terlihat cemas.
Tangan Aleesa yang satunya menyentuh pipi Restu yang terdapat luka sayatan. Restu mencoba untuk menahan karena sesungguhnya itu terasa perih.
"Aku gak apa-apa, Sa. Laki-laki harus kuat." Tangan Restu yang satunya menjauhkan tangan Aleesa dari pipinya.
Dia malah menarik kedua tangan Aleesa ke arah pinggangnya dan membuat Aleesa tersenyum.
"Aku akan selalu baik-baik saja. Alasan aku masih hidup sampai sekarang adalah kamu, Aleesa Addhitama."
Aleesa membawa Restu masuk ke kamar. Dia menyuruh Restu untuk duduk di tepian tempat tidur.
"Kamu mau ke mana?" Restu sudah mencekal tangan Aleesa.
"Aku mau ambil kotak obat." Restu malah menarik tangan Aleesa hingga dia terjatuh ke pangkuan Restu. Wajah mereka kini saling tatap dengan sangat dekat. Ingin rasanya Restu mengecup bibir Aleesa yang begitu mungil itu. Namun, dia tersadar jika dia harus menjaga Aleesa bukan merusaknya.
"Luka ini tidak perlu obat. Cukup kamu di sampingku, semua luka yang ada di tubuhku akan sembuh." Aleesa tersenyum begitu manis membuat naluri lelaki Restu membuncah. Namun, dia masih bisa mengendalikan semuanya.
Aleesa mengalungkan tangannya di leher Restu dan perlahan dia mengecup ujung bibir Restu yang terdapat luka lebam. Seketika tubuh Restu menegang. Dia merasakan betapa hangatnya bibir itu menempel di ujung bibirnya.
Aleesa menatap kembali Restu yang terlihat teekejut. Dia tersenyum dan kini Aleesa mencium luka sayatan yang ada di pipi Restu. Kehangatan juga kasih sayang tulus mampu Restu rasakan dari perlakuan Aleesa ini.
"Sembuh, ya." Aleesa sudah mengusap pipi Restu dan membuat senyum lebar tersungging di wajah Restu.
"Makasih ya, Sa." Restu memeluk tubuh Aleesa dan masih dalam posisi memangku keponakan dari ayah angkatnya itu.
Aleesa tersadar sesuatu. Dia mengendurkan pelukannya dan menatap intens wajah Restu.
"Gimana Kakak bisa naik ke balkon? Di luar 'kan orang baju hitam banyak." Restu hanya tersenyum. Dia mengusap lembut rambut Aleesa.
"Aku 'kan turunan Ninja." Aleesa pun mendengkus kesal dan membuat Restu semakin gemas.
"Sekarang lebih kamu istirahat. Aku akan menemani kamu di sini. Memeluk kamu hingga kamu terlelap."
Restu sudah menaikkan selimut ke atas tubuh Aleesa dan dia berada di samping Aleesa dengan tangan yang menjadi bantalan untuk Aleesa tidur.
"Tidur yang nyenyak ya, Sa. Pasti kamu kurang istirahat beberapa malam kemarin." Aleesa hanya mengangguk.
Aroma tubuh Restu juga dekapan hangatnya membuat rasa kantuk cepat sekali datang. Tak menunggu lama Aleesa pun sudah terlelap. Restu mengecup kening Aleesa dengan begitu dalam.
"Aku akan menjadi penghapus sedihmu, dan ketika semua itu menghilang aku akan membawa kamu langsung menuju pelaminan."
.
Setelah mendengar suara Aleesa hati Yansen benar-benar tenang. Apalagi ketika sambungan telepon Aleesa matikan. Ketenangan itu semakin menjadi. Beban berat yang dia pikul terasa hilang semua.
"Kalau hati tenang dan damai seperti ini pasti kamu tengah bahagia di sana. Di sini, aku juga akan membuat kamu selalu bahagia. Miss you, My Sasa."
Di lain kamar seorang perempuan tengah melebarkan matanya ketika melihat pesan berantai yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal. Juga nomor yang bukan dari negeri ini.
"JANGAN GANGGU ALEESA. ATAU HIDUPMU TIDAK AKAN PERNAH TENANG!!"
...***To Be Continue***...
Tembus 50 komen Up 3 bab lagi ...
itu maka ny abang Dengan gak suka sama syafa. dia biang masalah dari dua saudara yg harmamonis
di mana abang Dengan lg sakit, di situ pula si Mami mau lahiran
brandalan lo lawan.
senggol.. bacok lah 😃😃😃