Warning!! sebelum membaca usahakan untuk membaca terlebih dahulu "ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH"
supaya kalian tau alur ceritanya.
🌹🌹🌹🌹
Erlon yang mabuk berat membuat dirinya kehilangan kendali, sehingga tanpa sadar ia melakukan pelecehan terhadap Briana. Yang membuat Kenzo sang daddy harus rela melihatnya menikah dengan anak dari musuhnya, dari situlah kisah perjalanan cinta mereka akan dimulai.
Siapakah yang akan terlebih dahulu jauh cinta? Apakah Erlon atau Briana?
🍃🍃🍃🍃
Eeetsss!! disini juga bakal ada kisah cinta Erlan dan juga Aurora lho, penasaran seperti apa kisah mereka. Cus dibaca saja bestie. Tapi sebelum kalian baca usahakan berikan Ayuza yang mental patungan ini dukungan ya ... .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Bantuan Erlon
Erlon sadar karena ia mendengar suara Erlan yang memanggilnya beberapa kali, matanya berlahan terbuka lalu ia tersenyum ke arah sang kakak sepertinya ia sudah tahu apa maksud kedatangan Erlan yang berani masuk ke dalam kamarnya. Di saat keadaanya sedang kacau. "Aku tidak ingin membantu kakak, meskipun aku tahu dimana gadis bar-bar itu berada."
Erlan kaget, karena mendengar Erlon berkata begitu. Karena tidak ada pilihan lain Erlan harus meminta bantuan kepada Erlon. "Bantu kakak Erlon, bagaimanapun dia istri kakak." Erlan mengiba, ia bisa melihat dengan jelas saat ini Erlon sekarang sedang diborgol supaya ia tidak bisa kemana-mana. "Om Reza, ada di luar. Berjaga-jaga bila nanti Daddy kembali."
"Apa kakak tidak takut, aku akan membunuh siapa saja. Termasuk kakak," kata Erlon sambil melotot ke arah Erlan. Namun, Erlan tidak memperdulikan itu.
"Erlon kali ini saja, kakak tidak tahu harus bagaimana lagi," ucap Erlan sambil berusaha membuka borgolan Erlon. "Hanya kamu harapan kakak."
Erlon malah terkekeh melihat wajah sang kakak yang begitu sendu. "Erlon tidak mau, karena laki-laki itu adalah cinta di masa lalunya."
"Kamu tahu dari mana?" tanya Erlan dengan wajah kebingungan. Tapi Erlon malah diam. "Jawab kakak Erlon." Erlan sudah berhasil melepas borgol yang ada pada tangan Erlon. Ia lalu memborgol dirinya supaya sang Daddy tidak curiga. "Sana pergi, sebelum Daddy datang."
"Kenapa tidak kakak saja, aku sudah terlalu bosan melihat darah."
"Erlon, ayolah. Waktu kita tidak banyak. Daddy bisa marah jika tahu ini semua. Kamu tidak sendiri Om Reza akan menemanimu."
"Baiklah, tapi apa imbalannya?"
"Kamu mau apa, akan kakak berikan," jawab Erlan tanpa ragu.
"Aku mau Apartemen yang kakak beli di bali itu, beserta villanya juga."
Erlan sebenarnya mendapatkan itu semua dengan susah payah, tapi apa boleh buat Aurora saat ini sedang membutuhkan pertolongan. Jadi, ia rela memberikan itu semua kepada Erlon meski dengan berat hati. "Ambillah, kakak tidak membutuhkan itu semua."
Erlon tertawa mendengar jawaban sang kakak, karena ia tahu bagaimana perjuangan Erlan untuk mendapatkan itu semua. Lalu sekarang dengan mudahnya Erlan memberikan itu kepada Erlon hanya demi gadis yang Erlon anggap bar-bar.
"Sepertinya aku sudah mencium, bau kebucinan. Pasti sebentar lagi aku akan punya ke–"
"Sudah Erlon, sekarang lebih baik kamu pergi." Erlan tidak mau mendengar kalimat Erlon terlalu jauh. "Om Reza, sudah terlalu lama menunggu."
Erlon sempat berbisik di telinga Erlan sehingga membuat bulu kuduk Erlan berdiri. "Kakak mau jantung atau ususnya?" Erlon merapikan poni sang kakak. "Sepertinya sosisnya lebih enak," sambung Erlon yang membuat Erlan ingin muntah saat itu juga.
"Erlon, ucapanmu sungguh sangat menjijikkan. Bagaimana bisa kamu ingin me–"
"Jangan dibayangkan, kakak tidak akan sanggup." Erlon pergi sambil tertawa karena menurutnya wajah Erlan terlihat sangat lucu.
*
*
Kenzo datang ia ingin menemui Erlon yang tadi ia borgol, ia cuma ingin memastikan Erlon tidak kabur. Namun, langkahnya terhenti di saat melihat kamar Erlon terbuka lebar. Kenzo sudah memikirkan bahwa Erlon pasti sudah kabur. Saat dirinya berdiri di ambang pintu, ia melihat Erlon masih terborgol.
Sedangkan Erlan yang melihat Kenzo dengan cepat merubah wajahnya agar terlihat seperti Erlon yang berwajah datar.
"Kamu sudah tahu kesalahanmu?"
Erlan diam saja, karena ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena ia belum tahu akar permasalahannya.
Aku lupa bertanya, kepada Erlon. Kenapa Ana bisa masuk rumah sakit.
Kenzo heran karena Erlon diam, biasanya Erlon akan menjawab tanpa takut sedikitpun. Kenzo mendekati ranjang dimana Erlan berbaring dan melihat wajah Erlan yang ia kira Erlon. "Ana sudah tidak ada."
"Apa Daddy tidak berbohong, kenapa Ana bisa ma–" ucapan Erlan terputus ia mengingat mungkin ini hanya jebakan sang Daddy supaya ia tahu apakah dirinya Erlon atau tidak. "Maksud Erlon, biarkan saja. Bukannya ini kabar yang sangat luar biasa."
"Kemana anak itu Erlan!" bentak Kenzo ia tahu ternyata di depannya saat ini Erlan bukan Erlon. "Berani sekali kamu ingin menipu Daddy," geram Kenzo.
"Apa maksud Daddy, aku Erlon kenapa nama kak Erlan di bawa-bawa." Erlan berkilah dengan cepat.
"Siapa yang ingin kamu bohongi Erlan, Daddy tahu betul sifat kalian berdua. Jadi jawab Daddy!"
"Aku Erlon Ded!" Erlan masih terus berusaha meyakinkan Kenzo, meski saat ini tangannya bergetar.
Kenzo mengambil kotak tempat Erlon menyimpan gigi-gigi itu, ia ingin memberikan Erlan melihatnya. "Apa kamu ingin menambah koleksi gigi lagi?"
Erlan tidak percaya ternyata Erlon sudah membunuh banyak orang, kini keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.
"Masih belum mau mengaku?"
Erlan menyerah, karena mentalnya masih patungan tidak seperti Erlon yang sudah pro. "Maaf Dad, bukan maksud Erlan."
"Mana anak itu? jangan katakan kalau dia pergi mencari mangsa lagi."
"Erlan menyuruhnya untuk mencari Aurora Ded," kata Erlan dengan jujur. "Aurora di culik."
Kenzo terlihat biasa saja. "Baguslah."
"Bagus? kenapa Daddy berkata begitu."
Kenzo mengambil kunci dari sakunya ia lalu membuka borgolan Erlan. "Iya, bagus. Kamu tidak usah repot-repot lagi bertengkar setiap hari dengan istri bar-bar mu itu, yang sifatnya lebih mirip dengan mommy sewaktu masih muda."
"Daddy tahu?"
"Apa yang tidak Daddy ketahui Erlan."
*
*
Di dalam mobil Erlon meminta Reza untuk turun karena ia ingin pergi sendiri ke tempat dimana Aurora di sekap. "Om turun, biar aku sendiri yang kesana."
Reza tampak ragu melihat gelagat Erlon yang tidak seperti biasanya. "Tapi tuan, Anda bisa celaka kalau sendiri." Reza belum tahu ternyata Erlon lebih kejam dari pada Kenzo. "Biar saya ikut."
"Tidak bisa, Om turun sekarang atau aku akan menjadikan bola mata Om sebagi salah satu koleksi di ruang rahasia ku."
Reza yang di ancam merasa takut, padahal dulu ia sering me*u*i**si para korban Kenzo lalu kenapa sekarang ia menjadi takut begini. Hanya mendengar ancaman Erlon. "Anda tidak bercanda?" Reza memang tidak terlalu akrab dengan Erlon maka ia memanggil Erlon dengan sebutan tuan sama seperti Kenzo.
"Bercanda, buat apa Om. Darah sudah menjadi candu ku." Erlon mengambil sesuatu ia kemudian memperlihatkannya kepada Reza. "Ini mata korban kemarin malam Om, tidak lupa aku cabut giginya. Apa menurut Om ini bagus?
Reza rasanya ingin muntah melihat dua bola mata dan beberapa gigi, yang darahnya sudah mengering. " Sa-saya, tu-turun tuan."
"Apa Om mau pesan sate daging segar?" Erlon membuat Reza menoleh. "Kalau mau, biar aku bawakan di jamin masih segar."
Apa tuan Erlon lebih gila dari pada tuan Kenzo? mungkin hanya Erlan yang normal, gumam Reza di dalam hati.