Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12_Terasa Pilu
Vinda baru saja menutup gerbang rumahnya dan melangkah ke dalam rumah. Sunyi. Itulah yang dirasakannya saat ini karena rumahnya sudah tertutup dan lampu ruang depan yang tidak dihidupkan. Apa dia pulang terlalu malam? Vinda melirik jam tangannya yang masih menunjukan pukul delapan malam.
“Apa semua tidak di rumah?” tanyanya dalam hati.
Vinda kembali melangkahkan kaki, menaiki anak tangga kecil di depan rumah dan membuka pintu. Sayangnya, terkunci. Matanya membelalak menyadari sepertinya tidak ada orang di dalam. Padahal dia sudah lelah dan cuaca langit yang sudah mendung. Dia juga butuh istirahat karena masih ada begitu banyak tugas yang harus dikerjakan.
“Rensi, Ayah, Ibu,” panggilnya berusaha dan berfikir mungkin ada orang di dalam yang akan mendengar suaranya.
Tidak ada. Bahkan sudah berulang kali dia memanggil, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya, Vinda memutuskan untuk duduk di tangga kecil di depan rumah dan menatap jalanan yang sudah begitu sepi. Padahal masih jam delapan, tetapi semua orang sudah tidak keluar rumah.
Kemana mereka? Vinda menghela nafas panjang. Vinda meletakan tas gendongnya dan membuka resleting kecil yang ada di depan. Meriah ponsel dan berniat menghubunginya. Namun, tangannya tak menggapai apapun.
“Loh, ponselku kemana?” Vinda terlihat panik. Dia bahkan membuka seisi tas dan tidak menemukan apapun. Tidak lama karena pada akhirnya Vinda menepuk jidat pelan dan mendesah kesal.
“Pasti ketinggalan di mobil si gila,” pikir Vinda mengingat bahwa dia baru saja menghubungi Dika untuk menanyakan masalah pekerjaan.
Akhirnya, Vinda hanya mendesah frustasi. Dia bahkan sudah berpindah tempat dan menyandarkan tubuhnya di tembok. Hari ini dia benar-benar lelah. Sedangkan di tempat lain, Michael tengah menggeram karena ponsel yang sejak tadi berdering. Matanya menatap ponsel yang tergeletak disebelahnya. Matanya menatap layar ponsel yang menampilkan nama ‘Ayah’.
Michael mengabaikannya dan malah mematikannya. Dia tidak peduli dengan apa yang nantinya terjadi. Ponsel disebelahnya kembali berdering dan dia malah menekan tombol volume agar deringnya tidak terdengar. Sampai pada panggilan ke sepuluh, Michael mulai geram mendengarnya.
“Ini ponsel sama saja seperti pemiliknya,” gerutu Michael kesal.
Roy yang mendengar hanya melihat dari spion mobil dan berkata, “Bagaimana kalu Tuan angkat saja. Mungkin itu penting.”
Michael awalnya tidak mau, tetapi pada akhirnya dia mengalah karena panggilannya tidak juga terputus. Dia akhirnya mengangkat panggilan dari nama yang sama. Ayah.
“Halo, Vinda. Kamu dimana? Jangan buat Ayah menjadi susah mencarimu,” ucapan pertama yang hinggap di telinga Michael.
Michael berdeham dan itu membuat suara diseberang terdengar shock.
“Ini siapa? Dimana Vinda?” tanya pria bernama Ayah dengan suara tidak bersahabat.
“Saya sudah mengantar dia pulang. Dia tadi pingsan di rumah saya dan sudah saya pulangkan,” jelas Michael benar. Namun, dia tidak menjelaskan perihal kenapa Vinda ada di rumahnya. Dia merasa tidak perlu melakukan hal tersebut.
“Bocah kurang ajar. Sudah berani bermain ke rumah pria dia rupanya,” ucap Ayah Vinda dengan nada geram. Michael yang mendengar langsung kaget karena aura yang terdengar sudah berbeda. Apalagi panggilan tersebut langsung terputus secara sepihak.
Michael menatap sekilas layar yang kembali meredup. Dia merasakan ada hal yang tidak baik yang akan terjadi. “Roy, kamu kembali ke rumah Vinda dan kembalikan ponsel ini. Aku akan meminta jemputan lain nanti,” ucap Michael sembari memberikan ponsel tersebut kepada Roy yang langsung diterima.
Roy menerpikan mobil dan menurunkan Michael. Setelahnya, dia segera melaju ketika sebuah mobil sudah dipastikan menjemput tuannya. Roy hanya menatap sekilas dan melaju kembali menuju rumah Vinda.
_____
Terdengar suara klakson mobil terus menggema di luar gerbang rumah membuat tidur nyenyak Vinda menjadi terganggu. Perlahan, matanya terbuka. Apalagi ada teriakan untuknya membukakan pagar rumah. Vinda yang mengenal suara tersebut langsung membuka mata lebar dan setengah berlari, dia membuka gerbang rumahnya.
Setelah mobil masuk, Vinda menatap penuh keceriaan. Ayahnya pulang dan dia merasa senang. Namun, kebahagiaannya luntur ketika melihat Beni-ayahnya datang dengan mata yang sudah menunjukan amarah. Apa yang salah dengan dirinya?
“Dari mana kamu, Vinda?” tanya Beni dengan suara berat yang menandakan saat ini dia tengah menahan amarah.
Vinda menatap ayahnya lugu dan masih mengembangkan senyumnya. “Vinda dari mengurus keperluan kuliah, Ayah,” jawabnya jujur. Dia memang tengah mengurus keperluan kuliahnya, kan?
Beni yang mendengar malah tersenyum mengerikan dan tanpa aba-aba langsung menampar keras pipi Vinda. Amarahnya memuncak karena dirasa anaknya sudah berbohong kepadanya. Vinda langsung meringis menahan perih di sudut bibir dan menatap ayahnya bingung. Apa yang sudah dipersalahnya?
“Kamu sudah bisa berbohong, ya, Vinda? Ayah gak pernah ngajarin kamu buat berbohong sama Ayah!” bentak Beni langsung membuat Vinda menciut.
Vinda menggenggam erat ujung bajunya dan menatap ayahnya tegang. Beni tau Vinda begitu takut dengan suara bentakan, tetapi dia sendiri tidak bisa mengontrol emosi yang kian meledak. Dia tidak menyangka dan tidak sanggup melihat anak yang dibesarkannya menjadi wanita gampangan.
“Pingsan di rumah pria dan bahkan meninggalkan ponselnya. Kamu sebenarnya ngapain sama dia, Vinda?” Pikiran buruk mulai berkelebat dalam benak Beni, menyadari pergaulan remaja yang semakin bebas dan tidak memikirkan kesopanan.
Vinda yang mendengar membelalak tak kaget. “Ayah, Vinda gak ngapa-ngapain. Vinda bisa jelaskan.”
“Gak perlu menjelaskan, Vinda. Kamu benar-benar sudah mengecewakan Ayah kamu,” ucap wanita berusia empat puluh tahun yang sejak tadi bersandar di mobil.
Vinda yang mendengarnya menggeleng menolak. Dia tidak melakukan apapun. Matanya menatap Beni yang sudah terlihat lebih luluh, tetapi wanita tersebut kembali berucap dan itu membuat hatinya terasa pilu.
“Kamu mengecewakan, Vinda. Kamu diangkat dari panti asuhan dan dididik supaya benar. Nyatanya, kamu tidak tau terima kasih,” jawab wanita tersebut.
Vinda hanya diam terpaku. Air matanya sudah menetes begitu saja tanpa disadari. Matanya menatap ayahnya dan berharap ada pembelaan untuknya. Setidaknya sedikit saja dan dia akan merasa begitu senang. Namun, sayangnya semua berbeda. Ayahnya malah meninggalkannya sendiri di pelataran rumah. Bahkan tidak ada pelukan dan permintaan maaf untuknya. Rasanya hatinya benar-benar hancur sekarang.
Vinda menghapus air matanya dan hendak melangkah masuk. Namun, kakinya malah dicekal dan membuatnya tersandung. Vinda akhirnya menahan rasa sesaknya di dadan dan menatap sang pelaku. Ibu tiri dan juga Rensi yang sejak tadi menyaksikan pemandangan tersebut.
Rensi menatap Vinda penuh dengan rasa jijik dan segera masuk. Namun, dia dengan sengaja menginjak tangan Vinda hingga terasa sakit. Teriakan tertahan keluar dari mulut Vinda dengan air mata yang semakin mengenang di pelupuk matanya.
“Oh, sorry. Gak sengaja,” ucap Rensi tanpa belas kasih.
Nani-Ibu tiri Vinda hanya tersenyum meremehkan. Dia ikut melangkah masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Vinda yang masih tergugu di tempat. Sedangkan Roy yang melihat hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun. Dia bahkan mengurungkan niatnya untuk mengembalikan ponsel. Dia tau semua terjadi karena Michael mengangkat panggilan dari Ayah Vinda.
Roy menghela nafas dan berbalik badan. Rasa bersalah menyergapnya karena dia juga melakukan kesalahan dengan mengusulkan agar tuannya mengangkat panggilan. Roy membiarkan Vinda sendiri supaya tidak terjadi masalah yang lebih parah. Dia mulai masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan rumah Vinda.
“Aku kembalikan besok saja,” ucapnya sembari menatap ponsel yang diletakan di bangku sebelahnya.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄