Lintni Syahrain seorang wanita yang mengalami pelecehan dalam satu malam yang membuat hidupnya hancur, bahkan terpaksa menikah dengan pria yang tidak disukainya.
Askelan Harrad seorang pria yang berhasil mencapai kekuasaan dengan segala cara, tapi dia sangat mencintai ibunya hingga terpaksa menikah demi membahagiakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Aku Punya Kekasih
Aku Punya Kekasih
"Tuan Askelan, bisa tunjukkan di mana kamar saya?” kata Lintani sambil melihat ke arah tiga pintu yang berjajar di ruang lain dekat ruang tamu itu berada. Bentuk apartemen tersambung antara beberapa ruangan hingga semua area bisa terlihat dari tempatnya berdiri.
Askelan mendongak ke arah Lintani yang berdiri tak jauh darinya. Lalu, dia melihat kembali ke arah ponselnya dan mengabaikan kembali gadis itu.
Dia sebenarnya sudah merasa nyaman tinggal sendiri di tempat itu, sedangkan untuk kebersihan rumah seluruhnya dia serahkan pada pengasuhnya, Rin. Kalau bukan karena saran dari Jordan, maka enggan rasanya menghirup udara dalam satu ruangan dengan orang asing.
Awaalnya dia berniat hanya menunjukkan surat nikah saja pada Elliyat dan membawa Lintani padanya. Setelah itu dia akan membebaskan wanita itu pergi ke mana pun terserah, yang penting dia harus mau menemui ibunya setiap hari. Namun, setelah dia melihat bagaimana interaksi antara dua wanita itu, akhirnya dia menerima saran Jordan.
“Apa salahnya tinggal bersama, Anda sudah sah menjadi suaminya dan keberadaan Nona di rumah itu akan lebih mudah bagi Anda untuk mengawasinya agar tidak kabur.” Jordan berkata waktu Askelan berniat meninggalkan Lintani begitu saja sesaat setelah ibunya tidur.
Sekarang gadis itu masih di sana, dia tidak berdaya walau pandangan matanya seolah terganggu dengan adanya orang lain di sekitarnya.
Lintani kesal melihat dirinya diabaikan, dia tidak dalam posisi bisa membuat sebuah penawaran, tapi, dia punya inisiatif untuk membuat pria yang ada di hadapannya ini benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Gadis itu berani bertekad untuk menaklukkannya namun karena dia menilai jika pria ini penyendiri dan tidak mudah jatuh cinta mengingat masa lalunya bersama Elliyat. Bahkan di dalam rumahnya itu secara terbuka memperlihatkan bahwa dia pria yang hidup tanpa pasangan.
Lintani masih hapal ceritanya bagaimana Askelan lahir dan situasinya saat itu hingga dia besar dan menjadi seperti saat ini. Kalau boleh dia berkata kasar, dia pria yang tidak laku di pasaran wanita karena perangainya. Apalagi keberhasilannya mencapai puncak kekuasaan dengan membunuh enam atau tujuh nyawa termasuk salah satunya adalah saudara sepupunya sendiri yang menjadi dalang dari rencana kematiannya.
Adapun pria seperti itu kalau menyukai wanita maka hanya jadi permainan saja, kecuali jika dia benar-benar jatuh cinta, maka, dia akan jadi laki-laki yang sangat setia. Biar bagaimanapun juga, pengalaman masa lalu bersama ibunya menjadi pelajaran keras, ibarat kastel raja-raja dan kekaisaran jaman dulu, sulit sekali diruntuhkan.
Lintani akhirnya duduk, menyandarkan tubuh dan kepalanya lalu, memejamkan mata. Dia kelelahan dan tidak peduli apakah pria di dekatnya itu akan marah atau tidak, mengabaikannya atau tidak.
Askelan hanya melihat Lintani sekilas, dia tidak peduli dan beranjak dari duduknya begitu layar ponselnya mati.
“Apa kamu akan membiarkanku mati di sini, tanpa memberiku makan dan tempat tidur?” kata Lintani saat tubuh Askelan melintas.
Pria itu mengerutkan alis dan melihat Lintani yang bicara dengan mata yang masih terpejam. Jakunnya naik turun pertanda dia menelan ludah melihat keadaan gadis itu dari atas, rasanya ingin menggulungnya dalam satu dekapan.
Sialan! Dia mengumpat dalam hati karena menyalahkan Jordan yang hendak menyiksanya secara perlahan-lahan.
Lintani membuka mata dan menyeringai saat mendapati Askelan yang masih menatapnya. Dia menegakkan punggung dan meraih tangan Askelan lalu menariknya hingga tubuh mereka berdekatan.
Askelan melepaskan pegangan tangan Lintani dengan kasar, sekadar cara gadis itu menarik dirinya tadi.
“Katakan dengan jujur, apa niatmu menikahiku, Tuan?”
“Jangn berlagak yang tidak tahu, kau sendiri sudah janji, kan, pada Ibuku?”
“Baik, aku akui itu ....” Lintani berdiri, lalu mendekati Askelan sambil mengulurkan tangannya dan membelai bahu pria gagah di hadapannya.
“Kalau begitu, kita akan tidur bersama, bukan?”
“Jangan harap!” kata Askelan sambil menepis keduan tangan Lintani yang ada di bahunya.
“Baik, aku mengarti itu ....”
“Aku adalah istrimu, jadi aku akan mendapatkan hakku, bukan? Atau paling tidak berikan kompensasi yang kau janjikan padaku.”
Askelan melepaskan dasiny saat Lintani bicara, lalu dia duduk kembali di tempat semula. Dia sudah menilai jika Lintani memang wanita seperti kebanyakan wanita lainnya, maka, dia akan memperjelas posisinya agar wanita di hadapannya itu tidak tahu batasannya.
“Kau tidak punya hak sama sekali padaku karena kau menikah atas dasar janji pada Ibu. Sama seperti kau jadi kau tidak punya hak padaku Dan aku pun tidak akan menentu hakku padamu apakah mengerti?”
Lintani mengerutkan alisnya kemudian ikut duduk di hadapan Askelan, menatapnya dengan serius.
“Aku tidak mengerti ... sebab kalau kau memang menyayangi ibumu tentu kau akan menyayangiku dan kalau kau menganggap aku istrimu, maka, kau harus memberikan hakku, bukankah seharusnya begitu Tuan?”
“Dengar, aku hanya menuruti kemauan Ibu karena dia sedang sakit,” kata Askelan dengan rendah penuh penekanan.
“Bibi Elle, sakit? Sakit apa?”
“Ya, sakit yang bisa merenggut nyawanya kapan saja. Anehnya dia selalu mengingatmu, entah obat apa yang sudah kau berikan padanya saat dipenjara, aku tidak tahu. Jadi, anggap saja pernikahan ini sebagai bayaran atas kesalahan yang sudah kau lakukan!”
Lintani terlihat panik dan hampir menangis, dia tidak akan sanggup kalau harus kehilangan lagi kali ini. Elliyat sudah dianggap sebagai ibunya sendiri.
“Memangnya kesalahan apa yang aku lakukan? Katakan! Apa merawatnya dan bekerja sama selama di penjara itu salah?”
“Kau pikir aku percaya, dengan semua yang kau katakan dan menganggap dirimu berjasa pada Ibu?”
Lintani tersenyum miring sambil memalingkan mukanya, saat Askelan berkata demikian, sedangkan pria itu menatapnya tidak percaya.
“Tuan Askel, kalau kau tidak mau percaya padaku maka aku tidak akan memaksamu Tapi setidak-tidaknya percayalah dengan apa yang dikatakan oleh ibumu.”
Askelan diam sejenak, selama ini, sejak dia kecil dan mulai mengerti, Ibunya tidak pernah berbohong padanya tentang apa pun juga. Bahkan kehidupan terburuknya. Dia sangat percaya dengan satu-satunya wanita yang ada dalam hidupnya.
Tentu di tambah dengan Haifa. Gadis itu juga berjasa dalam hidupnya, kalau tidak ada Haifa saat itu mungkin dirinya bisa benar-benar mati. Haifa mengatakan padanya jika dialah wanita di pondok kayu, yang diumpankan oleh para bedebah itu, seandainya yang dia temui adalah wanita murahan maka dia sama sekali tidak akan menyentuhnya berkali-kali.
“Baiklah aku akan memberikan kompensasi yang kau inginkan, sesuai janjiku 300 ribu dollar, tapi, aku akan memberikannya kalau tugasmu selesai.”
Askelan berhenti bicara sekedar menarik napasnya dalam-dalam, lalu kembali melanjutkan.
“Jangan ganggu kehidupan pribadiku dan aku pun tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu, aku punya kekasih ... dan aku akan menikahinya suatu saat nanti, kalau pernikahan denganmu berakhir.”
Apa? Laki-laki seperti ini punya kekasih dan akan menikah, ah yang benar saja, kalau begitu aku tidak akan macam-macam sebab aku bukan wanita penggoda seperti yang dia kira! Batin Lintani disertai rasa sakit di hatinya. Itu artinya dia tidak akan punya uang sampai perjanjian selesai.
“Baiklah, kalau begitu kita sepakat!” kata Lintani sambil mengeluarkan tangannya tanda perjanjian sudah disepakati bersama.
Askelan berdiri sambil menyambut uluran tangan Lintani, wajahnya yang semula acuh tak acuh, tiba-tiba berubah, dia pernah merasakan sentuhan seperti ini, membuat ingatannya melayang pada gadis di pondok kayu.
Tidak. Askelan menggelengkan kepalanya mengusir ingatan nakalnya, sebab kini dia tahu jika wanita itu adalah Haifa. Namun, anehnya dia tidak pernah memiliki rasa yang sama saat bersentuhan dengannya. Bahkan rasa tak asing muncul setiap kali dia berdekatan dengan Lintani sejak mereka bertemu di restoran kecil itu.
Askelan cepat-cepat melepaskan genggaman tangannya dan berkata, “Kau bebas tidur di mana pun asal jangan di kamarku!” Setelah berkata, Askelan melangkah memasuki kamar di bagian paling depan di antara kamar lainnya dan kamar itu tampaknya yang paling besar.
Bersambung
xixixixxiixixi
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu