Amy Sky menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat ayahnya dibunuh tepat di luar pintu rumahnya ketika pembantaian tengah malam dilakukan oleh Jack Langton di Mansion keluarga Sky.
Derek Langton, sang pemimpin Klan keluarga Langton hanya butuh satu kali tatapan untuk memutuskan bahwa Amy harus jadi miliknya.
Tiada perasaan yg lebih besar selain kebencian yang dirasakan Amy pada musuh yang telah menghabisi keluarganya, namun harga diri dan perlawanan yang terus ia pertahankan apakah harus patah karna gairah yang tak bisa ia lawan?
Follow ig dianaz3348 & fB Dianaz ya. Thanks.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
** Derek 's Kiss **
Derek mengamati wajah Amy, setiap ekspresi Amy tak luput dari perhatiannya. Bagaimana wajah Amy mengernyit dan matanya membelalak atau ekspresi sedih yang silih berganti melintas di wajah nan cantik itu.
"Aku tak tahu apa yang harus kukatakan, aku tidak tahu apapun tentang dunia ayahku yang itu, Mamma pun tak pernah menceritakan apapun tentang keluarganya saat masih hidup. Kurasa Jack sengaja mengambil nyawa ayahku untuk membalas kematian ayahnya." Amy berkata lirih. Kesedihan terasa pekat dalam nada suaranya.
"Jack harus mengatasi rasa kehilangannya ... dan begitu juga denganmu, apakah kau tahu kenapa aku menempatkanmu di mansion ini?"
Amy menggeleng, kulitnya terasa menggelenyar oleh jari-jari Derek yang menelusuri sisi wajah dan lehernya.
"Di mansion inilah ibumu tinggal dan dibesarkan. Setiap tempat di mansion ini ada jejak ibumu, termasuk taman yang sering kau datangi di halaman. Itu adalah hasil karya tangan terampil ibumu. Well ... Erland pernah bercerita kalau Margareta sangat suka berada di alam terbuka."
Suara Derek yang menggambarkan ibunya membius Amy, tak disadarinya tubuh Derek yang mendekat dan wajahnya yang berada persis dihadapan Amy hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
"Sweetheart ... Kau belum mendapatkan hukumanmu." Derek merangkul Amy dalam pelukannya, bibirnya mencari bibir lembut Amy yang mulai terasa seperti candu baginya. Hukuman hanyalah alasan bagi Derek untuk terus dan kembali menikmati kelembutan yang ia rasakan saat bibirnya menyentuh bibir Amy.
Sekuat tenaga Amy mendorong dada Derek yang menghimpitnya. Ia tidak boleh terhanyut, Amy menggeliat , meronta sejauh yang bisa dilakukan oleh kedua tangannya. Namun tubuh kuat yang memeluknya bergeming, Derek malah makin mengeratkan pelukan dan memperdalam ciumannya.
Ciuman itu mulai membuat otak Amy berkabut. Tangan Derek perlahan membelai tubuh Amy di setiap bagian yang ia singgahi. Satu tangannya mendorong tengkuk Amy agar lebih dekat dan memperdalam ciuman mereka. Derek merasakan Amy mulai membalas ciumannya, gadis itu berjinjit , kedua tangannya mencengkeram kemeja Derek dan kepala nya tertengadah pasrah menerima setiap belaian bibir Derek.
Derek merasakan darahnya makin menggelegak, ia harus berhenti sekarang, ini akan sangat sulit, terasa seperti akan membunuhnya. Sekali lagi Derek memperdalam ciumannya dan berniat melepaskan Amy setelah itu, namun janji di dalam hati itu terlupakan saat suara desahan gadis itu terdengar di telinga Derek.
Derek mendorong Amy ke sofa yang ada di belakangnya, tubuh gadis itu menurut dan terasa sangat pas dipelukan Derek. Derek menind*h Amy untuk kemudian mulai memberikan ciuman di setiap sudut wajah Amy ... kening, pipi, hidung, lalu kembali mendarat di bibir lembut gadis itu. Derek tak lagi memikirkan untuk berhenti, yang ada dalam fikirannya adalah memuaskan gairahnya akan rasa gadis itu.
"Master ...." suara ketukan di pintu perpustakaan dan panggilan Jason menyadarkan Derek dari kabut gairah yang melingkupinya. Derek berhenti, mengangkat wajahnya dari Amy dan memandang bintik biru mata Amy yang berkabut. Ia bergerak duduk di pinggir sofa, merapikan kemejanya yang kusut oleh jari jari Amy , lalu menyisir rambutnya yang berantakan dengan tangan.
Seperti diguyur dengan air es Amy yang mendapatkan kembali kesadarannya setelah keluar dari kabut gairah terduduk tegak di sofa di sebelah Derek. Dengan ekor matanya ia melihat Derek mulai menyisiri rambutnya yang berantakan.
Amy merasa jengkel dengan ketenangan yang terpancar pada tubuh lelaki itu, sedangkan ia sendiri merasa sangat frustasi, debar jantungnya belum juga berdenyut normal, wajahnya pasti sangat merah dan ia terlihat berantakan. Amy perlahan merapikan gaunnya, ia menunduk untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.
"Masuklah Jason ...." perintah Derek.
Jason masuk, memberi hormat pada Derek. Kalaupun Jason tahu telah menyela sesuatu di antara mereka, wajah datarnya tak mengindikasikan apapun.
"Mike menelpon anda, Master. Saya menyuruhnya menunggu sementara saya memanggil anda." Jason berbicara tanpa mengangkat wajahnya. Menunduk menahan pandangannya dari kedua insan yang terlihat berantakan.
Tanpa melihat lagi ke arah Amy, Derek melangkah cepat keluar dari perpustakaan diikuti oleh Jason di belakangnya yang kemudian menutup pintu rapat rapat.
Ditinggal sendirian dalam kesunyian perpustakaan membuat kesadaran penuh kembali ke fikiran Amy. Air mata tanpa dapat ia tahan deras melelehi pipinya. Tanpa suara ia menangis, menangisi dirinya yang sangat bodoh , menangisi kelemahannya terhadap sentuhan Derek dan membenci reaksi dirinya sendiri terhadap lelaki itu.
"Kau sangat bodoh Amy Sky ... bagaimana mungkin kau menikmati sentuhan dari pria itu. Dia adalah keluarga pembunuh ayahmu! Kau tak bisa dimaafkan!!" Amy berbisik pada dirinya sendiri.
********