Rara wijaya wanita yang cerdas, baik hati dan termaksud gadis pemberani. Dia harus menikah dengan Rendy Handoko seorang CEO muda. Pria yang memiliki penampilan yang tampan dan kepribadian yang sombong.
Dari awal pertemuan mereka sudah mengibarkan bendera perang.
Rendy merasa Rara menikahinya karena harta. Oleh karena itu Rendy selalu berkata kasar kepadanya.
Sementara itu Rara yang memiliki kepribadian ceria harus berubah seratus delapan puluh derajat untuk meruntuhkan kesombongan suaminya.
Tidak ada hari tanpa keributan dan kecemburuan di antara pasangan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ylfrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
Rendy dari balik kaca restoran itu terlihat tersenyum jahat. Ia tidak menyukai siapa pun yang menyentuhnya tanpa izin, siapa pun orangnya Rendy akan membalasnya jika ia tidak suka.
Beberapa saat kemudian Rendy dan Clara kedatangan rekan bisnis mereka.
Mereka mulai membahas beberapa produk yang akan di impor keluar kota. Dan salah satu dampaknya, Rendy juga harus ikut untuk kesana sebagai pihak pertama dalam kerja sama tersebut.
Rendy hanya mengangguk sedangkan Clara merencanakan niat jahatnya. Ia akan membuat Rendy terlena akan dirinya.
Memang benar tipu daya wanita itu sangat nyata.
Setelah beberapa jam berlalu dan meeting telah usai. Rendy kembali di antar oleh Clara pulang. Dan ketika di parkiran Gerin tidak sengaja melihat adik iparnya bersama wanita lain.
Sedangkan mereka baru saja menikah.
Beberapa jam yang lalu Gerin datang menemui Rara, dia menanyakan bagaimana kabar adiknya? apa ia merasa aman tinggal disini?
Rara tidak bisa mengeluh lebih banyak, yang ia lakukan hanya mengangguk kecil dan mengatakan ia baik-baik saja.
Rara tahu Gerin begitu menyayanginya,
Melihat mereka tertawa bersama membuat Gerin naik darah, Gerin langsung menghajar Rendy tanpa mempedulikan kekayaan Rendy atau keluarganya lagi berhutang kepada pria itu.
Clara langsung berteriak sehingga para ajudan Rendy datang dan langsung memukul Gerin tanpa henti
"Hentikan!" Ucap Rendy dan ia juga berkeinginan memukul Gerin. Namun, ketika menyadari siapa pria itu. Rendy menahannya dan tersenyum kecil
"Saya tidak peduli anda tidak mencintai adik saya, tetapi jaga kelakuan anda ketika sedang di luar!" Balas Gerin dan berlalu meninggalkan mereka berdua
Rendy merasa emosi dan alam bawah sadarnya kembali ingin membalaskan semuanya kepada Rara, iya tentu saja Rara yang akan menerima dampaknya, Apalagi Gerin begitu berani memukul pria tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang dan sebanyak apapun Clara bicara Rendy hanya terdiam.
Begitu sampai di rumah. Rendy bergegas mencari dan memanggil Rara, suara kerasnya begitu mengusik telinga.
Tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari gadis tersebut. Rara membiarkan ia berteriak sesuka hatinya.
Lihatlah, Rara membiarkan angin malam membelai kulit putihnya. ia berdiri di depan jendela kamar. Hidupnya bagaikan burung dalam sangkar.
Semuanya terasa asing bagi Rara. Dan kini seluruh negeri membicarakan kebodohannya.
Beberapa kali Rara menghela nafas berat. Setiap kali itu juga ia mengingat Angga dan Raisa ,hatinya terasa sakit.
Ya!
Kalau boleh jujur,
Angga adalah cinta pertama ku, aku tidak tahu cinta itu kapan di mulai, hanya saja aku pernah ingin memilikinya seutuhnya, aku tidak jahat toh perasaan itu aku simpan dalam-dalam agar tidak di lihat orang, dan sampai saat ini pria itu masih mendapatkan tempat yang spesial di hati ku.
Tetapi aku tahu semua tidak berjalan sesuai keinginanku. Angga sudah di miliki orang lain, dan orang itu adalah sahabatku sendiri. Dan kini pun, aku sudah terikat pernikahan oleh pria yang tidak di aku cintai. Bahkan setiap kata yang keluar dari mulut Rendy adalah kata yang menyakitkan diriku
"Rara......" Teriak Rendy berulang kali memanggil namanya
Rendy sudah habis kesabaran. Ia mendobrak pintu kamar yang Rara kunci. Tiga kali hentakan badannya. Pintu itu terbuka. Rara masih bersama beban berat nyaa tidak mendengar apapun. Rara tidak menyadari Rendy sudah merusak pintu kamar.
Rendy terdiam ketika Rara tidak melihat bahkan ia tidak lagi mengomelinya saat ini.
"Apa begitu cara keluarga kau berterimakasih kepada orang yang telah menolongnya?" Tanya Rendy, dan lagi-lagi tidak ada respons dari Rara sedikit saja Rara tidak ingin peduli lagi tentang dirinya
"RARA!" teriak Rendy seraya menarik bahu Rara yang sedari tadi membelakanginya
"Lepasin tangan kotor kau dari tubuh ku! " Balas Rara berteriak lantang, Rara telah muak dengan suara teriakkannya yang mengganggu telinga
"Kenapa? Kenapa harus aku yang kau permalukan?" tanyanya seolah semuanya salah Rara
"Yang menggunakan uang kau orang tua aku, bukan aku!"
"Jika kau ingin balas dendam lakukan kepada mereka, sepeser pun aku tidak pernah memakai uang yang kau berikan" Ucap Rara dan entah kenapa ia menitikkan air mata, Rara sudah tidak sanggup lagi menghadapi Rendy dengan cara yang lembut
Rendy hanya diam memperhatikan wajah istrinya
"Aku tidak mengenal kau dan aku juga tidak ingin menikah dengan kau dan biarkan kita hidup sendiri-sendiri"
"Kau bilang aku sandera bukan? Ya, kurung dan ikat aku dalam rumah ini, kapan perlu kau bunuh. sekali pun tidak ada masalah bagiku" Ucap Rara menatap Rendy yang hanya terdiam sedangkan tangannya sibuk menepis air mata yang tak kunjung berhenti
Pikiran Rara entah kemana saat ini, ia melihat gelas kaca tepat di meja rias, Rara mengambil dan langsung memecahkan gelas kaca tersebut. Tidak ada keraguan karena di posisi ini Rara sudah benar-benar lelah, Rara mengambil serpihan kaca itu dan memberikannya kepada Rendy. Darah dari telapak tangan sudah menetas ke lantai. Rara rasa mati lebih baik dari pada hidup seperti ini
"Tidak cukup hari kemarin kau menyakiti aku? Ulangi sekarang kalau kau mau" Ujar Rara menyodorkan serpihan kaca itu ke arahnya dan Rendy langsung merebut serpihan kaca dari tangan Rara. Rendy melemparkan serpihan kaca itu keluar jendela lalu menahan luka di tangan istrinya.