Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyakit ini tidak membunuhku tapi ...
Pagi ini Zulfa ada janji untuk bertemu dengan sahabat masa kecilnya yang bernama Nadia. Tentu saja Zulfa sudah meminta ijin pada suaminya setiap kali akan pergi keluar. Karna Arslan juga sudah mengenal dekat sahabatnya itu.
Sebenarnya Arslan bukan tipe suami pengekang, ia selalu membebaskan Zulfa untuk pergi kemana pun yang ia suka, asalkan ia selalu ijin padanya. Arslan paham wanita seperti Zulfa memang harus banyak-banyak healing sebab kalau hanya di rumah saja kemungkinan stress-nya akan meningkat 10x lebih tinggi. Maklumlah Zulfa masih belum memiliki anak jadi sebagai penghilang kepenatannya ia butuh dihibur oleh teman-temannya.
Zulfa yang sudah berdandan cantik dengan setelan gamis berwarna cream dipadu dengan jilbap yang terikat di lehernya langsung menuruni anak tangga, dan menuju garasi mobil yang menampung banyak mobil-mobil sport koleksi suaminya. Tentu saja mobil yang Zulfa miliki bukan kategori mobil sport seperti selera Arslan. Zulfa hanya memiliki satu mobil berjenis SUV produk asal Jepang yang ia beli dengan hasil kerjanya sendiri saat masih sibuk berkarir. Walau demikian mobil milik Zulfa juga tergolong mewah.
Sebenarnya Arslan selalu mengijinkan Zulfa, jika istri kesayangannya itu ingin memakai mobil-mobil sport miliknya yang berjumlah sepuluh unit, akan tetapi Zulfa merasa ngeri jika harus mengendari mobil seharga milyaran rupiah di kota padat seperti Jakarta, apalagi beberapa diantaranya ada mobil berlambang kuda Jingkrak yang menurut Zulfa sangat tidak cocok jika digunakan untuk melintasi area ibukota yang padat merayap.
Arslan pun menggunakan mobil-mobil itu tidak setiap hari, hanya sesekali saja saat komunitasnya mengadakan event bulanan dimana para sultan ibu kota akan berkumpul dan menjadi pusat perhatian hingga ke dunia maya.
Tak butuh waktu lama Zulfa melajukan mobilnya, dalam hitungan menit saja ia sudah sampai di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari kediamannya. Di tempat itu Zulfa dan Nadia akan bertemu. Restoran ini juga salah satu tempat favorit Arslan karna semua masakan disini sangat enak. Sangat cocok untuk lidah seperti Arslan yang selalu pilih-pilih rasa kalau soal makanan. Ia pun akan menghabiskan jam makan siangnya di tempat ini jika Zulfa tak sempat memasak.
Zulfa duduk di sebuah meja yang terdapat tulisan reservasi. Restoran ini sangat ramai pengunjung. Tak berapa lama kemudian sahabatnya datang dengan melambaikan tangan dari jauh tatkala mata Zulfa menangkap kedatangannya.
"Zulfaa .." sapaan heboh Nadia membuat orang-orang sekitar menoleh ke arahnya sebab jarak antara Zulfa dan Nadia cukup jauh.
Memang seperti ini sosok Nadia, heboh dan ceria. Bagaimana tidak ceria, hidupnya saja bahagia. Dia memliki keluarga yang utuh, lengkap dan karir yang sempurna. Zulfa sebisa mungkin tidak ingin membandingkan hidupnya dengan orang lain. Sebab Zulfa percaya, tidak ada manusia yang hidupnya benar-benar sempurna, setiap manusia pasti punya ujiannya masing-masing, ada yang nampak, ada juga yang sengaja di tutupi.
Mungkin karena malu mengakui bahwa hidupnya tidak seindah yang terlihat. Atau mungkin karena mereka memilih menjaga rapat-rapat aib keluarganya agar tidak menjadi konsumsi orang lain.
"Bisa nggak sih nyapanya biasa aja? liat tu orang-orang pada kaget denger suara kamu yang kayak Toa!!" keluh Zulfa sambil mencebikkan bibir.
"Berisik ah!! kayak baru kenal kemaren sore aja!!" Nadia tak peduli dengan celotehan Zulfa, ia memilih untuk menggeret kursinya dan memanggil Waiter untuk memesan makanan.
"Tega kamu yaa ... masa aku datang belum ada makanan di atas meja!! Minimal minumannya dulu kek pesenin, Nggak tau apa kalau aku kemari udah kayak di kejar-kejar setan!!"
"Eh ... kamu pikir aku datang dari tadi!! Ini aja juga baru nyampe, nih pantatku aja masih adem." Zulfa menepuk-nepuk bokongnya.
"Yaudah deh kita langsung pesen makan aja. Sumpah laper banget nih ..." sambil mengelus perutnya yang buncit, efek melahirkan tiga kali dalam waktu dekat.
"Aku ngajak kamu kesini bukan cuma buat makan aja yaa tapi juga buat curhat."
"Ya masa dengerin kamu curhat nggak butuh energi!! Mending nungguin aku sampe kenyang dulu deh, biar aku bisa fokus dengerin kamu curhat yang pasti bakal minta saran dan kritik-ku, kan!!" ujar Nadia sambil sibuk memilih-milih menu makanan di buku menu yang sudah disediakan oleh pelayan.
Sebelumnya Zulfa sudah bercerita tentang masalah yang ia alamai pada Nadia lewat telepon namun mereka memilih untuk bertatap muka secara langsung agar lebih puas.
Tak berapa lama kemudian, makanan dan minuman pesanan mereka datang. Menu seafood dan jus buah menjadi pilihan mereka untuk makan siang. Seketika Zulfa jadi teringat dengan masakan andalan mendiang ayahnya.
"Aku masih nggak percaya kalau tante Farah tega nyuruh Arslan selingkuh apalagi sampe nikah lagi? Paling kuping kamu aja yang salah denger, siapa tau dia lagi cerita ke Arslan kalau habis nonton drakor tentang poligami." Nadia berkelakar dengan mulut yang dipenuh makanan.
"Sejak kapan drakor ada poligaminya? nggak usah ngaco deh!!" Zulfa yang gemas dengan tingkah ibu tiga anak itu langsung menonyor dahi Nadia dengan pelan.
"Ya, tapi aku tetap nggak percaya. Masa tante Farah sejahat itu sama kamu. Lagian kalian berdua kan uda kayak bestie." Sambil mengelus-elus dahinya yang habis dapat tonyoran halus dari Zulfa.
"Itu kan dulu Nad, jaman Dia belum menuntutku biar cepet hamil."
"Tapi kan selama ini tante Farah tetep bersikap baik sama kamu, kan?! Bukannya kamu sendiri yang cerita kalau tante Farah dan Om Ardi itu nge-support kamu banget selama promil!" Zulfa menghela nafas, bingung untuk menjawab.
"Yaudah deh gini aja, terus rencana kamu habis ini gimana? Katanya mau mulai progam hamil lagi?"
"Nah ini dia yang pengen aku curhatin sama kamu juga. Kasih aku rekomendasi klinik bayi tabung dan dokter terbaik buat aku. Relasi kamu kan banyak, barangkali bisa bantu."
"Kamu mau pindah dokter?" tanya Nadia.
Zulfa hanya berdeham pelan menanggapi pertanyaan sahabatnya.
"Kenapa?"
"Aku butuh ditangani dokter yang lebih paham dengan kondisi rahimku, Nad."
"Memangnya dokter bilang apa sama kamu? Apa penyakitmu itu juga bisa membahayakan nyawamu?"
"Penyakit ini mungkin tidak akan membunuhku... tapi bisa membunuh impianku."
Nadia hanya mampu mengembuskan napas panjang mendengar jawaban itu. Sebagai sahabat yang telah mengenal Zulfa sejak lama, ia sangat memahami kondisi perempuan tersebut. Sejak dulu, setiap kali jadwal menstruasinya tiba, Zulfa selalu dilanda rasa sakit yang luar biasa. Bahkan, semasa sekolah, ia sering kali pingsan karena nyeri hebat yang tiba-tiba menyerang perutnya.
"Suami kamu kan banyak duit mending langsung ke luar negri aja deh."
"Hah luar negri?" Zulfa berusaha memperbaiki pendengarannya, "Arslan mana punya waktu buat wira-wiri ke luar negri, apalagi sampai harus melakukan perjalanan berjam-jam di pesawat."
"Ya coba yang deket-deket dulu. Negara tetangga misalnya ..."
"Malaysia?" tebak Zulfa, lalu Nadia menggeleng.
"Agak ke utara dikit." Zulfa mendengus kesal karna diajak main tebak-tebakan.
"Singapura."
"Yup, kenapa nggak coba disana aja?" Nadia menjentikkan jari lalu mencondongkan tubuhnya untuk berbicara serius.
"Disana ada klinik bayi tabung terkenal yang punya alat-alat medis yang lebih canggih. Banyak loh orang-orang sini yang progam kesana dan kebanyakan dari mereka semua berhasil. Salah satunya klien-ku yang berhasil punya anak kembar tiga dari progam itu. Padahal kondisinya juga sama kayak kamu, punya masalah sama rahimnya. Coba aja, siapa tau rejeki punya anaknya lewat sana." Mendengar saran dari Nadia membuat Zulfa terdiam selama beberapa detik, ia mencoba menimang-nimang untuk melanjutkan progam hamil di negara tersebut.
"Kayaknya ide kamu boleh juga deh. Singapura kan nggak jauh-jauh banget dari sini. Pasti Arslan nggak bakal keberatan juga kalau aku ajak progam kesana. Kasih tau aku nama kliniknya sama dokter rekomendasinya juga ya." Zulfa mulai terlihat antusias.
"Ok, nanti aku tanya dulu ke klien ku."
"Makasih ya Nad uda mau bantu aku." Zulfa tersenyum seraya menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Uda deh Zul, nggak usah terlalu dipikirin ucapan ibu mertua mu itu. Pasti dia cuma iseng aja ngomong gitu ke anaknya." Nadia mencoba menghibur Zulfa.
"Iya, semoga aja mama nggak serius nyuruh Arslan nikah lagi."
"Tapi kalau ternyata Arslan pengen nikah lagi, Gimana Zul? Kamu mau di poligami?"
"Ya kamu pikir aja sendiri!! Kalo tiba-tiba Dimas yang pengen nikah lagi, gimana?" Zulfa bertanya balik dengan nada emosi.
"Jangan sampai dia berani melihara gundik di belakangku, bisa-bisa ku geprek perkututnya!!" Zulfa sontak terbahak mendengar nada bicara Nadia yang meninggi. Telihat lucu sekali ekspresinya. Zulfa tak menyangka kalau Nadia lebih galak darinya.
"Ya makanya, jangan suka nanya yang aneh-aneh!! Akhir-akhir ini aku lagi sensi!"
"Iya, iya maaf. Yaudah deh, Aku nggak bisa lama-lama klien ku udah nungguin di ruang sidang." Nadia langsung buru-buru membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tas saat melihat ada pesan masuk dari kliennya.
"Lagi nanganin kasus perceraian lagi?" tanya Zulfa.
"Kan emang ini keahlian ku." jawab Nadia dengan nada sombong namun sama sekali tidak membuat Zulfa terganggu.
"Semoga lancar ya!!"
"Aamiin, makasih ya traktirannya." Nadia berucap sambil menempelkan pipi kanan-kirinya ke pipi Zulfa. Raut wajah Zulfa pun berubah seketika.
"Aku lagi nih yang bayar?"
"Kan kamu yang paling banyak curhat." ucap Nadia sambil menaik turunkan alisnya dengan senyum menggoda.
"Apes deh!! Gini banget kalau lagi banyak masalah." Nadia tertawa dan tak peduli dengan sahabatnya yang sedang kesal dibuatnya.
"Udah deh nggak usah ngeluh, minggu depan aku mau liburan ke Swiss, aku bakal beliin kamu banyak oleh-oleh disana, OK!" Ucap Nadia seraya pamit tanpa peduli dengan kondisi sahabatnya yang sebenarnya masih ingin curhat lebih lama dengannya. Akan tetapi Zulfa sadar kalau Nadia adalah seorang pengacara yang super sibuk, yang hampir setiap hari selalu menangani klien dari berbagai macam kasus.
Nadia bahkan dikenal sebagai pengacara langganan para artis. Tak heran juga setiap kali Zulfa pergi bersama Nadia, mereka selalu menjadi pusat perhatian. Lebih tepatnya Nadia yang lebih menjadi pusat perhatian sebab wajahnya seringkali muncul di layar televisi atau di akun gibah yang terkenal dengan gambar bibir tebalnya.
Terkadang Zulfa iri melihat kesempurnaan hidup Nadia. Dia sudah berhasil menggapai cita-citanya menjadi pengacara yang sukses, selain itu Tuhan juga begitu baik padanya . Hanya beberapa bulan menikah Nadia langsung hamil. Tidak seperti dirinya yang sudah berhasil menduduki puncak karir di perusahaan internasional, namun membuatnya terpaksa mengundurkan diri hanya karena belum juga hamil.
Kesibukan Zulfa selalu dijadikan alasan mengapa dirinya belum juga hamil. Padahal, jika saja orang-orang mau mengerti, anak adalah rezeki—hadir sebagai anugerah atas kehendak Yang Maha Kuasa, bukan semata karena seseorang terlalu sibuk atau tidak. Mungkin, kalau pemikiran itu dipahami, saat ini ia masih duduk nyaman di kursi kebesarannya tanpa harus terus-menerus dihakimi.
Lihat saja beberapa temannya. Mereka sama sibuknya, bahkan ada yang pekerjaannya jauh lebih melelahkan, tetapi itu tidak mengganggu kesuburan mereka sedikit pun. Mereka tetap bisa hamil, bahkan dianugerahi kehamilan sehat tanpa harus meninggalkan aktivitas sehari-hari. Sayangnya, Zulfa tidak seberuntung mereka.
Andai keberuntungan itu juga berpihak padanya, mungkin saat ini ia akan merasa menjadi wanita paling bahagia karena hidupnya terasa sempurna.
Namun lagi-lagi, Zulfa berusaha menahan dirinya agar tidak kufur nikmat. Sebab bisa jadi, kehidupan yang ia miliki sekarang justru menjadi impian banyak wanita di luar sana, bukan?
***