Niat hati hanya membantu Veronica sang pelayan Cafe cantik dan pendiam yang sedang kesulitan untuk biaya rumah sakit sang ibu dengan cara menikah secara siri, Agam Arsenio sang dokter ganteng pujaan hati para dokter dan perawat serta pasien wanita malah jatuh cinta pada Veronica.
Bagaimana kisah cinta mereka? apakah mereka akan menikah secara resmi? nantikan kisah gaje mereka yang segaje-gajenya😁
Follow👇
IG: istikomah50651
Fb: ISTI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti Shaburu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 12
Sandra terkejut dengan pernyataan sang adik. Selama ini yang Sandra tahu Agam tak pernah dekat dengan seorang wanita dan bahkan ia cendering bersikap dingin pada siapapun kecuali pada wanita paruh baya. Tapi sekarang saat Sandra memergoki Agam begitu bersikap hangat pada wanita ia hanya berniat untuk menikahinya secara siri.
"Kak, Ibunya dirawat di rumah sakit ini dan saat ini dalam keadaan koma, aku ingin mengukatnya agar selalu berada di sampingku, namun aku tak ingin menikahinya tanpa Ibunya juga merasakan kebahagiaannya jadi untuk sementara aku hanya bisa mengikatnya dengan cara menikahinya secara siri, nanti jika Ibunya sudah sadar dari komanya aku berjanji akan langsung menikahinya secara sah dimata hukum juga Kak," ucap Agam menjelaskannya pada Sandra.
"Oh seperti itu, Kakak kira kamu menjadikannya hanya sebagai simpanan untuk menghangatkan rangjangmu saja Dek hehe," balas Sandra terkekeh.
"Ngawur kamu tuh Kak, aku gak sebejat itu juga kali Kak," ucap Agam.
Sebenarnya aku telah merenggut mahkota seorang gadis Kak, namun gadis tersebut bukanlah gadis baik-baik Kak jadi aku memutuskan untuk tak mengejarnya, batin Agam.
"Siapa tahi ajah Dek, kamu kan dokter, ganteng, tajir, apa lagi kalau ada yang mengetahui kalau kamu tuh direktur sekaligus pemilik rumah sakit ini siapa sih wanita yang tak mengantri sama kamu," goda Sandra.
"Beda lagi dengan Kakak yang hanya anak pungut," lanjutnya dengan suara lirih namun masih terdengar di telinga Agam.
"Jangan ngomong seperti itu Kak, selamanya kamu tuh tetep Kakak ku yang cantik dan paling baik juga paling disayangi sama aku dan Mamah." Agam meraih tangan Sandra dan mengusapnya pelan.
"Uuuuh so sweetnya baby brother ku ini." Sandra mencubit pipi Agam kanan dan kiri.
"Please Kak, aku sudah dewasa jangan perlakukan aku seperti anak kecil lagi oke," ucap Agam kesal di panggil dengan sebutan kesayangan seperti itu.
"Iya iya yang sudah dewasa hehe," balas Sandra mengacak-acak rambut Agam membuat Agam mendengus kesal.
Agam dan Sandra akhirnya turun dari dalam mobil. Mereka berjalan masuk kedalam rumah sakit bersama dengan Sandra memeluk lengan Agam, karena Shandra sudah biasa seperti itu pada adiknya itu. Tanpa mengaja Veronica melihat kemesraan antara Agam dan Sandra.
Veronica langsung berlalu keluar rumah sakit melalui pintu depan dan berangkat ke Cafe sendiri menaiki bus. Didalam bus ia memegang dadanya yang terasa sesak. Veronica berfikir bahwa Agam telah mempermainkannya.
Jika dia sudah memiliki kekasih mengapa dia memberiku harapan, kenapa aku jadi seperti ini sih, bukankah aku bertekad untuk tidak menyukainya, ayu dong Ve kamu harus sadar, gak mungkin dokter seganteng dan semapan Agam bener-bener suka sama kamu Ve, batin Veronica.
Air mata Veronica tanpa terasa jatuh dipipinya. Ia mengusap air mata tersebut seraya terkekeh pilu. Ia menertawai kebodohannya yang dengan mudah terbuai oleh prilaku romantis sang dokter.
Bus berhenti di persimpangan jalan menuju Cafe. Veronica mengusap air mata yang membasahi pipinya. Setelah ia rasa air matanya cukup kering Veronica turin dari dalam bus dan berjalan menuju Cafe yang tak jauh dari tempatnya turun.
Veronica berjalan gontai tak bersemangat. Ia merasa hatinya hancur dan rapuh. Saat ini ia hanya ingin pulang dan menangis di kamarnya tapi ia tak bisa melakukan itu.
Saat ia akan membuka pintu Cafe ponselnya berdering. Veronica meraih ponselnya dari dalam tas pemberian Agam, lagi-lagi Veronica tersenyum getir melihat tas tersebut. Ia melihat layar ponselnya dan mendapati nama Agam disana sedang memanggilnya.
"Hallo dokter," ucap Veronica menjawab panggilan telfon dari Agam dengan memanggilnya dokter kembali.
"Dokter! Kamu kenapa Ay? kamu dimana? kenapa di kamar rawat Ibu tak ada?" Agam memberikan pertanyaan beruntun pada Veronica.
"Saya di tempat kerja dok, ya sudah yah saya sedang sibuk," jawab Veronica mematikan sambungna telfonnya dan kemudian mematikan ponselnya.
Veronica masuk kedalam Cafe dengan wajah yang di buat ceria. Ia langsung mengerjakan pekerjaannya membersihkan meja dan dinding kaca seperti biasanya. Ia merasa tak bersemangat namun ia harus melakukannya.
Aku tak boleh seperti ini, hubunganku dengannya hanyalah demi Ibu, sadar Ve sadar, kamu harus bekerja, batin Veronica menggelengkan kepalanya.
Hari ini Veronica lalui dengan tak bersemangat. Ia benar-benar sedang patah hati. Hari ini terasa lama sekali berlalu bagi Veronica.
Malam tiba Veronica bersiap untuk pulang, ia berpamitan pada teman-temannya. Seperti biasa ia akan pulang lebih dulu tapi kali ini ia langsung menuju kehalte bus yang tak jauh dari Cafe. Agam yang melihat Veronica berjalan yak menghampirinya langsung melajukan mobilnya mengikuti kemana arah Veronica pergi.
Seharian ini Agam di buat frustasi karena Veronica mulai memanggilnya secara formal lagi. Belum lagi ponsel Veronica mati membuat Agam uring-uringan dan bingung mengapa Veronica memperlakukannya seperti itu tiba-tiba. Begitu pasien sudah tak ada Agam langsung menuju ke Cafe tempat Veronica bekerja tapi ternyata Veronica tak naik kemobilnya melainkan berjalan kearah halte bus.
Agam mengikuti Veronica menggunakan mobilnya. Setelah Veronica berhenti di halte bus Agam memarkirkan mobilnya tak jauh dari sana. Agam keluar dan berlari menghampiri Veronica.
"Ay kamu kenapa sih ko tiba-tiba begini?" tanya Agam memegang tangan Veronica setelah ia berada disampingnýa.
"Lepasin Dokter, Dokter ngapain di sini?" tanya Veronica seraya memaksanya melepas tangannya namun Agam tidak melepasnya.
"Aku yah mau menjemputmu pulang lah Ay, kan biasanya juga seperti itu, kamu kenapa tiba-tiba marah seperti ini sih, aku salah apa sama kamu Ay?" tanya Agam yang memang tak tahu mengapa Veronica tiba-tiba bersikap seperti ini.
"Mulai sekarang Dokter tidak perlu mengantar jemputku lagi, aku takut kekasih Dokter marah padaku, kekasih Dokter lebih pantas bersama dengan Dokter karena dia juga seorang dokter," ucap Veronica dengan nada yang sedikit emosi.
"Kekasih! siapa Ay? aku selama ini tak pernah punya kekasih, kamu orang pertama yang aku kejar," ucap Agam bingung.
"Dokter wanita cantik yang bergandengan tangan dengan Dokter tadi pagi itu bukannya kekasih Dokter, tega sekali Dokter tak ingin mengakuinya di depanku," jelas Veronica, mata Veronica sudah mulai berkaca-kaca.
"Astaga Ay, dia itu Kakak perempuan ku Ay, di dokter kandungan di rumah sakit itu." Agam menepuk jidatnya seketika itu pula.
"Kamu cemburu Ay, kamu suka sama aku yah Ay," ucap Agam gembira karena Veronica ternyata cemburu padanya.
"Siapa yang cemburu, aku hanya tak ingin di labrak sama kekasihmu saja," jawab Veronica malu karena ia salah paham, ada sedikit kebahagiaan di hatinya saat Agam mengatakan bahwa dokter wanita teesebut adalah kakaknya.
"Dia Kakak ku Ay, ayu kita ketemu dengannya biar kau mengenalnya oke, bentar aku telfon dulu," ucap Agam meraih ponselnya disaku celananya.
Veronica ingin menghentikannya namun telunjuk Agam malah menyentuh bibirnya menyuruhnya untuk diam. Sontak membuat jantung Veronica berdetak kencang. Veronica melihat Agam sedang sibuk menelfon seseorang dan memintanya bertemu di sebuah restoran untuk makan malam.
*****
Selamat membaca yah kakak semuat jangan lupa likenya untuk mendukung othor yah🙏😊
Salam hangay dariku untuk kalian semua🙏😊🤗🥰