4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Hati yang Goyah
Pagi setelah malam penuh hujan itu, Naomi menemukan sarapan sudah menunggu di depan pintu apartemennya.
Bukan buket besar. Bukan kotak mewah yang bisa membuat tetangga bergosip. Hanya paper bag cokelat dari toko bubur kecil di dekat Maison de Belle, termos teh jahe, dan kartu putih tanpa tanda tangan.
Perutmu tidak suka kopi saat kosong.
Naomi berdiri lama di depan pintu, rambut masih setengah basah setelah mandi. Ia ingin membiarkan paper bag itu di sana sampai dingin. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak akan luluh hanya karena Darren mengingat hal-hal kecil.
Lalu perutnya berbunyi.
Dari ponsel, pesan Tiffany masuk.
Tiff: Kalau ada makanan dari pria bermata rubah itu, makan dulu, marahnya nanti. Jangan bodoh karena gengsi.
Naomi menatap layar, lalu menghela napas.
"Pengkhianat," gumamnya.
Namun ia membawa paper bag itu masuk.
Sejak hari itu, Darren hadir seperti kebiasaan baru yang tidak pernah Naomi setujui. Pagi ada sarapan. Siang ada kopi hangat tanpa gula, kadang diganti jus alpukat kalau cuaca terlalu panas. Sore, sebuah mobil hitam selalu berhenti di seberang Maison de Belle ketika pegawai terakhir pulang.
Darren tidak memaksa masuk. Tidak menyentuhnya tanpa izin. Tidak lagi menarik pergelangan tangannya. Ia hanya muncul dalam radius yang cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk membuat Naomi tidak punya alasan meledak.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
"Lo sadar, kan, ini strategi?" Tiffany berkata tiga hari kemudian sambil duduk di meja kerja Naomi, memakan kue sus dari kotak yang jelas dikirim Darren.
Naomi menatapnya. "Kamu makan strategi itu dengan sangat bahagia."
"Gue membenci pelakunya, bukan kuenya." Tiffany menjilat krim di jarinya. "Tapi serius, Nao. Hati-hati. Cowok kaya kalau bersalah suka menebus pakai fasilitas."
"Aku tahu."
"Lo tahu, tapi lo mulai senyum kalau lihat kopi datang."
Naomi segera menunduk ke sketsanya. "Aku tidak senyum."
"Lo senyum kecil. Senyum orang yang kesal karena disentuh tepat di tempat lemah."
Pensil di tangan Naomi berhenti.
Tiffany tidak lagi bercanda. Ia turun dari meja, duduk di samping Naomi, lalu menyenggol bahunya pelan. "Gue bukan mau larang lo bahagia. Gue cuma takut lo hancur lagi."
Naomi menatap garis gaun di kertas. "Aku juga takut."
Sore itu, rasa takutnya diuji langsung.
Naomi keluar dari boutique pukul delapan malam. Pesanan gaun untuk istri direksi selesai fitting lebih lama dari jadwal, dan hujan kembali turun. Ia sudah memesan Grab, tetapi aplikasi menunjukkan driver masih sepuluh menit lagi.
Sebuah payung hitam terbuka di sampingnya.
Naomi tidak perlu menoleh. "Kamu benar-benar tidak punya pekerjaan?"
Darren berdiri dengan kemeja biru gelap, lengan digulung, senyum miring yang menyebalkan. "Punya. Mengejar kamu pekerjaan paling sulit."
"Aku bukan proyek Wijaya Group."
"Kalau kamu proyek, aku sudah kalah tender empat tahun lalu."
Naomi hampir tertawa. Ia menggigit bagian dalam pipinya.
Darren melihatnya. Mata rubah itu langsung berbinar sedikit. "Kamu mau tertawa."
"Tidak."
"Mau."
"Darren."
"Baik. Aku diam."
Ia benar-benar diam, berjalan di samping Naomi sampai mobil yang ia pesan datang. Darren membuka pintu belakang untuknya, lalu mundur satu langkah.
"Aku tidak akan naik," katanya sebelum Naomi menuduh. "Aku cuma ingin lihat kamu masuk mobil dengan aman."
Naomi menatapnya. Hujan menitik di ujung rambut Darren. Beberapa hari lalu, ia mungkin akan langsung masuk tanpa bicara. Malam ini, entah kenapa, kakinya tertahan.
"Kamu tidak capek?" tanyanya.
Darren tersenyum, kali ini tanpa nakal. "Capek bukan alasan untuk berhenti mencintai orang."
Dada Naomi bergetar pelan.
Ia cepat masuk ke mobil dan menutup pintu sebelum pertahanannya runtuh. Namun sepanjang jalan pulang, kalimat itu tertinggal di kepalanya seperti aroma hujan pada kain.
Keesokan harinya, Darren tidak muncul.
Pagi tidak ada sarapan. Siang tidak ada kopi. Mobil hitam di seberang boutique juga tidak ada.
Naomi seharusnya lega.
Tetapi saat jam menunjukkan pukul empat sore, ia menyadari dirinya sudah tiga kali melihat ke arah pintu.
Lebih menyebalkan lagi, setiap bunyi lonceng membuat bahunya menegang. Saat yang masuk hanya kurir kain, ia pura-pura mengecek faktur terlalu lama. Saat sebuah mobil hitam lewat di depan kaca, ia menahan napas sampai kendaraan itu terus melaju.
Tiffany memperhatikan semuanya dari balik meja kasir.
"Nao," katanya akhirnya, "kalau lo mau tahu dia ke mana, tanya aja."
"Aku tidak mau tahu."
"Mata lo sudah jadi satpam pintu dari pagi."
Naomi menutup buku sketsa sedikit terlalu keras. "Aku hanya tidak suka kebiasaan yang tiba-tiba berubah."
"Nah. Itu namanya mulai terbiasa."
"Parah," komentar Tiffany dari kasir.
"Apa?"
"Lo nunggu dia."
"Aku melihat apakah klien datang."
"Klien lo nggak pakai mobil hitam dan mata rubah."
Naomi hendak membalas ketika lonceng pintu boutique berbunyi.
Yang masuk bukan Darren.
Pria itu berusia sekitar awal empat puluhan, berwajah tenang, memakai kemeja putih dan jas abu-abu tanpa dasi. Rambutnya rapi, matanya lelah. Begitu melihat Naomi, langkahnya berhenti sejenak.
Naomi merasakan darahnya turun dari wajah.
Kevin Halim.
Empat tahun lalu, pria inilah yang duduk di hadapannya dan memintanya menghilang dari hidup Darren. Pria inilah yang menjelaskan dengan suara rendah tentang posisi Darren, tentang keluarga Wijaya, tentang betapa Naomi tidak akan mampu menahan dunia yang menunggu di belakang Darren.
Pria inilah yang membuat Naomi percaya bahwa cintanya adalah beban.
Tiffany langsung berdiri. "Nao?"
Naomi tidak bisa menjawab. Jari-jarinya mencengkeram ujung meja kerja. Suara hujan di luar tiba-tiba berubah seperti suara sungai. Napasnya memendek. Di belakang matanya, lampu ambulans dari masa lalu menyala lagi.
Kevin melangkah lebih dekat, lalu berhenti sebelum memasuki area kerja.
"Naomi," ucapnya pelan.
Tiffany menatap pria itu dari atas sampai bawah. "Siapa Anda?"
Kevin menunduk sedikit. "Kevin Halim."
Wajah Tiffany berubah. Ia tahu nama itu dari cerita Naomi, meski tidak pernah bertemu langsung.
"Oh," katanya dingin. "Jadi Anda orangnya."
Kevin menerima tatapan itu tanpa membela diri. Matanya tetap pada Naomi, penuh penyesalan yang tidak segera Naomi percaya.
"Aku tidak datang untuk memaksamu apa pun," katanya.
Naomi tertawa kecil, tetapi suaranya pecah. "Dulu juga Anda bilang begitu."
Kevin memejamkan mata sebentar.
Tiffany bergerak maju, tetapi Naomi mengangkat tangan. Bukan karena ia ingin melindungi Kevin. Ia hanya tidak mau roboh di depan pria itu.
"Kenapa Anda ke sini?" tanya Naomi.
Kevin menatapnya lama. "Karena aku berutang kebenaran padamu."
Seluruh ruangan terasa menyempit.
Naomi mendengar langkah cepat di luar pintu. Detik berikutnya, Darren muncul, napasnya sedikit terengah seperti baru turun dari mobil dengan terburu-buru. Begitu melihat Kevin, wajahnya berubah.
"Om Kevin," katanya rendah. "Apa yang Om lakukan di sini?"
Kevin tidak menjawab Darren. Ia justru menundukkan kepala di depan Naomi, cukup dalam untuk membuat Tiffany terdiam.
"Maafkan aku," ucap Kevin. "Ada hal yang perlu kau ketahui tentang empat tahun lalu."