Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008
Rumah Mama yang Dingin
Keesokan paginya, kotak cincin zamrud dari Engkong Susanto masih berada di meja kerja Louisa.
Beludru hijau tua itu tampak tidak cocok dengan apartemen kecilnya yang penuh kertas sketsa, gelas bekas air putih, dan laptop kerja yang sejak semalam ia biarkan tertutup. Setiap kali melihatnya, Louisa teringat tangan Engkong yang hangat dan kalimat rumah ini menerima kamu.
Penerimaan ternyata bisa terasa berat.
Terutama ketika hari ini ia harus pergi ke rumah yang selama bertahun-tahun mengajarinya cara hidup tanpa terlalu berharap.
Nathanael menjemputnya pukul sepuluh.
"Aku ikut sampai dalam," katanya saat mobil berhenti di depan rumah keluarga Lesmana di Kelapa Gading.
Louisa menatap pagar abu-abu yang sudah ia kenal sejak usia empat tahun. Rumah itu tidak besar seperti mansion Susanto, tetapi rapi, dingin, dan selalu terasa sedikit terlalu sunyi. Tanaman palem di halaman dipotong rata. Tirai ruang tamu tertutup setengah. Tidak ada suara musik, tidak ada aroma masakan yang keluar dari dapur.
"Jangan," jawab Louisa pelan.
Nathanael tidak langsung membantah.
"Darren bilang jangan sendirian."
"Darren juga bilang dia masih mau hidup waktu diminta ikut menemui Mama." Louisa mencoba tersenyum, tapi gagal. "Aku harus bilang sendiri dulu."
"Kalau kamu butuh aku?"
"Aku telepon."
Nathanael mengangguk. "Aku tunggu di sekitar sini."
"Kamu nggak perlu..."
"Aku tahu." Ia menatapnya. "Aku tetap tunggu."
Louisa tidak punya tenaga untuk menolak kebaikan yang tidak meminta balasan. Ia turun dari mobil, menggenggam tas yang di dalamnya ada salinan akta nikah sementara.
Pintu rumah dibuka oleh asisten rumah tangga lama yang hanya tersenyum tipis.
"Non Louisa, Ibu ada di ruang tengah."
"Terima kasih, Bi."
Ruang tengah rumah Lesmana masih sama. Sofa abu-abu, meja kaca, lukisan abstrak yang tidak pernah diganti sejak Louisa kuliah, dan vas kosong di sudut ruangan. Tidak ada foto keluarga di tempat yang mudah terlihat. Foto-foto lama selalu disimpan di laci, seperti benda yang boleh ada tetapi tidak perlu dipamerkan.
Renata Tanuwijaya-Lesmana duduk di dekat jendela, membaca tablet. Rambutnya tersanggul rapi. Blus putihnya licin tanpa lipatan. Di sampingnya ada cangkir teh yang uapnya sudah hampir hilang.
Ia mengangkat mata ketika Louisa masuk.
"Duduk."
Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan kenapa datang. Tidak ada sapaan hangat.
Louisa sudah terbiasa.
Namun terbiasa tidak berarti tidak sakit.
Ia duduk di sofa seberang. Tasnya ia letakkan di pangkuan, kedua tangan menindih resleting agar tidak terlihat gemetar.
"Mama sehat?"
"Sehat." Renata meletakkan tablet di meja. "Darren bilang kamu datang kemarin?"
Louisa terdiam sesaat. "Darren cerita?"
"Dia tidak cerita. Dia terlalu berisik saat berusaha tidak cerita."
Kalimat itu hampir membuat Louisa tersenyum.
Renata menatapnya lebih lama. "Ada apa?"
Langsung. Tanpa jalan memutar.
Louisa membuka tasnya, mengeluarkan map tipis, lalu meletakkannya di meja. Salinan akta nikah sementara tampak terlalu putih di atas kaca.
"Aku menikah."
Waktu seperti berhenti selama satu tarikan napas.
Renata menatap kertas itu.
Tidak ada perubahan di wajahnya. Tidak ada kaget yang terlihat, tidak ada marah, tidak ada suara kursi bergeser. Ia hanya mengambil kertas tersebut, membaca nama Louisa, lalu nama Nathanael Susanto.
"Oh."
Satu kata.
Satu suku kata yang jatuh lebih dingin daripada air dari kulkas.
Louisa sudah menyiapkan banyak kemungkinan. Renata marah. Renata bertanya kenapa tidak izin. Renata menyuruhnya keluar. Renata menelepon Vincent atau Darren. Bahkan Renata diam total.
Tapi hanya oh.
Seolah Louisa baru memberi tahu bahwa ia mengganti nomor rekening.
"Mama tidak mau tanya apa-apa?" tanya Louisa akhirnya.
Renata meletakkan kertas itu kembali ke meja. "Sudah terjadi. Bertanya sekarang mengubah apa?"
Louisa menelan sesuatu yang tajam.
"Namanya Nathanael Susanto."
"Aku bisa membaca."
"Dia dari keluarga Susanto. PT Nusatek Mandiri."
"Aku tahu."
Louisa menatapnya.
Renata mengambil cangkir tehnya, lalu meletakkannya lagi tanpa minum. "Perjanjian pranikah?"
"Ada."
"Pisah harta?"
"Iya."
"Tidak ada utang pribadi yang ikut terbawa?"
"Tidak."
"Kamu membaca semua klausulnya?"
"Aku baca. Steven juga akan baca."
Renata mengangguk kecil. "Bagus."
Hanya itu.
Bagus.
Louisa menatap meja kaca. Bayangan wajahnya tampak buram di sana. Kemarin Engkong memberinya cincin zamrud karena rumah itu menerima dirinya. Hari ini Mama bertanya apakah utang pribadi ikut terbawa.
Mungkin ini juga bentuk perhatian.
Mungkin.
Tapi hati manusia kadang terlalu lelah menerjemahkan dingin menjadi sayang.
"Aku tahu ini mendadak," kata Louisa. "Aku minta maaf karena tidak bicara dulu."
"Kamu sudah dewasa."
"Aku tetap anak Mama."
Kalimat itu keluar sebelum Louisa sempat menahannya.
Renata diam.
Untuk pertama kalinya, jari-jarinya yang rapi berhenti bergerak di atas pangkuan.
Louisa segera menyesal. Ia menunduk. "Maksudku, secara hukum..."
"Aku tahu maksudmu."
Suara Renata tetap datar.
Lebih menyakitkan karena tetap datar.
Di luar jendela, tukang roti lewat dengan suara klakson kecil. Suara itu pernah membuat Darren kecil berlari keluar sambil menarik tangan Louisa. Ia akan membeli roti cokelat, lalu menyembunyikan satu untuk Louisa karena Renata tidak suka mereka makan manis sebelum makan siang.
Rumah ini punya kenangan.
Hanya saja semuanya seperti disimpan di ruangan tanpa cahaya.
"Dia memperlakukan kamu dengan baik?" tanya Renata.
Louisa mengangkat wajah.
Pertanyaan itu pendek, nyaris kering. Namun datang dari Renata, kalimat itu seperti retakan tipis di dinding tebal.
"Iya," jawab Louisa pelan.
"Keluarganya?"
"Engkongnya baik."
"Terlalu baik juga harus hati-hati."
Louisa hampir tertawa kecil. "Mama tetap Mama."
Renata menatapnya. "Jangan mudah berutang budi pada keluarga orang."
"Aku mengerti."
"Jangan berhenti bekerja kalau kamu belum punya rencana jelas."
"Aku juga mengerti."
"Kalau suatu hari dia membuatmu menandatangani dokumen lain, baca dulu. Jangan percaya karena dia suamimu."
Louisa menggenggam tasnya.
Ada banyak cara untuk berkata aku khawatir.
Renata memilih cara yang semuanya terdengar seperti peringatan.
"Iya, Mama."
Renata berdiri. "Aku ada telepon jam sebelas."
Percakapan selesai.
Selalu begitu. Renata menutup pintu sebelum siapa pun sempat mengetuk lebih keras.
Louisa ikut berdiri. "Aku pulang dulu."
"Suruh Darren jangan berkelahi lagi."
"Mama bisa bilang langsung."
"Dia lebih mendengar kamu."
Louisa memandang Renata, berharap ada tambahan kalimat. Hati-hati di jalan. Kabari Mama. Bawa suamimu lain kali. Apa pun.
Tidak ada.
Renata mengambil tabletnya kembali.
Louisa membungkuk sedikit. "Aku pergi, Ma."
"Hmm."
Di teras, udara Kelapa Gading terasa panas dan datar. Louisa berjalan melewati halaman kecil dengan langkah yang tidak terlalu cepat. Ia tidak menangis. Ia sudah terlalu sering keluar dari rumah ini dengan dada sakit tanpa menangis.
Mobil Nathanael berhenti tidak jauh dari pagar, di bawah pohon ketapang. Begitu melihatnya, sopir membuka pintu. Nathanael turun dari sisi lain.
Ia tidak bertanya bagaimana.
Ia hanya menatap wajah Louisa, lalu membuka pintu untuknya.
Kali ini Louisa masuk tanpa berkata bisa sendiri.
***
Di dalam rumah, Renata tidak langsung kembali ke tabletnya.
Ia berdiri di dekat jendela, melihat mobil hitam itu pergi sampai hilang di tikungan. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Beberapa menit kemudian, ia berjalan ke lemari rendah di sudut ruang tengah. Dari laci paling bawah, ia mengeluarkan sebuah map plastik bening yang sudah menguning di tepinya.
Di dalamnya ada gambar anak kecil dengan krayon.
Empat orang berdiri di depan rumah. Papa, Mama, Darren, Louisa. Semua tersenyum lebar. Matahari digambar terlalu besar di sudut kertas. Di bawahnya ada tulisan goyah: keluargaku.
Renata duduk di dekat jendela untuk waktu yang lama.
Jarinya menyentuh wajah kecil Louisa di gambar itu, pelan sekali, seolah kertas pun bisa terluka kalau ia menekan terlalu kuat.