Azkia dan Raffasya bagaikan tikus dan kucing yang tidak pernah bisa akur jika bersama. Kebencian Raffasya terhadap Azkia sudah tertanam saat masih duduk di sekolah dasar karena Azkia berhasil mengalahkan Raffasya yang saat itu sedang melakukan body shaming kepada Gibran, kakak kelas Azkia lainnya.
Dan setelah mereka dewasa, permusuhan itu tetap berlangsung. Azkia yang akhirnya menjalin asmara dengan Gibran terpaksa harus hidup dengan Raffasya karena suatu peristiwa buruk.
Akankah Azkia bisa bertahan dengan Raffasya atau memilih kembali bersama Gibran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Yoga
Azkia bertopang dagu menatap sosok setengah baya yang sedang menerangkan materi mata kuliah yang diikuti olehnya pagi ini. Walau usianya hampir mendekati setengah abad namun tidak menyurutkan ketampanan pemilik tubuh tegap yang masih tetap nampak liat itu.
Senyuman mengembang di bibir Azkia seakan mengatakan betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan pria itu sebagai suaminya. Dan pria yang dia kagumi tidak lain adalah Prayoga Atmajaya, dosen senior di kampus Azkia kuliah sekarang ini yang juga berstatus sebagai Papa kandung dia sendiri.
Azkia pun berharap akan mendapatkan pendamping pria seperti Papanya itu. Dan sepertinya hal itu akan terwujud karena sekarang ini dia berpacaran dengan Gibran, sosok pria yang mempunyai sifat yang hampir mendekati karakter Papanya.
" Sayang ...." Azkia merengek manja kepada Gibran.
" Ada apa istriku, Sayang?" Gibran menangkup wajah istrinya seraya membenamkan kecupan di kening berkulit mulus Azkia.
" Pijetin aku ...." Masih dengan nada manja Azkia berucap.
" Pijat?" Gibran mengeryitkan keningnya kemudian duduk di samping Azkia di tepi tempat tidurnya.
" Iya, Sayang. Aku itu capek." Kini Azkia mendudukkan tubuhnya di pangkuan suaminya lalu melingkarkan lengannya di leher kekar Gibran.
" Capek? Memangnya kamu habis kerja apa?" Tangan Gibran menyampirkan helaian rambut ke belakang telinga Azkia.
" Aku 'kan capek kerja melayani kamu, Sayang." Azkia kini membelai rahang Gibran. " Kalau kamu nggak pijat aku nanti aku nggak bisa layani kamu di ranjang, lho." Kini bibir Azkia menempel di telinga dan menggigit cuping telinga Gibran.
Gibran yang mengerti kode yang diberikan Azkia langsung mengangkat tubuh Azkia dan meletakannya di atas tempat tidur dengan tangan Azkia yang masih melingkar di tengkuknya. Gibran pun langsung mencium bibir Azkia yang dibalas langsung oleh Azkia. Setelah puas dengan bibir ranum istrinya itu, kini Gibran turun menciumi ceruk leher jenjang Azkia hingga Azkia memejamkan mata menahan serbuan ga irah yang mulai terpercik karena tindakan Gibran kepadanya.
" Apa kamu mengerti, Azkia?"
Azkia yang masih terbuai dengan khayalan yang mengga irahkan membuat dia tidak mendengar saat Yoga berkata padanya.
Mengetahui putrinya itu memejamkan mata saat dia menerangkan materi, bahkan ucapannya tadi sama sekali tidak direspon, Yoga akhirnya memanggil untuk yang kedua kalinya dengan nada yang lebih kencang.
" Almayra Azkia Atmaja, apa kamu mengerti materi yang diterangkan tadi?"
" Kia, dipanggil bokap lu, tuh!" suara Nike dibarengi tepukan di pundak Azkia oleh temannya itu membuat Azkia tersentak dan tersadar dari khayalannya.
" Ah, eh kenapa, Yank?"
Sontak apa yang dikatakan Azkia membuat seisi kelas tertawa kencang. Sementara Yoga nampak mendengus kesal mendapati anaknya melamun dan mengatakan kalimat yang membuat seisi kelas menertawakan putrinya itu.
" Almayra ... Azkia ... Atmajaya, silahkan keluar dari kelas saya!"
Bola mata Azkia membulat mendengar kalimat pengusiran yang diucapkan oleh Papanya itu.
" Tapi, Pa ...."
" Saya dosen kamu di sini, Almayra! Dan saya paling tidak suka jika ada mahasiswa saya yang tertidur atau melamun di kelas saya saat saya sedang menerangkan materi, siapapun orangnya! Kalian semua paham?" tegas Yoga. Yoga dikenal sebagai dosen yang tegas walaupun dia sangat humble terhadap mahasiswanya.
" Paham, Pak!" seru semua mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah Yoga pagi itu.
" Silahkan, Almayra. Jangan menghambat waktu saya yang akan melanjutkan menerangkan materi!" tegas Yoga menatap tajam ke arah Azkia.
Dan akhirnya dengan mulut mengerucut dan wajah memberengut Azkia langsung membereskan buku-bukunya lalu berjalan keluar kelas Yoga.
" Pelajari halaman sembilan puluh sembilan sampai seratus sebelas. Di pertemuan berikutnya kamu yang akan mempresentasikan hasil dari tugasmu itu di depan kelas." Sebelum Azkia keluar ruangan, Yoga sempat memberikan tugas kepada putrinya itu.
Azkia berjalan ke arah kantin dengan terus merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya dia melamun seperti tadi sampai tidak fokus mendengarkan materi mata kuliah yang diberikan oleh Papanya.
" Iihh malu-maluin banget sih, Ya Allah." Azkia menepuk-nepuk keningnya berkali-kali karena perbuatan yang dianggapnya memalukan seperti tadi.
" Gara-gara Kak Gibran, sih!" umpat Azkia malah menyalahkan Gibran yang tidak tahu apa-apa.
Azkia lalu mengambil poselnya dan menghubungi Gibran, namun tiga kali panggilannya tak juga diangkat oleh pria itu.
" Iiihh kok nggak diangkat, sih?! Sudah bikin kesalahan malah nggak mau bertanggung jawab! Awas saja kalau nanti telepon balik, nggak akan aku angkat!!" ancam Azkia mengumpat di depan ponselnya.
" Kenapa marah-marah, Neng?" Ibu kantin yang mendapati Azkia menggerutu pada benda pipih yang digenggamnya langsung bertanya.
" Biasa, Bu Dzul. Orang kalau salah ditelepon malah menghindar." Azkia masih saja menganggap Gibran lah yang bersalah dan bertanggung jawab atas dikeluarkannya dia dari kelas.
" Oh gitu ya, Nenk? Memang ngeselin kalau ketemu orang seperti itu, Nenk. Ibarat kata lembar batu sembunyi tangan." Ibu Dzul justru memprovokasi.
" Iya, Bu. Mending lempar duit langsung pergi 'kan, Bu?" Azkia terkekeh.
" Wah kalau itu Ibu juga mau, Neng. Tapi ngomong-ngomong siapa yang mau lempar duit, Neng?" Ibu Dzul ikutan terkekeh.
" Ya berdoa saja, Bu. Siapa tahu ada crazy rich yang khilaf tiba-tiba sawer duit." Azkia tertawa. " Bu, aku pesan kopi dong, biar fokus mengikuti mata kuliah." Azkia merasa dia butuh sesuatu yang membuat matanya terjaga.
" Memang tadi nggak fokus ya, Neng? Tumben ini sendirian saja ke kantinnya?" tanya Bu Dzul heran.
" Aku diusir dari kelas gara-gara melamun nggak konsen mengikuti mata kuliah, Bu." Azkia menerangkan alasannya kenapa dia sudah berada di kantin saat itu.
" Neng Kia diusir sama pak dosen? Memang pak dosennya nggak tahu Neng Kia ini anaknya dosen senior di sini?" Bu Dzul kaget mengetahui alasan yang dilontarkan Azkia.
" Tahu, Bu. Bahkan tahu banget kalau aku itu anak dosen senior yang paling keren di kampus ini." Azkia menyeringai membuat Ibu Dzul mengangkat dua ibu jarinya menyetujui apa yang dikatakan Azkia tadi.
" Tapi kok berani sih, Neng? Pak dosen itu mengusir Neng Kia dari kelas?" bu Dzul merasa heran karena ada dosen yang berani mengusir Azkia. " Apa dosen baru itu ya, Neng?" tebak Bu Dzul.
" Bukan, Bu."
" Lalu siapa, Neng? Eh, Ibu jadi penasaran, deh! Neng Kia mengadu saja ke Papa Neng Kia kalau Neng Kia diusir dari kelas."
" Haha, yang ada aku makin dihukum kalau gitu, Bu."
" Kok bisa?"
" Ya karena yang hukum aku keluar dari kelas itu Papa aku sendiri, kok!"
" Hahh?" Bu Dzul nampak melongo dengan mulut terbuka lebar dan mata membulat sempurna." Neng Kia dihukum sama Papa Neng Kia sendiri?" Bu Dzul masih tidak percaya akan pendengarannya.
" Iya, Bu."
" Wah, Pak Yoga memang keren." Bu Dzul kembali mengangkat kedua jempolnya.
" Kok Ibu kelihatannya senang ya, aku dihukum Papaku?" Azkia yang melihat Bu Dzul nampak senang langsung memprotes.
" Bukannya senang, Neng!" Bu Dzul terkikik seraya menutup mulutnya. " Ibu itu hanya kagum sama Pak Yoga karena beliau itu tegas tidak pandang bulu, mau itu anaknya atau bukan kalau memang salah ya harus ditindak tegas."
" Bu Dzul nggak usah kagum-kagum ke Papa aku, deh! Nanti malah jatuh cinta bisa bahaya." Azkia tergelak.
" Haha, ya nggak dong, Neng. Bu Dzul sudah tua gini, lho." Bu Dzul pun ikut tertawa. " Ya sudah ibu mau buatkan pesanan Neng Kia dulu. Cuma kopi saja, Neng?"
" Sama pisang geprek coklat keju deh, Bu. Kopinya aku yang capuchino ya, Bu." Azkia menyebutkan pesanannya.
" Ya sudah, Ibu buatkan pesanannya ya, Nenk." Bu Dzul pun akhirnya meninggalkan Azkia sendiri untuk membuatkan makanan dan minuman yang Azkia pesan.
*
*
*
Bersambung ...
Oh ya, besok itu tepat setahun aku jadi penulis di NT, dan akan dimulai give away pulsa 500K untuk 10 readers yg dukung di 2 karyaku MARRY YOU, MY ENEMY sama RAMADHAN DI HATI RAYYA. mau ikutan? jangan lupa kasih jempol dan komentarnya selalu ya, makasih🙏🙏🙏
Happy Reading❤️