Di balik suami yang posesif, menyimpan sebuah rahasia besar!
Alan akan selalu melempar benda-benda yang terdekat dengannya ketika ia kecewa dengan Nesa, ia memang tidak pernah memukul istrinya—pria itu akan menumpahkan kekesalannya pada barang-barang di rumahnya.
Nesa sebenarnya tidak tahan lagi, tapi hanya demi Ribi—putri semata wayangnya dirinya bersabar menghadapi perangai buruk suaminya yang tempra mental. Tapi bencana itu datang, saat Nesa mengetahui jika sang suami tidur dengan wanita lain hanya satu kalimat yang terucap.
"Mari kita cerai!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12
Selamat membaca, semoga tidak membosankan. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.
Maaf karena latar Semarang-an. Jadi aku pakai bahasa Jawa sedikit-sedikit.
kalian bisa follow Instagram-ku di @Novi_wu01
tencu,
Novi Wu
_______
Minggu, biasanya hari yang diperuntukan untuk keluarga, tapi kini keluarga Nesa tidak utuh. Dia akan bercerai dengan suaminya—dan entah apakah suaminya akan menerimanya atau tidak.
Beberapa hari setelah berada di Semarang, jam lima pagi Ribi sudah merengek minta dibawa menuju kawasan Simpang Lima. Ya, sama halnya di Jakarta, kota dengan julukan Venice Van Java tersebut juga memiliki CFD begitulah singkatan dari Car Free Day. Di sana adalah tempat warga Semarang berkumpul di hari minggu pagi, untuk sekedar senam, jalan, lari pagi, ataupun bersepeda. Bukan hanya olah raga, banyak juga penjual yang menjajakan penganan khas kota Semarang atau makanan-makanan kekinian.
Sejak semalam tantenya sudah membujuknya akan diajak ke Simpang Lima. Setelah salat Subuh, satu keluarga langsung bertolak menuju pusat kota tersebut, demi Ribi pokoknya. Biar seneng, tutur Mbah Kakungnya.
Setelah terlepas dari cengkeraman Alan, Nesa tampak mulai bisa tersenyum kembali, melihat sang putri bahagia bisa bermain bersama kedua tantenya dan Mbah Kakungnya.
"Kamu kapan mau ajukan surat gugatan, Nduk?" tanya sang ibu ketika menyaksikan ke empatnya sedang berlari.
"Besok mungkin, Buk," jawabnya bingung, tangannya masih sibuk memutar-mutar sedotan di dalam gelas cup berisi teh manis yang sudah mulai habis.
Tiba-tiba seorang lelaki berseragam polisi datang menghampiri keduanya, Nesa nampak sedikit terkejut, kenapa seorang polisi ada di sini, lagi pula dia juga tidak merasa berbuat kejahatan di tempat ini, atau tadi Nesa tidak sengaja buang sampah sembarangan?
"Ada apa Pak Polisi?" Sang Ibu membuka percakapan dengan pria berseragam tersebut yang terus memandang anak prempuanya.
"Nesa ... kamu Nesa, 'kan?" ucapnya Ragu.
"iya." Nesa menjawab, tapi ia bingung. Dari mana polisi ini tahu namanya, kemudian Nesa melihat nama yang terpasang pada seragam kepolisian pria itu—bertuliskan Adnan Rahardian, nama yang cukup familiar untuknya. Tapi di mana ia pernah membaca nama itu.
"Kamu lupa sama aku?"
Nesa tampak menatap tajam ke arah lelaki di hadapannya. Ia benar-benar lupa, siapa pria tampan yang berdiri dengan gagah di depannya ini.
"SMP Abdi Putra Putri." Ia mulai membantu ingatan Nesa yang lemah.
"Iya ... aku Alumni SMP sana, lalu apa hubungannya dengan bapak polisi?" tanya Nesa terheran-heran, ia terus memindai lelaki gagah dengan wajah rupawan di hadapannya ini. Ia mencoba mengais memorinya, tapi entah mengapa, dia gagal.
"Sopo jal? (Siapa coba?)," godanya sembari tersenyum.
Tiba-tiba Ribi datang, berlari memeluk sang ibu, membenamkan wajahnya di perut ibunya.
"Ibuk, Ribi haus," rengeknya.
Mata pria itu menyambar ke arah Ribi, menatap lekat namun sorot matanya seolah terpancar kekecewaan.
"Oh ... bocah ayu ini anaknya Mama Nesa, ya?" Pria itu mencoba ramah pada Ribi, kemudian menengok ke arah ke kenan dan kiri. "Mana suamimu, Nes?" tanyanya.
Nesa yang mendapatkan pertanyaan aneh dari lelaki yang tidak dikenalnya itu tampak mengerutkan alis.
"Maaf, Pak. Anda siapa? Kenapa bisa kenal dengan saya?" tanya Nesa, mulai khawatir.
"Aku Adnan, Nes. Temen SMP-mu. Oh, ya. Aku pas naik kelas dua, pindah ke Jakarta," jelasnya.
"Adnan?" Nesa mencoba mengingat kembali siapa lelaki itu.
"Iya," jawabnya.
"Mosok kamu lupa sama temenmu, nduk?" Ibunya mulai menimpali percakapan keduanya karena sedari tadi mendengar keduanya.
"Adnan matannya Icha?"
"Nah ... iya, akhirnya gula jawa ingat."
"Eh, aku ingat ada temen SMP-ku anaknya badung dan suka godain aku gula jawa, itu kamu?"
Adnan mengangguk mengiyakan ucapan Nesa. "Gimana kabarmu?" tanyanya.
"Alhamdulillah, baik." Nesa sambil menyodorkan sedotan berisi teh pada anaknya, lalu setelah menuntaskan hausnya, Ribi kembali ke Mbah kakungnya untuk ikut senam menurut dengan sang instruktur yang berlenggak di depan panggung.
"Anakmu sudah besar," ucapnya lagi, menatap Ribi yang berlari riang menuju ke arah si Mbahnya.
"Nduk, ibu tak ikut senam sek, ya?" Sang Ibu juga mengikuti Ribi meninggalkan keduanya.
"Iya, buk."
"Monggo buk," sahut Adnan sopan.
"Kabarmu gimana, anakmu berapa?" Nesa membuka percakapan.
"Aku belum nikah, setelah aku lulus. Aku balik ke Semarang, mencari seseorang dan nggak ketemu-ketemu, eh, tahunya sekarang sudah menikah," jawabnya sedih.
"Wah, sabar ya, Nan. Jodoh pasti bertemu," ucap Nesa, menahan tawa.
"Ngece, ya? (Ngejek, ya?)," tanyanya.
"Nggak kok, kan emang judul lagunya Afgan, Jodoh Pasti Bertemu," lanjut Nesa.
"Jadi aku halal dong, rebut istri orang, kali aja jodoh."
"Kalau itu sih haram."
"Kok ... haram? Kamu sendiri yang bilang tadi."
"Yah ... tapi jangan rebut milik orang juga, kali."
Adnan tertawa lepas, menatap teman sebayanya itu.
"Kamu kok bisa beda? Dari gula jawa jadi gula pasir," goda Adnan. "Suamimu mana, nggak ikut?" tanyanya lagi, menindai sekeliling Nesa, berharap menemukan lelaki yang memenangkan hati temannya ini.
Bersambung~
Pak Adnan uh~ Haluku lancar jaya 🤣
suka bgt
mudah2 Han author nya GX lama2 up ny