DALAM TAHAP REVISI
"kenapa kamu ngikutin saya terus? Kamu gak punya malu hah!! " bentak Devan .
"Aku cuma lindungi bapak dari buaya-buaya betina" ujar Dinda sambil mengedipkan matanya genit pada Devan.
"Kamu itu cuma sekretaris saya, jadi tidak usah ikut campur dengan urusan pribadi saya" ketus Devan dan pergi meninggalkan Dinda yang menatap sendu pada pria tersebut.
Dinda Rosalin gadis berumur 23 tahun , berusaha untuk mengejar cinta bosnya yang merupakan CEO di perusahaan Alvian's grub. Devan Ardiansyah pria dingin , cuek dan galak itu tidak memperdulikan Dinda yang berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Devan tidak bisa membuka hatinya, karna mencintai seorang wanita yang bernama Asyilla istri dari sepupunya membuat dia susah untuk menerima wanita lain dalam hatinya.
Hingga suatu hari Devan terpaksa menikah dengan Dinda , karna suatu peristiwa.Dan peristiwa itu membuat rasa cinta dihati Dinda berubah menjadi rasa benci yang mendalam pada Devan.
Peristiwa apa yang membuat Dinda membenci Devan?. Dan juga membuat mereka terikat dengan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau istriku!
Sudah tiga hari Dinda di rawat dirumah sakit, keadaan wanita ini mulai membaik dan dokter memperbolehkan Dinda pulang. Selama tiga hari Devan melakukan pendekatan pada Dinda, wanita itu mulai menerima kehadirannya namun terkadang selalu ketus padanya juga.
Dinda memeluk ibunya, dia tidak mau terpisah dengan wanita yang telah melahirkannya.Sedangkan Devan membereskan barang-barang dia dan Dinda.
"Ibu, aku gak mau ikut dia, aku mau sama ibu" rengek Dinda memeluk Nia erat.
"Sayang dia sekarang suami kamu, dan kamu harus ikut dia " ujar Nia, mengusap pipi Dinda lembut.
"Tapi aku... " ucapan Dinda terpotong.
"Sudah, sekarang kamu siap-siap, ibu janji nanti bakal nengokin kamu setiap minggu yah" ujar Nia. Dinda hanya memasang wajah cembetut nya.
"Devan, apa Dinda mau kamu bawa ke rumah orang tua kamu? " tanya Nia. Sedangkan Devan, terdiam sejenak.
"Tidak ibu, aku sudah membeli rumah sehari sebelum menikah dengan Dinda. Aku ingin mandiri dan aku takut Dinda tidak leluasa bila tinggal dirumah mommy" balas Devan.
Sebenarnya itu hanya alasan Devan, bila dia membawa Dinda kerumah orang tuanya, maka mommy nya itu akan melakukan hal buruk pada istrinya. Dia tau betul sifat buruk mommy, yang menghalalkan segala cara agar keinginannya terwujud.
"Ibu, aku sama Dinda pamit " ujar Devan, mencium tangan ibu mertuanya.
"Ibu, aku mau sama ibu " Dinda mengenggam tangan Nia.
"Kamu sudah menikah, dan harus ikut sama suami kamu " ujar Nia.
Devan meraih tangan Dinda, namun wanita itu menepis tangan pria itu kasar.
"Lepas, jangan pegang aku! " ketus Dinda.
"Sayang, gak boleh gitu sama suami kamu, halal untuk Devan memegang kamu, dia sekarang suami kamu" ujar Nia.Dinda hanya diam, mendengar nasehat ibunya.
Devan dan Dinda berjalan keluar dari rumah sakit diikuti oleh Nia. Mobil sudah terparkir di depan rumah sakit. Pria itu memasukkan barang -barang kedalam bagasi.
"Jaga diri kamu baik-baik yah, makan yang teratur dan jangan terlalu memikirkan hal yang tak penting. Nak jangan ketus dengan Devan kesian dia" ujar Nia.
"Aku tidak bisa ibu, bayangan itu selalu berputar di kepalaku, setiap aku melihat wajahnya " ujar Dinda. Dengan air mata yang mengalir.
"Sudah, sekarang masuk mobil, Devan udah tunggu di mobil" ujar Nia. Dinda dengan hati yang berat masuk kedalam mobil.
Setelah Dinda masuk kedalam mobil, Devan mulai menjalankannya.Dinda hanya diam, sambil memainkan ujung bajunya. Rasa sedih karna harus terpisah dengan ibunya dan juga marah karna harus ikut dengan Devan.
Devan sesekali melirik kearah Dinda,dan kembali fokus menyetir, Dia membeli rumah yang tak jauh dari kantornya. Agar bisa mengawasi Dinda, di rumah itu juga di lengkapi CCTV. Yang terhubung langsung dengan laptopnya.
Akhirnya sudah sampai, di sebuah rumah minimalis dua lantai yang berada di sebuah kompleks.
Devan melihat kearah Dinda, wanita itu tertidur pulas , mungkin dia kelelahan.Devan turun dari mobil dan membuka pintu mobil sebelahnya .
Pria itu mengangkat tubuh Dinda dan membawa masuk kedalam kerumahnya.
Dengan hati -hati Devan menaiki tangga karna kamar mereka ada di lantai dua. Devan membaringkan tubuh Dinda dengan lembut, sebelum pergi di menyelimuti wanita ini dan juga menyalakan AC.
Devan keluar dari kamar, dia harus mengeluarkan barang-barang didalam mobil . Setelah selesai semuanya, pria ini masuk kedalam kamar dengan membawa tas yang berisi baju Dinda. Dan meletakkan nya di sofa.
Drrrrrt drrrrrt
Bunyi dering ponsel menandakan ada panggillan, Devan mengkerut kan dahinya melihat nomer asing di layar ponselnya. Pria itu mngangkat panggilan tersebut.
"Hallo ini siapa? " tanya Devan.
"Ini aku Elsa " ujar Elsa disebrang sana.
"Ada urusan apa kamu menelpon ku?" ujar dengan nada dingin.
"Aku mau ketemu sama kamu, bisa kan " ujar Elsa.
"Aku sibuk " Devan langsung mematikan sambungan ponselnya.
Devan melepaskan bajunya, dia merasa gerah dan juga berkeringat, pria itu masuk kedalam kamar mandi melakukan ritual mandinya. Setelah sekitar lima belas menit, dia baru selesai dan mengambil baju di lemarinya. Devan sudah memindah bajunya kerumah ini dan barang-barang nya juga.
Pria itu mendekat keranjang dan duduk disana , sambil menatap kearah Dinda. Dia tidak menyangka akan menikahi wanita ini, dia yang selalu menghindari Dinda tapi sekarang dia yang kini berusaha mendekati Dinda.
Dinda membuka matanya perlahan, dia mengkerut kan dahinya ketika membuka mata dia sudah berada di sebuah kamar yang tampak asing bagi nya.
"Sudah bangun " ujar Devan.Membuat Dinda menoleh kearah Devan yang menatapnya. Wanita itu bangun dari tidurannya, mengubah posisi menjadi duduk.
"Apa yang kau lakukan disini? " ketus Dinda, sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia takut pria, yang ada di depannya ini akan berbuat macam -macam padanya .
"Kenapa? Ini kamar kita berdua " balas Devan.
"Aku gak mau sekamar dengan kamu! " ujar Dinda.
"Tapi dirumah ini kamarnya cuma satu, tidak ada masalah bila aku tidur satu kamar dengan mu " ujar Devan.
"Tapi aku gak mau! " kekeh Dinda.
Devan berdiri dari ranjangnya dan mendekat kearah Dinda. Wanita itu beringsut menjauh kala Devan mendekatinya.Pria itu merangkak naik keranjang.
"Apa yang kau ingin lakukan? " ujar Dinda ketakutan. Devan mendekat ke wajah Dinda mengikis jarak diantara mereka, hingga Dinda bisa mencium hembusan napas Devan yang beraroma mint.
"Kau istriku, jadi tidak ada masalah bila tidur satu kamar atau satu ranjang " bisik Devan tepat di telinga Dinda, membuat dia merinding mendengar bisikan Devan.Pria itu menjauh dari Dinda dan memilih keluar dari kamar.
Bersambung....
*****Silakan tuliskan saran atau ktitik , karna aku hanya penulis pemula pasti banyak kesalahan dalam penulisannya.
Terimakasih*****.