Perjodohan antara CEO kaya dan tampan dengan wanita bertubuh tambun. Semua itu adalah keinginan dari kakek kedua pasangan tersebut sewaktu mereka masih sama-sama muda.
Karya ini hanyalah fiksi semata. Jadi jika terdapat hal yang tidak sesuai dengan kenyataan atau dengan keinginan para readers. Mohon dimaafkan. Karena semua cerita ini hanyalah khayalan author semata.
Terima kasih, terus dukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 11
Alfarezi pulang dari kantor saat hari masih menjelang sore. Tapi tidak melihat istrinya menyambutnya. Tidak seperti biasa. Alfarezi berpikir jika Kimora masih belum pulang.
"Nyonya belum pulang?" tanyanya ke assisten rumah tangganya.
"Sudah tuan, nyonya ada di kamar sekarang,"
"Tadi nyonya pulang sama temannya?" Alfarezi penasaraan. Apakah Kimora masih ngeyel dekat dengan Shaka.
"Iya, teman yang tadi pagi juga kesini."
Raut wajah Alfarezi kembali berubah. Tanpa bertanya lagi. Dia naik ke lantai atas menuju kamarnya. Begitu masuk, dia melihat Kimora sedang nonton drama Korea kesukaannya.
"Ehem..." Alfarezi sengaja berdehem supaya Kimora tidak terkejut ketika melihatnya.
Tapi, Kimora hanya menoleh sejenak, kemudian kembali fokus menonton drama Korea. Bahkan Kimora tidak menyambutnya seperti biasa. Terkesan ngecuekin Alfarezi.
Pastinya, Alfarezi tidak terima dicuekin oleh Kimora. Dengan nada memerintah, dia meminta Kimora untuk membuatkannya teh.
Tanpa menjawab atau membantah. Kimora beranjak dari tempat duduknya. Kemudian bergegas ke dapur, membuatkan teh untuk suaminya.
"Berani bener dia cuekin aku!" Alfarezi tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh Kimora.
Tak beberapa lama, Kimora kembali ke kamar dengan membawa secangkir teh panas untuk suaminya. Lagi-lagi tanpa berkata, Kimora meletakan teh itu di meja depan Alfarezi duduk.
"Kamu masih marah sama aku?" tanya Alfarezi yang terus-terusan dicuekin Kimora.
"Hei, kalau ditanya tuh jawab!" Alfarezi bukan orang yang sabar. Dia menarik tangan Kimora supaya Kimora melihatnya.
"Pikir aja sendiri!" jawab Kimora ketus.
"Kamu tadi diantar Shaka pulang?"
"Hmm,"
"Aku kan udah bilang jauhin Shaka!" Alfarezi meletakan cangkir teh itu dengan marah.
Meskipun Alfarezi marah. Tapi Kimora sama sekali tidak merasa takut. Dia tidak melakukan hal yang salah. Kenapa mesti takut.
"Kamu suka sama Shaka?" tanya Alfarezi lagi, tapi dengan emosi yang sudah mulai stabil.
"Bukan urusan kamu!" Alfarezi mencubit dagu Kimora.
"Kamu istri aku, kamu mau aku bilang ke kakek kamu kalau kamu selingkuh di belakang aku?" tanya Alfarezi dengan menggertakan giginya.
Kimora menepis tangan Alfarezi. "Bilang saja! Nanti aku juga bilang ke kakek kamu, kalau kamu masih berhubungan dengan Ines.." ancam Kimora.
Alfarezi membulatkan matanya. Awalnya dia pikir wanita yang dia nikahin ini adalah wanita yang lemah. Tidak pernah menduga jika dia bisa diancam oleh wanita itu.
"Oke gini aja. Kamu boleh terus dekat sama Shaka, aku nggak akan ngadu ke kakek kamu, tapi sebaliknya, kamu juga jangan bilang ke kakek kalau aku dan Ines masih berhubungan." Alfarezi mengajak Kimora untuk bernegosiasi demi keuntungan bersama.
Padahal sebenarnya itu adalah keuntungan dia sendiri. Karena Shaka dan Kimora tidak memiliki hubungan seperti yang Alfarezi sangka. Selain pertemanan.
"Ngadu aja kalau mau ngadu, gitu aja repot." Kimora dengan sewot beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" Alfarezi menahannya pergi.
"Siapin baju ganti buat aku! Aku mau mandi," pintanya.
"Suruh aja Ines buat siapin! Aku sibuk, mau telepon sama kak Shaka.." Kimora sengaja memprovokasi Alfarezi dengan mengatakan dia akan teleponan dengan Shaka.
"Nanti kamu tidur di kamar tamu!" ancam Alfarezi.
"Oke, nanti aku tinggal bilang sama kakek, kalau kamu nggak mau sekamar sama aku, karena kamu masih berhubungan dengan Ines.." Kimora semakin membuat Alfarezi marah. Dia tidak bisa diancam sama sekali. Malah berani mengancamnya balik.
Kimora menatap Alfarezi yang terdiam dengan menahan amarahnya. Sebelum akhirnya dia keluar dari kamar. Meninggalkan Alfarezi yang semakin kesal.
"Wanita sial*n ini!! Tak menduga kalau dia bisa bikin aku emosi kayak gini.." gumamnya seorang diri.
Alfarezi kemudian mengambil ponselnya. Dia menelepon seseorang, "malam ini kumpul di club house!" ucapnya melalui telepon.
Sementara Kimora di dapur membantu assisten rumah tangganya memasak makan malam. Memasak adalah salah satu hobinya. Dan dengan memasak pula, itu bisa sedikit mengurangi rasa kesalnya kepada Alfarezi.
"Ra, kakek mau ngobrol sebentar!" panggil kakek mertuanya, Deddy Surya.
Kimora buru-buru mencuci tangan dan melepas celemeknya. Mengikuti kakek mertuanya ke ruang baca.
"Kenapa kek?" tanya Kimora.
"Eh, anu, kakek cuma mau tanya. Yang tadi pagi ke rumah itu temen kamu?" tanya Deddy.
"Iya, namanya kak Shaka, dia temen pertama aku di kota ini." Kimora buru-buru menjelaskan sebelum kakek mertuanya salah paham.
"Dia kerja dimana?" tanya Deddy lagi.
Kimora baru sadar setelah Deddy bertanya. Sejak bertemu dan kemudian kenal. Kimora sama sekali tidak menanyakan apa pekerjaan Shaka. Juga tidak menanyakan lebih jauh tentang identitas Shaka.
Karena menurut Kimora itu semua tidak penting. Yang terpenting, Shaka baik sama dia. Masalah status dan pekerjaannya, itu sama sekali tidak penting bagi Kimora.
"Kimora nggak tanya tuh kek," jawabnya sembari tersenyum kecil.
"Oh," Deddy menganggukan-anggukan kepalanya. Entah kenapa dia penasaran tentang Shaka, dari pertama kali melihat Shaka. Deddy merasa familiar ketika melihat Shaka.
"Gimana kuliah kamu hati pertama?" tanya Deddy mengalihkan pembicaraan.
"Menyenangkan sih kek, tapi aku belum memiliki teman di kampus."
"Ya nggak apa-apa, kan baru sehari kamu masuk, nanti juga kamu akan memiliki banyak teman." ucap Deddy membesarkan hati cucu menantunya.
"Iya, mungkin juga gitu kek." ucap Kimora ambigu. Dia bahkan tidak yakin akan memiliki seorang pun teman di kampus barunya. Menurutnya, teman-temannya di kampus sangatlah pemilih. Apalagi dengan dirinya yang memiliki kelebihan. Tapi bukan kelebihan skill, melainkan kelebihan daging.
Meskipun begitu, Kimora sama sekali tidak insecure. Alasan dia kuliah untuk menyelesaikan studi-nya. Bukan untuk mendapatkan teman yang banyak. Kalaupun itu terjadi, anggap aja sebagai bonus.
Tok tok tok...
"Tuan kakek, makan malam sudah siap." dari luar assisten rumah tangga memberitahu jika makan malam sudah siap dan bisa dinikmati.
"Ya," jawab Deddy singkat.
"Yuk kita makan malam!" ajak Deddy sambil berdiri.
"Alfa sudah pulang?" tanyanya lagi.
"Sudah kek." Kimora menuntun kakek mertuanya yang berjalan menggunakan tongkat.
Kimora juga menyiapkan piring dan menghidangkan makanan untuk kakek mertuanya. Dia sangat perhatian dan lembut dalam melayani kakek mertuanya. Mungkin itu juga alasan kenapa Deddy sangat menyukai dirinya.
"Panggil tuan muda sekarang! Bilang makan malam sudah siap!" perintah Deddy ke salah seorang assisten rumah tangganya.
"Nggak perlu, aku mau makan malam di luar." ternyata Alfarezi sudah berjalan menuruni tangga dengan memakai jaket. Sepertinya dia mau pergi.
"Mau kemana?" tanya Deddy.
"Mau cari udara segar, di rumah hawanya panas, apalagi hawanya suntuk tidak ada senyuman sama sekali." jawab Alfarezi melirik Ticia yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.
"Tapi makan dulu!" pinta Deddy.
"Nggak ada selera makan, nggak bisa nelen makanan." jawab Alfarezi lagi dan masih saja melirik Kimora.
Sementara Kimora tidak mau menanggapi oecehan Alfarezi. Dia lebih ingin menikmati makanan yang ada di depannya.
"Ajak Kimora sekalian!" ucap Deddy.
"Nggak kek, aku capek pengen cepet tidur." Kimora dengan cepat menolak ide kakeknya.
Lagi-lagi Alfarezi tidak puas dengan jawaban Kimora. "Siap-siap! aku tunggu kamu di mobil!" Alfarezi berkata dengan lembut ke Kimora. Tapi tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya kepada wanita itu.
Deddy merasa sedikit aneh. Tidak biasanya Alfarezi langsung setuju untuk mengajak Kimora. Biasanya dia akan berdebat dulu baru mau mengajak Kimora pergi bersamanya.
Deddy juga melihat sikap Kimora yang cuek ke Alfarezi. Deddy pun tersenyum ambigu. Dia seperti mengerti sesuatu.
big no
JENGKEL DGN TOKOH SUAMI LO SI ALFA, TPI KDG2 LBH JENGKEL DGN KARAKTER TOKOH LOO..