Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertanggung jawab
Mobil Reyhan sudah sampai di sebuah villa keluarga Wijaya yang rencananya akan ditempati karyawan selama berlibur disana.
"Terimakasih atas tumpangannya, Pak. Kami permisi dulu." Alina dan Sinta keluar dari mobil. Reyhan tidak menjawab, bahkan dia tidak melihat sedikitpun ke arah mereka.
Setelah mobil itu pergi, mereka masuk ke dalam villa. Pengurus villa, Pak Made menunjukkan kamar yang akan mereka tempati beberapa hari kedepan. Alina yang sudah merasa kaku disekujur tubuhnya merebahkan diri di atas ranjang, mungkin karena bawaan hamil jadi sekarang dia sangat mudah merasa lelah.
Reyhan dan Doni sedang menonton TV, atau lebih tepatnya TV lah yang sedang menonton mereka berdua karena kenyataannya mereka sedang asyik dengan HP masing-masing.
"Bos, apa anda berubah pikiran terhadap Mbak Alina?" tanya Doni penasaran.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Aku hanya kasihan padanya," jawab Reyhan datar.
"Oh ... kasihan. Ya ya ya, bisa dimengerti," goda Doni pada bosnya.
Reyhan melirik tajam ke arah Doni, membuat Doni langsung mengalihkan perhatianku ke HP seketika. Dia tentu saja tidak mau karena mulutnya yang ceroboh itu harus dikirim jauh ke Papua.
Acara pertama wisata ini adalah makan malam, karena ini adalah acara pertama jadi CEO harus turut serta untuk memberi sambutan pada seluruh karyawan. Meskipun dengan terpaksa Reyhan tetap hadir dalam acara kali ini, dia sudah duduk bersama Doni dan para petinggi perusahaan.
Alina terlambat datang kali ini karena terlalu lelah Alina dan Sinta ketiduran sampai mereka tak menyadari hari sudah sore.
"Sin, ayo cepetan jalannya!" seru Alina pada Sinta di depan restoran.
"iyaaa. Elu sih, udah tidur kaya kebo, mandi lama banget," jawab Sinta jengkel.
Alina hanya menanggapi dengan senyuman khasnya dan melenggang masuk ke dalam gedung, saat Alina masuk orang-orang yang sebelumnya sibuk bercengkrama tiba-tiba menengok ke arahnya.
Alina yang merasa diperhatikan pun menjadi salah tingkah dan segera mencari tempat duduk untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
"Al, lo emang primadona perusahaan deh. Udah pinter, cantik lagi," celetuk teman kerja Alina yang bernama Rama.
"Alah ... gombal lo, Ram," seru Sinta.
"Emang iya," jawab Rama santai sambil mengedip-ngedipkan matanya
jawaban itu cukup untuk membuat mereka tertawa.
Reyhan yang duduk di seberang meja Alina sedari tadi matanya tak lepas memandangi Alina, entah apa yang membuatnya tertarik untuk memperhatikan wanita itu terus. Tapi lamunannya dibuyarkan oleh suara gaduh karyawan dari belakang.
"Ada apa?" tanya Reyhan menatap Doni.
"Sepertinya Tuan Raka datang, Bos."
"Ayah? ada apa Papa datang? jangan-jangan kau melaporkan ku pada ayah?" pandangan tajam dia arahkan pada Doni.
"Tidak, Bos. Tidak mungkin saya mengkhianati anda!" jawab Doni sedikit menggebu.
Handoko yang berada didekat Reyhan mencoba setenang mungkin agar mereka tidak curiga. Selama ini Reyhan tidak pernah curiga Papanya memasang mata-mata lain selain Doni. Tapi ternyata Doni tidak pernah ditugaskan Papanya menjadi mata-mata, karena Doni sendirilah yang meminta untuk dijadikan asisten bagi Reyhan.
"Ma-Pa, kok nggak ngabarin kalo mau datang?" tanya Reyhan menghampiri orang tuanya.
"Buat apa ngabarin, mau kabur?" tanya mama Rani sinis.
Reyhan yang mulai curiga dengan sikap orang tuanya itu, akhirnya memilih mengajak mereka kembali ke villa pribadinya agar lebih leluasa untuk berbicara.
*******
"Rey, apa kau benar sudah menghamili Alina?" tanya Papa Raka tanpa basa-basi.
Reyhan yang terkejut langsung mengarahkan pandangannya pada Doni, Doni yang tentu saja lebih bingung hanya menggelengkan kepalanya tahu maksud bosnya itu.
"Sudahlah, kamu tidak perlu tau dari mana Papa mengetahuinya, yang pasti bukan Doni."
"Tapi itu belum tentu anak Reyhan, Pa. Bisa jadi itu anak orang lain dan dia hanya mengincar keluarga kita."
"Rey! sejak kapan mama dan papa mengajarimu menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab!" seru mama emosi pada anaknya.
"Tapi ma itu bukan anak, Rey."
"Lalu ini apa?" seru papa Raka sambil menunjukkan video yang ada di hpnya.
Reyhan terbelalak melihat video itu, dia melirik tajam ke arah Doni seakan ingin membunuh Doni saat itu juga.
"Saya sudah menghapusnya, tapi saya lupa tidak melihat recycle," jawab Doni santai tanpa merasa bersalah.
"Rey! Mama tidak mau tau kamu harus bertanggungjawab, kamu harus menikahinya!"
"Tapi, Ma ...."
"Tidak ada tapi, Rey!" sela Papa Raka tegas.
"Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab atas calon cucu Papa, berarti Papa juga tidak bertanggung jawab kalau semua yang sudah kamu dapatkan papa cabut termasuk jabatan CEO."
"Pa, itu belum tentu anak Reyhan, Pa," jawab Reyhan putus asa.
Dia tidak mencintai Alina bahkan tidak mengenalnya sama sekali bagaimana mungkin dia menikahi wanita itu.
"Baiklah, Rey. Mama akan membuat kesepakatan denganmu," sahut mama Rani
"Nikahi dia sampai dia melahirkan, setelah itu kita serahkan semua keputusan pada kalian. Setidaknya sebagai laki-laki kamu harus bertanggungjawab pada perbuatanmu sebelumnya dan mama tidak mau dibantah!"
"Hmm ...," jawab Reyhan malas.
——————
Rombongan kantor Alina baru kembali ke villa setelah matahari terbenam, seharian mereka menghabiskan waktu untuk berkeliling Bali. Bahkan mereka sampai lupa waktu karena terlalu bersemangat untuk melihat keindahan Bali, mereka sama sekali tidak mau menyia-nyiakan waktu karena besok adalah hari terakhir di Bali.
Tok–tok–tok!
"Ya, sebentar," sahut Alina mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Oh, Pak Doni? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alina sopan.
"Pak Reyhan ingin berbicara dengan mbak Alina, bisa ikut saya sebentar?"
"Ada apa?" tanya Alina dengan dahi dikerutkan.
"saya tidak tahu, mari ikuti saya."
Alina akhirnya mengikuti Doni ke sebuah taman di dekat villa, di tengah taman itu sudah ada seorang lelaki yang duduk di kursi dengan menyesap kopinya.
"Duduklah!" perintahnya pada Alina.
Alina pun duduk di depan laki-laki yang sebenarnya sangat dibencinya itu, Alina bahkan berharap tidak pernah lagi berhubungan dengan lelaki ini selain karena pekerjaan yang masih dia butuhkan.
"Ada apa bapak mencari saya?" tanya Alina sopan dengan tatapan menyelidik.
"Saya akan bertanggung jawab, saya akan menikahimu sampai anak itu lahir," jawab Reyhan tanpa basa-basi.
###########
yuk gaes Like dan tinggalkan komen serta krisan buat author yaa😉👍
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍