"Jangan pernah Lo ikut campur dalam urusan gue!!" Alifa Zea Amanda~
"saya akan ikut campur. karena apa yang kamu lakukan itu salah!" ghibram Naufal Rizal~
Alifa, seorang mafia terjebak dalam pesantren demi memenuhi janjinya untuk nenek. ia selama disana tak tinggal diam. beberapa kali ia mencoba kabur, namun ada seorang Guz yang selalu menggagalkan rencananya.
seperti apa kisah lanjutan nya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alcanbery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. chapter sebelas.
Jangan lupa vote, vote, dan vote.
Komen, like dan bintang...
Jangan lupa taruh di daftar bacaan, agar kalian tidak ketinggalan dengan cerita berikut nya.
IG bunny @quensha_sha
______________________
Happy reading...
•
•
•
"Tapi, bibik badannya saja sangat ramping. Saya menjadi ragu jika makanan itu akan habis." Ujar Gilang.
"Jangan ngomong gitu. Itu tidak baik loh. Apalagi nona muda itu pelanggan disini." Ujar ibu kantin sedikit memberikan nasehat pada Guz Rizal dan Gilang.
***
15 menit kemudian, makanan dan minuman yang dipesan Alifa sudah datang. Ibu kantin menghidangkan makanan dan minuman itu diatas meja Alifa.
Glek...
Elang menelan Saliva nya susah payang. Ia memegang perutnya nya yang meronta-ronta minta makan.
Diva memakan makanannya sebelum menjadi dingin. Sedangkan Alifa, Alifa sendiri malam makan salad dan segelas susu, membuat elang, Guz Rizal dan Gilang menepuk jidatnya sendiri.
"Emmm, mbak apa makanan nya tidak Enang?" Tanya Gilang.
"Tidak kok." Jawab Alifa.
"Lalu kenapa ngak dimakan?"
"Mau nyiksa setan di samping gue." Jawab Alifa enteng sekaligus tersenyum sinis pada elang.
"Se---tan maksud mbak???"
"Iya."
Alifa melirik kearah elang.
"Lo mau?" Tawar Alifa.
"Ngak!"
"Yakin???"
"Iya."
"Beneran ngak mau?"
"Iya bawel."
"Padahal gue udah bayar. Kalo ngak mau yaudah." Ujar Alifa.
"Bibik, buang makanan ini!" Ujar Alifa dengan suara tinggi.
Ukhuk...
Diva tersedak saat mendengar ucapan Alifa. Gilang memberikan segelas air untuk diva. Diva menerima segelas air itu dan meminumnya.
"Bu---buang???" Heran Guz Rizal
"Heh, ngapain Lo buang makanan?" Ketus elang.
"Setan gue ngak mau makan. Jadi, buang saja" Jawab enteng Alifa.
"Setan, setan.. Pala lo..." Ketus elang.
"Ta---pi, itu memubajir makanan." Ujar Guz Rizal.
"Gue ngak napsu."
"Kenapa pesan?"
"Pengen saja."
"Mbak, ini makanannya boheman loh." Bisik diva.
"Nanti juga ada makan. Yekan, elang?"
"Bodo!" Ketus elang.
Alifa beranjak berdiri dari kursinya. Ia mengeluarkan uang 300.000,00 dan memberikannya pada ibu kantin.
"Nona muda ini sangat banyak. Saya tidak ada kembaliannya." Ujar ibu kantin.
"Ambil saja. Anggap saja ini keberuntungan bibik." Ujar Alifa.
"Makasih nona muda."
Alifa membalasnya berupa senyuman.
Alifa dan diva beranjak pergi dari kantin.
Kedua bola mata Alifa tidak sengaja melirik kearah pengemis. Alifa tak tega melihat hal itu. Apalagi pengemis itu membawa seorang bayi.
"Div, ikut gue yok." Ajak Alifa.
"Kemana, mbak?"
"Udah ikut aja."
Alifa menarik tangannya diva. Mereka berdua sampai didepan pintu gerbang.
"Mbak, apa yang mbak lakukan?" Tanya diva ketakutan.
'apa mbak Alifa akan kabur?' batin diva was-was.
Alifa mendengus kesal mendengar isi hati diva.
'bisa-bisanya dia ngomong itu.' batin Alifa.
Alifa membuka pagar pesantren. Setelah itu, Alifa bersama diva menghampiri pengemis itu.
"Permisi..." Ujar Alifa sopan.
Pengemis itu ketakutan. Ia mundur perlahan-lahan kebelakang.
"Saya bukan orang jahat. Saya datang kesini untuk memberikan makanan pada anda. Saya tahu pasti anda lapar." Alifa menyodorkan kantung plastik pada pengemis itu.
Pengemis itu menerima kantung plastik pemberian Alifa. Perutnya sudah sangat lapar sekali akibat tidak makan berhari-hari.
Pecah tangis terharu mengalir di kelopak mata pengemis itu. "Makasih nak... Makasih... Banyak..."
Diva memandangi kearah Alifa dengan tatapan terharu. Ia sama sekali tak menyangka orang dingin, datar, cuek seperti Alifa bisa mempunyai hati yang sangat baik.
'saya sungguh beruntung bisa berteman sama mbak Alifa.' batin diva.
Alifa tersenyum. Sangat tipis sampai orang lain tidak tahu kalo dirinya tersenyum setelah mendengar isi hati diva.
***
Disisi lain, ada seorang laki-laki memakai sarung, peci, dan baju Koko tidak sengaja memata-matain Alifa dan diva.
Guz Rizal menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Gilang yang berada disampingnya bergidik ngeri.
'gadis menarik.' batin Guz Rizal.
Sebelum nya, Gilang belum pernah melihat Guz Rizal senyum seperti itu. Ini benar-benar fenomena langka buat Gilang.
'guz Rizal tersenyum????" Batin Gilang tak percaya.
Gilang mengikuti arah pandangan Guz Rizal. Dirinya mulai paham alasan Guz Rizal tersenyum.
Terlintas ide jahil di otak Gilang.
"Kham...Guz Rizal, kenapa anta tersenyum sendiri?" Tanya Gilang.
Guz Rizal geleng-geleng kepala. Dirinya juga tidak tahu cara menjawab pertanyaan Gilang.
"Saya sendiri juga tidak tahu."
"Hayooo, apa anta mulai menyukai gadis pirang itu?"
"Tidak kok. Itu mana mungkin."
"Saya tidak percaya. Ngaku saja Guz pada saya" Goda Gilang.
Guz Rizal memilih meninggalkan Gilang sendiri.
"Loh, Guz tunggu!" Teriakan Gilang.
Gilang menyusul langkah Guz Rizal.
***
...Singapura...
Kondisi nenek nana perlahan-lahan mulai membaik dirumah sakit. Bahkan, nenek nana sudah diperbolehkan untuk pulang.
Tetapi, Rangga bersih keras agar nenek menjalani kemoterapi lanjut. Takutnya masih ada hal berbahaya yang akan mengancam nenek nana.
Mau dan tak mau nenek nana menuruti keinginan Rangga, cucu paling bawel apalagi mengenai kondisi kesehatan nya.
Pada pagi yang cerah ini, Rangga menyuapi nenek nana dengan semangkuk bubur. Selain itu, Lia juga datang untuk menjenguk kondisi nenek nana.
"Rangga, nenek sudah kenyang." Ujar nenek menolak satu suapan Rangga.
"Baiklah." Rangga menaruh bubur itu diatas nakas.
Rangga melirik kearah Lia.
"Terima kasih Lia telah susah payah merawat nenek saya." Ujar Rangga tersenyum tulus.
Lia membalas nya dengan senyuman tulus juga. "Ini sudah kewajiban saya sebagai dokter, dokter Rangga."
"Panggil saja saya Rangga."
"Owh, baiklah Rangga."
Nenek nana tersenyum melihat kedekatan Lia dan Rangga.
'mereka sangat serasi.' batin nenek nana.
"Nak Lia, apa kamu udah punya pacar?" Tanya nenek nana the points.
"Be---belum nenek." Jawabnya malu-malu.
Nenek nana memegang tangan Rangga. Kemudian, ia juga memegang tangan Lia. Nenek nana menumpuk kedua tangan tadi.
Rangga dan Lia menjadi salah tingkah. Pipi mereka berdua sama-sama merah sangat merah seperti tomat.
"Nenek, ap---apa yang nenek lakukan?" Tanya Rangga gugup.
"Rangga dan Lia, kalo nenek meminta satu permintaan pada kalian, apa kalian berjanji apa memenuhi nya?" Tanya nenek nana penuh harapan.
"Permintaan apa nenek?" Tanya Lia gugup.
"Berjanjilah dulu."
"Kami janji nenek." Ujar Rangga dan Lia bersamaan.
"Nenek ingin kalian terikat dalam sebuah hubungan."
"Maksud nenek?" Tanya Rangga.
"Nenek ingin kamu, Rangga melamar Lia sebagai istri kamu." Ujar nenek nana.
Duerrr...
Bagaikan disambar petir siang bolong dalam hati mereka. Apalagi, permintaan nenek nana itu membuat keduanya menjadi salah tingkah satu sama lain.
"Bagaimana nak?" Tanya nenek.
"apaain sih nenek." Ujar Rangga.
Raut wajah nenek nana menjadi sedih. "Kalian tidak mau yah."
"Ti---dak begitu nenek." Gugup Lia
'duh... Bagaimana ini.' batinnya.