Sebuah cerita tentang makhluk mitologi yaitu werewolf dan vampire, menyamar dan berbaur dengan manusia untuk menemukan putri yang hilang. Salah satu dari mereka ternyata adalah mate sang putri.
Namun setelah putri yang hilang ditemukan terjadi peperangan besar yang membunuh banyak vampire.
kisah ini menceritakan tentang dua golongan vampire dan juga dua golongan werewolf yang saling memperebutkan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putriifrhm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Attack
"Dengan ini, aku nyatakan perang dimulai!" seru Arnold di barisan paling depan di antara pasukannya.
Peperangan pun dimulai saat seseorang memukul gong.
Dengan mudah, Arnold mengayunkan pedangnya untuk menebas kepala para werewolf dan menusuk dada mereka hingga menembus jantung. Begitu juga Alex dan James, mata birunya berubah menjadi merah menyala, semerah darah yang kini menghujani dirinya.
Leo dalam wujud serigalanya menggigiti makhluk sejenisnya, namun berbeda golongan. Leo tak sendiri, werewolf Rebloor juga membantu peperangan ini.
Dua lawan satu? Bukankah itu tak adil?
Tentu saja adil, bangsa werewolf golongan Abloor memiliki tubuh sebesar gajah, sementara golongan Rebloor hanya sebesar singa.
Peperangan ini begitu sengit. Walaupun pada awalnya Abloor kalah jumlah dengan Wetford dan Rebloor, namun dalam waktu beberapa menit saja jumlah mereka sekarang sama.
Dentingan pedang dan suara erangan serigala menghiasi peperangan ini, walaupun jumlah pasukan Arnold semakin sedikit, itu tak membuat ia terdesak. Ia justru lebih cekatan dan kuat. Begitu juga Alex dan James.
.
.
Sementara di dalam istana, Jane terus mengintip dari jendela kamarnya sambil mengigiti jarinya karena kekhawatirannya.
Hilda yang duduk di samping jendela tersenyum hangat pada Jane, "Tenang nona Jane, raja Arnold, Leo, James, maupun Alex akan baik-baik saja," ujarnya sambil menekan nama Alex.
Kedua alis Jane menaut, "Aku takut, aku tak tahu jika musuh kita sebesar itu,"
"Nona Jane, percayalah padaku, mereka semua akan selamat,"
Hilda berdiri dan merangkul Jane yang tingginya lebih rendah darinya, "Kita sudah beberapa kali melakukan perang, melawan klan Iblis, Penyihir, dan zombie. Kau lihat? Setelah peperangan itu mereka tetap selamat bukan? Mereka masih hidup sampai sekarang," jelas Hilda panjang lebar untuk menenangkan tuannya.
Jane terperangah mendengar cerita asistennya, ia tak mengira bahwa ada makhluk lain yang lebih aneh dan yang terpenting, bangsanya berhasil melawan makhluk aneh itu dengan selamat, "Terima kasih, Hilda. Aku lebih tenang sekarang," Jane memeluk Hilda erat-erat.
"Hmm, harum sekali dirimu," ujar Hilda sembari melepas pelukan.
"Aku suka menggunakan sabun dengan harum buah stoberi,"
"Bolehkah aku memintanya?" tanya Hilda dengan nada manja.
Jane tertawa kecil, "Tentu saja,"
.
.
Saat ini Alex terdesak oleh serangan dari Peter, ia disudutkan di pohon besar. Hingga Peter berubah menjadi manusia.
"Aku tak menyangka sangat mudah untuk menghabisi pemimpin dari pasukan vampir Wetford," ujar Peter dengan tangan kanannya yang mencekik leher jenjang Alex.
Alex menyeringai, kemudian menendang perut Peter hingga ia terpental 10 meter, "Kau memang kuat, tapi kau tak cukup cerdik,"
Peter mengusap mulutnya yang telah terbanjiri darah, ia langsung kembali berubah menjadi serigala dan menerkam Alex.
Dengan sekuat tenaga, pemuda dengan tatapan dingin itu menghindari taring besar milik Peter agar tak memutus lehernya. Walaupun cakaran Peter terus mendarat di setiap tubuh Alex, wajahnya tak menunjukkan rasa sakit sedikitpun. Ia tak bisa berbuat apapun karena sebelumnya pedang yang ia gunakan telah terpental jauh. Ia sudah cukup lemah, namun ia pandai menyembunyikannya.
Kemudian Peter kembali berubah menjadi manusia, "Aku lelah, lagi pula musuhku sudah tak berdaya," ujarnya sambil memandangi sekitarnya yang dipenuhi oleh mayat-mayat dari bangsanya maupun bangsa vampire.
Sementara Alex terbaring di tanah dengan sobekan bekas cakaran Peter, ia tak memiliki cukup energi untuk menyembuhkan lukanya.
Peter menunduk di dekat pedang milik Alex dan mengambilnya, kemudian ia menghampiri Alex dan menusukkan pedangnya tepat di perut Alex hingga tembus, "Selamat tinggal, panglima," ujar Peter sambil tersenyum puas. Kemudian ia berbalik dan berjalan pergi dari sana.
Tiba-tiba.
Pupil Peter membesar tak kala ia melihat Alex telah berada di depannya dan juga setelah menerima serangan dari pedang yang telah menusuk dadanya hingga tembus.
"Sudah ku bilang, kau tak cukup cerdik," ujar Alex menatap mata kuning keemasan milik Peter, "Kalau kau ingin membunuh vampire, penggal kepalanya, dasar bodoh," dengan cepat ia mencabut pedangnya dan berniat untuk menusuk jantung Peter, namun seriga lainnya datang dan membawa Peter pergi.
Alex ambruk seketika.
Sementara itu, kedua raja dari bangsa yang bermusuhan kini sedang bertarung. Mereka saling mengadu pedang dengan alasan Steve ingin agar pertarungan ini adil tanpa ada yang berubah menjadi serigala.
Dentingan pedang terus berbunyi di antara kericuhan yang lainnya. Steve mengeluarkan evil smirk -nya sambil mengayunkan pedang.
Dari arah lain, Leo datang dan mengigit leher Steve.
Awalnya Arnold berniat untuk menghabisi Leo karena lancang mengambil lawannya, namun ia mengurungkan niatnya karena berhubung ini dapat membuat kemenangan datang lebih cepat.
"Tunggu! Dengarkan aku!" Steve mendorong Leo yang menimpa tubuhnya, lehernya mengeluarkan darah dari lubang bekas gigitan Leo, "Aku minta hentikan peperangan ini, dan kita akan melanjutkannya setelah pasukan kita kembali siap,"
"Hah? Kau pikir semudah itu? Dan--" Leo berubah menjadi manusia dengan wajah kesal.
"Biar saja, Leo," sela Arnold, "Aku tak memberi waktu yang cukup untuk mereka, dan kita terbilang curang bukan?"
Leo menghela nafas, "Terserah kau saja, raja Arnold,"
Dengan aba-aba dari pemimpin masing-masing, para petarung ini kembali ke daerah mereka masing-masing.
"Di mana Alex?" tanya Leo pada Arnold.
"Kau benar, aku tak dapat merasakan kekuatannya lagi,"
Arnold segera melesat mengikuti indra penciumannya yang mengarahkan pada Alex.
"Alex!" seru Arnold. "Leo, cepat bawa Alex ke dalam!"
"Baik," tubuh kurus Leo membopong tubuh atletis Alex, ia berlari sekuat tenaga untuk menuju ke dalam istana.