Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?
Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dreamily (part 2)
Perempuan itu sama sekali tidak menghentikan tatapan memohon yang ia tujukan kepada Elden. Dalam pencahayaan yang remang di ruangan itu, mata cokelat Erie seolah menghujam mata pria yang ada di sampingnya. Seperti biasa, saat Erie sedang mengingankan sesuatu dengan sangat, ia akan tenggelam dalam keinginannya itu dan berusaha keras untuk memperolehnya dan setelah mendapatkannya, ia baru akan berhenti.
“Baiklah, aku mengizinkanmu,” desah Elden pasrah. Akhirnya pria itu mengalah.
“Benarkah? Kau benar-benar mengizinkanku?” tanya Erie seolah tak percaya dengan indra pendengarannya.
Pria itu menganggukkan kepalanya. “Tapi jangan terlalu memaksakan dirimu, sayang. Aku tidak mau kontes ini sampai membuatmu kelelahan.” Elden menekankan persyaratannya kepada sang istri.
“Baik, Elden. Aku berjanji tidak akan memaksakan diriku,” ucap Erie menyepakati permintaan Elden. Erie kembali tersenyum dan dalam tatapan mata cokelat berbinar-binar yang terpancar dari perempuan itu, dunia Elden yang awalnya melelahkan seakan kembali menyenangkan.
Elden membalas senyuman istrinya. Senyum pria itu adalah senyuman seorang pria yang merasa puas apabila ia berhasil membuat wanitanya bahagia. Sebuah senyuman kebahagiaan.
Elden mengambil anak rambut yang jatuh di atas wajah Erie dan meletakkannya ke belakang daun telinga perempuan itu. “Waktu persiapannya tiga bulan lagi bukan?” tanya Elden memastikan.
Erie mengangguk. "Iya."
“Apakah kau perlu guru tambahan?” sambung pria itu.
“Tidak perlu, Elden. Guruku yang sekarang sudah cukup untuk mengajariku. Selanjutnya aku akan mengandalkan kemampuanku sendiri. Selain menyemangatiku, aku harap kau tidak melakukan hal-hal lainnya!” ancam Erie.
"Melakukan hal-hal lainnya yang seperti apa?" tanya pria itu seraya mengernyit.
"Ya apa saja. Misalnya hal-hal belakang," tutur Erie menekan intonasinya. "Aku tidak ingin menang dengan cara yang tidak baik karena aku ingin membuatmu bangga."
“Maksudmu berbuat curang? Sayang, aku termasuk orang yang profesional dalam bidang bisnis. Aku tidak suka permainan curang. Jika orang itu tidak berguna, tanpa campur tanganku, dia akan tersingkir dengan sendirinya.”
“Jadi kau menghinaku? Apa yang kau maksudkan bahwa aku orang yang tidak berguna?”
TAK!
Elden menyentil kening Erie hingga membuat perempuan itu memekik.
“Aduh! Kenapa kau menyentilku?” protes Erie seraya menyentuh keningnya. Memang tidak terasa begitu sakit, tapi karena jengkel maka Erie akan menganggapnya sangat sakit.
“Supaya kau tidak berpikir hal-hal yang aneh,” timpal Elden.
“Aku tidak berpikir aneh! Kau sendiri yang bilang orang yang tidak berguna akan tersingkir dengan sendirinya.”
“Tapi aku tidak membicarakan tentangmu, Vallerie. Yang kumaksudkan adalah orang lain. Kau pernah menjadi sekretarisku selama beberapa bulan, bagaimana mungkin aku menganggapmu sebagai orang yang tidak berguna?”
“Bukannya waktu itu kau merekrutku karena aku adalah istrimu?”
Embusan napas kasar keluar dari mulut Elden. Meskipun sedikit kesal karena profesionalitasnya diragukan oleh sang istri, tapi Elden mencoba bersabar. “Aku sudah katakan kalau aku mengenalmu sejak kau masih kecil. Dulu, selama kau berada di rumah Eduard, bukankah kau rajin membaca buku-buku tentang bisnis? Kau juga sering berdiskusi dengan Robbert.”
Erie mengernyit. “Dari mana kau tahu?”
“Kau tidak perlu tahu dari mana aku mengetahuinya, tapi yang pasti aku mengenal kemampuan dan bakat istriku ini,” kata Elden sambil mengelus kepala Erie.
“Baik, baik, aku percaya padamu.”
“Tentu saja kau harus percaya padaku.”
Tangan Elden masih terus bermain-main di rambut Erie hingga setiap helaian dari rambut panjang itu mengeluarkan aroma harum yang disukai pria itu.
“Elden…” panggil Erie lagi.
“Hmm?”
“Aku ada permintaan lagi.”
“Sudah kuduga. Tidak mungkin kau menungguku hanya untuk satu permintaan saja. Baiklah, katakan apa lagi yang kau inginkan?”
“Rencananya aku akan menggunakan bangunan yang pernah kau belikan waktu itu sebagai tempat aku berlatih. Jadi, aku berencana untuk mengubah gedung itu menjadi butikku,” cetus Erie. “Tapi aku butuh asisten.”
“Kalau begitu, kau tinggal bawa salah satu pelayan untuk menjadi asistenmu.”
“Hmm tidak…” Erie menggeleng. “Aku ingin merekrut Tina menjadi asistenku.”
“Tina?” tanya Elden bingung saat nama mantan sekretaris yang baru ia pecat itu keluar dari bibir istrinya. Salah satu alis gelap pria itu terangkat. “Kenapa dia?”
Bibir Erie terangkat. Ia menyeringai. “Balas dendam. Dia pernah menjadi atasanku saat di kantormu dulu. Sekarang, aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi bawahanku.”
Elden tersentak. “Wah, wah sayang! Tidak tahukah kau bagaimana ekspresimu saat ini? Terlihat sangat mengerikan.”
“Aku belajar darimu,” angkuh perempuan itu.
“Hahaha!” Elden tertawa pelan. “Baiklah sayang, karena kau belajar dengan sangat baik, aku akan mengabulkan semua permintaan yang kau sebutkan itu.”
Erie kembali tersenyum. Kali ini ia menunjukkan senyuman yang tulus. “Terima kasih, Elden.” Erie mencium pipi Elden dengan lembut.
“Vallerie, jika kau ingin berterima kasih dengan tulus, ciuman ini saja tidak cukup untukku.”
Erie mengerutkan keningnya. “Lalu bagaimana caranya agar kau merasa cukup?”
“Di sini. Kau juga harus menciumku di sini,” ujar Elden sambil menempelkan telunjuknya ke bibir.
“Cih, dasar kau!” Erie berdecih, tapi ia menuruti permintaan sang suami.
Pelan-pelan Erie menggeser kepalanya. Saat bibirnya menempel di bibir tebal Elden dan mencium pria itu, secara mendadak Elden menahan tubuh Erie dengan tangannya. Sepertinya ciuman bibir saja masih belum cukup untuk Elden. Karena langkah selanjutnya, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan melakukan sesuatu yang lebih panas di dalam sana.
XXXX
Keesokan harinya, Erie menemui Tina. Tidak di rumah sang mantan sekretaris Elden itu, tetapi di sebuah kafe yang tak jauh dari bangunan yang kelak akan dijadikan Erie menjadi butiknya. Erie tiba duluan di kafe itu baru kemudian Tina datang menyusul ke sana.
“Selamat siang, Nyonya,” sapa Tina merasa sedikit kelu di lidahnya setiap kali memanggil Erie dengan sebutan ‘nyonya’. Tetapi ini harus karena ia tidak ingin menjalani hidup lebih hancur dari hidupnya hari ini.
“Bagaimana kabarmu, Tina?” tanya Erie sambil memperhatikan wajah Tina yang terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Tina masih memakai seragam kerjanya dan rambutnya juga sedikit berantakan. Sepertinya Tina berjalan terburu-buru ke kafe itu agar tidak membuat Erie menunggu lama. Sebab wanita itu merasa takut kalau ia membuat Erie marah, Elden akan bertindak lagi.
“Saya baik-baik saja, Nyonya. Ada perlu apa Anda memanggil saya?” ujar Tina ketus. Ia hanya memperbaiki cara bicaranya pada Erie, tetapi dalam hal blak-blakkan, Tina sama sekali tidak berubah.
“Maafkan aku karena harus memaksamu kemari dan mengganggu pekerjaanmu," sesal Erie.
Tina meringis di dalam hatinya. Kalimat yang disebutkan Erie selalu ia dengar dari para konglomerat di negara itu. Mereka hanya menyebutkan kata ‘maaf’ tanpa maksud apa-apa. Yah, sekedar basa-basi atau pemanis bibir saja.
Sama halnya dengan Erie. Tina merasa kalimat yang disampaikan perempuan itu juga hanya basa-basi. Ah, tidak. Lebih tepatnya semacam kalimat sindiran. Mungkin maksud di belakangnya adalah mengejek Tina yang tidak bisa melakukan apa-apa saat orang suruhan dari suami perempuan itu menghampiri tempat kerjanya hanya untuk mengancamnya agar mau menemui sang Nyonya tersebut.
“Tidak apa-apa Nyonya. Lagi pula saya juga sudah sampai ke sini,” timpal Tina.
Senyuman cantik terbit di bibir Erie. “Baiklah. Aku akan mulai saja intinya. Sebenarnya aku ingin membuka sebuah butik di sana,” ucap Erie sambil menujuk sebuah bangunan yang terlihat dari kaca jendela kafe. “Aku butuh seseorang untuk menjadi asistenku, dan kau adalah orangnya.”
Tina terbelalak. “Saya?” tanya tak percaya.
Erie mengangguk. “Iya. Aku memilihmu.”
“Ada banyak orang yang ada di sekitar Anda, Nyonya. Tapi mengapa Anda memilih saya?”
“Jawabannya sangat mudah Tina. Aku ingin membalas dendam.”
Tina tertawa hambar. Yah, beginilah orang kaya. Hanya karena mereka punya banyak uang, melakukan hal seenaknya kepada orang-orang yang tidak memiliki uang sepertinya menjadi perkara yang mudah.
“Dan kau tidak punya pilihan Tina. Ah, bukan. Maksudku, aku akan membuatmu tidak memiliki pilihan selain menerima tawaranku.”
“Bagaimana jika saya menolak?”
“Kau tahu bagaimana Elden akan memperlakukanmu bukan?”
Bulu kuduk Tina berdiri. Ia merinding membayangkan bagaimana Elden akan bertindak kepadanya. Tunggu dulu! Jika dipikir-pikir ini memang aneh. Elden hanya memecatnya dan memblokir semua kesempatan Tina untuk bekerja di perusahaan besar. Ini jelas berbeda dengan rumor yang mengatakan bahwa Elden adalah pria yang kejam. Atau jangan-jangan ini merupakan rencana dari perempuan yang ada di depannya itu?
“Benar itu adalah rencanaku,” ucap Erie tiba-tiba ketika mendapatkan tatapan curiga dari Tina. “Kau sudah merasakannya, kan? Apa kau tidak berpikir itu akan lebih buruk? Dengan mengikuti keinginanku, setidaknya kau akan aku gaji dengan jumlah yang sesuai. Mungkin sama dengan gaji yang kau dapatkan saat kau bekerja di kantor suamiku dulu.”
Tina berpikir sejenak. Beberapa saat kemudian wanita itu berujar, “Baiklah Nyonya. Saya akan menjadi asisten Anda.” Tidak ada pilihan lain bagi wanita lemah sepertinya selain mengikuti istri dari konglomerat yang paling disegani di negara ini.
“Bagus. Kau membuat keputusan yang tepat,” kata Erie sambil tersenyum.
XXXXXX
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman... Danke ^^
By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼