NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik kemudi

Suara deru mesin mobil merah mungilku terdengar membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan komuter pagi ini. Aku duduk di kursi penumpang dengan kedua tangan meremas tali tas ransel erat-erat di pangkuan. Di sebelahku, Mas Arkan fokus mengendalikan kemudi dengan gerakan tangan yang sangat tenang dan terlatih.

Melihat sosoknya yang tegap dan berwibawa mengenakan kemeja batik formal, namun duduk di balik kemudi mobil mungilku yang dipenuhi gantungan kunci karakter beruang lucu, memberikan pemandangan kontras yang sangat menggelitik.

"Mas... kita lewat jalan pintas setelah jembatan layang aja. Biasanya di sana agak sepi," ujarku memecah keheningan sembari melirik jam digital di dasbor mobil yang menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit.

Mas Arkan melirik kaca spion kanan sebelum memutar setir dengan mulus ke arah kiri. "Saya tahu jalan pintas yang lebih aman, Karin. Melalui area perumahan di sebelah barat laut, jalannya sedikit sempit tapi terhindar dari lampu merah yang sering macet."

"Oh, iya juga ya. Karin malah baru tahu ada jalan lewat sana," gumamku sembari menatap profil samping wajahnya yang terlihat sangat tampan tertimpa cahaya matahari pagi yang menembus kaca depan mobil.

"Makanya, biasakan bangun lebih pagi agar kamu tidak perlu panik mencari jalan pintas setiap hari," sindirnya halus, namun sudut bibirnya tampak tertarik ke atas membentuk senyuman tipis yang sangat menawan.

"Ih, kan Karin kesiangan juga karena semalam ngerjain revisi bab tiga yang Mas Arkan coret-coret pakai tinta merah itu sampai jam dua pagi!" keluhku spontan, membela diri dengan bibir mengerucut kesal.

Mas Arkan terkekeh pelan sebuah suara rendah yang terdengar begitu merdu di dalam ruang mobil yang sempit ini. "Revisi itu demi kebaikan draf kamu sendiri, Karin. Jika analisis data di bab tiga tidak kuat, kamu akan kesulitan saat menghadapi pertanyaan dosen penguji di ruang sidang nanti."

"Iya, iya, Pak Dosen yang paling perfeksionis," gerutuku pelan, namun diam-diam hatiku merasa sangat hangat mendengar perhatiannya yang terselubung di balik kedisiplinan akademisnya.

Mobil merahku melaju stabil melewati gang-gang perumahan yang rindang, memangkas waktu perjalanan kami dengan sangat efisien. Tepat pukul tujuh lewat lima puluh tiga menit, gerbang belakang kampus kami yang biasanya digunakan khusus untuk jalur masuk logistik dan dosen sudah terlihat di hadapan kami. Area di sekitar gerbang belakang ini relatif sangat sepi dibandingkan gerbang utama yang selalu dipadati oleh ratusan motor mahasiswa di pagi hari.

Mas Arkan menghentikan mobilnya di bawah bayangan pohon angsana besar yang rindang, sekitar lima puluh meter sebelum pos penjagaan gerbang belakang.

"Kita berhenti di sini," ujar Mas Arkan sembari menarik rem tangan dengan bunyi klik yang tegas. "Kamu turun dari sini dan berjalan kaki masuk lewat gerbang samping. Saya akan memutar mobil ini untuk parkir di area luar gedung administrasi agar tidak terlalu mencolok."

"Siap, Mas! Makasih banyak ya udah disetirin dan dibantu ngeringin rambut juga tadi," ujarku tulus, bersiap membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa.

"Karin, tunggu sebentar," panggil Mas Arkan tenang.

Aku menoleh kembali ke arahnya dengan tangan yang sudah memegang tuas pembuka pintu. "Iya, Mas?"

Mas Arkan melepas sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Tangan kanannya terulur ke depan, mendekati wajahku. Aku refleks memejamkan mata rapat-rapat dengan jantung yang mendadak berdegup kencang tak karuan, mengira ia akan melakukan sesuatu yang mendebarkan seperti di balik lemari arsip kemarin.

Namun, yang kurasakan kemudian adalah sentuhan lembut jemarinya yang merapikan kerah kemeja putihku yang sedikit melipat ke dalam di bagian dada sebelah kanan.

"Kerah kemeja kamu melipat ke dalam. Di kelas praktikum nanti, jaga sikap kamu dengan baik. Jangan biarkan Pak Bambang menemukan celah untuk menegur penampilan kamu," bisiknya dengan suara berat yang sangat lembut dari jarak dekat, membuat napas hangatnya kembali menyapu permukaan kulit pipiku.

Aku membuka mataku perlahan, menatap langsung ke dalam sepasang mata cokelat gelapnya yang teduh. "I-iya, Mas. Karin mengerti."

Mas Arkan menarik kembali tangannya, lalu mengangguk pelan. "Sekarang cepat masuk kelas. Sisa waktu kamu tinggal lima menit lagi."

"Daaah, Mas Arkan!" seruku sembari membuka pintu mobil dan melompat turun dengan gerakan yang sangat lincah, lalu berlari kecil menuju gerbang samping kampus tanpa berani melirik ke belakang lagi karena wajahku yang kuyakin sudah merah padam sempurna karena salah tingkah pagi ini.

Aku berhasil melangkah masuk ke dalam laboratorium Basis Data di lantai tiga gedung fakultas teknik tepat pukul tujuh lewat lima puluh delapan menit—hanya selisih dua menit sebelum pintu kayu lab dikunci rapat oleh Pak Bambang dari dalam.

"Hah... hah... untung sempat," gumamku sembari mengatur napas yang memburu di depan pintu masuk lab.

"Karin! Sini!" lambaian tangan Dinda dari barisan komputer nomor dua belas langsung menarik perhatianku.

Aku segera berjalan cepat menghampiri meja Dinda dan menduduki kursi kosong di sebelahnya, meletakkan ransel abu-abuku di bawah meja dengan helaan napas lega yang sangat panjang.

"Gila, Rin! Aku pikir kamu gak bakal masuk kelas hari ini," bisik Dinda heboh sembari menyodorkan selembar tisu ke arahku. "Tuh, keringat kamu sampai bercucuran gitu. Kamu lari dari gerbang depan ya?"

"Iya, Din. Tadi agak kesiangan bangunnya," sahutku bohong, menerima tisunya untuk mengusap keringat tipis di dahi.

"Eh, tapi tumben banget penampilan kamu rapi banget pagi ini," komentar Dinda tiba-tiba, matanya meneliti kemeja putihku yang bersih dan wangi lavender. "Rambut kamu juga halus banget dan wangi banget, kayak habis perawatan di salon mahal. Biasanya kan kalau kesiangan kamu bakal ke kampus dengan rambut acak-acakan kayak singa baru bangun tidur."

Mendengar pertanyaan kritis sahabatku, aku hampir saja tersedak air liurku sendiri. Tentu saja rapi dan wangi, Din. Wong yang ngeringin rambut dan merapikan kerah bajuku tadi pagi itu dosen pembimbing killer yang paling kamu takuti satu fakultas! batinku menjerit histeris dalam hati.

"A-ah, ini... tadi malam aku pakai masker rambut sebelum tidur, makanya jadi halus dan wangi begini," jawabku asal, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal untuk menghindari kecurigaannya.

"Oh, pantesan wangi banget sampai kecium ke tempat dudukku," sahut Dinda percaya begitu saja sebelum kembali fokus menyalakan layar monitor komputer di hadapannya karena sosok tegas Pak Bambang baru saja melangkah masuk ke dalam lab dengan membawa tumpukan modul praktikum baru.

Aku mengembuskan napas panjang secara perlahan, menyandarkan punggungku pada sandaran kursi sembari menyalakan komputerku sendiri. Aku menyentuh kerah kemeja putihku yang tadi dirapikan oleh Mas Arkan dengan ujung jemariku, merasakan sisa kehangatan dari sentuhan jemarinya yang seolah-olah masih tertinggal di sana. Kehidupan pernikahan kontrak kami yang penuh dengan rahasia dan momen-momen manis yang tak terduga ini benar-benar mulai membuat hatiku terasa sangat penuh dan sangat mendebarkan setiap harinya.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!