NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Melodi Kematian

"Benar, itu aku," jawab Edgard dingin tanpa menoleh. "Memangnya apa yang kau inginkan dariku sekarang? Tanggung jawab? Atau kompensasi uang? Jika kau menginginkan hal yang pertama, jangan pernah bermimpi karena itu mustahil kulakukan. Namun, jika kau hanya menginginkan uang, aku akan memberimu berapa pun nominal yang kau minta. Asalkan... kau bisa memastikan bahwa rahimmu tidak mengandung anakku. Setelah itu, aku akan membiarkanmu pergi."

"Keparat kau! Aku tidak membutuhkan keduanya, apalagi uang harammu, Berengsek!" raung Elara penuh emosi.

Rasa trauma dan harga dirinya yang diinjak-injak membuat sang Siren kehilangan kendali. Dari kursi belakang, Elara langsung merangsek maju dan menjambak kuat-kuat tudung hoodie yang dikenakan Edgard, menarik kepala pemuda itu ke belakang dengan sisa seluruh tenaganya.

"Aku hanya ingin kau mati!"

Sontak, Edgard yang sama sekali tidak memiliki persiapan apa pun kehilangan kendali atas setir mobilnya. Beruntung, instingnya bergerak cepat untuk menginjak pedal rem dalam-dalam, tepat saat mereka memasuki sebuah jalanan sepi yang diapit oleh hutan lebat di kedua sisinya.

Ckiitttt!

Ban mobil berdecit keras bergesekan dengan aspal sebelum kendaraan itu berhenti mendadak secara kasar.

"Hei, kau gila?! Bagaimana jika kita kecelakaan dan mati bersama?! Lepaskan tanganmu dari kepalaku, Bodoh!" bentak Edgard murka, berusaha melepaskan cengkeraman maut Elara dari tudung hoodie-nya.

"Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Tidak sampai aku melihatmu mati di tanganku sendiri!" teriak Elara menggelegar, suaranya sarat akan keputusasaan dan dendam yang telah mencapai puncak.

Cengkeraman tangannya kian mengencang. Tidak berhenti sampai di situ, sang Siren yang telah kehilangan seluruh akal sehatnya itu juga mencakar habis wajah tampan Edgard menggunakan kuku-kukunya yang tajam. Guratan luka merah seketika menodai kulit pucat sang Werewolf, membuat pemuda itu meringis perih saat darah segar mulai menetes.

"Arghhh! Sialan kau!" umpat Edgard, menggeram beringas menahan perih di wajahnya. "Berhenti, bodoh! Jangan sampai aku kehilangan kendali serigalaku dan menghabisimu di tempat ini sekarang juga! Aku tidak mau mengotori interior mobilku dengan darah amismu yang menjijikkan itu!"

Srett!

Menggunakan kecepatan insting Werewolf-nya, Edgard bergerak cepat memutar tubuh. Dengan satu hentakan bertenaga, sepasang tangannya yang kokoh berhasil mengunci pergerakan kedua pergelangan tangan Elara, menghentikan serangan brutal gadis itu.

"Lepaskan aku, bajingan!" teriak Elara, meronta-ronta sekuat tenaga di bawah kungkungan Edgard.

Namun, Edgard tidak memedulikan makian tersebut. Dengan tatapan mata yang telah berkilat kejam, ia melompat dari kursi kemudi ke jok belakang. Tanpa membuang waktu, Edgard menyambar kasar tubuh rapuh Elara, membuka pintu mobil, lalu menyeret sang Siren keluar secara paksa dari dalam kabin.

Brak!

Edgard menendang pintu mobilnya hingga tertutup rapat dengan sangat keras menggunakan kaki kanan. Lalu, tanpa menghiraukan jeritan histeris dan rontaan Elara, ia memapah paksa tubuh gadis itu menyeberangi jalanan sepi yang beraspal panas. Langkah kakinya yang lebar menuntun mereka masuk, menerobos jajaran pohon tinggi ke arah pedalaman hutan lebat yang teramat sunyi di tepi jalan.

"Kau mau membawaku ke mana, keparat?!" bentak Elara panik. Napasnya memburu cepat, namun sepasang matanya tidak menyiratkan rasa takut sedikit pun.

"Bukankah tadi kau bilang ingin menghabisiku?" sahut Edgard dengan nada dingin yang menusuk, terus menyeret Elara tanpa sudi menoleh sedikit pun ke arah wajah korbannya. "Tujuanku mengantarmu pun kini sudah berubah sama. Aku juga akan menghabisimu di dalam hutan ini, di tempat di mana tidak akan ada satu makhluk pun yang bisa menemukan jasadmu."

Kumohon... berikan aku sedikit kekuatan, wahai Penguasa Lautan. Kembalikan melodi Siren-ku, walau hanya untuk sesaat, ratap Elara pilu di dalam hatinya.

Gadis itu memejamkan mata erat-erat di sela seretan kasar Edgard. Ia fokus mengumpulkan sisa-sisa energi bawaan ras samudra yang sudah lama mati dan terkunci rapat di dalam tubuhnya, akibat ramuan kutukan yang pernah dicekokkan oleh Helios di masa lalu. Elara memusatkan seluruh rasa sakit, trauma, dan dendamnya ke dalam tenggorokan.

Gadis itu berdeham pelan beberapa kali untuk membersihkan suaranya, berhati-hati agar tidak memancing kecurigaan sang Werewolf. Merasa pasokan energi magis samudra mulai berdesir hangat di dadanya, Elara menarik napas panjang, membuka mulutnya, dan mulai melantunkan sebuah senandung mistis yang menggetarkan udara hutan.

Oh, amukan ombak yang mendekap malam...

Bawalah raga yang angkuh ke dasar kelam...

Tenggelam dalam tidur yang tak berkesudahan...

Hancurlah kau, jiwa yang penuh dosa dan noda kekejaman...

Suara Elara yang semula parau mendadak berubah menjadi alunan melodi magis yang teramat indah, jernih, namun sekaligus menyiratkan hawa kematian yang pekat.

Gelombang suara Siren tersebut mengalir membelah keheningan hutan lebat, bergema di antara pepohonan kuno, dan langsung menghujam indra pendengaran tajam milik Edgard.

Efek mistis dari nyanyian itu seketika meracuni sistem saraf sang Werewolf. Langkah tegap Edgard mendadak goyah. Kepalanya terasa dihantam oleh rasa pening yang luar biasa, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di otaknya tersedot habis. Pandangan matanya mengabur, dipenuhi oleh ilusi visual seolah dirinya sedang diseret paksa masuk ke dalam gulungan ombak samudra yang dingin dan menenggelamkan.

"Argh... s-suara apa ini?!" erang Edgard tertahan.

Cengkeraman tangan kekarnya pada lengan Elara seketika melonggar seiring pertahanan tubuhnya yang runtuh digerogoti melodi kematian tersebut.

Edgard meremas kepalanya dengan frustrasi, lalu menutup kedua telinganya kuat-kuat. Namun, usahanya sia-sia. Frekuensi melodi mematikan itu telah merembes masuk ke pusat sarafnya dan terlampau mustahil untuk diredam oleh benda apa pun.

Melihat sang predator malam kini meringkuk tak berdaya, Elara terus mengalunkan senandungnya. Dalam hati, sang Siren menyeringai puas penuh kemenangan. Kekuatan magis yang selama ini dirindukannya kini telah kembali pulang ke dalam nadinya.

"Hentikan! Berhenti bernyanyi, sialan!" teriak Edgard dengan sisa kesadaran yang kian menipis.

Ia berlutut pasrah dengan kedua tangan yang masih menjepit telinganya erat-erat. Namun, Elara tidak menghiraukan lolongan tak berdaya itu. Gadis itu terus bernyanyi, menaikkan tempo melodinya hingga seisi hutan terasa berdengung magis.

Efeknya instan. Tubuh kekar Edgard seketika mematung layaknya patung lilin tanpa jiwa. Jeritan amarahnya senyap. Pandangan matanya berubah kosong, menatap lurus tanpa fokus.

Sang Werewolf bangsawan kini berdiri kaku bagaikan robot rusak, kehilangan seluruh kehendak bebasnya dan bersiap menerima perintah mutlak dari sang putri samudra.

Elara terus bernyanyi tanpa memutus kontak batinnya dengan Edgard. Ia melangkah mundur secara perlahan, menuntun Edgard menembus kegelapan hutan yang kian dalam.

Edgard bergerak patuh, melangkah seragam mengikuti ke mana pun arah vokal Elara menuntunnya. Hingga akhirnya, langkah kaki Elara terhenti tepat di bibir sebuah tebing curam yang sangat dalam dan gelap di ujung hutan.

Di tepi jurang maut tersebut, Elara mengubah senandungnya menjadi sebuah lirik lagu kematian berbahasa samudra kuno yang sarat akan hipnotis mutlak:

"Laa... vaa... meryaa... menjauhlah dari daratan... melompatlah ke dalam pelukan samudra terdalam... dan tidurlah selamanya..."

Lirik gaib itu mengalun bagai perintah suci di dalam tempurung kepala Edgard. Di bawah pengaruh hipnotis total, Edgard mengangkat kaki kanannya, bersiap melangkah maju untuk melompat bebas ke dalam dasar tebing yang menganga maut di hadapannya.

Namun, tepat di detik yang paling krusial, aliran kehangatan di pembuluh darah Elara mendadak terhenti secara kasar. Rasa nyeri yang teramat sangat seketika menghantam dadanya, membuat kerongkongannya mendadak kering dan tercekat parah.

Uhuk! Uhuk!

Suara nyanyian Elara terputus seketika. Efek racun Helios yang belum sepenuhnya bersih dari tubuhnya kembali bereaksi, mengunci rapat pita suaranya dan melenyapkan melodi Siren itu dalam sekejap mata. Keheningan hutan kembali senyap secara mendadak.

Elara seketika dirundung kepanikan hebat. Ia memegangi lehernya sendiri, berusaha keras memaksakan suara untuk keluar, namun yang terdengar hanyalah desis parau yang tak berarti.

Di saat yang bersamaan, kabut tebal yang mengurung pikiran Edgard mendadak sirna.

Sepasang manik mata sang Werewolf yang tadinya kosong, seketika menyala merah benderang karena murka yang luar biasa. Tepat satu jengkal sebelum kakinya melangkah jatuh ke dasar jurang, Edgard berhasil tersadar sepenuhnya. Ia menatap ke bawah tebing yang curam, lalu menoleh lambat ke arah Elara dengan napas memburu hebat dan aura membunuh yang meledak liar.

Tidak ada pilihan lain bagi Elara. Begitu menyadari insting bahaya yang mengancam nyawanya, ia segera berbalik arah dan berlari sekuat tenaga menembus kegelapan hutan.

Namun, usaha pelariannya itu berujung sia-sia.

Di belakang sana, Edgard justru berjalan santai tanpa kepanikan sedikit pun. Detik berikutnya, atmosfer hutan mendadak bergolak pekat saat sang bangsawan Blue Light Pack memutuskan untuk melakukan shifting—mengubah wujudnya ke mode Werewolf murni.

Krakkk! Krakkk!

Suara derak tulang yang bergeser secara ekstrem terdengar begitu mengerikan memecah kesunyian malam. Otot-otot tubuh Edgard robek dan membesar, bertransformasi penuh ke sisi serigalanya yang bernama Elias—sesosok serigala raksasa berbulu biru terang yang memancarkan pendaran magis yang mengintimidasi.

"Larilah, Siren... Larilah sejauh yang kau bisa!"

1
falea sezi
lanjutt donk
falea sezi
🤣🤣 anak siapa nanti anak raja vampir apa srigala 🤣🤣 jd lacur aja murahan sih
falea sezi
kenapa semua ngira elara jodohnya🤣 bkin haremm mau nyaingin Elisa kah bersuami banyak🤣🤣
falea sezi
novel fiksi sebagus ini kenapa baru nemu🤭
falea sezi
bejat lu elgar
falea sezi
wah Siapakah jodoh elara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!