Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Teror Fajar di Pos Surogento
Fajar belum sepenuhnya pecah di langit Blambangan, namun kabut tebal yang turun dari lereng Gunung Raung telah menyelimuti Benteng Sayap Barat—markas pertahanan garda depan yang dipimpin oleh Senopati kembar, Surogento dan Suroganti.
Tempat ini merupakan benteng batu kokoh yang memutus jalur perdagangan utama menuju pusat ibu kota kadipaten.
Di atas menara pengawas benteng, obor-obor minyak berderit ditiup angin pagi yang dingin.
Para prajurit jaga berdiri dengan tombak tegak, namun mata mereka tampak layu karena kantuk—mereka tidak tahu bahwa beberapa jam lalu, kabar kematian Senopati Ronggolawe telah membuat sang Adipati di istana pusat murka sekaligus ketakutan setengah mati.
Sret. Sret.
Dari balik kabut tebal di luar gerbang benteng, dua bayangan manusia berjalan dengan tenang. Langkah kaki mereka begitu sunyi, seolah-olah mereka tidak menapak pada tanah berbatu, buah dari penguasaan sempurna Ajian Langkah Sunyi.
Satria Pamungkas berjalan di depan, tangan kanannya bertumpu santai pada gagang Pedang Bintang Tujuh Kedewaan yang tergantung di punggungnya—jubah hitamnya tampak menyatu dengan kegelapan fajar.
Di sampingnya, Dyah Sekar Ayu melangkah dengan keanggunan seorang dewi perang. Wajah aslinya yang luar biasa cantik kini sengaja diperlihatkan tanpa penyamaran; Satria ingin seluruh Blambangan melihat bahwa Putri Mahkota Kadiri kini berdiri di pihaknya sebagai tanda keruntuhan legitimasi Adipati mereka.
"Siapa di sana?! Berhenti atau kami panah!" teriak seorang penjaga dari atas dinding batu setelah menyadari kehadiran dua sosok misterius tersebut.
Satria tidak berhenti. Ia terus melangkah maju hingga jaraknya hanya tersisa tiga puluh langkah dari gerbang kayu jati berlapis besi setebal satu jengkal. Di bawah bayangan caping bambunya, mata hitam Satria berkilat dingin.
"Sistem, aktifkan fungsi pemetaan formasi pertahanan musuh," perintah Satria di dalam hati.
[Bip! Menampilkan Denah Benteng Sayap Barat:]
Target Utama: Senopati Surogento & Senopati Suroganti (Ranah Satria Tahap 8). Memiliki Ajian Kembar Sukmo (Resonansi Prana pengganda daya hancur).
Target Tambahan: 150 Prajurit Pertahanan (Ranah Wira Tahap 3).
Saran Taktis: Gunakan ketajaman Pedang Bintang Tujuh Kedewaan bersama Ajian Pedang Pembelah Lautan untuk menghancurkan gerbang utama dalam satu serangan kejutan.
Satria tersenyum kejam. Sifatnya yang pragmatis tidak menyukai negosiasi atau gertakan kosong. Ia langsung mencengkeram gagang pedang hitamnya.
Sreeeng!
Suara logam yang ditarik bergema nyaring, disusul oleh menyalanya tujuh permata rasi bintang di bilah pedang. Cahaya perak yang benderang seketika mengusir kabut tebal di sekitar gerbang benteng. Satria mengalirkan Prana dari Ranah Wira Tahap 7 miliknya yang telah diperkuat oleh esensi Darah Suci Dewi Sri hasil penyelarasan semalam.
"Ajian Pedang Pembelah Lautan... Tebasan Pertama!"
Satria mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas secara vertikal. Berkas cahaya biru keperakan raksasa setinggi lima meter melesat dari bilah pedang, memotong tanah batu hingga terbelah dua dan menghantam langsung ke arah gerbang utama benteng.
BLAAAAM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh area benteng. Gerbang kayu jati berlapis besi yang diklaim mampu menahan hantaman meriam kuno itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil.
Tidak hanya itu, dua menara pengawas di sisi gerbang ikut runtuh akibat gelombang kejut yang dihasilkan, melemparkan para prajurit jaga ke tanah dalam kondisi tewas seketika dengan tubuh hancur.
"Serangan musuh! Serangan musuh!" Jerit kepanikan langsung pecah di dalam benteng. Suara genderang perang dipukul bertalu-talu, memecah kesunyian fajar.
Satria melangkah melewati puing-puing gerbang yang masih berasap, diikuti oleh Dyah Sekar Ayu yang selendang sutra hijaunya sudah mulai melambai-lambai dialiri energi murni Ranah Satria Tahap 3.
Dari dalam barak, ratusan prajurit Blambangan berlarian keluar dengan zirah yang belum terpasang sempurna. Namun, gerakan mereka langsung terkunci ketika melihat pemuda berjubah hitam yang memegang pedang rasi bintang berjalan mendekat bagai malaikat pencabut nyawa yang keluar dari perut bumi.
"Bajingan cilik! Berani sekali kau meratakan bentengku!" Sebuah raungan kembar terdengar dari arah bangunan utama benteng.
Dua orang pria dengan wajah yang identik melompat turun dari atap bangunan. Mereka berdua mengenakan pakaian perang berwarna merah darah, memegang sepasang pedang kembar pendek di tangan masing-masing. Aura Prana mereka berdua saling terhubung, membentuk sebuah pusaran energi merah yang sangat pekat di sekitar tubuh mereka—Surogento dan Suroganti.
Namun, saat mata kembar itu melihat sosok wanita di samping Satria, wajah mereka yang tadinya penuh amarah langsung berubah menjadi syok yang mendalam.
"Dyah... Dyah Sekar Ayu?! Putri Mahkota Kadiri?!" Surogento terbelalak. "Mengapa Anda berada di pihak pengkhianat ini?!"
Sekar Ayu maju satu langkah, menatap mereka dengan sepasang mata es utaranya yang penuh dengan keangkuhan seorang penguasa tertinggi. "Di mataku, yang menjadi pengkhianat adalah Adipati kalian yang berani mengirim pembunuh bayaran untuk mengincar nyawaku di perbatasan. Hari ini, Satria Pamungkas bertindak atas namaku untuk membersihkan sampah-sampah Blambangan!"
Mendengar pernyataan tegas dari sang putri, mental para prajurit Blambangan yang berada di halaman benteng langsung runtuh setengahnya. Mereka tahu, jika Kadiri sudah terlibat secara resmi, maka Kadipaten Blambangan berada di ambang kehancuran mutlak.
[Bip! Pernyataan Heroine memicu efek: 'Legitimasi Penakluk'.]
[Aura Intimidasi meningkat 200% terhadap pasukan Blambangan!]
[Mendapatkan: 5.000 Poin Sistem secara instan dari kepanikan massal.]
Satria tidak ingin menyia-nyiakan momentum yang diciptakan oleh bidak cantiknya. "Surogento, Suroganti... gunakan ajian terbaik kalian sekarang, atau kalian tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mencabut pedang kalian lagi."
"Sombong! Kakak, aktifkan Ajian Kembar Sukmo! Kita cincang bocah ini menjadi makanan anjing!" teriak Suroganti dengan mata memerah karena terhina.
Kedua saudara kembar itu melesat maju secara serentak. Gerakan mereka sangat sinkron, berganti posisi di udara dengan sangat cepat hingga menciptakan ilusi belasan bayangan merah yang mengepung Satria dari segala arah. Sepasang pedang pendek mereka memancarkan hawa panas yang membakar udara, mengincar titik-titik lemah di leher dan jantung Satria.
Ajian Kembar Sukmo: Tebasan Seribu Bayangan Merah!
Satria berdiri diam di tengah kepungan bayangan tersebut. Di bawah perlindungan caping bambunya, matanya yang tajam telah diperkuat oleh Intuisi Dewi Sri yang baru saja didapatnya dari Sekar Ayu. Baginya, gerakan cepat yang membingungkan orang biasa itu kini tampak melambat seperti gerakan siput.
Sret!
Satria mengaktifkan Ajian Kebal Jolo Sutro secara pasif, membiarkan tubuhnya dilapisi kilau perunggu samar. Ia tidak menangkis serangan pedang kembar yang mengincar dadanya, melainkan mengayunkan Pedang Bintang Tujuh Kedewaan dalam sebuah putaran melingkar yang sangat bersih.
Cring! Cring!
Dua bilah pedang pendek milik Surogento dan Suroganti menghantam dada Satria, namun suara yang terdengar bukanlah robekan daging, melainkan dentingan logam yang keras seolah-olah mereka memukul dinding baja suci. Senjata mereka berdua memercikkan api dan langsung retak.
"Apa?! Kulit macam apa ini?!" Surogento berteriak histeris.
"Sudah kubilang, gerakan kalian terlalu lambat," bisik Satria dingin.
Bilah hitam Pedang Bintang Tujuh Kedewaan melesat melewati leher kedua saudara kembar itu dalam satu gerakan putaran yang kontinu.
Kecepatan dan ketajaman pedang tingkat ghaib itu, ditambah dengan peningkatan penguasaan jurus pedang Satria yang kini mencapai 35%, membuat pertahanan Prana merah milik mereka berdua terpotong seperti lembaran kertas tipis.
Crass!
Dua kepala dengan wajah identik melesat ke udara, memuntahkan darah segar yang membasahi lantai batu halaman benteng. Tubuh Surogento dan Suroganti ambruk secara bersamaan, mengakhiri reputasi legendaris mereka sebagai penjaga sayap barat Blambangan hanya dalam satu kali benturan takdir.
Satria membalikkan badannya perlahan, menatap ke arah seratus lebih prajurit Blambangan yang tersisa di halaman benteng. Mereka semua berdiri mematung dengan senjata yang hampir terlepas dari tangan mereka. Senopati kembar kebanggaan mereka telah tewas dalam satu jurus.
"Siapa lagi yang ingin maju?" tanya Satria, suaranya yang datar berpadu dengan tetesan darah yang jatuh dari ujung pedang hitamnya, menciptakan suasana horor yang mutlak di bawah langit fajar Blambangan yang kian memerah.