Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.
Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."
Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.
Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Macan
Macan (narasi)
Bro, waktu gue lihat cewek itu di depan gue, jantung gue sampai kacau ritmenya, gila banget. Belum pernah gue ngerasain yang kayak gitu. Gue bawa dia ke Sel X gue. Tiap hari kunjungan intim, sel itu gue pakai sendiri, karena di sini gue bos beneran. Gue udah suruh perempuan kiriman itu kerja, dan dia malah bilang dia masih perawan. Bro, gue nggak percaya. Cewek 19 tahun, secantik itu, masih perawan? Lo gila apa. Gue lembut sama dia, hal yang nggak pernah gue lakuin ke cewek mana pun, dan gue nggak perlu maksain diri. Gue lakuin itu karena emang pengin. Gue nggak pernah nyium pelacur mana pun, tapi mulut dia kayak manggil-manggil gue, dan ciumannya enak banget, sialan. Gue udah bilang ke dia, gue mau dia nurut. Kalau gue udah bosen, baru gue lepas. Tapi cewek itu emang kurang ajar, dan dia keluar dari sini dengan muka kesal sama gue.
Setelah para pengunjung pulang, para napi berdiri di lorong nunggu penggeledahan, baru habis itu kami dibolehin balik ke sel. Bayangin aja berantakannya, mereka bongkar semuanya.
Selesai beresin Sel X, gue mandi, pakai baju, lalu ambil ponsel gue yang disembunyiin di dasar termos. Gue buka tutup termosnya, ambil ponsel sama charger-nya, langsung gue colok, lalu telepon Kerempeng.
📱
"Woi bro, aman?"
"Woi Macan, aman-aman aja. Gimana kunjungannya?" tanyanya sambil ketawa.
"Aman, tapi tu cewek kurang ajar banget. Bentar lagi gue beresin kurang ajarnya itu." Gue ngomong gitu, dan dia ketawa.
"Kalau gitu gue mau lo kasih tahu semua orang, cewek itu atas namaku. Gue nggak mau ada bajingan mana pun yang ngerubungin dia, ngerti?" kata gue.
"Kenapa, Bang, lo jatuh cinta sama si cantik itu?" Dia ketawa lagi.
"Brengsek lo. Kerempeng, lakuin aja yang gue suruh, dan gue mau tahu semua yang dia kerjain." kata gue.
"Oke, serahin ke gue." Lalu dia bilang, "Tapi gini, kunjungan berikutnya gue kirim cewek lain, ya. Si Cantika udah gila pengin ke sana."
"Bilangin ke Cantika, gue udah nggak butuh dia. Kirim Rana aja sekarang. Kalau gue pengin cewek lain, nanti gue kasih tahu." kata gue.
"Siap. Tapi lo harus tahu, Cantika nggak pernah keluar dari rumah kita, dan Mak udah manggil dia menantu." katanya.
"Persetan sama dia. Gue nggak pernah ada apa-apa sama dia, dan dia tahu itu. Gue udah bilang jelas dari dulu. Terus pasang satu penjaga buat ngikutin Rana. Gue nggak mau ada pelacur yang sok berani nyenggol dia." kata gue.
"Beres, Bang."
"Gue tutup dulu. Hati-hati." Gue bilang gitu lalu mematikan ponsel. Nggak lama nasi bungkus kami datang. Makanan di sini nggak enak, tapi mau gimana lagi, makan atau mati kelaparan. Habis itu gue rebahan dan ketiduran. Gue bangun udah malam, lalu gue sama Dekil ngobrolin rencana kabur kami. Gue udah nggak sabar, semuanya udah siap, tinggal nunggu jadwal sidang kami ditetapkan. Pas lagi ngobrol, ponsel gue bunyi dan gue angkat di dering kedua.
📱
"Ngomong, Bocil," kata gue.
"Bos, lo nyuruh gue kasih tahu semua yang dikerjain cewek itu. Dia kerja di kedai Pak Mansur sekarang, dan anak-anak semuanya ngeliatin dia, pada ngiler sama tu cewek." katanya, dan gue langsung panas.
"Makasih, Bocil. Jangan ke mana-mana, kalau ada apa-apa kabarin gue." kata gue, lalu menutup telepon.
"Ada masalah?" tanya Dekil, ngeliat muka kesal gue.
"Si cantik itu udah mulai bikin ulah. Cewek nekat, bro. Lo bisa dapetin nomornya dari bini lo buat gue?" kata gue.
"Gue urus." katanya.
Nggak lama dia ngasih nomornya, gue ambil, dan langsung gue telepon saat itu juga.
Rana (narasi)
Aku sampai di kedai Pak Mansur dan langsung mulai kerja. Malam ini penuh, karena ada pertandingan bola, jadi semua bandar datang ke sini buat nonton sambil minum. Aku dapat banyak rayuan, tapi seperti biasa aku cuek, memang tidak peduli. Aku lagi melayani satu meja ketika cowok yang bagian minuman memanggilku.
"Rana, ponselmu bunyi terus dari tadi." katanya.
"Makasih, Dedi. Aku angkat dulu, siapa tahu dari rumah sakit."
Aku cepat-cepat keluar ke bilik kecil tempat aku menaruh tasku, dan mengambil ponselku. Sudah ada delapan panggilan tak terjawab, dan aku langsung cemas, mengira ada apa-apa dengan nenekku. Ponselku bunyi lagi dan langsung kuangkat.
📱
"Halo." kataku, sudah cemas sekali.
"Lo pikir lo lagi ngapain, hah, perempuan sialan." Kudengar suara serak itu, yang bikin seluruh tubuhku merinding. Aku tarik napas dalam-dalam, lalu menjawab.
"Maksudmu apa, Macan?"
"Gue udah bilang gue nggak mau lo kerja di situ. Lo tuli?" Dia berteriak.
"Pertama, aku bukan apa-apamu, jadi nggak usah marah-marah ke aku. Kedua, aku sudah kerja dari dulu, aku butuh kerjaan ini, akulah yang menghidupi rumahku." kataku, sudah kesal sekali.
"Gue nggak mau lo kerja. Udah gue bilang, apa pun yang lo butuhin gue kasih, sialan. Udah gue bilang, kamu atas namaku. Apa pun yang mau lo lakuin harus minta izin gue dulu, ngerti?" Dia berteriak lagi.
"Kamu pasti sudah gila. Aku bukan barang yang bisa kamu perlakukan sesukamu. Tolong biarkan aku tenang. Kesepakatan kita cuma aku datang untuk kunjunganmu, selesai. Jangan ganggu aku." Aku bilang begitu dan langsung kumatikan ponselnya. Dia pikir dia siapa.
Kumatikan ponselku dan kembali bekerja. Aku keluar dari kedai Pak Mansur hampir jam dua pagi, lalu jalan kaki pulang. Aku punya firasat ada yang mengikutiku. Aku menoleh ke belakang dan melihat seorang pengecer di belakangku. Aku mempercepat langkah, masuk rumah, dan mengunci pintu. Dari dalam kulihat dia sudah ada di depan rumahku, duduk di trotoar dan diam di situ. Sialan, jangan-jangan dia menyuruh orang buat mengawasiku.