Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.
Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.
Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.
Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.
Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.
Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - Ane Smith
Ane Smith
Setiap hari aku berjalan kaki ke tempat kerja. Perjalanannya jauh, dan aku selalu tiba dalam keadaan kelelahan. Aku mengambil kerja harian untuk membayar kebutuhan kami dan bekerja sebagai pelayan paruh waktu. Aku sudah tidak lagi pergi ke sekolah, meski pelajaranku di rumah tetap kujaga. Belajar lewat korespondensi adalah satu-satunya pilihanku dengan semua pekerjaanku sepanjang hari.
Aku tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa, seperti anak biasa, tapi itu pun tidak merenggut kegembiraanku, karena aku tahu suatu hari semuanya akan lebih baik.
Kukira setelah orangtuaku meninggal, hidupku akan membaik. Aku tidak pernah menginginkan kematian mereka. Sebenarnya aku menyayangi mereka, apa pun yang terjadi. Atau setidaknya kurasa begitu. Tapi aku melihat penderitaan kakakku, dan melihat bagaimana ibuku tenggelam dalam narkoba dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada malam hari. Meski ingatanku hanya serpihan-serpihan. Aku masih sangat bingung soal kenangan-kenangan itu. Tapi kakakku banyak membantuku melewatinya. Aku berutang segalanya padanya.
Meski dia sering menyakitiku. Dia selalu ada di sisiku setiap kali aku butuh bantuan. Saat dia harus menanggung tanggung jawab merawat seorang anak, padahal dia sendiri belum keluar dari masa remaja.
Anehnya, kurasa dia juga orang yang paling banyak melukaiku di dunia ini, tapi bahkan itu tak akan membuatku menjauh darinya.
Aku tidak mengerti kenapa dia begitu membenciku. Kadang aku bertanya-tanya apa kesalahanku. Apa kelahiranku merugikannya dengan cara tertentu? Tapi itu bukan masalah, aku akan menjaganya sebisaku, selama diperlukan, sampai dia mengerti bahwa aku bukan musuhnya.
Aku tiba di tempat kerjaku hari ini. Sebuah hotel besar di Manhattan. Aku menggantikan pekerjaan teman kakakku yang terlalu mabuk untuk masuk kerja. Tempat semewah ini seharusnya tidak membiarkan orang asing menyusup ke kamar-kamar, tapi kakakku memaksaku datang, jadi aku harus menanggung risikonya. Kalau sampai ada yang menghentikanku di lobi, semoga aku tidak berakhir ditahan atau dikira kriminal. Itu akan memalukan, lagi-lagi.
"Selamat pagi, Tuan. Saya akan membersihkan kamar-kamar di lantai atas."
"Pergi sana, tidak lihat kau mengganggu tamu? Lain kali masuk lewat pintu servis dan pakai tanda pengenalmu." Dia bicara tanpa menoleh sedikit pun saat aku lewat di depannya.
Hanya jadi karyawan membuatmu tak terlihat. Pasti dia bahkan tidak melihat wajahku, pasti dia bahkan tidak kenal karyawan yang bekerja di hotel ini. Keamanan tempat ini rasanya lemah kalau para penjaga pintu membiarkan siapa saja lewat begitu.
Aku naik lift servis, mengambil troli pembersih dan kartu induk untuk membuka pintu kamar. Kumulai membersihkan seluruh kamar di lantai penthouse. Kamarnya besar-besar, masih tersisa suite presidensial dan aku sudah sangat lelah. Aku masuk dan terpesona oleh dekorasinya. Indah sekali, lebih elegan dari kamar-kamar lain. Kubersihkan semuanya, kuganti seprainya. Siapa pun yang tidur di sini pasti sangat rapi, tidak ada satu benda pun yang salah tempat, pakaian tertata sempurna di walk-in closet. Aku berjalan ke kamar mandi, berusaha membuatnya semakin tak bercela. Kubersihkan bak jacuzzi raksasa sambil membayangkan nikmatnya berendam di sana setelah hari yang melelahkan seperti ini.
Kudengar suara pintu menutup. Aku takut. Seseorang masuk ke kamar mandi dan bahkan tak melihatku yang berlutut membersihkan ruangan.
"YA TUHAN. Per-permisi, Tuan. Saya keluar sekarang." Mataku terbelalak, meski aku berusaha tak memperhatikan apa yang sekilas sudah kulihat.
Tapi pria itu sepertinya tidak menyadariku. Seolah aku tak kasatmata, dan pada saat itulah dia menyadariku untuk pertama kali. Dia terkejut melihatku di sana, berbalik ke arahku dan aku bisa melihat kejantanannya...
"Kau bukan pegawaiku. Katakan apa yang kaulakukan di sini sekarang."
"Saya, saya..."
"Bicara kalau tidak mau keluar dari sini dalam peti mati." Katanya sambil mengenakan pakaian dan menarik lenganku ke kamar tidur.
"Tolong, jangan sakiti saya. Saya hanya menggantikan Karen. Dia sakit dan tidak ingin pekerjaannya terbengkalai."
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini? Jawab jujur atau aku..." Dia menarik napas dalam-dalam. Sepertinya dia sedang menahan dorongan untuk memukulku.
"Saya bicara jujur, tolong lepaskan saya. Penjaga pintu Anda yang membiarkan saya naik, dia bahkan tidak menoleh waktu saya masuk. Anda bisa periksa, semuanya bersih, tidak ada yang hilang."
Dia melepaskanku, tampak berpikir. Dia mondar-mandir gelisah di kamar. Mengambil ponsel dan mengetik pesan untuk seseorang.
Jantungku semakin berdebar kencang. Aku nyaris tak bisa bernapas saking takutnya.
"Boleh saya pergi?" Bibirku gemetar saat bertanya, tapi aku segera menciut ketika menerima tatapan penuh kebencian yang terasa lebih mengerikan karena panikku.
"Aku sedang menunggu telepon. Tetap di tempatmu." Dia menunjuk lantai, dan aku merasa seakan di situlah tempat yang menurutnya pantas bagiku.
Aku terduduk di lantai setelah dia membuatku terjatuh waktu menyeretku dari lenganku. Air mata mengalir di wajahku. Aku begitu takut dipenjara karena alasan apa pun, hanya karena kesal dia. Atau mungkin karena dia mengira aku menyusup ke rumahnya. Ini mengerikan. Aku tidak pernah mencuri apa pun dari siapa pun.
"Tuan, nama saya..."
"Aku tidak bertanya namamu..." Saat itu ponselnya berdering. "Ya, bicaralah. Jadi informasinya cocok... Panggil Karen ke sini dan cari tahu siapa penjaga pintu shift ini."
Aku menatapnya ketakutan, takut dia akan memanggil polisi.
"Tuan, boleh saya pergi sekarang?"
"Pergi, dan aku tidak mau melihatmu di sini lagi."
Dia melempar dua lembar uang seratus dolar ke lantai dengan sikap menghina, seolah aku sampah, lalu membuka pintu kamar agar aku keluar saat itu juga. Dalam situasi lain aku tak akan memungut uang itu, tapi aku butuh. Dua ratus dolar bisa jadi pembeda antara malam yang tenang dan malam menangis setelah dipukuli.
"Terima kasih, Tuan." Kataku sambil pamit keluar.