**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Perjalanan Panjang ke Magelang
Malam menelan Kirana bersama bus antarkota yang membawanya keluar dari Surabaya.
Ia tidak mengenakan satu pun pakaian yang biasa dipilihnya. Gaun, sepatu berhak, dan tas kulit disimpan di dasar koper. Untuk perjalanan ini ia memakai tunik longgar yang warnanya mulai pudar, celana katun, sandal datar, dan kerudung lebar yang menutupi sebagian wajah.
Uang tunai dibaginya ke tiga tempat. Sedikit di dompet lusuh, sisanya di kantong rahasia pada pinggang dan di balik lapisan koper. Perhiasan Ratna dibungkus kain lalu diselipkan bersama sertifikat dan surat lama. Gelang bayi berukir nama Rangga masuk ke saku dalam tas yang tidak pernah lepas dari pelukannya.
Di terminal, tak seorang pun melihatnya dua kali.
Itulah yang Kirana inginkan.
Ia naik bus malam dan duduk di dekat jendela. Bau pendingin ruangan bercampur solar dan makanan berminyak. Baru setengah jam kendaraan bergerak, perutnya mulai bergejolak.
Kirana menekan saputangan ke hidung. Ia belum memberi tahu dokter tentang kehamilannya. Bahkan vitamin pun belum sempat dibeli. Yang dimilikinya hanya dua garis merah dan keyakinan bahwa satu-satunya laki-laki yang harus mendengar kabar itu berada ratusan kilometer di depan.
"Sendirian, Mbak?"
Seorang laki-laki dari kursi seberang berdiri di lorong. Bau rokok melekat pada jaketnya.
"Tidak," jawab Kirana.
Laki-laki itu melirik kursi kosong di sampingnya. "Tapi dari tadi tidak ada siapa-siapa. Mau saya temani ngobrol? Perjalanan masih jauh."
"Tidak perlu."
Kirana memalingkan wajah ke jendela. Pantulan kaca menunjukkan laki-laki itu belum pergi. Ia justru duduk di kursi kosong dan menyandarkan siku terlalu dekat.
"Turun di mana?"
Kirana berdiri sambil memeluk tas. Laki-laki itu ikut bangkit dan sengaja menahan sandaran kursinya, membuat jalan keluar sempit.
"Mau ke toilet? Saya antar."
Tangannya hampir menyentuh pinggang Kirana.
"Pak Kondektur!"
Suara Kirana melesat ke seluruh kabin. Beberapa penumpang terbangun dan menoleh.
"Ada apa, Mbak?" sahut kondektur dari depan.
"Tolong pindahkan bapak ini. Saya sedang hamil, dan suami saya anggota TNI di Magelang. Dia menunggu saya di tujuan. Kalau ada yang menyentuh saya lagi, saya akan menelepon dia sekarang."
Laki-laki berjaket itu menarik tangannya. "Saya cuma mau bantu."
"Saya sudah bilang tidak perlu. Semua orang di sini mendengarnya."
Kondektur datang dan menyuruh lelaki itu kembali ke tempatnya. Seorang ibu di baris belakang menawarkan kursi di sebelahnya. Kirana mengucapkan terima kasih, lalu berpindah tanpa menatap pengganggunya lagi.
Jantungnya baru berani berdetak keras setelah ia duduk.
Ibu di sebelahnya menyerahkan sebutir permen jahe. "Untuk mualnya. Kamu sungguh hamil?"
Kirana ragu sebelum mengangguk.
"Masih muda sekali, ya?"
"Sekitar tujuh minggu."
"Jangan biarkan perut kosong. Makan sedikit-sedikit meski tidak selera." Perempuan itu membuka tas kainnya dan menyodorkan sebungkus biskuit. "Saya pernah bepergian sendiri saat hamil anak kedua. Orang seperti tadi sengaja mencari perempuan yang kelihatan takut. Kamu benar sudah bersuara keras."
Kirana menerima dua keping biskuit, tidak lebih. "Terima kasih, Bu."
"Kalau suamimu menjemput, suruh dia membawakan air hangat. Jangan langsung kopi."
Senyum tipis muncul di bibir Kirana, lalu lenyap lagi. Ia tidak yakin akan ada suami yang menjemputnya. Namun biskuit tawar itu menenangkan lambungnya dan mengingatkan bahwa ia tidak boleh membiarkan rasa malu mengalahkan kebutuhan tubuhnya.
Kebohongan tentang suami tentara menyelamatkannya malam ini. Besok, belum tentu Bagas masih bersedia menyandang sebutan itu.
***
Menjelang fajar, Kirana terbangun dengan leher kaku dan kedua kaki terasa berat. Lampu-lampu kota telah berganti sawah berkabut. Atap rumah berkilau oleh embun, sedangkan gunung tampak seperti bayangan besar di kejauhan.
Ia turun di terminal peralihan dengan perut kosong. Aroma gorengan dari warung membuatnya berlari ke tempat sampah dan muntah sampai hanya cairan pahit yang keluar.
"Baru hamil memang begitu."
Perempuan yang berbicara berdiri beberapa langkah darinya. Perutnya sudah besar, mungkin memasuki trimester ketiga. Ia mengenakan tunik baru, sandal berhiaskan batu, dan tas bermerek yang sengaja diletakkan di depan tubuh.
Kirana membilas mulut dengan air mineral. "Terima kasih."
"Mau ke mana?"
"Ke arah kompleks tempat anggota TNI tinggal."
Mata perempuan itu bergerak dari kerudung Kirana yang kusut ke sandal berdebunya. "Sama, dong. Suamiku perwira. Aku mau ikut dinas beberapa hari. Namaku Yanti."
"Kirana."
"Suamimu juga tentara?"
Kirana memasukkan botol ke tas. "Aku mau menemui seseorang."
Yanti terkekeh kecil. "Rahasia sekali. Kalau tinggal di sekitar kesatuan, kita harus tahu pangkat suami. Beda lingkungan, beda juga cara bergaul."
Sebuah minibus menuju pinggiran Magelang mulai memanggil penumpang. Yanti naik lebih dahulu dan memilih tempat luas, lalu meletakkan tas di kursi sebelah agar Kirana tidak duduk di sana.
Kirana memilih bangku dekat pintu bersama seorang bapak tua yang membawa karung kecil. Ketika kendaraan berhenti di warung, Kirana membeli dua botol air dan roti. Satu bagian diberikannya kepada bapak tersebut setelah melihat tangannya gemetar mencari uang receh.
"Matur nuwun, Nduk," ujar lelaki tua itu. "Turun di pertigaan kesatuan? Nanti ikut saya saja. Ada mobil tetangga yang lewat ke sana."
"Terima kasih, Pak."
Yanti memperhatikan dari kursi depan. "Jangan terlalu gampang membagikan makanan. Di perjalanan begini, kita harus pikirkan diri sendiri. Apalagi kalau uang pas-pasan."
Kirana menatap tas mahal yang dijadikan Yanti sebagai pembatas kursi. "Tenang saja. Kebaikan tidak selalu membuat orang jatuh miskin. Kadang yang membuat miskin justru kebiasaan menilai isi dompet orang lain."
Bapak tua di sebelahnya menahan senyum.
Wajah Yanti menegang. "Aku cuma memberi nasihat."
"Dan aku sudah mendengarnya."
Sepanjang sisa perjalanan, Yanti sibuk menelepon. Ia berbicara cukup keras agar semua orang tahu bahwa ia istri perwira, bahwa kendaraan jemputan akan datang, dan bahwa kamar dinas suaminya baru mendapat perabot baru.
Kirana tidak menanggapi. Ia menyandarkan kepala ke jendela, mengusap perut yang masih rata.
"Bertahan sedikit lagi," bisiknya. "Ibu akan menemukan ayahmu."
Namun semakin dekat ke tujuan, keberaniannya justru menipis. Bagas mungkin sudah membencinya. Ia mungkin memiliki kehidupan yang tenang sebelum Kirana datang membawa skandal, perceraian, lalu seorang anak yang tidak pernah mereka rencanakan.
Minibus berhenti di pertigaan menjelang sore. Sebuah mobil datang menjemput bapak tua itu, dan pengemudinya bersedia mengantar Kirana sampai jalan menuju gerbang kesatuan. Yanti ikut turun di tempat yang sama.
"Bu Yanti!"
Seorang pengemudi berseragam sipil bergegas mengambil kopernya. Yanti tersenyum lebar, lalu menoleh kepada Kirana yang berdiri sendiri di tepi jalan.
"Suamimu tidak menjemput?" tanyanya. "Jangan-jangan cuma tamtama tua yang tidak bisa meninggalkan tugas."
"Aku belum memberi tahu dia."
"Datang tanpa kabar? Bisa-bisa kamu tidak diakui."
Kirana menggenggam gagang koper. "Kalau seseorang harus memamerkan pangkat suaminya agar dihormati, mungkin yang sebenarnya tidak diakui justru dirinya sendiri."
Senyum Yanti hilang.
Mobilnya masuk lebih dahulu melewati gerbang. Kirana berjalan menyusuri bahu jalan sampai seorang prajurit muda dari pos depan menghampirinya.
"Mau bertemu siapa, Mbak?"
Kirana menelan kegugupan yang naik ke tenggorokan.
"Saya mencari Bagas."
Wajah prajurit itu seketika berubah.