Sabar adalah kata yang selalu di ucapkan ibuku kepadaku, kata itu lah yang membuat ku kuat karena kesedihan tidak selamanya ada, akan ada kebahagiaan yang menanti.
Sejak kecil aku dan ibuku hidup berdua, ayah ku tidak pernah kembali setelah berpamitan dengan ibu ku pergi merantau ke luar negeri, setelah pergi tidak pernah ayah ku mengirim uang untuk kehidupan kami, ibu ku kerja menjadi buruh cuci gosok dari rumah ke rumah, aku sering ikut dengan ibuku karena tidak ada yang menjaga ku di rumah.
Ibu ku berhasil menyekolahkan ku sampai aku selesai kuliah, kehidupan ku yang berat membuatku selalu berhati hati kepada semua orang sampai suatu hari aku bertemu Yuda di tempat kerja ku. dia meluluhkan hati ku, membuat ku percaya bahwa lelaki tidak semua seperti ayah ku. sampai suatu hari dia mengenalkanku kepada keluarganya, disitulah aku bertemu ayah ku, pria yang sudah 20 tahun tidak pernah aku temui yang hanya aku lihat dari fotonya di kamar ibuku. ternyata ayah Yuda adalah ayahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahira alkhansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelulusan
Setelah melewati ujian Nasional, akhirnya aku berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan, teman temanku banyak yang memberikan selamat kepadaku karena nilai kubyang tinggi dan aku juga berhasil di terima di universitas negeri di Medan tanpa testing
setelah acara kelulusan di sekolah aku berencana pergi ke makam Aryo, kalau saja Aryo masih disini, dia pasti akan bahagia juga. tiba tiba ada yang menepuk pundak ku, ternyata putra.
" Ya, selamat ya akhirnya kamu bisa masuk universitas sumatera utara tanpa testing"
" terimakasih put, kamu mau masuk universitas mana setelah ini put??" Tanyaku
" aku gak mau kuliah, aku gak kuat belajar ya. aku mau tes polisi aja." jawabnya
" wah, keren itu. Jadi aku nanti punya temen polisi kalau aku ada masalah hukum aku bisa minta tolong sama mu" .
" ya alasan ku, masuk polisi itu juga karena itu ya, biar bisa ngelindungin kamu." Jawabnya dengan cengengesan.
" aku udah besar sekarang put, kamu harus melupakan janjimu dengan Aryo yang harus kamu lindungi sekarang itu cewek mu bukan aku. Lagian nanti kalau cewek mu tau bisa bisa aku di labrak lagi." jawab ku sambil tertawa.
" enggak lah cewek ku gak akan marah karena aku udah putus sama dia. Aku mau konsentrasi penuh untuk tes polisi ini jadi aku gak mau di ganggu dengan adanya pacar pacaran. Mama sama papa aku juga mendukung penuh aku masuk polisi jadi aku gak mau ngecewain mereka ya" ucapnya.
Putra memang salah satu anak orang kaya di desa kami selain Ratna. Di saat anak anak lain masih naik sepeda dan berjalan kaki, putra sudah mengendarai kereta ( sebutan sepeda motor di desa kami). mama dan papa nya juga memiliki banyak lahan sawit di area Pekanbaru sehingga putra sering di tinggal oleh kedua orang tuanya. Dan kami juga sama sama anak tunggal, karena itu putra sangat sayang ke Aryo dan menganggap Aryo sebagai abangnya dan putra merasa sangat kehilangan setelah kepergian Aryo.
" jadi ni kamu mau langsung pulang ya? Gak ikut sama anak anak jalan jalan ke gunung??" tanya nya
" gak lah put, aku mau ke makam Aryo. Aku mau pamer ke Aryo kalau aku sudah lulus dan di terima di universitas yang ku inginkan." jawabku
" aku antar ya, aku juga rindu sama Aryo" jawab putra.
" ayo"
kami pun pergi meninggalkan sekolah dan menuju ke makam nya Aryo. Makam Aryo ada di area ujung desa, disana merupakan pemakaman umum, tempatnya rindang banyak pepohonan, yang membuat aku betah lama lama duduk di makan Aryo sambil menceritakan kegiatan ku. Aku sering datang ke makam Aryo terkadang seminggu sekali, kalau sedang sibuk bisa 2 Minggu sekali . Kali ini aku datang berkunjung ke makam Aryo bersama putra.
" Yo, apa kabar bro.. Sehat lu disana kan bro?? Ucap putra.
" hahahaha, pasti sehat lah dia disana put, banyak cewek cewek cantik yang ngelilingin dia disana put, Aryo kan orang baik pasti surga tempat untuknya" jawabku
" Aamin yaa robbalalamin.. Berarti kamu kalah cantik donk ya?? kamu gak cemburu?" godanya
" apaan sih put, Aryo udah bahagia dia disana, aku juga bahagia disini, kamu lihat Yo, aku sekarang udh lulus dan aku jadi siswa terbaik, dan aku juga udah diterima di universitas yang selama ini aku inginkan. Dan kamu liat ni teman kamu ini, sebentar lagi dia mau jadi polisi yo, keren kan si putra??" balasku
" hahahhaha, koq baru tau sih kamu ya kalo aku keren, jawabnya sambil cengengesan "Tenang aja lu disana bro, aku akan jagain cahaya bro, lu gak usah takut bro gak akan ada yang berani nyakitin cahaya bro selama ada gue." ucap putra sambil melihat ke atas, seolah olah dia buat laporan ke Aryo.
Tapi saat putra mengatakan kata kata itu, hati ku seperti di sambar petir. Aku takut kalau putra akan menyukai ku, aku takut kalau ada yang terluka karena menyukaiku.
Tiba tiba pipi ku memerah dan panas. Aku pandangi putra dari samping yang sedang seperti berbicara dengan Aryo. Putra dan Aryo sama sama memiliki tubuh tinggi dan atletis hanya saja kulit Aryo agak sedikit gelap sedangkan putra kulitnya putih. Sama sama memiliki hidung yang mancung dan raut wajah yang tegas. Rambut Aryo agak ikal, sedangkan putra rambut nya cepak.
Aku perhatikan putra yang dari tadi berbicara sendiri, ternyata putra sangat tampan. Tapi aku tidak boleh menyukainya. Kelas kami berbeda, dan aku tidak ingin mengenal apa itu CINTA yang akan menyakiti setiap orang.
" eh ya, kenapa melamun??" tanya putra.
"eh, nggak aku hanya kangen aja sama Aryo" jawabku. " kita pulang yok put udah mendung takut nanti kita kehujanan di jalan"
"iya, yok lah.. Mama ku juga hari ini pulang kemungkinan sampainya magrib ini, kalau di lihatny aku belum di rumah begitu dia sampai bisa bahaya nanti." jawab putra
motor putra pun melintasi area desa menuju rumah ku untuk mengantar ku. Ternyata ibu sudah di rumah, warung sudah tutup karena banyak pembeli hari ini.
" ibu, cahaya udah putra antar dengan selamat ya Bu, putra izin pamit pulang dulu" ucap putra
" eh nak putra, iya terimakasih banyak ya nak. Cahaya ini ngerepotin aja kerjanya" ucap ibu
" gak ngerepotin koq Bu, seumur hidup di repotin cahaya putra juga gak keberatan" ucap putra kepada ibu.
ibu lalu tertawa kepada putra dan melambaikan tangan nya saat sepeda motor putra mulai menjauh.