NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Sore itu, matahari mulai condong ke barat, menyinari halaman kediaman Wen dengan cahaya keemasan yang hangat. Namun tak ada satu pun anggota keluarga yang merasa tenang. Semua orang duduk di ruang tamu utama, menanti kedatangan Jenderal Wen dari istana.

Feng Wu duduk tenang di kursi kayu jati yang empuk, namun tangannya yang bertumpu di lutut sesekali saling meremas pelan. Ia tahu pertemuan dengan Kaisar Qinchuan itu penting. Dan ia juga tahu, bahwa langkah kakinya di ibukota ini baru saja dimulai.

"Mengapa kakek belum kembali?" tanya Feng Wu agak gelisah.

"Jangan khawatir, Wu'er," ucap Wen Rui (anak pertama Jendral Wen) pelan, seakan membaca pikiran keponakannya. "Kaisar dan Kakekmu adalah sahabat lama. Beliau pasti akan baik kepadamu. Dan apapun yang terjadi, kediaman Wen ini adalah tempat perlindunganmu yang paling aman."

Feng Wu mengangguk lembut, tersenyum tipis. "Terima kasih, Paman. Saya tidak khawatir soal itu. Saya hanya berharap Kakek tidak terlalu lelah."

Di ruangan itu, suasana penuh kerinduan sekaligus harapan. Selama bertahun-tahun, kediaman Wen yang dulu penuh tawa itu menjadi sunyi dan suram setelah kepergian Wen Ning. Namun kini, kehadiran Feng Wu yang begitu mirip dengan mendiang ibunya seakan menghidupkan kembali semangat seluruh keluarga.

Belum lama berselang, terdengar suara derap kuda dan roda kereta yang mendekat ke gerbang kediaman Wen. Semua orang serentak berdiri.

"Beliau datang!" seru salah satu sepupu dengan wajah berseri.

Feng Wu melangkah keluar bersama keluarga, menuju halaman depan. Gerbang besar terbuka, dan kereta kuda yang dihiasi lambang keluarga Wen berhenti perlahan. Pengawal segera membuka pintu kereta. Jenderal Wen turun perlahan, namun punggungnya tegak, dan di wajahnya tidak lagi terlihat beban berat yang ia bawa saat berangkat tadi. Justru... ada senyum damai yang menghiasi wajahnya.

"Kakek!" panggil Feng Wu pelan, berjalan mendekat.

Jenderal Wen menoleh, dan saat melihat cucunya, senyumnya melebar semakin lebar. Ia melangkah mendekat, lalu menggenggam tangan cucunya erat-erat.

"Maaf membuat kalian menunggu lama," ucapnya lembut kepada seluruh keluarga yang berkumpul di sana. "Kaisar menyimpanku cukup lama, namun... semua berjalan jauh lebih baik dari yang saya bayangkan."

Mereka semua kembali masuk ke ruang utama, duduk melingkar dengan penuh rasa ingin tahu. Jenderal Wen duduk di kursi utama, menatap wajah-wajah yang menantinya dengan tatapan hangat.

"Kaisar Qinchuan memberikan penghargaan dan hadiah kepadaku," ceritanya, namun suaranya segera berubah menjadi lebih lembut dan serius. "Namun yang jauh lebih penting... adalah apa yang saya sampaikan kepada beliau tentang Feng Wu."

Semua mata tertuju pada Feng Wu, lalu kembali ke Jenderal Wen.

"Saya menceritakan semuanya pada yang mulia kaisar tentang penderitaan Wu'er, tentang kebohongan yang merenggut haknya, dan tentang keinginannya untuk hidup tenang terlebih dahulu, tanpa terlibat dalam urusan istana maupun perjodohan."

Jenderal Wen menatap cucunya dengan penuh kebanggaan. "Dan Yang mulia Kaisar... beliau sangat terenyuh mendengarnya. Beliau bahkan bertanya di mana gadis itu berada, dan berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengannya."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada tegas dan meyakinkan.

"Namun yang paling penting, Yang Mulia Kaisar telah berjanji. Selama beliau menjadi penguasa, tak ada satu pun orang dari istana yang boleh memaksa Feng Wu datang ke istana, apalagi menjodohkannya tanpa persetujuannya sendiri. Feng Wu bebas. Bebas menentukan hidupnya sendiri, bebas memilih jalannya sendiri."

Suasana ruangan hening sejenak, lalu meledak dalam kebahagiaan yang tulus. Wen Rui dan istrinya saling berpandangan dengan mata berkaca-kaca, para sepupu bersorak pelan namun penuh sukacita.

"Syukurlah..." ucap Wen Rui dengan suara bergetar. "Yang Mulia Kaisar benar-benar bijaksana. Dan Wu'er... kau benar-benar beruntung memiliki Kakek yang begitu menyayangimu."

Feng Wu menatap kakeknya dengan rasa syukur yang mendalam. Ia tahu, di dunia ini, tidak semua orang memiliki perlindungan sekuat itu. Dan ia berjanji dalam hatinya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan membuktikan bahwa ia pantas mendapatkan kasih sayang ini.

"Terima kasih, Kakek," ucapnya tulus. "Terima kasih sudah berjuang untukku."

Jenderal Wen tersenyum lembut, mengusap kepala cucunya penuh kasih sayang. "Kau adalah darah dagingku, Wu'er. Melindungimu adalah kewajiban Kakek. Dan mulai hari ini, tidak ada satu pun orang yang berani menyakitimu lagi."

Namun di dalam hati Feng Wu, ada satu nama yang masih terngiang yaitu Selir Yu, Menteri Feng. Mereka belum tahu ia masih hidup. Dan suatu hari nanti, saat waktunya tiba, ia akan kembali ke kediaman Feng bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai wanita yang telah bangkit dan siap menuntut keadilan yang selama ini dirampas darinya.

Hari demi hari berlalu, dan Feng Wu semakin jatuh cinta pada kediaman Wen. Tempat itu luas namun hangat, setiap sudutnya dipenuhi tawa dan kasih sayang.

Feng Wu selalu ditemani Qing Su, pengawal wanita yang setia, tangguh, namun juga lembut hatinya. Setiap pagi ia menyiapkan pakaian dan air mandi, setiap siang membawakan teh hangat dan buah-buahan segar, setiap malam memastikan pintu dan jendela terkunci rapat. Ia tidak hanya menjadi pengawal, namun juga teman setia yang pendiam namun penuh perhatian.

"Nona, ini teh jahe hangat untuk menghangatkan tubuh," ucap Qing Su pelan, meletakkan cangkir di meja kecil dekat jendela. "Angin malam mulai bertiup dingin."

Feng Wu tersenyum lembut. "Terima kasih, Qing Su. Kau terlalu baik padaku."

"Itu sudah menjadi tugasku, Nona. Jenderal Besar mempercayakan Nona kepadaku, dan aku takkan membiarkan siapa pun menyakitimu."

Malam ini bulan purnama bersinar terang di langit, menyinari halaman kediaman Wen dengan cahaya perak yang tenang. Feng Wu duduk di tepi jendela, menatap ke arah kejauhan.

Di dalam hatinya, rasa ingin tahu perlahan tumbuh dan semakin kuat.

Bagaimana keadaan kediaman Feng sekarang?

Apakah Selir Yu hidup dengan tenang, menikmati kemewahan yang seharusnya menjadi milik Ibunya?

Apakah Ayahnya... apakah ia pernah menyesal membuang anak kandungnya sendiri?

Apakah mereka tahu bahwa Feng Wu masih hidup?

Pikiran-pikiran itu tak henti-henti berputar di kepalanya. Ia tahu ia seharusnya menunggu, menunggu saat yang tepat untuk kembali. Namun semakin ia berpikir, semakin ia ingin melihat dengan matanya sendiri, melihat bagaimana kehidupan orang-orang yang dulu membuangnya, yang menyiksanya, yang mengira ia sudah tiada.

"Aku harus pergi..." bisiknya pelan, tekadnya menguat. "Hanya untuk melihat. Tidak akan melakukan apa-apa. Hanya untuk tahu... apa yang sedang mereka lakukan sekarang."

Feng Wu bergerak perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkan siapa pun. Ia mengenakan pakaian biasa berwarna gelap, jauh dari kemewahan yang biasa dipakai putri bangsawan, agar tidak mencolok di malam hari. Sebelum keluar, ia menatap Qing Su yang sedang berjaga di luar pintu, wanita itu berdiri tegak, matanya terjaga, namun tidak menyadari bahwa Nona-nya diam-diam keluar melalui jendela samping yang menghadap ke kebun belakang.

"Maaf, Qing Su," batinnya. "Aku akan kembali sebelum fajar menyingsing. Hanya sebentar."

Dengan gerakan yang ringan dan tenang hasil dari latihan bela diri yang ia pelajari di perbatasan. Feng Wu melompati pagar belakang kediaman Wen dengan mudah, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam.

Langkah kakinya membawanya menuju arah timur, ke arah kediaman Menteri Feng, tempat yang dulu menjadi awal segala penderitaannya. Semakin dekat ke sana, jantungnya berpacu semakin kencang bukan karena takut, melainkan karena campuran antara kemarahan, kesedihan, dan rasa penasaran yang tak tertahankan.

Setelah berjalan cukup lama, di kejauhan akhirnya tampaklah bangunan megah , gerbang besar yang dihiasi ukiran naga dan bunga, lentera merah yang menyala terang di kedua sisi, dan lambang keluarga Feng yang terpampang gagah di atas gerbang.

Kediaman Feng... tempat yang seharusnya menjadi rumahnya.

Feng Wu bersembunyi di balik pepohonan rindang di seberang jalan, menatap tempat itu dengan tatapan tajam dan penuh perasaan. Dari luar, ia tampak begitu megah, begitu damai seakan tak pernah ada kejahatan yang terjadi di dalamnya.

"Apakah mereka tidur nyenyak malam ini?" batinnya dingin.

"Apakah mereka pernah teringat pada gadis kecil yang mereka buang ke tempat yang jauh dan berbahaya?"

1
jenny
jangan² pria selingkuhan selir Yu nih yang menebarkan racun atas usulan selir Yu
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!