Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 MALAM PENYUSUPAN
Malam di kawasan perumahan Ciumbuleuit turun dengan selimut keheningan yang sangat pekat. Udara dingin pegunungan merayap perlahan menembus dinding-dinding kayu pendopo, membawa serta aroma basah dedaunan sisa guyuran hujan deras sore tadi.
Di dalam pendoponya yang temaram, Raka Ardian duduk bersila di atas tikar bambu dengan posisi punggung tegak lurus sempurna. Ia memejamkan mata rapat-rapat, memusatkan seluruh kesadaran batinnya untuk meresapi aliran energi Welingan Sejati ke seluruh pembuluh darahnya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ketenangan batin yang biasa ia rasakan malam ini mendadak terusik oleh sebuah firasat tajam yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Panca indranya yang telah ditempa dan dipertajam di hutan belantara Mandalagiri tiba-tiba menangkap getaran asing yang sangat halus—suara gesekan ujung sepatu bot di atas taburan kerikil halaman depan rumah utama, disusul oleh bau tajam zat kimia peledak jenis thermite cair yang dibawa secara sembunyi-sembunyi.
" Mereka datang," batin Raka dingin, matanya terbuka tajam, memantulkan kilau keperakan di tengah temaram cahaya lampu minyak.
Di tempat terpisah, di dalam kamar tidur utamanya di rumah besar berarsitektur kolonial, Nadia terbangun dari tidurnya karena merasa tenggorokannya kering dan kehausan. Ia melangkah perlahan turun dari tempat tidur, berjalan keluar kamar menuju dapur tanpa menyalakan lampu terang agar tidak membangunkan siapapun.
Namun, saat ia melintasi lorong kaca panjang yang menghadap langsung ke arah galeri seni di bagian depan rumah, jantungnya seketika berhenti berdetak.
Melalui kaca jendela yang temaram diterpa cahaya bulan, Nadia melihat bayangan tiga sosok pria berbadan tegap mengenakan pakaian hitam ketat dari ujung kepala sampai kaki, lengkap dengan topeng kain penutup wajah, sedang merusak paksa kunci jendela galeri seninya. Salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah tabung logam kecil berisi cairan kimia pekat dan mulai menyalakannya tepat di dekat dinding kayu galeri—tempat di mana puluhan kanvas lukisan warisan mendiang ayahnya tersimpan rapi.
Nadia membekap mulutnya sendiri menggunakan kedua tangan untuk menahan teriakan histeris yang hampir lolos dari tenggorokannya. Tubuhnya bergetar hebat di dalam kegelapan malam. Niat awalnya untuk berlari mengambil ponsel pintar di kamar seketika buyar saat salah satu penyusup menoleh tajam ke arah lorong kaca dan menatap langsung ke tempatnya berdiri.
"Sialan! Ada orang yang melihat kita di dalam! Tangkap dia cepat atau bakar sekalian seluruh tempat ini!" bentak suara serak salah seorang preman bersenjata tajam itu dengan nada mengancam.
Prang!
Kaca jendela lorong pecah berkeping-keping dihantam hantaman linggis besi. Pria bertopeng itu melompat masuk menerobos serpihan kaca dengan sebilah pisau berlumur racun di tangan kanannya, mengarah langsung untuk menangkap Nadia yang terduduk lemas ketakutan di lantai koridor.
Nadia memejamkan mata rapat-rapat, meratapi nasib buruknya dan membayangkan maut sudah berada di depan mata. Namun, sebelum ujung pisau beracun itu menyentuh kulitnya, sebuah desau angin kencang bergemuruh dahsyat di dalam ruangan yang gelap gulita.
Brakkk! pyarrr!
Sebuah bayangan hitam melesat bagaikan kilat menyambar dari arah jendela luar, menendang pintu kayu hingga hancur berkeping-keping. Raka Ardian mendarat tepat di antara Nadia dan sang penyusup dengan kuda-kuda kokoh yang memancarkan gelombang tenaga dalam luar biasa kuat, menciptakan getaran angin yang meniup rambut Nadia.
Penyusup pertama yang menyerang dengan pisau beracun langsung terpelanting keras menghantam dinding perpustakaan hingga pingsan seketika dalam satu hantaman telak. Dua orang penyusup lainnya yang melihat rekan mereka tumbang seketika dalam sekejap mata langsung mengeluarkan pipa besi dan bersiap menyerang Raka secara membabi buta di ruang sempit tersebut.
"Raka...!" lirih Nadia ketakutan setengah mati, air matanya tumpah membasahi pipi saat ia merangkak memeluk lutut di sudut ruangan.
Raka tidak menoleh ke belakang, namun suaranya terdengar sangat tenang, dingin, dan penuh wibawa, membakar rasa gentar di dada para penjahat. "Kalian benar-benar salah memilih tempat untuk mencari masalah malam ini."
Pertarungan sengit di dalam rumah tua berarsitektur kolonial itu pun pecah dengan hebat. Di tengah kobaran api kecil yang mulai menjilat sudut galeri seni akibat tabung pembakar preman, Raka bergerak lincah melindungi Nadia, bersiap menghancurkan sisa-sisa antek Prabu Baskara yang berani mengusik ketenangan gadis yang dicintainya.