Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Teknik dasar ksatria
Beberapa hari kemudian, saat berlatih di halaman, Arlen melihat ayahnya melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Kakinya selalu terlalu rapat saat menyerang, membuat keseimbangannya rapuh.
Dan ayunan pedangnya selalu dari atas ke bawah—mudah diprediksi, mudah dihindari. "Ayah," kata Arlen tiba-tiba. "Aku melihat sesuatu." Cedric berhenti, mengangkat alis. "Apa?" "Ayah selalu menyerang dari atas," kata Arlen, berusaha terdengar seperti anak kecil yang polos. "Kalau musuhnya lebih cepat, mereka bisa menghindar dan menusuk perut Ayah." Cedric terdiam, matanya melebar.
"Kamu... dari mana kamu tahu itu?" Arlen tersenyum ceria. "Aku lihat di buku cerita! Ksatria di buku itu selalu menyerang dari samping kalau musuhnya tinggi." Cedric tertawa, tapi ada kilatan aneh di matanya—campuran antara heran dan bangga. "Kau anak yang cerdas, Arlen.
Baiklah, Ayah coba dari samping." Dan untuk pertama kalinya, Arlen melihat ayahnya melakukan gerakan yang benar. Perlahan, pikirnya. Sedikit demi sedikit. Aku akan menjadikannya seorang prajurit yang layak. Beberapa hari kemudian,seorang tamu tak diundang datang ke kediaman keluarga Ashford.
Seorang pria bertubuh kurus berpakaian seragam berhias lambang keluarga bangsawan yang lebih tinggi datang bersama dua orang pengawal bersenjata. Wajahnya dingin dan angkuh. Cedric yang sedang membersihkan pedang tua di halaman langsung berdiri tegak saat melihatnya. "Tuan Cedric Ashford," sapa pria itu dengan nada meremehkan. "Aku datang atas perintah Tuan Penguasa Wilayah.
Sudah berapa lama tanahmu ini tidak membayar pajak tambahan untuk perawatan benteng kerajaan?" Cedric menghela napas panjang, lalu menundukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat namun tetap menjaga sikap tegas. "Maafkan saya, Tuan Karis. Panen tahun ini mulai membaik.
Kami sedang berusaha mengumpulkannya secepat mungkin." Tuan Karis tertawa sinis, matanya melirik sekeliling rumah sederhana itu. "Keluarga kalian sudah tidak berguna sejak lama. Tidak ada bakat sihir, tidak ada kekuatan apa-apa.
Tuan Penguasa mulai berpikir lebih baik menyerahkan tanah ini kepada keluarga lain yang lebih mampu berkontribusi." Arlen yang berdiri di samping Elena menggenggam ujung gaun ibunya erat-erat. Ia menatap pria itu dengan tenang, namun di dalam hatinya ia mulai merasakan gelombang kemarahan yang pelan.
Lingkaran Setan ini. Selalu saja sama. Mereka yang berkuasa selalu menginjak yang lemah. "Kami akan berusaha lebih keras," jawab Cedric tegas. "Beri kami waktu setahun lagi." "Baiklah," ujar Tuan Karis sambil melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Arlen yang masih kecil. "Tapi ingat, jika saat pengujian bakat sihir anak ini kelak hasilnya nol... tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan kedudukan kalian." Setelah mengucapkan itu, pria itu berbalik pergi diiringi langkah berat kedua pengawalnya.
Suasana menjadi hening seketika. Cedric mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih, berusaha menahan rasa kesal dan tak berdaya. Elena mendekat dan meletakkan tangannya di bahu suaminya untuk menenangkan. Arlen melangkah maju berdiri di antara kedua orang tuanya, menatap punggung pria yang menjauh itu. Di dalam benaknya, berbagai rencana mulai tersusun perlahan namun pasti.
Mereka mengira kekuatan hanya ada pada sihir dan Mana. Mereka mengira keluarganya lemah hanya karena tidak bisa mengendalikan elemen alam. Kalau begitu, biarlah mereka berpikir begitu untuk sementara waktu. Aku tidak akan memamerkan kekuatanku sekarang—terlalu berisiko. Lingkaran Emas masih ada di suatu tempat. Aura adalah jejak yang bisa mereka lacak.
Namun ia berjanji dalam hati: Sebelum hari pengujian itu tiba... aku akan cukup kuat untuk melindungi tempat ini. Aku akan memastikan tidak ada satu orang pun yang berani mengancam atau menyakiti orang-orang yang kusayang. Sore itu, saat Elena sedang memasak di dapur, Cedric duduk di teras dengan wajah murung. Pedang tua itu tergeletak di pangkuannya, tapi ia bahkan tidak punya semangat untuk mengasahnya. Arlen mendekat dan duduk di samping ayahnya.
"Ayah sedih?" tanyanya pelan. Cedric menghela napas. "Ayah hanya... merasa tidak cukup. Aku tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu dan ibumu. Aku bahkan tidak bisa melindungi kalian dari orang-orang seperti Tuan Karis." "Tapi Ayah berlatih," kata Arlen. "Ayah berlatih pedang setiap hari. Itu berarti Ayah berusaha." Cedric menatap putranya, heran dengan kebijaksanaan yang keluar dari mulut anak seusia itu. "Kau benar, Nak. Aku berusaha." "Aku akan membantu Ayah," kata Arlen dengan senyumnya yang manis. "Aku akan menjadi ksatria yang kuat, dan aku akan melindungi Ayah dan Ibu.
Aku janji." Cedric tertawa—tawa yang hangat, tawa yang sudah lama tidak ia keluarkan. Ia mengacak-acak rambut Arlen. "Kau anak yang luar biasa, Arlen. Ayah bangga padamu." Arlen tersenyum, tapi di dalam hatinya ia sudah mulai menghitung hari. Satu tahun aku harus bisa mencapai tingkat tiga silver aura.
Satu tahun untuk mempersiapkan diri. Dan satu tahun untuk membuat ayahku cukup kuat agar ia bisa bertahan hidup di dunia ini. Malam itu, saat kedua orang tuanya tertidur, Arlen kembali ke gudang tua. Kali ini, ia tidak hanya berlatih Aura. Ia mengeluarkan sebatang kayu kecil yang ia sembunyikan di balik tumpukan karung—sebuah bilah kayu yang ia bentuk sendiri menyerupai pedang pendek.
Ia berdiri di tengah gudang yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan dari celah-celah dinding. Dengan mata terpejam, ia mengangkat pedang kayu itu ke depan dada. Aster Valerius, pikirnya, mengingat nama lamanya. Kau telah mati. Tapi jiwamu masih di sini. Dan aku akan memastikan bahwa kematianmu tidak sia-sia. Ia membuka mata, dan di dalam gelap itu, cahaya keemasan menyala di kedua matanya. "Mulai sekarang, aku adalah Arlen Ashford," bisiknya. "Dan aku akan menulis ulang sejarah."
Kabut pagi masih menyelimuti dataran rendah Aurelia, membawa aroma tanah basah dan dedaunan pinus yang tajam ke paru-paru. Di halaman belakang sebuah rumah kayu sederhana yang berdiri kokoh di tepi hutan, Cedric berdiri tegak. Napasnya membentuk awan putih tipis di udara dingin, kontras dengan keringat yang mulai membasahi keningnya.
Di tangannya, sebilah pedang panjang berkilau redup. Itu bukan senjata legendaris yang ditempa oleh para Dwarf atau disihir oleh penyihir istana. Itu hanyalah besi tua, bilah baja biasa yang penuh dengan goresan waktu, peninggalan dari masa mudanya ketika ia masih menjadi bagian dari Garda Kerajaan—sebelum perang besar merenggut segalanya, termasuk gelar dan kemuliaannya.
Di hadapannya, berdiri Arlen. Bocah berusia hampir enam tahun itu tampak kecil di antara pepohonan raksasa, namun posturnya tidak seperti anak-anak seusianya. Punggungnya lurus, dagunya terangkat, dan sepasang mata abu-abunya menatap ayahnya dengan intensitas yang menggetarkan. Ada ketajaman di sana, sebuah kedewasaan yang seharusnya belum dimiliki oleh seorang balita.
“Perhatikan baik-baik, Nak,” suara Cedric berat dan serak, memecah keheningan pagi. Ia mengangkat pedang itu sejajar dengan bahu kanannya, siku sedikit ditekuk, kaki kiri melangkah setengah langkah ke depan. "Bagi orang awam, pedang hanyalah alat pemotong daging dan tulang. Tapi bagi mereka yang memahami... pedang adalah perpanjangan dari jiwa. Ia adalah jembatan antara keinginanmu dan realitas."
Dengan gerakan yang lambat namun penuh tekanan, Cedric menebaskan pedangnya dari atas ke bawah.
Srrrt!
Bilah besi itu membelah udara, menciptakan desisan halus. Gerakannya efisien, kuat, dan didasarkan pada disiplin militer yang keras. Tidak ada geray (berlebihan). Setiap otot di lengan Cedric menegang, mengandalkan kekuatan fisik murni untuk mengendalikan momentum bilah.
Lihatlah, pikir Cedric dalam hati, meski tidak diucapkannya. Ini adalah cara bertahan hidup. Aku tidak memiliki satu tetes mana pun di dalam darahku. Aku tidak bisa memanggil api atau es. Jadi, aku menempa tubuhku menjadi senjata. Aku menciptakan teknik ini dari darah dan keringat, bukan dari buku sihir.
Arlen mengangguk, ekspresi wajahnya polos dan antusias. Namun, di balik topeng kepolosan itu, pikiran sang ksatria tua di dalam dirinya sedang bekerja dengan kecepatan kilat.
Gerakan dasar yang benar, pikir batin Arlen dingin dan kritis. Namun, terlalu kaku. Terlalu bergantung pada massa otot. Ayah bertarung melawan gravitasi, bukan bersamanya. Ia memaksakan kehendaknya pada pedang, alih-alih membiarkan aliran energi tubuh menyatu dengan bilah.
Arlen tahu kebenaran pahit ini. Ilmu pedang yang diajarkan di era sekarang hanyalah pecahan-pecahan rusak dari warisan Zaman Keemasan, terdistorsi oleh ribuan tahun kelalaian dan perang. Teknik asli—teknik yang menghubungkan napas, jiwa, dan materi—telah hilang, dikubur bersama reruntuhan peradaban kuno.
“Ayah,” suara Arlen kecil itu memecah lamunan Cedric. “Bolehkah Arlen mencoba?”
Cedric tersenyum, garis-garis kerutan di sudut matanya melembut. Ia menyarungkan pedangnya dan berjalan ke pohon oak tua di sudut halaman. Dengan satu tebasan cepat menggunakan pisau belati di pinggangnya, ia memotong sebatang ranting kayu yang lurus, tebal, dan bebas dari dahan samping.
“Ini,” kata Cedric, menyerahkan ranting itu kepada putranya. “Pedang pertama setiap prajurit selalu terbuat dari kayu. Pegang erat, tapi jangan mencekeram nya terlalu erat. Biarkan ibu jarimu bersandar longgar di atas gagang... ya, begitu. Sekarang, ayunkan pelan-pelan. Rasakan beratnya.”
Arlen menerima ranting kayu itu. Di telapak tangannya yang kecil, tekstur kulit kayu terasa kasar dan nyata. Namun, bagi Arlen, benda itu berdenyut. Dalam ingatannya yang kabur namun kuat, ia seolah kembali memegang Excalibur atau pedang suci lainnya dari kehidupan lampau.
Ia mengambil posisi kuda-kuda. Kakinya menapak bumi, merasakan getaran akar pohon di bawah tanah. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen pagi.
Bukan dengan otot, bisik hatinya. Tapi dengan aliran.
Sebelum ujung kayu itu turun sepenuhnya mengikuti gravitasi, Arlen melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan anak normal. Ia mengalirkan sedikit percikan Aura—energi vital murni—dari pusat dadanya . Energi itu mengalir turun melalui tulang belakang, melewati bahu, siku, pergelangan tangan, dan akhirnya bermuara di ujung ranting kayu.
Kayu itu tidak berubah bentuk, tetapi udaranya berubah.
Wushhh!
Suara desiran yang terdengar bukanlah gesekan kayu dengan angin, melainkan bunyi tajam seperti cambuk yang membelah vakum. Ranting kayu itu bergetar hebat, seolah-olah menolak hukum fisika biasa, meninggalkan jejak kabut tipis di jalurnya.
Cedric terpaku. Matanya membelalak, napasnya tertahan. Ia mendekat, menatap ranting di tangan anaknya dengan ketidakpercayaan.
“Kau...” Cedric mengerutkan kening, kebingungan mencampuri kekaguman. “Bagaimana kau bisa melakukannya? Gerakanmu ringan seperti bulu, tapi suaranya... suaranya seperti badai. Kau tidak menggunakan tenaga ototmu sama sekali.”
Arlen segera menutupi keanehan itu dengan senyuman polos khas anak-anak. Ia menggaruk kepala, pura-pura bingung. “Entahlah, Yah. Tadi rasanya... aneh. Seperti kayu ini ingin bergerak sendiri. Seperti angin yang mendorong tanganku.”
Cedric menggeleng pelan, mencoba mencerna penjelasan itu. Ia tertawa kecil, meski rasa heran masih tersisa di matanya. Ia menepuk bahu kecil Arlen. “Mungkin kau memang berbakat, Nak. Insting alamimu luar biasa. Meski kita belum tahu apakah kau punya bakat sihir, setidaknya kau punya 'bakat alami dalam' berpedang yang langka.”
Cedric tidak tahu bahwa ia baru saja menyaksikan prinsip dasar Aliran Jiwa—teknik inti kaum Kesatria Aura yang telah punah. Teknik yang tidak mengajarkan cara memukul, tetapi cara menjadi pukulan itu sendiri.