Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti yang Hancur
Mark, yang sudah benar-benar hilang kendali, menunjuk tas laptop yang ia bawa di kursi sebelahnya. "Di sini... semuanya ada di drive terenkripsi dalam laptop ini. Sean terlalu percaya diri, dia pikir tidak ada yang berani menyentuh sekretarisnya..."
Zaskia tersenyum. Senyum itu bukan lagi senyum penggoda, melainkan seringai iblis. Ia memanggil pelayan kelab dengan isyarat tangan. "Satu botol lagi untuk kekasihku ini. Dia butuh tidur yang sangat lelap malam ini."
Setelah Mark benar-benar ambruk tak sadarkan diri di atas meja, Zaskia dengan cepat mengambil tas laptop milik Mark. Ia tidak menyentuh Mark sedikit pun lagi. Ia berdiri, merapikan pakaiannya yang terbuka, lalu menoleh ke arah pria yang terkulai lemas itu dengan tatapan jijik.
"Terima kasih atas informasinya, bodoh," bisik Zaskia pelan.
Ia keluar dari kelab dengan langkah cepat, menuju mobil sport-nya yang terparkir di depan. Begitu sampai di dalam mobil, ia segera menelepon Nena Apriandini.
"Tante, aku punya kabar besar," ucap Zaskia dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Aku sudah tahu rencana mereka. Dan lebih dari itu... aku sudah memiliki laptop yang berisi seluruh bukti yang mereka kumpulkan."
Di ujung telepon, terdengar jeritan kegirangan Nena Apriandini yang melengking. "Lakukan apa pun, Zaskia! Hancurkan laptop itu, bakar, atau buang ke tengah laut! Asal bukti itu tidak sampai ke tangan polisi, kita akan aman!"
Zaskia menatap laptop di kursi penumpang dengan tatapan licik. "Jangan khawatir, Tante. Besok pagi, Rafa Sasmita akan terbangun dan menyadari bahwa rencananya untuk menghancurkan keluarga kita telah musnah sepenuhnya. Dan setelah itu... kita akan membuatnya menyesal telah lahir ke dunia."
Mobil Zaskia melesat pergi membelah kegelapan malam Jakarta. Di belakangnya, ia meninggalkan Mark yang mabuk dan tidak sadar bahwa ia telah menyerahkan kunci kemenangan Rafa kepada musuh yang paling berbahaya.
Di tempat lain, Rafa yang baru saja selesai membakar foto-foto pernikahannya, menatap langit malam dengan perasaan lega. Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik kesuksesan rencana mereka, ada ancaman licik yang baru saja mencuri senjata utama mereka. Permainan kucing dan tikus ini baru saja memasuki babak yang paling mematikan.
****
Matahari baru saja naik sepenggalah, namun suasana di kediaman mewah Evan Wirya Negara sudah jauh dari kata damai. Di ruang kerja Evan yang megah, di atas lantai marmer yang dingin, laptop milik Mark Yeow—yang berisi kunci kehancuran Negara Group—kini teronggok tak berdaya. Zaskia Mulandari, dengan wajah penuh kepuasan yang bengis, baru saja menuangkan cairan asam keras ke atas papan sirkuit yang telah ia bongkar paksa.
Evan berdiri di sampingnya, napasnya berat, menatap sisa-sisa elektronik yang berasap dengan tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi seringai lega. Di sebelahnya, Nena Apriandini memegang dada, memanjatkan syukur dengan nada angkuh yang membuat ruangan itu terasa pengap.
"Sudah selesai, Sayang," ucap Zaskia, suaranya terdengar seperti desis ular yang baru saja menelan mangsanya. Ia mengelap tangannya dengan tisu, lalu membuangnya ke lantai dengan gaya yang sangat meremehkan. "Tidak ada lagi bukti. Tidak ada lagi flashdisk. Tidak ada lagi ancaman untuk perusahaan kita. Rafa Sasmita sekarang hanyalah seorang janda miskin tanpa senjata."
****
Evan tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak stabil. "Bagus. Aku ingin dia merasakan kehancuran total. Aku ingin melihat wajahnya saat dia sadar bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkannya lagi."
"Oh, aku punya ide yang lebih baik," potong Zaskia dengan mata yang berkilat licik. "Bagaimana kalau kita berikan dia 'kejutan' pagi ini? Aku ingin melihat secara langsung bagaimana hancurnya harapan si wanita mandul itu."
Tanpa membuang waktu, Zaskia menyambar kunci mobilnya. Dengan riasan wajah yang tebal dan pakaian yang mencolok mata, ia melesat pergi menuju pinggiran kota, meninggalkan Evan dan Nena yang masih terbuai dalam euforia kemenangan semu mereka.
Di rumah Pak Pamuji, suasana pagi itu sedang diisi dengan obrolan hangat antara Rafa dan kedua orang tuanya. Rafa baru saja akan menyeduh teh ketika tiba-tiba-
BRAKK!
Pintu kayu rumah yang baru saja diperbaiki pasca-serangan Evan tempo hari kembali dihantam dengan tendangan yang luar biasa keras. Engselnya menjerit, dan pintu itu jebol, menghantam dinding dengan dentuman yang menggetarkan seisi rumah.
Bu Armayani yang sedang merapikan taplak meja langsung terlonjak kaget. Jantungnya berdegup tak beraturan, wajahnya berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Ia limbung, kakinya tidak lagi mampu menopang tubuh ringkihnya.
"Ibu!" teriak Rafa sigap. Ia membuang cangkir tehnya dan merengkuh tubuh ibunya yang hampir jatuh. Rafa memegangi pundak ibunya dengan erat, berusaha menyalurkan kekuatan agar wanita tua itu tidak pingsan karena syok.
Pak Pamuji segera bangkit dari kursinya, wajahnya merah padam karena amarah yang tidak bisa lagi dibendung. Ia melangkah maju ke depan pintu, mendapati Zaskia Mulandari berdiri di sana dengan seringai kemenangan yang sangat memuakkan.
"Zaskia?!" geram Pak Pamuji. "Sudah tidak punya sopan santun sama sekali ya kamu? Keluar dari rumah saya sekarang juga sebelum saya panggilkan polisi!"
****
Zaskia mendengus pelan, menepis tangan Pak Pamuji dengan gerakan yang sangat tidak sopan. Ia melangkah masuk ke ruang tamu yang sempit, matanya menyapu ruangan itu dengan tatapan menghina, seolah-olah ia sedang masuk ke dalam sebuah kandang binatang.
"Polisi? Silakan," tantang Zaskia dengan nada mengejek. "Asalkan kalian siap ditertawakan oleh satu kota saat tahu bahwa anak kesayangan kalian ini sudah kehilangan seluruh 'amunisinya'."
Rafa membaringkan ibunya di atas sofa dengan hati-hati, lalu berdiri menghadapi Zaskia. Tatapannya dingin, namun ada gurat ketegangan yang mulai muncul di balik wajah tenangnya.
"Apa maumu lagi, Zaskia? Bukankah kamu sudah cukup puas dengan menghancurkan pernikahan dan reputasiku?"
Zaskia melangkah maju hingga hanya berjarak beberapa senti dari wajah Rafa. Ia melotot secara teatrikal, matanya yang tajam seolah ingin menguliti Rafa hidup-hidup. Kemudian, ia tertawa—sebuah tawa histeris yang terdengar nyaring, melengking, dan sangat memuakkan.
****
"Puas? Oh, tentu saja aku puas!" seru Zaskia di depan wajah Rafa. "Tapi aku ingin melihat raut wajahmu saat kamu sadar bahwa permainanmu sudah berakhir. Kamu pikir kamu bisa bermain dengan Sean Andrew Lee dan menjatuhkan keluarga Wirya Negara? Kamu pikir bukti-bukti yang kamu kumpulkan itu sangat berharga?"
Zaskia menunjuk wajah Rafa dengan jari telunjuknya yang dihiasi cat kuku mahal. "Coba bayangkan, besok pagi saat kamu terbangun, kamu akan menjadi orang paling malang di seluruh negeri. Kamu tidak punya suami, tidak punya uang, dan sekarang... tidak punya harapan. Kamu hanyalah seorang wanita mandul, janda miskin yang hidupnya akan berakhir di penjara!"
Rafa tetap diam, namun ia memperhatikan Zaskia dengan sorot mata yang sulit dibaca. Ia tidak panik, tidak menangis, dan tidak memohon.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Rafa dengan suara tenang yang membuat Zaskia terdiam sejenak karena bingung.
"Apa maksudmu?!" bentak Zaskia, merasa tidak terima karena tidak mendapatkan reaksi yang ia harapkan. "Apa kamu sudah gila? Buktinya sudah hancur! Hancur!"