NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : ANAK KESAYANGAN YANG MEMBERONTAK

...BAB 1...

...ANAK KESAYANGAN YANG MEMBERONTAK...

Suara deru mesin motor memecah kesunyian malam.

Satu per satu motor melesat di lintasan, meninggalkan suara knalpot yang memekakkan telinga. Sorot lampu stadion menerangi arena balap yang dipenuhi penonton. Udara malam terasa panas oleh asap kendaraan dan semangat orang-orang yang berteriak dari pinggir lintasan.

Di antara para pembalap yang bersiap di garis start, seorang pemuda berdiri di samping motor sport berwarna hitam-merah.

Racing suit hitam melekat di tubuhnya. Nomor 89 tercetak jelas di bagian dada dan punggung.

Tatapannya tajam. Wajahnya tenang. Tetapi kedua tangannya menggenggam setang motor dengan erat.

Namanya Reyga.

Usianya dua puluh tiga tahun. Putra tunggal dari Darmawan, seorang pengusaha sukses yang memiliki perusahaan besar dan jaringan bisnis di berbagai kota.

Sebagai anak tunggal, Reyga seharusnya menjadi pewaris perusahaan.

Sejak kecil, hidup Reyga sudah disusun dengan rapi oleh kedua orangtuanya. Sekolah terbaik, universitas terbaik, belajar bisnis, mengikuti rapat dan mengenal para relasi ayahnya.

Hingga suatu hari Reyga bisa mengambil alih perusahaan Ayahnya. Namun masalahnya, Reyga tidak pernah menginginkan semua itu.

Ia ingin menjadi pembalap. Ia ingin hidup bebas. Ia ingin menentukan sendiri ke mana kakinya melangkah.

"Rey!"

Suara seorang pemuda membuat Reyga menoleh.

Berry datang sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Wajahnya santai seperti biasa. Bahkan di tengah suara mesin yang berisik pun, senyum jahilnya masih terlihat.

Berry adalah sahabat Reyga sejak mereka duduk di bangku sekolah.

Mereka berbeda karakter, tetapi justru itulah yang membuat persahabatan mereka bertahan lama.

Reyga keras kepala dan lebih banyak diam. Sedangkan Berry banyak bicara, suka bercanda, dan dikenal mudah mendapatkan perhatian perempuan.

Namun di balik sifat santainya, Berry menyimpan luka yang tidak pernah ia ceritakan kepada banyak orang.

"Lo yakin mau balapan?" tanya Berry.

Reyga mengernyit. "Kenapa?"

"Tadi gue lihat tiga mobil mewah masuk."

"Terus?"

"Kayaknya bukan penonton biasa." Berry menatap ke arah pintu masuk. "Jangan-jangan, bokap lo."

Reyga terdiam. Hanya beberapa detik. Kemudian ia tersenyum tipis. "Kalau memang dia datang, baguslah."

"Bagus dari mana?"

"Dia bisa lihat sendiri."

"Apany?"

"Anaknya lebih bahagia di sini daripada di kantornya."

Berry tertawa kecil. "Lo memang nggak pernah takut-takutnya ya, sama bokap sendiri."

"Takut." Jawaban Reyga membuat tawa Berry terhenti.

Reyga menatap lintasan. "Gue malah lebih takut kehilangan hidup gue sendiri."

Berry terdiam. Ia tahu persis apa yang dimaksud sahabatnya sendiri.

Ayah Reyga memang bukan pria jahat. Namun Darmawan terlalu keras dalam mendidik anaknya. Ia percaya bahwa disiplin dan keberhasilan adalah bentuk kasih sayang.

Reyga justru merasa sebaliknya. Baginya, kasih sayang seharusnya memberinya kesempatan untuk memilih, bukan menentukan.

"Kalau suatu hari bokap lo benar-benar mencabut semua fasilitas lo?" Berry bertanya.

Reyga menoleh. "Gue akan kerja."

"Kerja apaan?"

"Jadi pembalap."

"Kalau balapan ternyata nggak menghasilkan cukup uang?" tanya Berry lagi.

"Gue akan cari kerja lainnya."

Berry tertawa. "Lo serius?"

"Serius." Reyga menatap sahabatnya. "Gue nggak takut hidup susah. Gue cuma takut menjalani hidup yang bukan pilihan gue."

Berry mengangguk pelan. Ia memahami perasaan itu. Karena dirinya juga pernah kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kebebasan.

Keluarganya.

Kedua orangtuanya bercerai ketika Berry berusia dua belas tahun. Perselingkuhan ibunya menjadi penyebab semuanya berantakan.

Sejak hari itu, ayahnya berubah. Dulu pria itu hangat. Setelah perceraian, ia menjadi dingin, pendiam, dan sering sakit-sakitan.

Berry tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta hanya akan berakhir dengan pengkhianatan.

Karena itu, ia memilih menjadi lelaki yang tidak pernah serius kepada perempuan.

Berpacaran sebentar dan bersenang-senang. Kemudian pergi. Baginya, lebih baik meninggalkan daripada ditinggalkan.

"Para pembalap, bersiaplah di garis start!" Suara panitia terdengar dari pengeras suara.

Reyga memasang helm. Berry menepuk bahunya. "Kali ini kau harus menang."

Reyga menaiki motornya. "Doain aja."

"Kalau kalah?" Berry mendelik.

Reyga menyalakan mesin. "Gue tetap pulang sebagai Reyga."

Suara mesin menggelegar. Beberapa detik kemudian, seluruh pembalap melesat.

Di sisi lain kota, sebuah mobil sederhana berhenti di depan gedung perkantoran.

Seorang perempuan muda turun sambil membawa tas selempang.

Namanya Amelia. Usianya dua puluh dua tahun. Ia seorang reporter muda yang sedang berusaha membangun karier.

Amelia tidak memiliki kehidupan semewah orang-orang yang sering ia wawancarai. Ia bahkan harus menghitung pengeluaran dengan hati-hati setiap bulan.

Sebagian besar penghasilannya digunakan untuk membantu keluarganya. Karena itu, pekerjaan baginya bukanlah sekadar pekerjaan.

Pekerjaan adalah alasan keluarganya tetap bisa bertahan.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari ibunya masuk.

Ibu : Jangan pulang terlalu malam, Lia.

Amelia tersenyum kecil lalu membalas.

Amelia : Iya, Bu. Lia masih ada tugas. Jangan khawatir.

Ia memasukkan ponsel ke dalam tas. Kemudian mengambil buku catatan. Di halaman pertama tertulis satu nama.

REYGA.

Pembalap muda yang sedang naik daun. Berbakat, tampan dan kaya raya. Dan juga terkenal sulit diwawancarai.

Amelia menghela napas. "Kenapa harus dia?"

Atasannya memberikan tugas itu sore tadi. Ia harus mendapatkan wawancara eksklusif tentang Reyga. Kalau berhasil, artikel itu bisa menjadi kesempatan besar bagi kariernya.

Tapi kalau gagal? Amelia tidak berani membayangkannya. Lalu Amelia segera menuju lokasi balapan.

Balapan berlangsung sengit. Reyga berada di posisi kedua. Seorang pembalap berada tepat di depannya. Sorakan penonton semakin keras. Berry berdiri di pinggir lintasan.

"Ayo, Reeey!"

Lap terakhir.

Reyga menunduk. Tangannya menarik gas lebih dalam. Motor nomor 89 melaju semakin cepat.

Di tikungan terakhir. Ia mengambil jalur luar. Kemudian menyalip beberapa motor.

Satu motor.

Dua motor.

Dan...

Akhirnya, Reyga dapat melewati garis finis lebih dahulu.

Sorak sorai langsung pecah.

Berry mengepalkan tangan dengan gembira.

"Yes. Menaaaang!"

Reyga menghentikan motornya. Ia membuka helm. Keringat membasahi rambutnya. Senyum puas terlihat di wajahnya.

Namun senyum itu perlahan menghilang ketika ia melihat seseorang berdiri tidak jauh dari sana.

Seorang pria berusia lima puluhan. Mengenakan jas hitam. Wajahnya terlihat dingin.

Tuan Darmawan. Ayahnya.

Reyga menghela napas panjang.

"Bagus." Berry berdiri di sampingnya. "Dia benar-benar datang."

Reyga menyerahkan helm. "Gue yang urus sendiri." Ia berjalan menghampiri ayahnya.

Darmawan sama sekali tidak memberikan ucapan selamat. "Besok pagi, kau ikut Ayah ke kantor."

Reyga langsung mengernyit. "Besok gue latihan." ucapnya santai.

"Batalkan."

"Nggak bisa."

"Ada rapat penting."

"Suruh orang lain saja."

"Reyga!"

Nada suara Darmawan mulai mengeras. "Ayah tidak sedang memintamu."

Reyga menatapnya. "Terus?"

"Kamu harus mulai belajar mengurus perusahaan." tegas Darmawan. Reyga tertawa hambar.

"Kapan kamu akan berhenti bermain-main dengan motor?" tanyanya. "Ini bukan permainan. Balapan bukan masa depan." lanjut pria paruh baya itu lagi.

"Itu menurut Ayah." timpal Reyga.

Darmawan terdiam.

Reyga menarik napas. "Ayah punya perusahaan. Ayah punya hidup yang Ayah inginkan. Lalu kenapa Reyga nggak boleh punya hidup sendiri?"

"Karena kamu anak Ayah. Dan, Ayah tahu apa yang terbaik untukmu."

Reyga menggeleng. "Itu masalahnya."

"Apa?" Darmawan mengernyit dahi.

"Ayah selalu tahu apa yang terbaik buat Reyga." Matanya mulai memerah, tetapi ia menahannya. "Ayah nggak pernah bertanya apa yang Reyga mau selama ini."

Darmawan terdiam. Reyga berbalik. Namun sebelum pergi, ia berkata pelan.

"Reyga bukan proyek perusahaan, Yah." Lalu ia melangkah pergi meninggalkan ayahnya.

Berry yang melihat dari kejauhan hanya menghela napas. Ia tahu pertengkaran itu belum selesai.

Amelia akhirnya tiba di area paddock. Ia berlari kecil sambil membawa kamera.

"Permisi, permisi!"

Kerumunan orang membuatnya kesulitan mencari Reyga.

Saat berbelok, seseorang tidak sengaja menabraknya. Buku catatannya jatuh.

"Maaf!"

Amelia buru-buru berjongkok. Namun sebuah tangan lebih dahulu mengambil bukunya.

"Nih."

Amelia mengangkat wajah. Seorang pemuda berdiri di depannya. Rambutnya masih sedikit basah oleh keringat. Racing suit hitam dengan nomor 89 masih melekat di tubuhnya.

Amelia langsung mengenalinya. Reyga. Jeritnya dalam hati. Ia seolah mendapatkan kesempatan emas.

Klik!

Kamera siap, Amelia mulai mengambil gambar.

Reyga mengernyit. "Hei, lo siapa?"

"Amelia." jawabnya.

"Ngapain lo foto gue?"

"Saya reporter."

"Gue nggak mau diwawancarai."

Amelia berkedip. "Saya belum bilang mau wawancara."

"Tapi Lo bawa kamera kan."

"Karena memang saya reporter."

"Berarti Lo mau cari berita."

"Iya."

"Jawabannya tetap nggak."

Reyga berjalan pergi. Amelia menatap punggungnya dengan kesal.

"Pak Reyga!"

Langkah Reyga berhenti. Ia menoleh.

"Besok saya akan tetap mencari anda untuk wawancara!" teriaknya.

Reyga mengangkat alis. "Jangan ganggu gue." tegasnya.

"Tapi pekerjaan saya tergantung dari berita ini?"

"Itu bukan urusan gue." Ia kembali berjalan.

Amelia mengepalkan tangannya. "Huuh! Dia itu sombong sekali!" sahutnya kesal.

Dari kejauhan Berry yang melihat kejadian itu tertawa. "Menarik."

Reyga menatapnya. "Apanya?"

"Kayaknya ada orang yang bakal bikin hidup lo ribet." ledek Berry.

"Namanya juga reporter." ketus Reyga.

Berry menyeringai. "Atau calon pacar?"

"Diamlah."

Berry tertawa geli.

*****

Malam semakin larut.

Setelah balapan selesai, Berry berdiri sendirian di dekat motornya. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Satu pesan masuk dan nomor baru yang tidak ia kenali.

Berry mengernyit, lalu ia membuka pesan tersebut.

Berry menatap layar lama sekali. Hanya ada satu kalimat. Tapi berhasil membuat dadanya seketika terasa sesak.

"Berry, aku rasa sudah waktunya kamu tahu sesuatu."

~Melda~

MELDA. Perempuan polos yang dulu ia dekati hanya karena ingin bermain-main. Perempuan yang percaya sepenuhnya kepadanya. Perempuan yang akhirnya ia tinggalkan. Dan sengaja Berry memblokir nomernya demi tidak ingin diganggu lagi.

Senyum Berry seketika menghilang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya menggenggam ponsel.

Apa yang ingin Melda katakan?

Bersambung...

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!