Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Cahaya biru pudar itu berdenyut tipis, memantulkan bias dingin di atas kristal salju yang mengurung tubuh Ren. Di hadapannya, tulisan transparan melayang di udara, berkilau laksana hantu digital yang menolak lenyap. Dinginnya malam seolah kehilangan gigitannya, digantikan oleh sensasi terbakar yang menjalar hebat dari lubang luka di dekat rusuk kirinya.
Ren mengerjap lambat. Bulu matanya yang basah oleh air mata dan kristal es merekat satu sama lain, membuat penglihatannya kabur. Napasnya tersenggal dalam ritme yang patah-patah. Ia tidak tahu apakah bayangan teks melayang itu adalah halusinasi terakhir dari orang yang sekarat, ataukah iblis es yang datang untuk mencabut sisa-sisa jiwanya. Ia tidak peduli. Yang ia rasakan hanyalah denyut nadi di pelipisnya yang berdetak begitu cepat, memukul gendang telinganya dengan irama yang memekakkan.
Dug. Dug. Dug.
Namun, detak itu tidak lagi berirama seperti jantung manusia normal. Suaranya bergema berat, bergemuruh mirip roda baja berdiameter besar yang bergesekan dengan rel tua di dalam terowongan bawah tanah.
"Ah..." Ren mengerang tertahan. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam di bawah deru angin badai yang kembali menderu di luar perlindungan tebing es.
Rasa sakit di tubuhnya mendadak meledak hebat. Bukan sekadar rasa nyeri akibat luka sabetan belati plasma Kapten Vane, melainkan rasa sakit yang jauh lebih dalam, seolah-olah tulang dada dan otot-otot di rongga dadanya sedang dibongkar paksa dan dirakit ulang dengan baut-baut besi panas. Setiap kali rongga dadanya mengempis, ia bisa merasakan logam cair yang mendingin dengan cepat, mengisi ruang kosong di mana hatinya seharusnya berada.
Di udara, barisan teks baru mulai terukir menggantikan teks sebelumnya, berkedip-kedip dengan cahaya biru yang semakin tajam:
[Peringatan Kritis: Kerusakan Organ Inti Mencapai 91%]
[Mendeteksi Kehendak Mutlak & Kebencian Absolut Pada Subjek...]
[Memulai Protokol Sinkronisasi Paksa: Jantung Biologis Digantikan Dengan Inti Lokomotif Purba.]
[Proses: 10%... 35%... 68%...]
Ren mencengkeram erat salju di bawah tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit itu merambat naik ke lehernya, membuat urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol keluar menyerupai akar pohon kering. Ia ingin berteriak, memuntahkan seluruh penderitaan dan amarah yang menyesakkan dada, tetapi tenggorokannya terasa kering, seolah-olah ia telah menelan pasir gurun yang membeku.
Di dalam kesadarannya yang mulai melayang di ambang batas kegelapan, bayangan wajah Lily kembali berkelebat. Senyuman terakhir adiknya sebelum bilah plasma menembus dada mungil itu kembali terputar jelas di dalam kepalanya. Senyuman yang penuh pengorbanan. Senyuman yang memaksanya untuk tetap hidup, meskipun seluruh dunia telah merenggut segalanya dari sisinya.
Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku? jerit batin Ren meronta-ronta dalam keputusasaan yang pekat.
Kebencian itu—hitam, legam, dan membakar—bukan lagi sekadar emosi biasa. Itu adalah bahan bakar. Itu adalah api purba yang menolak padam meskipun disiram oleh lautan salju abadi. Sistem membaca gelombang kebencian dan determinasi mati-matian itu. Di dalam dunia di mana manusia tidak lebih dari sekadar mangsa bagi korporasi dan badai es, keputusasaan yang diiringi tekad bulat adalah kunci utama yang membuka gerbang kekuatan terlarang.
[Proses Sinkronisasi: 92%... 99%... 100%.]
[Sinkronisasi Sempurna Berhasil.]
[Jantung Biologis Telah Digantikan oleh: The Core Engine (Mk.0)]
Sebuah ledakan energi nirwarna berdenyut dari dada Ren, meradiasi gelombang kejut termal yang serta-merta melelehkan salju dalam radius satu meter di sekeliling tubuhnya. Air lelehan itu mendesis dan menguap menjadi kepulan kabut putih tipis.
Ren terkesiap kuat-kuat. Matanya yang tadinya sayu mendadak terbuka lebar. Bola matanya memantulkan pendaran cahaya biru terang yang berpendar di balik kulit dadanya. Ia menarik napas dalam-dalam—bukan lagi udara dingin yang menyiksa, melainkan aliran energi panas yang mengisi setiap sel di tubuhnya, memberikan kekuatan baru yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Sistem tidak berhenti di situ. Serangkaian teks baru kembali muncul di hadapannya, mencetak informasi secara cepat dan terstruktur:
[Menganalisis Kelas Tempur Selesai...]
[Class Terpilih: Railway Vanguard (Level1)
[Atribut Dasar Diperbarui]
• HP (Healthy Points): 100/100 (Stabil)
• Energy Core: 50/50 (Lokomotif Dasar)
• Strength: 18 (+5 Bonus Sinkronisasi)
• Agility: 15 (+3 Bonus Sinkronisasi)
• Endurance: 20 (+8 Bonus Sinkronisasi)
[Menerima Item Pemula Kelas Vanguard:]
• Senjata Utama: Rust-Bite Blade (Pedang Karat Penggigit)
• Atribut Senjata: Daya tahan sedang, kemampuan penetrasi armor tingkat rendah, memberikan efek Bleed pada musuh.
Bersamaan dengan selesainya deretan teks tersebut, sebuah ruang inventaris virtual terbuka di sisi pandangan Ren. Dari dalam celah cahaya biru yang berpendar di atas salju, gagang sebuah pedang berkarat dengan lilitan kawat baja di bagian pegangannya perlahan-lahan muncul ke permukaan, seolah ditarik dari dalam tanah yang tak terlihat.
Ren, dengan tangan kanannya yang masih gemetar hebat, meraba gagang pedang tersebut. Begitu jari-jarinya menggenggam besi dingin itu, getaran aneh langsung merambat dari pedang langsung ke telapak tangannya, seirama dengan detak jantung barunya yang kini bergemuruh di dalam dada. Pedang itu terasa berat, tetapi di saat yang sama, ia merasakan ikatan emosional yang kuat, seolah senjata itu memang diciptakan khusus untuk menumpas darah para bajingan yang telah merenggut nyawa adiknya.
Ia mendongakkan kepalanya perlahan. Langit malam di atas Zona Periferi masih kelam, diselimuti badai salju yang melolong liar. Namun, pandangan Ren kini tidak lagi kabur. Kegelapan malam tidak lagi tampak menakutkan; sebaliknya, ia bisa melihat detail-detail kecil dari serpihan es yang berjatuhan, mendengarkan desir angin dengan kepekaan pendengaran yang jauh melampaui batas manusia biasa.
Ia berdiri perlahan. Kakinya yang tadinya lumpuh karena kedinginan kini menapak kokoh di atas salju. Setiap otot di tubuhnya terasa padat, dipenuhi oleh aliran energi panas yang dipompa oleh mesin di dalam dadanya.
Ren menatap tajam ke arah jalur rel tua yang tertimbun salju di hadapannya—jalur yang sama yang digunakan oleh kereta Korporasi Frost-Guard untuk kabur setelah menghancurkan hidupnya.
Ia mengangkat Rust-Bite Blade dengan tangan kanannya. Bilah pedang yang berkarat itu memantulkan pendaran cahaya biru dari matanya, menciptakan kontras yang tajam di tengah hamparan putih dunia es yang mati.
Belum sempat ia menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di kepalanya, sebuah suara gesekan logam berderit nyaring dari arah kejauhan di balik bukit es—suara mesin diesel berat yang mendekat dengan kecepatan tinggi, disertai sorot lampu pencari berdaya besar yang menyapu permukaan salju, langsung menyorot tepat ke arah tempat persembunyiannya.
•
•
•
•
Huhuhu maaf banget kalo sistemnya kurang nyambung karna ini pertama kalinya aku bikin genre sistem. Gimana menurut kalian cerita ke 2 aku ini? Jangan lupa like and komen ya, makasih yang udah baca😉