Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Liontin Zass
Tahun-tahun berlalu bagaikan bayangan angin malam yang berlalu dingin. Sejak hari pengusiran yang menyakitkan di perbatasan Kerajaan Imperial, Zass melangkah tanpa arah, membiarkan kakinya membawa tubuhnya mengembara dari satu desa ke desa lainnya. Takdir yang keras telah menggembleng fisiknya, namun di saat yang sama membekukan hatinya.
Di usianya yang kini menginjak 17 tahun, Zass bukan lagi anak penempa besi bersuara lembut. Ia tumbuh menjadi pemuda berpostur tinggi tegap dengan tatapan mata yang dingin dan tajam bagaikan mata pisau. Luka pengusiran, kehilangan, dan kesendirian mengikis senyumannya, menyisakan sosok pemuda pendiam yang hidup asal-asalan. Ia bekerja serabutan—mulai dari menjadi kuli angkut hingga pengawal kargo—hanya demi sesuap nasi dan seteguk air untuk bertahan hidup.
Suatu hari, langkah kakinya membawanya menembus Padang Pasir Tengkorak, wilayah tandus tak bertepi yang terkenal mematikan. Tanpa perbekalan makanan dan air yang memadai, Zass terus berjalan di bawah terik matahari yang membakar. Pada hari ketiga, pandangannya meliuk-liuk, pandangannya menggelap, dan tubuhnya akhirnya roboh tak berdaya di atas pasir yang panas.
Saat Zass perlahan membuka matanya, rasa dingin yang menyejukkan langsung menyapa kulitnya. Ia tidak lagi berada di bawah terik gurun, melainkan berbaring di atas tempat tidur kayu yang sederhana di dalam sebuah kamar yang rapi.
Zass segera beranjak, memegang gagang pedang di pinggangnya secara refleks—sebuah insting bertahan hidup yang telah terpatri selama bertahun-tahun berkelana. Ia melangkah keluar dari kamar, menyusuri sebuah lorong batu bersuasana remang-remang. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu kayu tebal. Begitu Zass mendorong pintu tersebut, riuh rendah suara gelak tawa dan denting gelas langsung menyergap pendengarannya.
Ia berdiri di ambang pintu sebuah bar yang sangat ramai. Bau minuman fermentasi, aroma daging panggang, dan tawa para pengunjung memenuhi udara. Namun, saat Zass melangkah masuk, tatapan mata tajamnya yang sedingin es membuat beberapa pengunjung mendadak bungkam dan memberikan jalan.
Dari balik meja bar kayu jati yang panjang, seorang pria tua bertubuh kekar dengan rambut beruban menyapanya.
"Kau sudah bangun, Pemuda?" panggil pria itu dengan suara berat yang berwibawa.
Di samping pria tua itu, dua pria berusia tiga puluhan dengan perawakan tangguh tampak sibuk menyajikan minuman, sementara dua pemuda berusia 20 tahun—seorang pemuda dan seorang gadis muda—sedang merapikan meja-meja di sekitar bar.
"Di mana aku?" tanya Zass datar, tatapannya tetap waspada.
"Kau berada di Bar Gurun Perbatasan," jawab pria tua itu seraya mengelap sebuah gelas. "Namaku Robert, pemilik tempat ini. Aku berumur 57 tahun, tapi mataku masih cukup tajam untuk melihat seseorang yang hampir mati di tengah padang pasir. Kedua pria di sana adalah Ryu dan Ken, keduanya berumur 36 tahun. Dan dua anak muda yang membantumu membopong masuk adalah Okta dan Kayla, mereka berumur 20 tahun."
Zass hanya mengangguk tipis tanpa niat memperkenalkan diri lebih jauh. "Terima kasih telah menolongku. Aku harus pergi."
"Tunggu sebentar, Nak," sela Robert. "Duduklah dulu. Minum air ini, kau baru saja pulih dari dehidrasi parah."
Zass ragu sejenak, namun rasa haus yang menyiksa membuatnya akhirnya melangkah mendekati meja bar dan duduk di salah satu kursi kayu. Ryu menyodorkan segelas air dingin pada Zass. Saat Zass meraih gelas tersebut, gerakan dadanya membuat jubah kusamnya sedikit tersingkap, memunculkan sebuah kalung yang tersangkut di lehernya.
Sebuah liontin berbentuk belah ketupat berwarna ungu gelap memancarkan pendar redup di balik pakaiannya.
Seketika itu juga, pergerakan di balik meja bar terhenti total. Robert, Ryu, dan Ken membelalakkan mata. Tatapan mereka bertiga terkunci rapat pada liontin ungu tersebut. Suasana di sekitar meja bar mendadak berubah menjadi sangat tegang.
"Liontin itu..." gumam Ryu dengan suara bergetar.
Ken melangkah mendekat, matanya menatap liontin itu tanpa berkedip. "Tidak mungkin... bentuk ini, pendar ungu ini..."
Robert meletakkan gelas yang diusapnya dengan tangan yang perlahan gemetar. Pria tua itu menatap wajah Zass dengan sangat lekat—memperhatikan bentuk rahang, garis mata tajam, dan struktur wajah pemuda 17 tahun di hadapannya.
"Kau... kau adalah anak dari Lion, bukan?" tanya Robert dengan nada suara yang penuh penekanan dan kerinduan yang mendalam.
Zass seketika menegakkan tubuhnya, matanya membendung rasa kaget yang luar biasa. Tatapan dinginnya berubah menjadi tajam penuh selidik. Selama bertahun-tahun berkelana, tak pernah ada seorang pun yang mengenal nama ayahnya.
"Dari mana kau tahu nama ayahku?!" desak Zass seraya mencengkeram gagang pedangnya lebih erat.
Melihat reaksi Zass, Robert justru menghembuskan napas panjang, sebuah senyuman haru terukir di wajah kataniannya yang dipenuhi luka parut. Ryu dan Ken saling berpandangan dengan raut wajah tak percaya, sementara Okta dan Kayla mendekat dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi.
"Dugaanku benar," panggil Robert lembut. "Bentuk mukamu, tatapan matamu yang tajam itu... kau adalah darah daging dari Lion, Penguasa Petir Ungu Legendaris."
"Penguasa Petir?" ulang Zass heran. Ia tidak pernah tahu bahwa ayahnya memiliki julukan semacam itu. Bagi Zass, ayahnya hanyalah seorang penempa pedang biasa yang tinggal di gubuk kusam.
"Duduklah yang tenang, Nak," bujuk Robert. "Biar kuceritakan padamu siapa ayahmu sebenarnya, dan mengapa kami semua di sini begitu mengenal liontin ungu di lehermu itu."
Zass perlahan menurunkan tangannya dari gagang pedang, duduk kembali dengan rasa ingin tahu yang membakar dadanya. Robert kemudian duduk di hadapan Zass, matanya menatap menerobos kenangan puluhan tahun silam.
"Kisah ini bermula puluhan tahun yang lalu, saat aku dan ayahmu, Lion, masih berusia awal 20-an," cerita Robert dengan suara bernuansa nostalgia.
"Kala itu, kami berdua adalah petualang muda yang sama-sama dikaruniai kekuatan elemental langka: kekuatan petir. Aku memiliki elemen Petir Hitam yang pekat, sedangkan ayahmu... Lion, adalah pemilik elemen Petir Ungu yang sangat legendaris, elemen petir paling murni dan paling mematikan yang pernah ada di daratan ini.
Kami bertemu secara tidak sengaja di persimpangan jalan, bertarung karena kesalahpahaman kecil, hingga akhirnya menjadi sahabat sejati yang tak terpisahkan. Bersama-sama, kami mendirikan bar ini sebagai tempat berlindung dan markas bagi para pengguna kekuatan petir yang tersingkir dari masyarakat. Bertahun-tahun kami mengelola bar ini bersama, melewati ratusan pertarungan dan petualangan yang tak terhitung jumlahnya.
Waktu berlalu cepat. Saat usia kami menginjak 37 tahun, kami menyadari bahwa tempat ini membutuhkan penerus. Suatu hari, Lion bertemu dengan dua pemuda berbakat yang memiliki elemen petir unik—Ryu yang menguasai Petir Oren dan Ken yang menguasai Petir Kuning. Ayahmu merekrut mereka berdua, mengajari mereka bertarung dan mengendalikan energi petir mereka. Tak lama setelah itu, kami juga mengadopsi dua bayi yatim piatu berusia 2 tahun dari panti asuhan yang berbeda. Lion dan aku memutuskan untuk merawat mereka, memperlakukan mereka seperti anak kami sendiri. Dua bayi itu adalah Okta, yang menguasai Petir Biru, dan Kayla, yang mewarisi kekuatan Petir Merah.
Kami berenam hidup bagaikan keluarga besar di bar ini. Hingga pada suatu hari, sebuah surat sampai ke tangan Lion. Wajah ayahmu yang biasanya garang mendadak melunak penuh kebahagiaan saat membaca surat itu.
'Robert,' kata ayahmu padaku hari itu dengan senyuman paling lebar yang pernah kulihat. 'Istriku di desa telah melahirkan seorang putra. Aku telah menjadi seorang ayah.'
Lion kemudian mengambil liontin belah ketupat berwarna ungu ini—simbol utama dari inti kekuatan Petir Ungu miliknya—dan menunjukkan padaku. Dia bilang dia akan memensiunkan diri dari dunia pertarungan, kembali ke desanya untuk menjadi penempa besi biasa agar bisa merawat istri dan anaknya dalam kedamaian. Ia menyerahkan seluruh kepemilikan bar ini padaku, lalu pamit pergi membawa liontin itu untuk kelak diwariskan kepada putranya.
Sejak hari itu, kami tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Kami hanya tahu, jika suatu hari nanti ada seorang pemuda yang membawa liontin ungu ini... maka dia adalah putra tunggal dari Lion."
Robert mengakhiri ceritanya. Suasana di meja bar menjadi sangat hening.
Zass terpaku di tempat duduknya. Pikirannya berputar hebat. Pria tua di hadapannya, serta empat orang karyawan bar ini... mereka semua adalah Penguasa Elemen Petir. Robert dengan Petir Hitam, Ryu dengan Petir Oren, Ken dengan Petir Kuning, Okta dengan Petir Biru, dan Kayla dengan Petir Merah.
Zass sama sekali tidak menyangka bahwa pingsannya di tengah padang pasir justru membawanya bertemu dengan orang-orang yang paling dekat dengan almarhum ayahnya.
"Ayahku... tidak pernah menceritakan semua ini," bisik Zass lirih, matanya menatap liontin ungu di genggamannya. "Dia hanya mengajariku menempa besi di gubuk tua."
"Lion melakukan itu untuk melindungimu, Nak," sahut Ryu lembut dari balik meja bar. "Dunia kekuatan elemen sangatlah keras dan penuh darah. Ayahmu hanya ingin kau tumbuh dalam kedamaian."
"Tetapi kedamaian itu tidak bertahan lama," kata Zass dengan suara dingin yang kembali menyelimuti nadanya. "Ibu dan ayahku meninggal karena sakit saat aku masih kecil. Dan aku... diusir dari kerajaan tempat aku tinggal."
Robert menatap Zass dengan pandangan penuh simpati sekaligus kebanggaan. Ia memegang pundak pemuda 17 tahun itu dengan genggaman tangan tua yang sangat kuat.
"Kau telah melalui jalan yang sangat keras dan dingin sendirian, Zass," ujar Robert tegas. "Tapi hari ini, pengembaraan tanpa arahmu telah usai. Kau berada di rumah ayahmu. Dan di dalam darahmu... mengalir warisan kekuatan Petir Ungu yang sama besarnya dengan Lion."
Mata Zass membelalak pelan saat mendengar ucapan Robert. Api takdir yang tadinya telah padam di dalam dirinya, kini mendadak tersulut kembali dengan sangat hebat.