Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pamer pesona
Keheningan merayap tebal di dalam ruang kerja megah di lantai lima puluh itu. Suara dengkur halus dari arah sofa terus terdengar secara ritmis, memecah kesunyian ruangan yang biasa bernuansa dingin dan menegangkan.
Raiden meletakkan penanya. Iris matanya yang kelam menatap lurus ke arah sofa kulit hitam, tempat istrinya terkapar tanpa daya. Posisi tidur Alexa benar-benar tidak ada harga dirinya—mulut sedikit terbuka, sebelah kaki terangkat serampangan di sandaran sofa, dan rambut hitamnya berantakan menutupi sebagian wajah.
Raiden bangkit dari kursi kebesarannya. Derap langkah kakinya yang teratur dan tanpa suara melangkah mendekati sofa. Pria itu berdiri tepat di samping tubuh Alexa, menjulang bagaikan bayangan maut.
"Bangun," perintah Raiden dengan suara rendah dan berat.
Tidak ada respons. Alexa justru mengosok hidungnya pelan, meracau samar dalam tidurnya, lalu kembali tertidur makin nyenyak. Ia benar-benar kelelahan setengah mati setelah melewati siksaan fisik dan mental sepanjang hari.
Mata Raiden memicing tajam. Rasa jengkel berbaur dengan insting membunuhnya mencetus seketika. Berani-beraninya wanita ini tertidur lelap di sarang serigala setelah meluapkan amarah dan menunjuk-nunjuk mukanya tadi?
Perlahan, tangan kanan Raiden terangkat ke udara. Jemari tangannya yang panjang dan berurat menegang, bergerak turun menuju leher jenjang Alexa yang halus tanpa perlindungan. Ia berniat mencekik wanita ini, membangunkannya dengan cara paling menyiksa, atau bahkan menghentikan napasnya sekalian agar mulut lancangnya tidak lagi mengganggu ketenangan hidupnya.
Namun... tepat saat ujung jarinya nyaris menyentuh kulit leher Alexa, gerakan tangan Raiden mendadak terhenti kaku di udara.
Pria itu mematung.
Di bawah pendar cahaya lampu meja yang temaram, wajah polos Alexa terpapar begitu jelas. Tanpa ekspresi takut, marah, atau pura-pura angkuh seperti biasanya, paras anggun wanita itu terlihat teramat sangat tenang. Alisnya yang indah rileks, bulu matanya yang lentik melengkung sempurna, dan bibirnya yang berwarna merah muda alami tampak sedikit mengerucut. Wajah itu terlihat begitu murni, jujur, dan tanpa pertahanan sedikit pun.
Raiden terpaku selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya, sang penguasa dunia bawah yang tak pernah ragu mencabut nyawa orang mendadak ragu-ranum hanya karena menatap wajah tertidur seorang wanita. Ada desiran aneh dan tak dikenal yang melintas sangat tipis di dasar hatinya yang paling membeku.
Dengan raut wajah yang kembali memudar datar, Raiden menarik kembali tangannya. Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, menatap Alexa beberapa detik lebih lama dalam diam, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan kembali ke meja kerjanya tanpa membangunkan wanita itu.
Ia membiarkannya.
Beberapa jam berlalu.
Nghh...
Alexa lenguh pelan, meregangkan kedua tangannya yang kaku. Matanya berkedip lambat, mencoba menyesuaikan pandangan dengan kegelapan. Suasana di dalam ruangan raksasa itu sudah berubah menjadi sangat remang-remang. Cahaya hanya berasal dari pendar lampu jalanan kota di luar jendela kaca raksasa dan sebuah lampu meja kerja.
Alexa duduk tegak, memegangi lehernya yang agak pegal. Ia melirik jam dinding digital di sudut ruangan.
"Anjir... udah jam sembilan malam?!" bisik Alexa melongo. "Gila, aku ketiduran sejauh ini?!"
Namun, sebelum rasa linglungnya menguap sepenuhnya, sebuah suara lenguhan manja dan terkekeh centil terdengar memecah keheningan ruangan.
"Ah... Tuan Raiden... dokumen ini susah sekali dipahami. Bisakah Anda menjelaskan bagian ini padaku lebih dekat?"
Alexa tersentak kaku di atas sofa. Suasana gelap di sudut sofa membuat keberadaannya tidak terlihat secara jelas. Ia memiringkan kepalanya sedikit, mengintip ke arah meja kerja Raiden.
Di sana, seorang wanita bergaun press-body sangat pendek dan berbahan tipis memamerkan belahan dada yang terbuka lebar sedang berdiri sangat rapat di samping kursi Raiden. Rambut pirangnya sengaja digerai bergelombang, dan aroma parfum menyengat langsung memenuhi udara. Wanita itu—seorang klien atau mungkin anak pejabat kaya—sedang membungkuk rendah dengan sengaja, mencoba menggoda Raiden yang tetap duduk tenang memegang dokumen.
'Wah... ada drama gatal malam-malam,' batin Alexa spontan, menyandarkan dagunya di tangan sembari menatap adegan itu bagaikan menonton bioskop gratis.
Namun, saat wanita bergaun seksi itu menggeser posisi berdirinya untuk makin menempel pada Raiden, matanya mendadak menangkap bayangan sosok Alexa yang sedang duduk santai di atas sofa kegelapan.
Gadis bergaun seksi itu tersentak pelan, menghentikan tingkah centilnya. Ia memicingkan mata, memindai penampilan Alexa dari atas sampai bawah.
Melihat Alexa yang hanya mengenakan kaos kasual, celana longgar, rambut berantakan bekas bangun tidur, serta bentuk tubuh yang cenderung ramping dan kurus, raut wajah wanita seksi itu seketika berubah menjadi tatapan hinaan yang teramat sangat merendahkan.
"Tuan Raiden... siapa wanita ini?" tanya gadis itu dengan nada suara yang ditinggikan, sengaja mengejek. Ia melipat tangannya di dada, melayangkan kekehan sinis ke arah Alexa.
"Kenapa ada gembel kurus kering tertidur di sofa ruangan Anda? Penampilannya lusuh sekali, tubuhnya cuma tulang dan kentut saja, tidak ada lengkungan seksi sama sekali," lanjut wanita itu tertawa mengejek, sengaja membusungkan dadanya yang menonjol untuk memamerkan keunggulannya. "Duh, merusak pemandangan ruangan mewah ini saja!"
DEG.
Kata-kata 'kurus kering' dan 'tidak ada lengkungan' seketika menghantam harga diri Alexa tepat di dada.
Mata Alexa yang tadinya mengantuk mendadak melotot lebar. Darahnya langsung mendidih membakar ubun-ubun. Seumur-umur hidup di dunia nyata maupun di dalam novel, baru kali ini ada cewek gatal berani mengejek body-nya secara terang-terangan di depan matanya sendiri!
Alexa menyibakkan rambutnya ke belakang, bangkit berdiri dari sofa dengan tatapan mata yang berkilat tajam.
"Ulangi?" desis Alexa dengan nada dingin yang menusuk.
Langkah kakinya yang tenang mendadak memancarkan dominasi yang amat pekat saat ia keluar dari kegelapan sudut sofa. Matanya yang jernih menatap wanita bergaun seksi itu dengan kilat amarah yang sangat nyata.
Jujur saja, Alexa sangat kesal! Selama ini, jiwa Alexa yang baru selalu memilih memakai pakaian serba longgar dan sedikit kebesaran—seperti kaos oversized dan kardigan tebal—bukan karena tubuhnya jelek. Justru sebaliknya! Saat pertama kali memeriksa isi lemari raksasa di kamar mansion Alteir, Alexa sendiri sampai menahan napas terkagum-kagum melihat proporsi tubuh asli milik karakter ini.
Tubuh Alexa adalah definisi s-line sempurna: pinggang yang sangat ramping dan kecil, pinggul berlekuk indah, serta dada yang padat dan berisi. Hanya saja, karena Alexa tidak suka menjadi tontonan lelaki dan merasa risih, ia sengaja menyembunyikan keindahan tubuhnya di balik pakaian-pakaian oversized yang santai.
Namun, berani-beraninya cewek gatal berparfum menyengat ini menyebutnya 'kurus kering tak berlekuk'?!
Wanita bergaun press-body itu terkekeh sinis, menyilangkan tangannya di bawah dada untuk makin memamerkan asetnya. "Kenapa? Marah? Memang kenyataannya begitu, kan? Wanita seperti kamu mana mungkin bisa menarik perhatian pria seperti Tuan Raiden. Tubuh rata begitu tidak akan pernah bisa memuaskan pria perkasa seperti beliau!"
Wanita itu melirik Raiden yang masih duduk diam membisu di meja kerjanya, lalu melayangkan senyum penuh godaan. "Hanya wanita dengan bentuk tubuh meledak dan seksi seperti akulah yang bisa memberikan kepuasan maksimal untuk Tuan Raiden di atas ranjang!"
Kata 'memuaskan' yang meluncur mulus dari mulut wanita itu benar-benar menyenggol harga diri dan jiwa kompetitif Alexa sebagai istri sah—meski pernikahan mereka dingin bagaikan es.
SRAK!
Tanpa ragu sedikit pun, Alexa melangkah maju dua tindak. Tangan rampingnya menyambar kancing kardigan longgar yang pakainya, lalu menyibakkan dan melepaskan kardigan itu begitu saja hingga jatuh mempesona ke atas lantai.
Seketika, penampilan sejati Alexa terpapar jelas di bawah pendar lampu ruangan.
Di balik kardigan tebal itu, Alexa hanya mengenakan tanktop bahan rajut ketat berwarna hitam yang mencetak sempurna bentuk tubuhnya. Kulit bahunya yang seputih porselen dan tulang selangkanya yang anggun terpapar indah. Baju ketat itu membungkus pinggangnya yang teramat kecil, serta memperlihatkan lekukan dadanya yang padat, berisi, dan sangat indah—sama sekali tidak rata seperti yang dituduhkan wanita itu!
"Mata kamu rabun ya?!" cetus Alexa sengit, melipat kedua tangannya di bawah dada hingga membuat bentuk keindahan tubuhnya makin tercetak jelas dan menonjol. "Kurus kering dari mananya, hah?! Ini namanya proporsi tubuh goddess! Pinggang kecil, berisi di tempat yang tepat! Siapa bilang cuma kamu yang bisa memuaskan Tuan Raiden?! Aku juga bisa, dan jelas bentuk milikku jauh lebih indah, alami, dan berkelas dibanding milikmu yang kelihatan penuh silikon itu!"
Wanita bergaun seksi itu seketika membelalak lebar. Wajahnya yang tebal oleh makeup mendadak memerah padam karena syok dan malu melihat lekukan tubuh Alexa yang ternyata jauh lebih sempurna dan memikat daripada miliknya.
Namun, tidak mau kalah dan merasa harga dirinya diinjak-injak oleh wanita yang dianggapnya gembel ini, wanita itu menghentakkan heels-nya keras-keras. Ia makin membusungkan dadanya ke depan, melangkah mendekati Alexa hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti.
"Oh, berani ya kamu?!" pekik wanita itu dengan suara melengking tajam. "Jangan sombong kamu! Cuma pamer tanktop begitu saja bangga! Bentuk tubuh meledakku ini sudah diakui oleh banyak pria kelas atas! Pria sekelas Tuan Raiden pasti lebih memilih wanita dewasa yang liar dan pandai menggoda di ranjang seperti aku, daripada cewek bau kencur kayak kamu!"
"Coba saja kalau berani!" tantang Alexa tak mau kalah sedikit pun. Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata wanita itu dengan dagu terangkat tinggi dan tatapan membunuh. "Kamu pikir ukuran cuma soal baju ketat?! Buka matamu lebar-lebar! Mau dibandingin dari sudut mana pun, aku jelas lebih unggul dalam segala hal untuk memuaskan su—maksudku, untuk memuaskan Tuan Raiden!"
Perdebatan panas dan saling pamer keunggulan tubuh di antara kedua wanita itu makin membara di tengah ruangan yang remang-remang. Suara adu mulut mereka bertabrakan riuh dengan kepulan emosi yang membakar udara.
Sementara itu, di balik meja kerjanya...
Raiden Damon Alteir hanya menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. Pria itu menyilangkan jemari tangannya di atas meja, menatap lurus ke arah Alexa yang berdiri dengan tanktop ketat hitamnya.
Iris mata hitam sang mafia berkilat semakin pekat dan dalam. Pandangannya mengunci lurus pada lekukan tubuh indah istrinya yang biasanya tersembunyi rapat, mendengarkan setiap kalimat provokatif dan kata 'memuaskan' yang keluar dari bibir manis Alexa dengan keheningan yang sangat berbahaya.
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄
Raiden bikin Alexa hamil
tunjukkan kehebatan mu Raiden
siap siap besok kita liat perkedel human😱