"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Penghakiman Pertama
"Seorang bayi telah dibunuh. Pembunuhnya berjalan bebas. Hari ini, kamu yang menghakimi."
Kalimat itu terdengar di kamar kecil Raka.
Terdengar di warung kopi dekat terminal Kota Elang Biru.
Terdengar di ruang keluarga apartemen Jakarta, layar ponsel mahasiswa Bandung, TV ruang tunggu klinik, billboard digital di jalan besar, dan ratusan ribu layar yang sedetik sebelumnya menampilkan iklan, sinetron, gim, atau video pendek.
Lalu wajah Wisnu Marpaung muncul.
Bukan foto buram. Bukan rumor. Wajahnya jelas, dengan nama lengkap, umur, alamat, dan status: terdakwa dalam Pengadilan Rakyat.
Di bawahnya, wajah Dewi muncul.
Bayi delapan bulan. Mata bulat. Senyum kecil. Telinga Boneka Teddy Bear berada di genggamannya.
Di kamar sementara, Kribo berdiri terpaku. "Raka... ini beneran seluruh layar?"
Raka tidak menjawab. Ia bahkan tidak yakin suaranya bisa keluar.
Bukti mulai diputar.
Rekaman Wisnu membentak Dewi.
Hasil otopsi dr. Nadia: asfiksia akibat jelly dan tekanan benda lunak pada hidung serta mulut.
Foto kain pink di lubang septik.
Foto kamar mandi bawah yang dicuci kaporit.
Teks kesaksian Jono muncul, lalu suara Jono yang gemetar diputar tanpa memperlihatkan wajahnya.
"Om Wisnu ambil boneka beruang... Om Wisnu taruh di muka Dewi... Dewi tidak gerak lagi..."
Di rumah Ratih, perempuan itu jatuh terduduk di depan TV tetangga. Bagus berdiri di sampingnya, wajahnya basah. Ia tidak memeluk Ratih. Ia hanya berdiri cukup dekat agar perempuan itu tahu ia tidak sendirian.
Di rumahnya sendiri, Wisnu menatap layar ponselnya dengan wajah memucat.
"Apa ini?" bisiknya. "Apa-apaan ini?!"
Marlina berdiri di belakangnya. Saat rekaman suaranya sendiri muncul, lututnya melemas.
Wisnu langsung menekan tombol daya ponsel. Layar mati setengah detik, lalu menyala lagi dengan logo hitam yang sama. Ia mencabut kabel televisi. Televisi tetap hidup, seolah arus listrik datang dari tempat lain. Ia berlari ke jendela dan melihat tetangga-tetangganya berdiri di halaman, semua menatap layar mereka masing-masing, lalu perlahan menoleh ke rumahnya.
"Matikan!" bentak Wisnu kepada Marlina. "Matikan semua!"
Marlina gemetar. "Tidak bisa. Wisnu, ini siapa? Siapa yang tahu?"
Di pos polisi kecamatan, Yudha berdiri di depan layar komputer yang juga dibajak. Dimas di sampingnya sudah memegang ponsel. Naluri penyidik memaksanya mengamankan setiap detik.
"Pak, ini semua bukti kita," bisik Dimas.
Yudha tidak berkedip. "Bukan cuma bukti kita. Sekarang bukti semua orang."
Di seluruh negeri, komentar mulai meledak di media sosial.
— Ini siaran apa?
— Semua HP gue kena!
— Itu bayi? Ya Tuhan, siapa orang gila itu?
— Jangan bawa agama, ini kriminal. Lihat buktinya dulu.
— Kalau benar, hukum!
Sistem tidak menunggu opini matang terlalu lama.
Layar berubah menjadi dua tombol besar.
HUKUM
BEBASKAN
Di bawahnya, hitungan mundur sepuluh menit berjalan.
【Pilih berdasarkan bukti yang telah ditampilkan.】
【Suara rakyat akan menjadi vonis.】
Raka menatap angka yang bergerak naik dengan kecepatan gila.
Satu juta suara.
Lima juta.
Dua belas juta.
Setiap suara masuk seperti ketukan palu di tengkoraknya. Buku Penghakiman di atas meja bergetar pelan. Raka merasakan dingin merayap dari ujung jari ke siku, seolah sistem meminjam tubuhnya sebagai jangkar untuk sesSatu yang terlalu besar bagi satu manusia. Ia ingin terlihat tenang di depan Kribo, tapi keringat sudah membasahi punggungnya.
"Lu pucat," kata Kribo.
"Aku masih sadar."
"Itu bukan standar yang meyakinkan, Rak."
Raka hampir tertawa, tapi suara yang keluar hanya napas pendek. Di layar, angka terus memanjat.
Persentase HUKUM tidak pernah turun di bawah sembilan puluh tujuh.
Kribo akhirnya duduk, seperti lututnya menyerah. "Bro... siapa pun yang bikin sistem ini, dia nggak main-main."
"Aku tahu," kata Raka pelan.
Tapi sebenarnya ia baru benar-benar tahu sekarang.
Alat ini memberi kuasa untuk menyeret kejahatan ke tengah lapangan dan membuat semua orang menonton.
Ketika hitungan mundur mencapai nol, layar membeku.
【HASIL VOTING】
【HUKUM: 98%】
【BEBASKAN: 2%】
【Vonis rakyat diterima. Hukuman dijatuhkan.】
Di rumahnya, Wisnu menjerit.
Tubuhnya kaku. Ponsel jatuh dari tangannya. Matanya terbuka lebar, tapi ia tidak melihat ruang tamu lagi.
Ia jatuh ke Mimpi Neraka.
Dalam mimpi itu, tubuhnya mengecil.
Tangannya tidak bisa bergerak. Kakinya lemah. Ia ingin bicara, tapi mulutnya hanya bisa mengeluarkan tangis bayi. Dunia terlalu besar. Suara orang dewasa seperti guntur di atas kepalanya.
SesSatu manis dan licin masuk ke mulutnya.
Ia tersedak.
Udara hilang.
Paru-parunya terbakar. Ia ingin mengangkat tangan, menolak, meminta tolong. Tapi tubuh kecil itu tidak memahami cara melawan. Tidak ada suara yang menjadi kata.
Lalu bayangan besar datang.
Boneka menutup wajahnya.
Gelap.
Panas.
Tidak ada udara.
Ia mati.
Lalu kembali.
SesSatu manis dan licin masuk ke mulutnya lagi.
Ia tersedak lagi.
Boneka menutup wajahnya lagi.
Mati lagi.
Loop itu berulang. Setiap kali terasa lebih panjang. Setiap kali ia tahu apa yang akan datang, tapi tidak bisa menghindar. Setiap kali ia merasakan ketakutan Dewi yang tidak punya bahasa untuk memohon.
Di dunia nyata, Wisnu kejang di lantai.
"Ampun! Ampun!" Ia mencakar lehernya sendiri. "Jangan tutup! Jangan tutup mukaku! Aku tidak bisa napas!"
Marlina menjerit. Warga berdatangan ke rumah, tapi tidak ada yang berani menyentuhnya. Semua layar masih menampilkan status hukuman berjalan.
Ratih melihat Wisnu menggeliat dari siaran itu. Air matanya turun tanpa suara. Tidak ada senyum. Tidak ada puas yang ringan. Hanya dada yang akhirnya tahu kebenaran sedang memukul orang yang tepat.
Tiga puluh menit berlalu di dunia nyata.
Bagi Wisnu, itu seperti berhari-hari.
Ketika Mimpi Neraka melepaskannya, ia terlempar kembali ke tubuhnya sendiri. Ia berlutut di lantai, muntah, menangis, memukul dahinya ke ubin.
"Saya yang melakukannya!" teriaknya. "Saya yang membunuh Dewi! Tolong hentikan! Saya suruh Jono kasih jelly! Dewi belum mati, lalu saya... saya pakai boneka itu... saya tutup wajahnya! Saya buang ke septik! Ibu bantu bersihkan! Saya mengaku! Saya mengaku!"
Seluruh Indonesia mendengar.
Sistem membiarkan pengakuan itu tayang sampai selesai.
Lalu suara mekanis kembali berbicara.
【Pengadilan Rakyat selesai.】
【Terdakwa telah mengaku.】
【Layar dikembalikan.】
Satu per satu, layar di seluruh negeri kembali normal.
Sinetron berjalan lagi di tengah adegan yang sudah tidak dipahami penontonnya. Iklan kembali muncul. Ponsel kembali ke beranda. Tapi tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula.
Di kamar kecil, Raka duduk dengan napas berat.
Kribo menatapnya seperti baru melihat sahabatnya berdiri di tepi jurang yang tidak kelihatan.
"Raka," katanya pelan, "itu... kamu?"
Raka menatap Buku Penghakiman yang perlahan tertutup.
"Aku tidak tahu harus menyebutnya apa."
Suara Hakim muncul di kepalanya.
【Pengadilan Rakyat pertama berhasil.】
【Kasus belum ditutup secara resmi.】
【Hadiah akan diberikan setelah proses formal selesai.】
Raka menutup matanya.
Keadilan datang.
Tapi tangan yang membawanya ternyata jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.