Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reset Masal
Keheningan merayap pesat di katedral data Archivia Pusat. Asap tipis membubung dari lelehan pilar pemancar utama yang telah hancur. Sirkulasi udara terhenti, meninggalkan bau ozon dan hangus yang pekat.
Di sekeliling mereka, kota Neo-Veridia sedang mengalami fajar pertamanya yang sejujurnya. Cahaya neon yang biasa memancarkan iklan-iklan pencuci otak mendadak redup, berganti dengan kilatan sinyal pemulihan sistem. Di jalanan Distrik Bawah hingga Sektor Nol, jutaan orang mendadak tersentak kenangan manis yang terampas, ingatan akan keluarga yang sempat terhapus, hingga duka masa lalu kembali mengalir deras ke dalam benak mereka. Kota itu sedang menangis dan terbangun secara massal.
Namun di dalam katedral yang porak-poranda, waktu seolah berhenti.
Maya menangis sesenggukan, memeluk erat tubuh Rian yang terkulai di pangkuannya. Jemari Rian yang dingin menyentuh pipinya dengan canggung, tanpa kehangatan dari seorang pria yang sebelumnya rela mengorbankan nyawa demi melindunginya.
"Aku... aku tidak tahu siapa kau," ulang Rian pelan, matanya menatap sekeliling dengan kepolosan yang asing. "Tapi tempat ini terasa sangat dingin."
Di dekat mereka, Leon terbaring telentang. Mantan penguasa kota itu masih bernapas, tetapi pandangan matanya sepenuhnya kosong. *Reset Massal* pembalik yang diluncurkan Rian telah menyapu bersih seluruh ingatan, ambisi, dan kekejaman dari otak Leon. Pria yang dulunya menjadi ancaman terbesar kota kini tak lebih dari sekadar cangkang kosong yang tak berbahaya.
"Kau... kau Rian Vance," bisik Maya, menyapu darah dan debu dari dahi Rian. Suaranya gemetar, menahan badai emosi yang menghempas dadanya. "Kau adalah pria yang telah mengembalikan jiwa kota ini."
"Rian Vance?" Rian mengulangi nama itu perlahan, seolah mencoba merasakan arti dari setiap suku katanya. Ia menggelengkan kepala. "Nama itu... terasa berat sekali. Aku tidak merasakannya di dalam sini." Ia menyentuh dadanya.
Maya menggigit bibirnya erat-erat. Rasa sakit di bahunya akibat tembakan laser tak ada apa-apanya dibandingkan rasa hampa yang membakar jiwanya saat ini. Pria yang bersamanya menembus malam yang kelam, pria yang menyelamatkannya di gang-gang Distrik Bawah, kini menatapnya seperti seorang asing yang baru bertemu di persimpangan jalan.
Namun, di balik kepedihan itu, Maya melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya pada diri Dr. Vance: ketenangan. Garis-garis ketegangan, beban rasa bersalah akibat penciptaan Proyek Oblivion, dan bayang-bayang masa lalu yang kelam telah menghilang dari wajah Rian.
*BZZZZT!*
Suara desis pintu darurat bawah tanah mengejutkan mereka. Kael melangkah masuk dengan napas tersengal, membawa tas medis darurat dan sebuah terminal genggam. Pria tua bermata mekanis itu membeku sejenak melihat kehancuran katedral data dan Leon yang terkulai tak berdaya.
"Demi langit Neo-Veridia..." gumam Kael, matanya yang mekanis berputar cepat menganalisis situasi. Ia melangkah mendekati Maya dan Rian. "Garis sinyal Dewan Veridia telah mati total. Jaringan kota terbebas, Maya. Tapi... Rian..."
"Dia melakukannya, Kael," bisik Maya, suaranya parau. "Dia menanggung seluruh arus balik pemancar."
Kael berlutut, memeriksa indikator vital di leher Rian menggunakan pemindai portabelnya. Ia menghela napas panjang—campuran antara duka dan rasa hormat yang mendalam. "Struktur syaraf utamanya stabil, tapi memori biologisnya... bersih tanpa sisa. *Reset Massal* ini menghapus Dr. Vance selamanya."
Rian menatap Kael, lalu beralih menatap Maya. "Apa aku melakukan sesuatu yang buruk?"
Maya menyunggingkan senyum tipis di antara linangan air matanya. Ia menggelengkan kepala pelan, menggenggam jemari Rian yang terasa hangat.
"Tidak, Rian," ujar Maya lembut. "Kau baru saja memberikan semua orang kesempatan untuk memulai hidup yang baru. Termasuk dirimu sendiri. "