Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuang Semua Kenangan
Sesuatu yang paling menyakitkan ialah, Ketika kita dikhianati oleh orang terdekat kita sendiri. Orang yang sudah mengenal kita sejak lama, Orang yang kita anggap adalah dunia kita, Orang yang kita percaya. Pada kenyatannya, Orang itu adalah penjahat nomor satu dalam hidup kita.
Kalau untuk Diandra dan Atta, Mutiara sudah terbiasa. Karena sejak awal, Mereka memang membenci Mutiara.
Setelah Mutiara mengetahui siapa dia yang sebenarnya, Gadis itu mulai sadar. Sikap Diandra selama ini menunjukkan bahwa wanita mana pun akan bersikap sama apabila mengalami hal sedemikian.
Mutiara tidak marah dengan sikap Diandra selama ini. Maklum saja, Mutiara adalah anak dari wanita lain.
Meski ibu kandungnya adalah cinta pertama Papanya, Tak menuntut kemungkinan bahwa apa yang dilakukan oleh ibunya memang salah.
Pertemuan dari sekian tahun itu memang mempersatukan cinta Galih dan Anjani bersatu. Namun, Ada satu yang perlu di ingat..
Anjani dan Galih kembali berhubungan ketika Galih sudah menjadi suami orang. Wajar kalau Anjani disebut sebagai seorang pelakor..
Pantas saja Papanya begitu sangat menyayangi nya. Karena Mutiara sendiri adalah anak dari wanita yang selalu Galih cintai.
Satu persatu fakta sudah Mutiara ketahui. Tentang siapa ibu kandungnya, Dan siapa yang orang yang membuat dirinya hampir dilecehkan.
Dan pada hari ini, Mutiara memutuskan untuk pergi. Pergi dari kehidupan orang-orang munafik yang berada disekitarnya.
Mutiara akan meninggalkan kota ini, Meninggalkan Papanya yang selalu sayang padanya.
Mutiara akan menyembuhkan luka nya sendiri tanpa bantuan siapapun. Untuk Ghazi, Mutiara akan menemui pria itu, Tapi nanti disaat waktunya yang tepat. Untuk saat ini, Mutiara harus bersiap.
Didalam kamarnya, Mutiara memasukan sebagian pakaiannya. Tak hanya itu saja, Mutiara juga menulis surat untuk Papanya.
Pria paruh baya itu adalah sumber kebahagiaannya. Maka dari itu, Papanya harus bisa bahagia tanpa dirinya.
Setiap kata yang ditulis oleh gadis itu, Adalah sebuah bukti bahwa keputusan yang Mutiara ambil ini demi kebaikan.
Dia memang bo-doh karena menyimpan semua kepahitan ini seorang diri. Tapi ini lebih baik.. Mutiara tidak mau menyusahkan orang lain termasuk Papanya yang selalu memberikan ysng terbaik.
Usai menulis surat itu, Mutiara memasukan satu lembar kertas tersebut kedalam laci.
Bukan hanya sekedar ingin pergi. Mutiara juga akan membuang semua kenangan dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Mulai dari boneka. Pakaian, seperti kaos, Jaket. Adapula, Gelang, Jam tangan, Kalung. Dan masih banyak lagi yang akan Mutiara buang. Termasuk beberapa foto persahabatan mereka.
Dan semua barang itu, Dari Kendra, Fathan bahkan Rio. Tapi itu dulu, Kalau sekarang mana bisa dia mendapatkan hadiah dari mereka.
"Barang-barang ini udah gak diperlukan lagi.. Ayo Mutiara, Semangat! Kamu gak boleh lemah cuma gara-gara orang-orang itu.." Usai memasukan semua barang tak berguna itu, Mutiara mulai bersiap hendak berangkat ke cafe.
Gadis itu menarik nafas panjang. Dia bertujuan pergi ke cafe bukan hanya sekedar berkunjung melainkan mengundurkan diri. Mulai sekarang, Mutiara akan keluar dari sana, Yang artinya tidak akan bergabung lagi dengan mereka.
Ucapan Kendra yang akan memasukan Hazel untuk bergabung membuat Mutiara mundur. Dan itu pasti valid, Karena apa? Mutiara tidak akan pernah kembali lagi.
...****************...
Mutiara masuk kedalam Cafe, Gadis itu langsung menuju keruang pribadinya bersama Kendra dan Fathan.
Mutiara memang sengaja datang di jam kerja dua pria itu. Karena dia tidak mau Kendra dan Fathan mengetahui kedatangannya.
"Mbak, Mau kemana?
Langkah Mutiara langsung berhenti, Begitu salah satu karyawan menghadang jalannya. Gadis yang bernama Ira itu berdiri tepat didepan ruangan pribadi nya.
"Aku mau masuk, Kenapa? " Ira bersedekap dada.
"Kata Mas Kendra, Mbak Tiara dilarang masuk keruangan ini. Sebelum mendapatkan izin dari Mas Kendra sendiri.." Ucap gadis itu dengan tutur kata yang judes.
Mutiara mengangguk-anggukan kepalanya. Owh, Jadi sekarang seperti itu peraturan yang dibuat Kendra terhadapnya. Dia tidak boleh masuk kecuali harus izin..
"Siapa kau berani melarangku masuk? Ingat! Kau itu hanya karyawan disini. Gak usah berlagak layaknya bos.. Ingat posisi dong?
"IRA!!
Seorang wanita bernama Devi datang. Dia adalah Karyawan senior disana.
"Biarin Mbak Tiara masuk..
"Tapi, Mbak? Kan..
"Kamu gak denger? " Ira terpaksa memberikan jalan untuk Mutiara. Gadis itu pun mulai masuk dengan bantuan kunci cadangan yang ia miliki.
"Devi..
"Ya, Mbak..
"Kamu pergi ke gudang. Ambilkan aku kardus dengan ukuran yang cukup besar..
"Baik, Mbak.." Devi tidak membantah. Wanita itu langsung melaksanakan perintah Mutiara. Dan butuh waktu yang lama, Devi kembali dengan membawa kardus besar.
"Kamu jangan kemana-mana.. Temenin aku ya?
"Ya, Mbak..
Mutiara menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengambil barang-barang miliknya yang berada disana.
Sama seperti yang dilakukan dikamarnya, Mutiara juga memasukan beberapa foto, Lukisan, Gantungan, Boneka dan semua barang Mutiara yang berada disana, Gadis itu bereskan tiada sisa.
"Mbak.. Kenapa barang-barang Mbak dimasukin semua?" Tanya Devi, Disaat karyawan yang lain mulai berubah sikap. Tapi tidak dengan Devi ini.
Mutiara tersenyum, Dia mendekati Devi lalu menyerahkan sesuatu pada wanita itu.
"Ini kartu ATM.. Semua gaji dari cafe masuk ke kartu ini semua.." Ucap Mutiara membuat Devi kurang mengerti.
"Mbak?
"Kamu pegang kartu ini, Ya? Nanti kalau Kendra datang. Kamu kasihkan. Bilang aja, Ini dari aku.. Dan kamu juga bilang aja, Kalau uang didalam nya masih utuh.. "
"Mbak mau kemana?
"Aku gak mah kemana-mana. Tapi, Ini adalah hari terakhirku kesini. Mulai hari ini, Aku resign dari cafe ini.. Toh, Udah ada penggantinya.." Usai mengatakan itu, Mutiara memanggilnya satpam yang berjaga. Meminta satpam tersebut untuk mengangkat barang-barangnya keluar.
Devi menangis, Mutiara resign dari sana. Buat apa dia bergabung dengan orang yang selalu memfitnahnya. Daripada menambah masalah, Lebih baik dia yang mengalah untuk pergi..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu terus berlanjut. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 00.15 menit. Rio baru saja selesai mengecek keamanan dikediaman mewah tersebut bersama temannya.
Rasa lelah bekerja seharian membuat pria dua puluh lima tahun tersebut mengantuk. Ia ingin segera masuk kedalam kamarnya, Lalu tidur dengan nyaman. Karena besok pagi ia harus bekerja kembali.
"Itu apa? Kok kayak asap, Ya?" Gumam pria itu. Matanya tak lepas pada sebuah asap yang mengepul ke atas. Jika diperhatikan, Asap tersebut sepertinya berasal dari taman belakang.
Tak ingin membuat panik semua orang. Rio pergi untuk mengecek sendiri dulu. Siapa yang bermain api dimalam hari begini?
"Non Tiara?"
Betapa terkejutnya Pria itu, Orang yang bermain api ditengah malam begini adalah Nona nya.
Mutiara..
Gadis itu berdiri disana seorang diri. Membakar semua barang kenangan yang tidak ingin gadis itu ingat lagi. Mutiara memasukan satu persatu barang-barang hadiah dari tiga pria pengkhianat itu kedalam api yang menjalar.
"Nona, Apa yang Nona lakukan?" Tanya Rio, Matanya menatap gadis itu. Semua barang kenangan, Termasuk boneka yang pernah Rio berikan untuk Mutiara ikut lempar kedalam api.
"NONA, JANGAN!!!" Pekik Rio, Pria itu kelimpungan melihat boneka kelinci yang lucu itu berakhir mengenaskan diatas bara api.
Rio tidak tinggal diam saja. Pria itu melepas jasnya, Mencoba mematikan api yang tengah menyala itu menggunakan jas tersebut.
"Nona? Apa yang Nona lakukan? Kenapa Nona bakar semua barang-barang ini??" Mutiara tidak menjawab.
Gadis itu tidak peduli sama sekali. Barang-barang ini harus dimusnahkan, Sama seperti mereka memusnahkan dirinya secara perlahan.
•
•
•
TBC