Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Percikan Amarah dan Dendam
Kata-kata itu menjadi ketukan palu terakhir. Devino mundur satu langkah, tangannya lemas membiarkan kertas perjanjian itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas paving.
Wajahnya pucat, menyadari bahwa ia tidak kalah oleh kekayaan Zaid... ia telah kalah oleh penundaannya sendiri.
Namun, alih-alih berbalik pergi dengan pasrah, rasa malu, ego yang hancur, dan keputusasaan yang meluap mendadak membakar habis akal sehat Devino.
Bugh!
Tanpa peringatan, tinju Devino melayang kencang menghantam rahang kiri Zaid. Tinjuan emosional itu cukup keras hingga membuat Zaid tersentuh dua langkah ke belakang.
"Devino!" jerit Nara histeris, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Beberapa pengunjung taman bermain di sekitar mereka berseru kaget, menghentikan langkah dan membentuk kerumunan kecil.
Zaid mengusap sudut bibirnya yang sedikit robek dengan ibu jari, meninggalkan jejak bercak darah tipis.
Tatapannya mendadak membeku, menyipit tajam bagai belati. Sifat tenangnya tidak hilang, melainkan berubah menjadi dominasi berbahaya yang amat menakutkan.
Sebelum Devino sempat melayangkan pukulan kedua, Zaid bergerak cepat.
Dengan satu gerakan refleks yang terlatih, Zaid mengelak, mencengkeram pergelangan tangan Devino, memutarnya ke belakang, dan melayangkan satu pukulan balasan yang terukur tepat di perut Devino.
Bugh!
Devino terbatuk keras, tubuhnya membungkuk menahan rasa sakit luar biasa di ulu hatinya, sebelum Zaid mendorongnya hingga tersungkur ke atas lantai paving.
Sudut bibir Devino meneteskan darah, napasnya memburu terengah-engah di bawah sorotan lampu taman yang mulai menyala terang.
Dada Nara berdebar amat kencang. Kepanikan memuncak hingga membuat kepalanya pening. Di satu sisi, rasa bersalah dan iba yang mendalam menghantamnya saat melihat Zaid.
Pria yang datang tanpa cela demi memasang badan melindunginya, kini harus ternoda luka akibat masalah masa lalunya. Namun di sisi lain, melihat Devino tersungkur bersimbah darah dan kesakitan di tanah, perasaan cemas tak tega membuncah tak tertahankan di dalam dadanya.
"Zaid, cukup! Tolong berhentilah!" teriak Nara dengan suara bergetar.
Nara berhamburan mendekati Devino, berlutut di samping mantan kekasihnya itu seraya berusaha menahan bahu Devino agar tidak bangkit lagi. "Dev, sudahlah! Cukup!"
Devino mendongak, menatap Nara dengan mata yang memerah dan dipenuhi amarah bercampur rasa tidak terima. Namun, alih-alih mendengarkan kepedulian di mata Nara, yang Devino dengar hanyalah bentakan yang menyudutkannya.
"Kenapa kamu harus bertindak bodoh seperti ini, Dev?!" pangkas Nara, matanya meneteskan air mata kecemasan dan kekecewaan.
"Kenapa kamu selalu menggunakan emosi daripada akal sehatmu?! Ini semua salahmu, Dev! Kenapa kamu harus memukul Zaid yang sejak awal datang secara baik-baik?!"
Kalimat Nara yang menunjuknya sebagai pihak yang bersalah menjadi pukulan terberat bagi Devino, jauh lebih menyakitkan daripada pukulan Zaid di perutnya.
Nara menyalahkannya. Di depan pria yang akan menjadi suaminya, Nara berdiri membelanya sekaligus menghakiminya.
"Aku melakukan ini demi kita, Nara!" bisik Devino parau, suaranya sarat akan penderitaan dan kekecewaan yang membakar.
"Tidak, Dev. Kamu melakukan ini demi egomu sendiri!" tegas Nara pelan, namun amat menancap.
Devino menepis tangan Nara yang berada di bahunya dengan kasar. Ia berdiri tertatih-tatih, menyapu darah di bibirnya dengan punggung tangan. Matanya menatap Nara dan Zaid bergantian dengan tatapan penuh amarah, dendam, dan rasa dikhianati.
"Bagus..." desis Devino dengan tawa sumbang yang getir. "Bagus sekali, Nara. Kamu lebih memilih membela pria asing ini daripada pria yang menunggumu bertahun-tahun. Kamu akan menyesal, karena telah memilih laki-laki, yang belum tentu kalian akan bahagia dengan pernikahan ini."
Tanpa memedulikan panggil pelan Nara, Devino membalikkan badan dan berjalan tertatih meninggalkan lokasi, menghilang cepat di balik kerumunan pengunjung taman hiburan dengan amarah yang membakar dadanya.
Suasana mendadak menjadi hening di tengah riuhnya dentingan musik bianglala. Kerumunan orang perlahan membubarkan diri.
Nara masih terpaku berlutut di atas paving, napasnya tersengal-sengal menahan tangis. Perlahan, bayangan tegap berdiri di hadapannya. Zaid menunduk, mengulurkan tangannya yang kokoh ke arah Nara.
"Berdirilah, Nara," ucap Zaid. Suaranya kembali tenang, meski luka kecil di sudut bibirnya masih meneteskan warna merah segar. "Masalahnya sudah selesai."
Nara mendongak, menatap Zaid dengan tatapan penuh rasa bersalah yang amat dalam. Perlahan, ia menyambut uluran tangan Zaid untuk bangkit berdiri, menyadari bahwa bayang-bayang masa lalunya telah benar-benar runtuh, meninggalkan dirinya dan Zaid di ambang takdir baru yang tak terhindarkan.
.
.
Zaid mengeluarkan saputangan kain berwarna abu-abu gelap dari saku kemejanya, lalu menyapu bercak darah di sudut bibirnya dengan gerakan santai, seolah pukulan Devino tadi tak lebih dari usikan nyamuk.
Ia kemudian menatap Nara yang masih berusaha menenangkan napasnya yang memburu.
"Ayo, Saya antarkan kamu pulang," ujar Zaid dengan nada tenang yang mutlak, tak terpengaruh oleh keributan yang baru saja terjadi. "Kondisimu sedang tidak stabil untuk mengemudi sendirian."
Nara menyapu sisa air mata di pipinya, lalu menggeleng pelan. "Tidak perlu, Zaid. Terima kasih banyak... tapi mobil sedan hitamku ada di parkiran depan."
Nara menatap luka kecil di bibir Zaid dengan tatapan penuh rasa bersalah yang teramat sangat. "Lagipula, kamu terluka gara-gara aku dan masa laluku. Kamu harus segera mengobati luka itu. Aku... aku bisa pulang sendiri."
Zaid memperhatikan raut wajah Nara sejenak. Pria itu menyadari ada ketegangan dan rasa canggung yang mendalam di mata calon istrinya. Tanpa memaksakan kehendak, Zaid mengangguk paham.
"Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah di jalan," balas Zaid lugas. Ia berjalan menyamai langkah Nara, berniat mengawalnya sampai ke area parkir utama.
Di sepanjang jalan menuju pintu keluar taman hiburan, Zaid berjalan persis di sisi luar Nara, secara intuitif memposisikan tubuh tegapnya sebagai pembatas dari lalu-lalang pengunjung yang memadati jalan setapak.
Saat seorang anak kecil berlari kencang memegang balon, dengan refleks cepat Zaid merangkul pelan bahu Nara untuk menariknya sedikit ke tepi, memastikannya tidak tersenggol sama sekali.
Perhatian-perhatian kecil yang implisit, dewasa, dan penuh perlindungan itu diberikan Zaid tanpa sepatah kata pun pujian atau tuntutan balasan.
Nara bisa merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan dari gestur pria itu.
Namun, di balik pilar besar sebuah wahana permainan yang remang, ada mata yang menyipit tajam menyaksikan seluruh adegan tersebut.
Devino, ia belum sepenuhnya pergi. Berdiri terengah-engah menahan sakit di perut dan rahangnya, Devino bersembunyi di balik bayang-bayang.
Menyaksikan dari kejauhan bagaimana Zaid memperlakukan Nara dengan begitu posesif namun elegan, dan bagaimana Nara tidak sedikit pun menolak perlindungan pria itu.
Dada Devino bergemuruh hebat, rasanya seperti dihantam ribuan jarum beracun.
Percikan dendam yang sangat pekat membakar habis nuraninya.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa wanita yang selama bertahun-tahun berbagi tawa, tangis, dan impian bersamanya... kini membiarkan pria lain menggantikan posisinya dengan begitu mudah?
Bagaimana bisa Nara lebih memilih pria asing bernapas dingin yang baru dikenalnya beberapa minggu, lalu menghempaskan seluruh kenangan manis dan perjuangan yang telah mereka lalui bersama?
"Kamu lebih memilih dia, Nara..." desis Devino parau, suaranya dipenuhi racun kebencian yang mendalam. Kepalan tangannya menghantam pilar kayu di sampingnya hingga buku-buku jemarinya memerah.
Di mata Devino yang diselimuti kabut ego dan sakit hati, Nara bukan lagi cinta masa lalunya yang patut diikhlaskan, melainkan sebuah penghinaan yang harus dibayar tuntas.
Pukulan Zaid di perutnya dan kalimat penghakiman dari mulut Nara terus bergema di telinganya bagai dentang lonceng kematian.
Ia menatap mobil sedan hitam milik Nara yang perlahan bergerak meluncur meninggalkan area parkir, menyusul mobil hitam mewah Zaid yang mengekor di belakangnya dari jarak aman untuk memastikannya selamat sampai rumah.
Devino mengusap kasar darah kental di bibirnya, membiarkan rasa asin darah itu meresap di lidahnya.
"Ini belum selesai," bisiknya tajam pada kegelapan malam kota. "Aku tidak akan biarkan kalian berdua hidup tenang di atas penderitaanku."
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏