NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Ban mobil Jeffry berdecit tajam saat memasuki halaman unit gawat darurat rumah sakit terdekat.

Begitu mesin mati, pria itu tanpa membuang sedetik pun langsung keluar, membuka pintu belakang, dan kembali membopong tubuh Puja yang terkulai lemas ke dalam IGD.

"Suster! Tolong istri saya!" teriak Jeffry panik, suaranya memecah keheningan malam di rumah sakit.

Beberapa perawat yang bertugas langsung bergerak cepat.

Mereka mendorong sebuah brangkar dan meminta Jeffry membaringkan Puja di atasnya.

Dengan sigap, tenaga medis itu mulai memeriksa kondisi Puja yang masih tak sadarkan diri dengan noda darah yang mengering di sekitar hidungnya.

Sebelum Jeffry sempat melangkah lebih jauh untuk mendampingi istrinya, seorang perawat menahan lengannya dengan sopan namun tegas.

"Maaf, Pak. Silakan tunggu di luar garis kuning ini, biar dokter dan tim medis yang menanganinya sekarang," ujar perawat tersebut sembari menutup tirai pembatas.

Ceklek.

Tirai putih itu tertutup rapat, memisahkan Jeffry dari sang istri.

Pria itu terdorong mundur hingga punggungnya membentur dinding koridor rumah sakit yang dingin.

Lututnya mendadak lemas. Jeffry merosot pelan, lalu duduk di kursi tunggu dengan kedua tangan menangkup wajahnya yang basah oleh keringat dan air mata penyesalan.

"Astaghfirullah..." lirih Jeffry dengan suara bergetar hebat.

"Ya Allah... ampuni aku..."

Kilasan memori dari pertengkaran hebat mereka tadi malam berputar kejam di kepala Jeffry.

Bayangan saat ia membentak Puja, menuduhnya berselingkuh dengan Andy, hingga ego butanya yang mengabaikan air mata dan rintihan sang istri terus menghujam batinnya tanpa ampun.

Ia teringat bagaimana Puja menangis histeris di bawah hujan, memohon agar ia tidak pergi.

Dan sebagai balasannya, ia justru meninggalkan wanita yang sangat dicintainya itu seorang diri dalam keadaan hancur, hingga berujung pada kondisi kritis seperti sekarang.

"Aku suami macam apa..." gumam Jeffry penuh siksaan batin, merutuki kebodohannya sendiri sambil mencengkeram rambutnya erat-erat, di tengah keheningan lorong rumah sakit yang semakin terasa mencekam.

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Jeffry merogoh saku celananya.

Ia membuka kunci ponselnya, jemarinya lincah mencari satu nama di daftar kontak: Abah Ali.

Setelah beberapa kali dering, sambungan telepon itu terangkat.

"Abah..." suara Jeffry pecah, nyaris tak terdengar.

"Jeffry?" Suara berat dan tenang dari seberang telepon terdengar menenangkan.

"Ada apa, Nak? Kamu terdengar tidak baik-baik saja."

"Puja, Bah... Puja..." Jeffry terisak, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Dia... dia pendarahan, Bah. Sekarang sedang di IGD."

"Istighfar, Jeffry. Tenang dulu, tarik napasmu," perintah Kyai Ali dengan nada yang tetap stabil namun tegas.

"Coba ceritakan pelan-pelan kepada Abah, apa yang sebenarnya terjadi?"

Dalam isak tangis yang tertahan, Jeffry menceritakan semuanya.

Mulai dari kecemburuannya pada Andy, pertengkaran hebat mereka malam ini, hingga ia yang tega membiarkan istrinya menangis di bawah hujan deras sebelum akhirnya ia mendapati Puja terkulai lemas dengan darah yang keluar dari hidungnya.

Jeffry mengakui semua ego dan kebodohannya di hadapan sang Kyai.

"Abah tidak akan menghakimi tindakanmu sekarang, Jeffry. Sekarang tugasmu adalah menjaga Puja dan memohon ampun kepada Allah," ujar Kyai Ali setelah mendengar semuanya.

"Abah segera ke sana. Jangan beritahu siapa pun, bahkan pihak pondok sekalipun. Abah ingin langsung melihat kondisinya."

Tanpa membuang waktu, Kyai Ali memutus sambungan telepon.

Malam itu juga, dengan jubah yang disampirkan di bahu, beliau bergegas menuju rumah sakit.

Tanpa dikawal santri, tanpa membangunkan siapa pun, beliau memacu kendaraannya menembus sisa-sisa malam yang dingin, membawa doa dan harapan agar putri dari salah satu murid kesayangannya itu diberikan keselamatan.

Tak lama setelah sambungan telepon itu terputus, tirai putih pembatas IGD tersibak.

Seorang dokter berjas putih keluar dengan wajah serius, membawa sebuah papan klip rekam medis di tangannya.

Jeffry yang sejak tadi duduk gelisah langsung bangkit berdiri, menyongsong sang dokter dengan langkah tergesa.

"Dok! Bagaimana keadaan istri saya, Dok?!" tanya Jeffry dengan suara bergetar penuh kepanikan.

Dokter paruh baya itu menghela napas sejenak, menatap Jeffry dengan sorot mata prihatin. "Anda suami dari pasien Puja?"

"Iya, Dok. Saya suaminya."

"Mari ikut saya sebentar, atau Anda bisa dengarkan baik-baik penjelasan saya," ucap sang dokter memulai penjelasannya dengan nada profesional namun sarat empati.

Dokter tersebut membuka lembaran kertas di tangannya.

"Kondisi istri Anda saat tiba tadi cukup mengkhawatirkan. Pendarahan yang terjadi di hidung, ditambah riwayat pingsan dan tubuhnya yang sangat dingin, adalah akumulasi dari kelelahan fisik yang ekstrim serta tekanan mental yang sangat berat. Dari hasil pemeriksaan awal dan rekam medis yang kami telusuri, Puja mengalami penurunan fungsi organ vital akibat stres psikologis yang memicu lonjakan tekanan darah mendadak, sehingga pembuluh darah kapilernya pecah."

Jeffry tertegun, dadanya terasa dihantam palu mendadak mendengar istilah-istilah medis tersebut.

"Selain itu, ada hal penting yang harus Anda ketahui, Pak Jeffry," lanjut dokter itu dengan suara yang lebih pelan namun tegas.

"Kondisi fisik Puja sebenarnya sudah cukup rentan beberapa waktu belakangan ini. Sistem imunnya drop karena kurang istirahat dan beban pikiran yang menumpuk. Tekanan emosional yang hebat—seperti benturan mental, syok, atau menangis histeris dalam waktu lama—sangat berbahaya bagi kondisinya yang sedang dalam masa pemulihan fisik. Beruntung beliau segera dibawa ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit saja, dampaknya bisa berakibat fatal pada sistem pernapasannya."

Penjelasan panjang lebar itu menusuk ulu hati Jeffry bagaikan ribuan jarum.

Setiap kata yang diucapkan dokter adalah cerminan nyata dari kebodohannya sendiri; bahwa ialah penyebab utama istrinya terbaring lemah di ambang batas kesadaran.

"Sekarang pasien sudah dipindahkan ke ruang perawatan intensif untuk observasi lebih lanjut dan pemasangan infus penopang," tutup sang dokter.

"Beliau butuh istirahat total dan ketenangan mutlak. Jangan biarkan beliau terbebani pikiran atau stres apa pun untuk beberapa hari ke depan."

Jeffry terpaku di tempatnya. Kakinya terasa lemas, dan butiran air mata kembali tumpah tanpa bisa ia tahan.

"Terima kasih, Dok... Terima kasih banyak..." ucapnya lirih dengan suara parau.

Jeffry melangkah pelan mengikuti brangkar dorong yang membawa Puja menuju ruang perawatan VIP.

Di balik pintu kaca yang tembus pandang, ia melihat istrinya terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.

Wajah Puja masih sangat pucat pasi, terpasang selang oksigen tipis di hidungnya, dan infus yang mengalirkan cairan penawar di punggung tangannya.

Pemandangan itu membuat hati Jeffry seperti diiris-iris sembilu.

Tiba-tiba, sebuah ketukan pelan terdengar dari arah pintu kamar rawat.

Tok... tok... tok.

Jeffry menoleh dan mendapati Kyai Ali berdiri di ambang pintu dengan jubah sederhana dan peci putih yang sedikit miring, sorot matanya teduh namun menyiratkan ketegasan yang mendalam.

Kyai Ali melangkah masuk mendekati ranjang, menatap menantunya yang masih memejamkan mata dalam ketidaksadaran.

Beliau mengelus dada pelan, menghela napas panjang melihat kondisi Puja yang begitu memprihatinkan.

"Jeffry," panggil Kyai Ali lembut.

"Mari kita keluar sebentar. Biarkan istrimu beristirahat, dan kita bicara di luar."

Jeffry yang sejak tadi tertunduk lesu menganggukkan kepalanya pelan.

Ia mengecup kening Puja sekilas dengan penuh penyesalan, lalu mengekor langkah sang mertua keluar menuju kursi tunggu di depan kamar.

Suasana lorong rumah sakit di sepertiga malam itu terasa sunyi dan lengang.

Kyai Ali duduk di kursi tunggu, mempersilakan Jeffry duduk di sebelahnya.

Pria paruh baya itu menatap lurus ke depan, lalu mulai berbicara dengan nada suara yang tenang namun sarat akan makna yang menghujam jiwa.

"Jeffry, Nak..." ujar Kyai Ali memulai nasehatnya, memecah keheningan.

"Rumah tangga itu bukan sekadar menyatukan dua insan di bawah ridha Allah, melainkan sebuah ikatan suci yang di dalamnya penuh dengan ujian dan amanah. Menikah berarti kamu siap menjaga separuh agamanya, melindungi raganya, dan menenangkan jiwanya, bukan malah menjadi sumber kehancurannya."

Jeffry menunduk semakin dalam, air matanya kembali menetes membasahi lantai. Ia tidak berani menatap mata sang mertua.

"Kamu tadi dikuasai oleh cemburu buta dan amarah yang meledak-ledak," lanjut Kyai Ali dengan suara yang sarat akan kebijaksanaan.

"Tahukah kamu, Nak? Dalam sebuah pernikahan, musuh yang paling gigih dan paling senang melihat hancurnya mahligai rumah tangga adalah bangsa jin, khususnya Jin Dasim. Tugas utama Jin Dasim adalah menghasut suami istri agar saling curiga, memperbesar masalah yang kecil, meniupkan lidah api kebencian di dada, dan membuat suami atau istri merasa paling benar hingga akhirnya ikatan suci itu putus."

Jeffry menelan salivanya yang terasa kelu. Ia mendengarkan setiap kalimat yang meluncur dari bibir Kyai Ali dengan hati yang bergetar.

"Setan dan Jin Dasim sangat membenci pernikahan. Mereka bertepuk tangan setiap kali kamu membentak istrimu, setiap kali kamu menuduhnya tanpa bukti yang valid, dan setiap kali kamu membiarkannya menangis dalam kesendirian di bawah hujan," sambung Kyai Ali seraya menepuk pelan pundak menantunya.

"Mereka berhasil menunggangi emosimu malam ini, Jeffry. Mereka membuatmu lupa bahwa istrimu adalah amanah yang dititipkan Allah kepadamu untuk dibimbing, bukan untuk disiksa batinnya."

Kyai Ali menghela napas berat, menatap wajah Jeffry yang penuh dengan penyesalan telak.

"Pernikahan itu ibarat bangunan kaca yang indah. Sekali kamu menghantamnya dengan ego, amarah, dan cemburu yang tidak berdasar, retakannya akan sulit disembuhkan, bahkan bisa melukai orang yang paling kamu sayangi. Hari ini, istrimu hampir menyerah bukan karena takdir kematiannya yang datang, tapi karena runtuhnya kekuatan mental akibat tekanan yang kamu berikan sendiri."

"Abah..." suara Jeffry tercekat, ia akhirnya jatuh bersimpuh di hadapan mertuanya, menangis sejadi-jadinya.

"Saya khilaf, Bah... Saya terbawa emosi. Saya benar-benar menyesal... Saya takut kehilangan Puja..."

Kyai Ali menatap Jeffry dengan pandangan penuh kasih sayang seorang ayah, lalu merangkul pundak pria itu.

"Penyesalan yang tulus adalah awal dari perbaikan, Jeffry. Sekarang, bangunlah. Perbanyak istighfar, mohon ampun kepada Allah, dan mintalah maaf yang sebesar-besarnya kepada Puja begitu ia sadar. Jadikan malam ini sebagai pelajaran terbesar dalam hidupmu, agar kamu tidak lagi memberi celah sedikit pun bagi Jin Dasim untuk merusak rumah tanggamu."

Jeffry menganggukkan kepalanya perlahan. Air mata penyesalannya terus menetes, menyerap setiap kata demi kata yang diucapkan Kyai Ali ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

Kyai Ali menatap lekat-lekat mata menantunya, memberikan jeda sejenak sebelum melontarkan kalimat terakhir yang terasa begitu berat namun menentukan arah masa depan mereka.

"Ingat, Jeffry... pernikahan ini adalah pilihanmu sendiri," ucap Kyai Ali dengan suara tenang namun tegas menusuk kalbu.

"Kalau kamu memang masih mencintainya, dan siap memperbaiki semua kesalahanmu dengan kesabaran, maka pertahankan ia dengan segenap jiwa ragamu. Tapi, kalau kamu merasa tidak sanggup lagi menjaga amanah ini, dan hatimu sudah terlanjur tertutup oleh keraguan, maka lepaskan ia dengan cara yang baik. Kembalikan ia kepada keluarganya secara baik-baik, jangan disiksa batinnya terus-menerus."

Mendengar kata "lepaskan", dada Jeffry terasa sesak seketika.

Napasnya tercekat, dan bayangan kehilangan Puja langsung menghantam pikirannya dengan telak.

"Tidak, Bah..." cicit Jeffry dengan suara bergetar hebat, kepalanya menggeleng kuat-kuat.

"Saya masih mencintainya... Sangat mencintainya, Bah. Puja adalah istri saya, separuh hidup saya. Saya tidak akan pernah melepaskannya..."

Kyai Ali terdiam sejenak, mengamati kesungguhan yang terpancar dari raut wajah menantunya yang basah oleh air mata. Beliau kemudian mengangguk pelan.

"Kalau begitu, buktikan kata-katamu, Jeffry," pesan Kyai Ali penuh wibawa.

"Jadilah pelindung yang sesungguhnya untuk istrimu, bukan musuh dalam selimut yang mudah dihasut oleh amarah."

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!