NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:35.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Permohonan Maaf Yang Terlambat-1

Pak Hendra, pengacara yang disewa Rian menggunakan sisa-sisa uang pinjaman *online*-nya kemarin, menghela napas panjang dengan raut wajah amat berat. Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Maafkan saya, Pak Rian," ucap Pak Hendra pelan. "Saya baru saja kembali dari kejaksaan dan kantor pusat Vantara Group. Pihak tim hukum Vantara Group yang dipimpin langsung oleh Pak Danu menolak mentah-mentah segala bentuk negosiasi atau penangguhan penahanan."

"K-kenapa, Pak?! Kenapa?!" jerit Rian, mencengkeram besi selnya erat-erat. "Saya punya ibu yang sudah tua dan adik yang harus saya nafkahi! Saya tulang punggung keluarga!"

"Pak Danu telah menyerahkan bukti-bukti tambahan yang sangat berat, Pak Rian," jelas Pak Hendra tegas. "Bukan cuma soal penggelapan dana lima ratus lima puluh juta rupiah untuk gelang berlian dan biaya entertainment, tapi mereka juga menemukan akumulasi manipulasi laporan keuangan di divisi pemasaran yang kamu pimpin selama dua tahun terakhir. Total kerugian perusahaan diperkirakan mencapai dua koma tiga miliar rupiah."

DEG!

Lutut Rian lemas seketika. Dua koma tiga miliar rupiah!

"Dan yang lebih berat lagi," lanjut Pak Hendra seraya menatap Rian dengan pandangan prihatin. "Pak Yusuf dan Mbak Annisa secara pribadi memastikan bahwa kasus ini dikawal langsung oleh Kejaksaan Tinggi. Tidak ada satu pun celah hukum yang bisa kita pakai untuk meloloskan kamu dari ancaman hukuman minimal enam tahun penjara."

Rian merosot ke lantai sel tahanan. Tubuhnya gemetaran hebat. Air mata penyesalan yang begitu dingin merembes deras membasahi pipinya.

"Nisa," bisik Rian parau di tengah tangisnya yang pecah. "Nisa ... maafkan Mas."

Namun di luar sana, tak ada lagi Annisa yang polos dan penurut yang akan datang mengusap air matanya. Annisa Septiani yang sekarang adalah pimpinan tertinggi Vantara Land, wanita yang siap menggulung habis hidup Rian

dan keluarganya tanpa sisa.

***

Pagi hari di kawasan perumahan padat di pinggiran Jakarta Selatan terasa begitu sumpek dan berisik. Di dalam sebuah kamar kontrakan sempit berukuran empat kali empat meter, asap rokok tetangga dan debu jalanan menyeruak masuk melalui celah pintu yang renggang. Udara panas tanpa kipas angin membuat ruangan itu terasa bagaikan oven raksasa.

Bu Rini duduk melunjur di atas kasur lipat tipis yang berbau tengik. Wajahnya yang biasa dipenuhi polesan bedak mahal dan perhiasan emas kini pucat pasi, kusam, dan dihiasi kantung mata yang menghitam. Di sampingnya, Sisil meringkuk di sudut ruangan dengan mengenakan kaus oblong lusuh—satu dari sedikit pakaian yang sempat mereka jejalkan ke dalam kardus saat pengusiran kemarin.

"Ibu ... Sisil lapar," cicit Sisil dengan suara parau bercampur tangis yang ditahan. "Uang di dompet Sisil cuma sisa lima belas ribu. Buat beli nasi uduk berdua aja gak cukup."

Bu Rini mengelus dadanya yang terasa sesak dan nyeri. Air matanya merembes membahasi pipinya yang keriput. "Ibu juga gak punya uang lagi, Sil ... semua tabungan Ibu kan disimpan Rian di rekeningnya. Ibu gak tahu kalau bakal jadi seperti ini."

Penyesalan yang teramat sangat mulai menggerogoti benak Bu Rini. Wanita paruh baya itu teringat bagaimana saban hari ia memperlakukan Annisa di rumah mewah berlantai dua dulu. Ia teringat saat menyuruh Annisa mencuci baju, memasak, membentaknya hanya karena kopi kurang manis, dan menyindirnya sebagai cewek pengangguran tak berguna.

Siapa yang menyangka bahwa wanita yang selalu menunduk dan diam saat dihina itu adalah putri tunggal Yusuf Al Ghazali—pengusaha paling berkuasa di bawah naungan Vantara Group?

"Ibu ...." Sisil tiba-tiba mendongak, matanya yang bengkak menatap ibunya dengan binar harapan tipis. "Kenapa kita gak minta tolong sama Pak Ginanjar aja? Pak Ginanjar kan adiknya Pak Yusuf! Dulu kan Pak Ginanjar yang jadi wali nikah Mbak Nisa sama Mas Rian!"

Mata Bu Rini seketika berbinar mendengar nama itu. Ya! Ginanjar Al Ghazali! Pria paruh baya yang dulu datang ke KUA dengan pakaian sederhana saat pernikahan Rian dan Annisa!

"Betul, Sil! Pak Ginanjar pasti mau bantu kita!" seru Bu Rini seraya buru-buru berdiri dari kasur lipatnya, mengabaikan rasa pening di kepalanya. "Pak Ginanjar kan orangnya lembut dan penyabar. Kalau kita minta maaf dan berlutut di rumahnya, dia pasti mau membujuk Pak Yusuf dan si Nisa buat mencabut laporan Rian!"

Tanpa membuang waktu, dengan sisa-sisa uang belasan ribu yang ada di dompet Sisil, keduanya terpaksa naik angkutan umum menuju kediaman Ginanjar di kawasan Kebayoran Baru.

***

Satu jam kemudian, Bu Rini dan Sisil berdiri di depan pintu gerbang besi sebuah rumah bergaya klasik yang asri di kawasan Kebayoran Baru. Rumah itu tidak sekolosal kediaman utama Pak Yusuf, namun tetap memancarkan keanggunan dan kemewahan khas keluarga Al Ghazali.

Seorang penjaga rumah berseragam membukakan pintu gerbang kecil dengan raut wajah heran menatap penampilan lusuh Bu Rini dan Sisil.

"Cari siapa ya, Bu?" tanya penjaga rumah itu.

"Saya .. saya Bu Rini, besannya Pak Ginanjar! Ini Sisil, adik iparnya Nisa!" seru Bu Rini tergesa-gesa dengan wajah memelas. "Tolong sampaikan ke Pak Ginanjar, kami mau ketemu sebentar saja! Penting sekali!"

Penjaga rumah itu mengamati keduanya sejenak, lalu meminta mereka menunggu di luar gerbang. Sepuluh menit kemudian, pintu kayu utama rumah terbuka.

Seorang pria paruh baya melangkah keluar. Pria itu mengenakan kemeja batik lengan pendek yang rapi, berwajah tenang, namun sepasang matanya memancarkan ketegasan yang matang. Dialah Ginanjar Al Ghazali—adik kandung Pak Yusuf yang tiga tahun lalu menjadi wali nasab Annisa di KUA.

Ginanjar menghentikan langkahnya tepat di balik pagar besi, menatap Bu Rini dan Sisil tanpa ada sedikit pun senyuman di wajahnya.

"Ada keperluan apa Ibu Rini dan Sisil datang ke rumah saya?" tanya Ginanjar dengan suara berat yang sangat tenang.

"Pak Ginanjar!" jerit Bu Rini seraya merapat ke pagar besi, matanya berkaca-kaca. "Tolong kami, Pak Ginanjar! Tolong Rian! Rian sekarang ditahan di kantor polisi karena dituduh menggelapkan uang kantor! Rumah kami disita, kami diusir sampai harus tidur di kontrakan sempit! Tolong bujuk Pak Yusuf dan Nisa buat mencabut laporannya, Pak!"

Sisil ikut menangkupkan kedua tangannya di dada. "Iya, Om Ginanjar ... tolongin Mas Rian... Kasihan Mas Rian di dalam sel, Om."

Ginanjar menatap mantan besannya itu dengan pandangan mata yang sangat dingin—pandangan yang sarat akan rasa kecewa dan jijik yang teramat dalam.

"Tolong?" desis Ginanjar pelan. Suaranya tidak tinggi, namun terasa sangat menusuk hingga ke ulu hati.

"Ibu Rini ... apakah Ibu masih ingat apa yang Ibu ucapkan saat saya datang ke rumah kalian satu tahun yang lalu untuk mengantar buah-buahan dari kampung?" tanya Ginanjar lurus-lurus.

Bu Rini membeku. Lidahnya mendadak kufur.

Bersambung...

1
Cicih Sophiana
jgn gitu dong kalian... kalian juga kan pernah ikut menikmati uang nya... teman lagi susah bukan nya membantu ini malah di bully... teman macam apa kalian
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
kok g update lagi mom 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
itulah pelakor pasti cari kaki laki yg bisa di pirotin walau udah punya istri...
Cicih Sophiana
cakep 👍 ibu dapat balasan nya yg membuat pingsan...
Cicih Sophiana
pak Ginanjar tolong saya pak... saya lapar tp tdk punya yang untuk membeli sesuatu...🫢
Mulaini
Rian dan Eriska sudah pasti dapat hukuman penjara lebih lama.
Mulaini
Rian penangguhan penahanan mu di tolak.
Teh Euis Tea
udah blangsak baru deh ngakuin nisa menantu kemarin2 nisa kalian jadikan babu
Teh Euis Tea
elehh bu rini dulu km punya rasa kemanusiaan ga waktu menindas anisa menantumu
Nar Sih
terima dan jalani nasib mu atas dosa juga kesombongan mu
Nar Sih
jalani saja nasib mu bu rini yg sombong dulu terima kenyataan hukuman untuk ank mu yg mantan suami durjana🤣🤣
Mutaharotin Rotin
kok


🥰🥰🥰🥰🥰
Cicih Sophiana
udah ngabisin uang kantor kamu Rian... sekarang kamu minta di bebaskan? mimpi aja kali
Cicih Sophiana
klo mau menyakiti dan menghina pengangguran... knp dulu kalian menikah?sebelum menikah kan mungkin kamu Rian tadinya sudah pendekatan atau pacaran kan?
Naufal Affiq
penyesalan mu rian terlambat
Naufal Affiq
lanjut mommy
Kar Genjreng
Mak jedurrrr langit runtuh seketika penyesalan bnya sudah tak ada lagi harapan pupus sudah tinggal lah kenangan dan hayalan,,, dengan wajah pucat pasi kedua manusia penghianat
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
Kar Genjreng
ya elanhh Bu ketika masih menantu kan Anissa gayanya selangit,,,bahkan tidak perduli sama sekali ga Suami ga mertua ga pula adek iparnya,,, semua menghina nya bahkan selalu memotong uang nafkah
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu
Sugiharti Rusli
karena kan dalam satu atau dua tahun pernikahan, pasti sudah terlihat watak aslinya sih seharusnya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!