Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Sinar matahari yang menerobos celah gorden membangunkan kesadaranku dengan paksa. Kepalaku terasa berat, dan bibirku masih berdenyut nyeri pengingat bisu akan kekejaman semalam. Namun, saat aku hendak bergerak, sebuah tangan yang berat dan posesif melingkar erat di pinggangku, menahanku agar tidak bisa beranjak sedikit pun.
Napasnya yang teratur terasa di tengkukku. Sejak kapan dia masuk ke sini? Pikiranku kacau. Semalam dia mengunci pintu dari luar, dan sekarang, dia ada di sini, memelukku seolah aku adalah miliknya yang tidak boleh hilang.
Tiba-tiba, dia berbicara tanpa membuka matanya, suaranya terdengar datar dan dingin, sama sekali tidak mencerminkan kehangatan seorang tunangan yang bangun di samping pasangannya.
Abhi " Mandilah. Lalu kita sarapan."
Tidak ada ciuman selamat pagi. Tidak ada sapaan lembut. Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sama saat ia memerintahkanku untuk tidak keluar dari gedung rumah sakit kemarin penuh otoritas, tanpa ruang untuk negosiasi. Dia bertindak seolah-olah tragedi semalam tidak pernah terjadi, seolah-olah luka di bibirku dan air mata yang membasahi bantal ini hanyalah bagian dari rutinitas yang lumrah.
Aku menahan napas, takut setiap gerakan kecilku akan memicu amarahnya kembali. Dia tidak lagi memelukku dengan kasih sayang, melainkan dengan cengkeraman yang menegaskan kepemilikan. Kelembutan yang dulu pernah ada atau mungkin yang selama ini hanya ilusi telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kewaspadaan dingin yang mencekik.
Aku perlahan memiringkan tubuh, mencoba melepaskan diri dari dekapannya tanpa membangunkannya lebih lanjut, namun tangannya justru semakin mengencang, menahan gerakanku dengan peringatan bisu.
Abhi " Kamu dengar perintahku ? " gumamnya lagi, matanya masih terpejam, namun nada suaranya mengancam.
Aku mengangguk gemetar, mengiyakan perintahnya sebelum dia benar-benar membuka mata dan menatapku dengan tatapan yang bisa membunuh. Tanpa sepatah kata lagi, aku bergegas turun dari tempat tidur menjauh dari dekapannya secepat mungkin dan melangkah menuju kamar mandi. Air hangat yang membasuh tubuhku tidak mampu menghapus rasa sakit dan trauma yang masih membekas di setiap inci kulitku.
Setelah selesai, aku berpakaian dengan tangan yang gemetar. Aku tahu aku tidak bisa terus seperti ini. Sambil menunduk, aku melangkah keluar menuju meja makan, berharap keberanian yang tersisa cukup untuk menyuarakan keinginan kecilku.
Dia sudah duduk di sana, menyesap kopi hitam dengan sikap yang tenang dan intimidatif. Aku duduk di depannya, menatap piringku sendiri, tidak berani membalas tatapannya.
Caca " Aku... aku ingin pulang ke rumahku," bisikku pelan, mencoba menetralkan suaraku meski hatiku berdegup kencang karena takut. " Aku harus mengurus beberapa hal, dan..."
BRAK!
Suara dentuman pisau dan garpu yang ia hempaskan ke piring porselen terdengar sangat nyaring, memotong kalimatku secara paksa. Aku tersentak, bahuku merosot ketakutan. Dia tidak berteriak, dia bahkan tidak mengubah ekspresi wajahnya, namun tatapannya yang menusuk menatapku dengan intensitas yang membuat napasku tercekat.
Abhi " Jangan berharap kamu bisa mendapatkan kebebasan seperti sebelumnya," ucapnya dingin, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang menyakitkan.
Abhi " Rumahmu, kehidupanmu yang dulu, rekan kerjamu, dan semua kebebasan yang kamu banggakan itu... semuanya sudah berakhir."
Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menciptakan jarak yang sangat dekat hingga aku bisa mencium aroma kopi dan dinginnya udara di sekitarnya.
Abhi " Kamu tidak akan melangkah keluar dari apartemen ini kecuali aku yang mengizinkan. Dan setelah apa yang kamu lakukan semalam? Jangan mimpi untuk mendapatkan duniamu kembali. Kamu milikku, dan kamu akan tetap di sini sampai aku memutuskan sebaliknya."
Aku tertunduk diam, air mata perlahan menggenang di pelupuk mataku. Ancaman itu nyata, dan kini aku tahu bahwa aku benar-benar terisolasi dari dunia luar.
Dia bangkit dari kursinya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah percakapan barusan hanyalah obrolan biasa tentang cuaca. Tanpa sepatah kata lagi, tanpa menatapku untuk terakhir kalinya, ia melangkah pergi menuju pintu depan. Suara kunci pintu yang diputar dan kemudian dikunci dari luar terdengar bagaikan vonis yang memenjarakanku di dalam unit apartemen yang luas namun terasa seperti peti mati ini.
Begitu derap langkahnya di koridor menghilang, aku akhirnya melepaskan napas panjang yang sedari tadi kutahan di paru-paruku. Bahuku yang kaku perlahan turun, dan isak tangis yang kupendam di meja makan kini tumpah tanpa bisa kubendung lagi.
Aku menyeka air mata dengan punggung tanganku, namun air mata itu terus mengalir, membasahi tanganku yang masih gemetar. Aku menatap piring yang belum tersentuh, sisa sarapan yang kini terasa hambar dan memuakkan.
" Aku harus kuat," bisikku pada diri sendiri, suaraku parau dan nyaris tak terdengar.
Aku memaksa diriku berdiri, meski kakiku terasa lemas. Aku berjalan menuju jendela besar yang membatasi apartemen ini dengan dunia luar. Di bawah sana, orang-orang bebas berjalan, mobil-mobil berlalu-lalang sebuah kehidupan yang tampak begitu jauh, seolah aku sedang melihatnya dari balik kaca tebal yang tak akan pernah bisa kubuka.
Aku membasuh wajahku di wastafel dapur, berusaha menghapus jejak air mata dan ketakutan yang masih tergambar jelas di cermin. Aku tidak tahu bagaimana aku akan keluar dari sini, aku tidak tahu berapa lama ia akan menahanku, tapi satu hal yang kutahu pasti aku tidak boleh hancur sepenuhnya. Jika aku hancur, maka dia akan menang.
Untuk saat ini, aku hanya bisa menatap pantulan diriku sendiri di cermin wanita yang terluka, namun masih bernapas dan bersiap menghadapi hari-hari yang panjang dan penuh pengawasan di dalam penjara emas ini.